Soedoet Pandang

Home » Posts tagged 'Politika'

Tag Archives: Politika

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

TENTANG MARHAENISME: PANDANGAN SEORANG SOSIALIS

imam yudotomo

 

Oleh Imam Yudotomo

Direktur CSDS (Center for Social Democratic Studies); Pendiri RTI (Rukun Tani Indonesia)

 

Menyongsong hari kelahiran Bung Karno tanggal 1 Juni 2001, yang persis menjadi peringatan Satu Abad Bung Karno, banyak tulisan yang terbit mengenai dirinya. Tetapi, tampaknya belum ada yang tertarik untuk menulis tentang Marhaenisme, ideologi yang dianggap sebagai ciptaannya. Bahkan lebih dari itu, tampaknya ideologi Marhaenisme mulai dilupakan. Padahal, apa yang paling penting dari Bung Karno sebenarnya justru ideologinya itu! Apalagi dalam keadaan sekarang ini, dimana bangsa Indonesia sedang kebingungan untuk mengatasi krisis yang dihadapinya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai Marhaenisme secara autentik memang agak sulit. Karena gagasan-gagasan Bung Karno mengenai hal ini banyak terdapat dalam tulisan-tulisannya yang lama. Sedang gagasan yang terkandung dalam tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya yang baru dan mudah didapat, terutama yang dibuat pada tahun 1959-1965, disinyalir bukan gagasan murni Bung Karno, melainkan juga gagasan Nyoto. Karena banyak tulisan dan pidatonya yang dibuat di masa itu, sudah menjadi rahasia umum, dibuat bersama-sama Nyoto.

 

MARHAENISME AWAL

Nah, apa sebenarnya Marhaenisme itu? Rumusan Marhaenisme yang paling awal, semestinya adalah rumusan yang dipakai PNI pada saat didirikan di tahun 1927. Namun bahan tersebut sulit dan tidak bisa didapat. Tulisan yang paling awal mengenai Marhaenisme yang berhasil didapatkan adalah rumusan yang ditetapkan oleh Kongres Partindo di Yogyakarta pada tahun 1933. Seperti diketahui, PNI sendiri dibubarkan pada waktu Bung Karno ditangkap dan diadili. Waktu Bung Karno dipenjara, salah seorang pengikutnya, Mr. Sartono, mendirikan Partindo (Partai Indonesia) dan pada waktu dibebaskan Bung Karno memilih masuk Partindo dari pada masuk PNI Pendidikan yang dipimpin Hatta dan Sjahrir. Rumusan yang yang dihasilkan Kongres Partindo itu ditulis oleh Bung Karno dalam Fikiran Rakjat (1933) dan ikut dibukukan dalam kumpulan tulisannya, Di Bawah Bendera Revolusi. Isinya anta lain sebagai berikut:

  1. Marhaenisme yaitu sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi,
  2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain,
  3. Partindo memakai perkataan marhaen dan tidak proletar, oleh karena perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain kaum yang melarat tidak termaktub di dalamnya,
  4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa perjuangan kaum melarat Indonesia yang lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemen maka partindo memakai perkataan marhaen itu,
  5. Di dalam perjuangan marhaen itu maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang besar sekali,
  6. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negara yang di dalam segala halnya menyelamatkan marhaen,
  7. Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susuanan masyarakat dan susunan negara yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner,
  8. Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme,
  9. Marhenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.

Rumusan mengenai Marhaenisme sebagai ditulis Bung Karno di atas, boleh dikatakan sebagai rumusan awal dari ideologi tersebut. Di sini tampak bahwa hal yang sangat menonjol pada waktu itu adalah kebutuhan untuk menerangkan istilah marhaen secara lebih jelas. Ada 4 poin dari 9 poin dalam rumusan itu, yaitu poin 2, 3, 4 dan 5 yang menjelaskan hal tersebut. Di sini tampak keunggulan Bung Karno dalam menganalisis realitas Indonesia dan kekritisannya terhadap Marxisme, sehingga rumusannya lebih sempurna daripada istilah proletar yang dibuat oleh Marx. Karena di sini, Bung Karno tidak membebek pada jargon proletar-nya Marx yang Eropasentris, melainkan melihat lebih jelas bahwa Indonesia yang menjadi korban kapitalisme itu bukan saja kaum proletar seperti di Eropa, melainkan juga kaum tani dan kaum-kaun lain yang ikut dimelaratkan oleh kapitalisme dan penjelmaannya, yaitu imperialisme dan kolonialisme.

 

soekarno_143

 

Hal penting lain dalam rumusan itu adalah penegasan bahwa Marhaenisme itu adalah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sekalipun Bung Karno dalam tulisannya di Fikiran Rakjat itu tidak menjelaskan kedua hal tersebut, namun sudah jelas bahwa yang dimaksud Bung Karno dengan sosio-nasionalime pada hakikatnya adalah faham kebangsaan yang dilandasi oleh rasa kemanusiaan, persamaan nasib, hasrat untuk bekerja sama/gotong-royong guna mencapai hidup sama-bahagia dan bukan faham kebangsaan yang diperalat oleh kapitalisme dan imperialisme, yaitu faham kebangsaan yang dihinggapi sikap angkara murka dan untuk menghisap, menggencet dan menindas bangsa lain dan bahkan bangsa sendiri. Sedang sosio-demokrasi dimaksudkan bukan saja ditekankan pada aspek demokrasi politik, melainkan juga pada aspek ekonomi dan sosial.

 

PERKEMBANGAN MARHAENISME

Apa yang dihasilkan dalam kongres Partindo 1933 di atas, kemudian diperbaharui dalam kongres berikutnya. Namun sekali lagi, bahan-bahan tersebut sulit dan tidak bisa didapat. Rumusan tentang Marhaenisme yang bisa didapat kemudian adalah yang dirumuskan dalam kongres PNI di Surabaya pada tahun 1952. Dalam rumusan kongres tersebut tampak adanya perkembangan yang cukup menarik. Selain sistematikanya disempurnakan, tampak juga ada formulasi baru yang tampaknya perlu diketengahkan untuk mengantisipasi realitas yang akan muncul.

 

1. Analisa tentang keadaan masyarakat Indonesia

Hasil kongres tersebut merumuskan analisa keadaan masyarakat Indonesia sebagai warisan jaman penjajahan itu, sebagai masyarakat miskin yang bercorak feodal, meskipun di sana-sini sudah terdapat corak demokrasi karena pengaruh pergerakan dan anasir-anasir demokrasi lama. Di sana-sini individualisme juga sudah mulai muncul berkat hasil pendidikan Barat. Dan dalam masyarakat yang demikian itu, mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum tani kecil dan buruh yang miskin, ditambah dengan sedikit kaum buruh yang juga miskin dan hidup dari industri.

 

2. Rumusan tentang Marhaen dan Marhaenisme

Siapa yang disebut marhaen dalam rumusan kongres tersebut tampaknya tidak banyak berbeda, yaitu mereka yang dimelaratkan oleh kapitalisme dan imperialisme. Demikian juga, tampaknya tidak banyak perbedaan atau perubahan mengenai pengertian tentang sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Akan tetapi kalau dalam rumusan yang terdahulu Marhaenisme hanya disebutkan sebagai cita-cita dan cara perjuangan yang menghendaki hilangnya kapitalisme dan imperialisme, rumusan baru dari kongres tersebut merumuskan pentingnya organisasi massa yang berdisiplin kuat agar perjuangan itu bisa dilakukan dengan baik dan teratur, mampu menggerakan seluruh marhaen untuk mencapai tujuannya. Rumusan tentang organisasi menggambarkan tentang bagaimana sifat organisasi PNI (Partai Nasional Indonesia) dan bagaimana organisasi itu harus berfungsi. Di sini Bung Karno merumuskan arti partai-pelopor, yang disusun secara sederhana dengan ideologi yang meresap, berjiwa revolusioner dan berdisiplin baja, dimana setiap anggota memahami peran apa yang harus dikerjakannya dan juga kewajibannya. Organisasi ini harus mempunyai saluran kekuatan di setiap organisasi massa marhaen, yaitu terutama massa buruh, massa tani, massa pemuda dan massa perempuan. Dengan masuknya rumusan mengenai organisasi ini, maka ideolagi Marhaenisme menjadi lebih lengkap.

Selain soal organisasi, hal baru dan hal yang penting lain yang dirumuskan dalam kongres tersebut adalah penegasan bahwa masyarakat yang di cita-citakan adalah masyarakat sosialis, yaitu sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan gotong-royong Indonesia dan yang berdasarkan demokrasi, yang karenanya faham Marhaenisme menolak setiap bentuk diktaktor. Rumusan ini jelas merupakan rumusan yang sangat penting, karena dengan jelas membedakan dirinya dengan ideologi komunisme. Penegasan bahwa sosialisme yang dimaksudkan adalah sosialisme yang didasarkan pada demokrasi dan karenanya menolak setiap bentuk diktator menjelaskan bahwa sosialisme yang dimaksud Bung Karno itu adalah sama sekali bukan sosialisme yang dianut komunis yang terang-terangan mendasarkan diri pada diktator-proletariat.

 

3. Filsafat Perjuangan

Rumusan kongres PNI tahun 1952 menambah banyak hal. Di atas sudah dituliskan beberapa penambahan itu, antara lain dalam hal pentingnya organisasi, penegasan bahwa sosialisme yang disesuaikan dengan sifat gotong-royong Indonesia, didasarkan pada demokrasi dan karenanya anti pada setiap bentuk diktator. Penambahan lain yang sangat penting adalah mengenai filsafat perjuangan Marhaenisme. Dialektis materialisme dan historis materialisme digambarkan secara populer, gampang dan kritis. Kaum marhaen harus yakin bahwa tidak ada satupun yang tetap di dunia ini, semuanya harus berubah. Segala sesuatu yang kita hadapi selalu mewujudkan deretan perlawanan yang terus-menerus dengan tiada-hentinya, selalu bersifat tumbuh-mati-tumbuh. Segala sesuatu di dunia pasti mengandung bibit-bibit pertentangan dan perubahan, dan senantiasa berubah menurut hukumnya dengan tiada kecualinya. Orang miskin, kalau dia bekerja keras dan mengatur hidupnya dengan hemat, maka dia bisa menjadi kaya. Orang bodoh, asal dia mau belajar, maka dia bisa menjadi pintar. Orang yang sekarang berada di bawah, asal dia mau berjuang, maka menurut hukum kodrat itu pasti kemudian dia akan ada di atas. Kaum marhaenis bukan saja percaya bahwa sesuatu itu akan selalu berubah, melainkan juga adalah orang yang berjuang untuk perubahan itu dan selalu harus melengkapi diri dengan segala kebutuhan yang diperlukan dalam perubahan itu.

Tiap manusia bisa terlibat dalam sejarah, terkadang sebagai dalang dan terkadang sebagai wayang, menurut keadaannya. Sebagai dalang dia mempengaruhi orang, sedangkan sebagai wayang dia dipengaruhi orang. Dan pengaruh itu bisa datang dari berbagai sebab, karena simpati, karena kekuasaan, karena keuntungan, atau karena sebab lain. Akan tetapi jelas sekali bahwa pada umumnya pengaruh itu disebabkan karena adanya kepentingan. Hubungan kepentingan yang satu dengan yang lainnya itulah yang menimbulkan gerak dalam masyarakat. Dan kepentingan itu bisa berupa kepentingan rohani (cita-cita) dan bisa berupa kepentingan jasmani (hidup ekonomi), dimana keduanya sama-sama berpengaruh dalam gerak masyarakat.

Dengan keterangan tersebut, jelaslah bahwa sekalipun Bung Karno memakai logika dialektis dan historis materialisme, akan tetapi tidak sepenuhnya membebek pada logika materialisme tersebut. Di situ Bung Karno masih memberi tempat kepada kepentingan rohani dan cita-cita. Bahkan mengatakan ada masanya cita-cita lebih berpengaruh dan ada masanya soal-soal ekonomi yang lebih berpengaruh. Dengan kritis Bung Karno menyatakan bahwa kaum faham historis-materialisme memang banyak mengandung kebenaran, akan tetapi tidak sepenuhnya benar.

Rumusan Marhaenisme kongres Surabaya 1952 ini terus disempurnakan dalam kongres PNI berikutnya. Perubahan signifikan adalah perubahan yang dirumuskan dalam kongres di Purwokerto 1962 dan Kongres Bandung yang menghasilkan Deklarasi Marhaenis, dimana kekuatan yang lebih radikal-revolusioner di dalam PNI berusaha membersihkan anasir-anasir feodal marhaenis gadungan, baik secara ideologis maupun secara fisik dari kepemimpinan partai. Sekalipun pada hakikatnya tidak banyak perubahan yang substantif dalam rumusan mengenai ideologi marhaenis itu sendiri. Namun dalam kongres Purwokerto itu mulai diformulasikan dan dipopulerkan istilah bahwa Marhaenisme adalah “Marxisme yang diterapkan di Indonesia”. Namun sayang sekali, proses yang semestinya dianggap sebagai penemuan kembali dari prinsip dan cita-cita Marhaenisme yang sesungguhnya justru mendatangkan petaka. Mengapa? Karena bersamaan dengan itu situasi politik di Indonesia berubah secara drastis. Kekuatan militer, yang sebelumnya dimotori oleh Nasution dan kemudian diambil alih Soeharto, berhasil merebut kekuasaan dan menjadikan ideologi yang bersumber pada Marxisme sebagai lawan yang harus dihancurkan. Begitu dahsyatnya usaha penghancuran tersebut, maka PNI segera membuang jauh-jauh rumusan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan di Indonesia, bahkan juga membuang bahwa Marhaenisme adalah sosialisme yang disesuaikan dengan sifat gotong-royong Indonesia. Lebih jauh lagi, bahkan Marhaenisme itu sendiri secara keseluruhan diusahakan untuk dihancurkan secara terencana dan sistematis.

 

RELEVANSI DENGAN KEADAAN SEKARANG

Proses de-politisasi yang dilakukan rejim Orde Baru (menghasilakan de-ideologisasi) dan propaganda gencar kaum kapitalis yang mengatakan bahwa ideologi sudah mati dan sudah tidak ada lagi, tampaknya memang sudah menjadi kecenderungan dalam masyarakat kita. Orang sudah mulai tidak percaya lagi bahwa ideologi bisa menjawab tantangan jaman dan persoalan masyarakat. Jangankan Marhaenisme yang masih digolongkan ideologi lokal, komunisme yang sudah jadi ideologi internasional dan sangat kuat—dengan KGB dan AK-47 –nya—saja bisa hancur berantakan. Akan tetapi di sisi lain, ideologi yang selama ini dikenal sebagai musuh kaum marhaen, yaitu kapitalisme dan imperialisme (dalam bentuk yang lain) masih tetap ada dan bahkan terus berkembang. Seperti yang bisa kita lihat sekarang ini, ideologi kapitalisme bisa melaju hampir tanpa ada hambatan. Lewat mekanisme pasar bebas dunia, atau globalisasi, yang sekarang dipropagandakan oleh kaum neo-liberal (yang hakikatnya dalah kaum neo-kapitalis), mereka mencoba manguasai dunia. Sama seperti ketika kapitalisme mengubah dirinya menjadi imperialisme dan kolonialisme dulu! Usaha ini didukung oleh perangkat-perangkat hukum dan organisasi internasional yang diciptakan untuk itu: intellectual property rights, ISO, IMF, World Bank, WTO, APEC dan sebagainya. Kalau dulu uang harus berproduksi sebelum menghasilkan keuntungan, sekarang ini kapitalisme mampu membuat uang menjadi alat spekulasi, sehingga tanpa berproduksi uang bisa menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Kaum kapitalis tidak perlu lagi mendirikan pabrik untuk mendapatkan keuntungan, melainkan cukup bermain di bursa dan pasar uang untuk menggandakan uangnya itu, seperti layaknya penjudi main di kasino (karena itu ada orang yang menyebut kapitalisme sekarang sebagai casino-capitalism).

Pada sisi yang lain tidak ada satu kekuatan politik di Indonesia di awal milenium ini yang menyadari akan bahaya besar yang mengancam kita semua. Hal ini tampak jelas dari sikap semua partai politik yang ada, termasuk PDIP, dalam upaya mengatasi krisis ekonomi yang kita hadapi sekarang. Meskipun mereka saling bertengkar, namun tidak ada satupun partai yang berbeda dalam menghadapi IMF. Semua setuju bahwa pemerintah harus mematuhi Letter of Intent yang sangat merugikan Indonesia. Juga, tidak ada satupun partai yang menolak investasi asing, bahkan semua mengundang dan mengelu-elukannya. Lebih dari itu, sebagaimana dikatakan di atas, ideologi yang dikenal sebagai lawan kapitalisme di Indonesia juga telah dimandulkan. Komunisme telah dihancurkan. Sosalisme diidentikkan dengan komunisme, sehingga karenanya ikut hancur. Dan tampaknya, Marhaenisme yang mendapat dukungan paling besar dalam masyarakat berkat kharisma Bung Karno sebagai penciptanya, sekarang mulai tidak dipahami, bahkan oleh para pengikutnya sendiri. Di sini sebenarnya letak ketragisan dari ideologi Marhaenisme. Di satu pihak, ada ideologi Marhaenisme yang pada hakikatnya adalah ideologi yang anti-kapitalisme. Di pihak lain, ada kapitalisme yang merajalela mengumbar watak asli keserakahannnya, tanpa batas dan seenak perutnya sendiri saja. Dan dalam menghadapi kenyataan itu, kaum marhaenis, pengikut ideologi Marhaenisme yang anti-kapitalis dan mengklaim dirinya didukung oleh mayoritas bangsa Indonesia ini, ternyata tidak bisa dan bahkan tidak berbuat apa-apa sama sekali! Tragis, sungguh tragis!

Inilah yang mungkin perlu menjadi bahan instrospeksi bagi siapa saja yang mengaku kaum marhaen. Sehingga ada baiknya kalau kita bertanya: mengapa hal itu bisa terjadi? Di sini dengan jelas kita melihat kehebatan Bung Karno, yang mampu merumuskan Marhaenisme sebagai cita-cita dan cara perjuangan yang tepat bagi bangsa Indonesia, menjadi sia-sia tidak ada artinya! Kehebatan yang dulu telah berperan besar ikut memerdekaan bangsa Indonesia itu, sekarang ternyata hanya menjadi sebatas cita-cita saja! Karena, sekarang cita-cita itu tidak nyambung dengan keinginan massa rakyat, karena ideologi itu tidak terintegrasikan dalam dinamik dan gerak aspirasi masyarakat. Tampaknya sekarang ini, pemahaman penganut Marhaenisme terhadap ideologi Marhaenisme-nya hanya sebatas demagoginya saja, pada puja-puji yang seremonial sifatnya. Sehingga mereka kurang memahami nagaimana bahaya kapitalisme yang sudah sedemikian mengerikannya. Hal ini sebenaranya justru sangat tidak disukai Bung Karno sendiri. Bung Karno selalu mengatakan dengan tegas perlunya kerja dan kerja yang nyata! Dan menurut Bung Karno, kerja yang nyata itu adalah machtsvorming, yang artinya menggalang seluruh kekuatan secara nyata untuk menentang kekuatan yang menyengsarakan rakyat. Menggalang kaum buruh untuk menuntut perbaikan nasibnya. Menggalang kaum tani agar peningkatan produksi yang dihasilkannya bisa mereka nikamati! Menggalang kaum nelayan yang harus bersaing dengan kapal penangkap ikan modern milik kaum kapital! Menggalang kekuatan perempuan yang selama ini selalu dilecehkan. Menggalang pemuda agar mereka hirau pada masa depannya! Dan machtsvorming itu juga harus digunakan untuk mengganyang konglomerat hitam dan pejabat korup yang telah menjarah bertriliun-triliun harta negara! Itulah yang dimaksud Bung Karno dengan macthsvorming, bukan sekedar machtsvorming untuk kampanye dan apel-apel yang seremonial sifatnya.

Itulah sebabnya hal yang disebutkan di atas bisa terjadi. Karena itu, kekaguman kita kepada Bung Karno sebagai penggagas Marhaenisme hendaknya tidak hanya dilakukan dengan puja-puji yang seremonial sifatnya itu, melainkan dengan cara memahami substansi pikiran-pikirannya dan sekaligus harus berbuat sesuatu yang nyata untuk merealisir cita-citanya itu. Karena dengan puja-puji yang seremonial itu kapitalisme tidak akan tergoyahkan sedikitpun. Akan tetapi, kalau kita bangkit membangun kesadaran di kalangan kaum marhaen (kaum buruh, kaum tani, kaum perempuan dan kaum pemuda) akan kenyataan yang mereka hadapi, membangun organisasi yang akan menghimpun semua kekuatan anti-kapitalisme untuk bersatu-padu melawan kapitalisme itu, maka sudah hampir pasti kapitalisme akan tidak bisa sembarangan dan seenak-perutnya sendiri mengumbar keserakahannya.

Dari apa yang dikemukakan di atas, sebenarnya pesan paling penting yang ingin disampaikan Bung Karno, terutama mereka yang mengaku kaum marhaenis, sebagaimana juga diinginkan oleh Bung Karno sendiri dalam berbagai kesempatan adalah: WARISI API AJARANKU, BUKAN ABUNYA!

 

Yogyakarta, 1 Juni 2001

Advertisements

PANAS DINGIN HUBUNGAN KELUARGA SUMITRO DJOJOHADIKUSUMO DENGAN KELUARGA SOEHARTO

prabowo004

 

Bulan Mei tahun seribu sembilan ratus delapan puluh tiga, Prabowo Subianto, anak ketiga Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, menikah dengan Siti Hediyati, putri Presiden Republik Indonesia, Soeharto. Bertindak sebagai saksi Jenderal M. Jusuf.

Peristiwa ini berlangsung setelah keduanya hampir dua tahun berpacaran. Banyak cerita beredar mengenai awal perkenalan dua muda-mudi ini. Ada sumber yang mengatakan bahwa perjumpaan diatur oleh Wismoyo (Arismunandar—ed.), yang waktu itu memang menjadi komandannya Prabowo. Tapi, sumber yang berbeda menyebut nama lain, bukan Wismoyo.

Orang memang bisa membuat cerita macam-macam, demikian pula dapat menilai rupa-rupa apakah pernikahan dengan anak presiden merupakan berkah atau justru membawa petaka. Sumitro mungkin tidak seekstrim itu, kecuali menyebutnya sebagai peristiwa sejarah yang berkebetulan (historical accident). Yang jelas, kelak Letjen Prabowo, harus mengakhiri kariernya di kemiliteran secara tragis dan niscaya menyimpan trauma akibat “dikhianati”—atau dalam bahasa Prabowo: ditikam dari belakang—oleh keluarga istana sendiri.

Pertunangan dengan Siti Hediyati (Titiek Soeharto) bukan­lah yang pertama buat Prabowo. Ia sebelumnya sempat membina hubungan cukup serius dengan seorang gadis Yogya, namun putus di jalan lantaran Prabowo sebagai tentara terlalu sibuk tugas ke lapangan.

Sebelum dan sesudah itu, Prabowo memiliki beberapa teman wanita yang lain, tapi Sumitro cuma memperhatikannya secara sambil lalu.

Sampai suatu waktu Prabowo meminta izin kepada Sumitro bahwa ia hendak membawa seorang teman wanita. Rupanya teman wanita yang satu ini langsung menarik perhatian sang ayah. Dalam hati Sumitro, bertanya-tanya, “Siapa wanita ini? She looks familiar.” Prabowo cuma menjelaskan bahwa pacarnya itu termasuk salah satu murid Sumitro. [Suatu hari kelak, Sumitro mengetahui pula bahwa Titiek pernah harus mengulang mata kuliah yang diajarkan Sumitro, lantaran tidak lulus! Sumitro memang tak mengenal satu per satu mahasiswanya sebab kuliah-kuliah yang dibawakan Sumitro senantiasa dipenuhi mahasiswa, sehingga ia tak mengetahui bahwa salah satu pesertanya ialah anak presiden. Diketahui pula bahwa Titiek tak pernah berani duduk di depan, sebaliknya lebih senang di bangku belakang].

Sumitro baru belakangan mengetahui bahwa gadis tadi anak Cendana. Ia juga belum tahu persis apakah Prabowo serius entah tidak menjalin hubungan tersebut. Mengingat kali ini pacar Prabowo adalah anak Cendana, maka pikir Sumitro, “If Prabowo is not serius, he’ll be in trouble.” Tak terbayang­kan oleh Sumitro kalau Prabowo sampai mempermainkan anak Presiden. Dan, hal ini disampaikannya kepada putranya tersebut, “Kalau kali ini kamu tidak serius, payah deh kamu.”

Diperoleh lagi kabar bahwa Prabowo sudah membawa seorang teman wanitanya berkunjung ke kediaman Ibunda Sumitro di kawasan Matraman, Jakarta Timur. Ini berarti Prabowo serius, sebab yang paling disegani oleh anak-anak Sumitro adalah neneknya. Ibunda Sumitro mengemukakan bahwa ia mempunyai kesan yang baik terhadap teman wanita Prabowo tersebut. Pendek kata, sikapnya tampak baik, lemah-lembut dan sopan. Nenek Prabowo belum mengetahui siapa Titiek sebenarnya, hanya mengira ia anak Yogya yang kuliah di Jakarta dan mondok di kawasan sekitar Menteng. Prabowo agaknya masih menyembunyikan identitas Titiek.

Dalam kunjungan kedua kali ke Matraman, anak kemenakan Sumitro justru mengenalinya dan ia memberitahu kepada Ibunda Sumitro bahwa teman Prabowo itu putri Presiden. Kontan saja nenek Prabowo terperanjat! Semenjak itu sikapnya justru agak berubah. Bukannya tak setuju, melainkan ia sangat anti feodal. Dia tahu Ibu Tien berasal dari Mangkunegara, alhasil sangat feodal. Ini tentu sangat berbeda dengan latar belakang budaya Ibunda Sumitro yang berasal dari Jawa Timur. (Ibunda Sumitro pernah meminta suaminya, Margono Djojohadikusumo, agar jangan menggunakan gelar kebangsawanan KRT, seraya menolak tinggal di Solo).

Namun, baik Sumitro maupun Ibu Sumitro, sesungguhnya cukup tertarik dengan kepribadian Titiek yang dinilai sangat rendah hati dan sopan. Jadinya, muncullah kebimbangan!

+++

Pada suatu waktu di sela upacara yang berlangsung di Istana Merdeka, Ibu Tien mendekati Sumitro, setengah berbisik ia bertanya, “Eh, Pak Mitro, bagaimana?”

“Baik-baik saja, Bu,” jawab Sumitro, tak mengira bahwa bukan itu sesungguhnya yang dimaksud Ibu Tien.

“Bagaimana anak-anak kita?” ulang Bu Tien lebih jelas.

Baru Sumitro mengerti arah pertanyaan Ibu Tien, dan Sumitro dengan berlagak pilon menjawab, “Ya, bagaimana Bu, kita serahkan saja pada anak-anak kita.”

“Ya, tapi kita diam-diam saja, jangan diumumkan dahulu,” tambah Ibu Tien lagi.

Dalam adat Jawa, sebetulnya Ibu Tien tidak patut bertanya demikian, mengingat hubungan Prabowo-Titiek belum pasti benar. Tapi, Sumitro senang juga, berarti Ibu Tien dalam hal ini sudah tidak terlalu kaku dalam memegang adat Jawa.

Tak seberapa lama setelahnya datang lagi Tjoa Hok Sui—orang kepercayaan Probosutedjo dalam mengurusi impor cengkeh—dan berkata kepada Sumitro mengenai hal yang sama, bahkan mendorong Sumitro agar meresmikan segera hubungan Prabowo-Titiek.

Sumitro masih bingung harus bagaimana, lantas bertanya kepada Prabowo mengenai keseriusannya. Prabowo sendiri belum mengerti adat Jawa, yang dinilainya irasional, dan menganggap aneh banyak orang yang hendak ikut campur dalam hubungannya dia dengan Titiek. Ia menjawab, “Ya, nanti saya lamar.” Prabowo terkejut saat diberitahu bahwa ia tidak boleh melamar sendiri, melainkan harus pihak keluarga yang datang.

 

Agak sulitnya terjalin hubungan yang akrab, menurut analisis Sumitro, bersumber dari perbedaan kultur di antara kedua keluarga. Soeharto dari Yogya dan isterinya berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara. Kombinasi ini tentu saja membentuk sebuah keluarga yang sangat kental warna Jawanya: amat feodal. Sebaliknya, keluarga Sumitro sangat berbeda dalam tradisi yang terbuka, egaliter, sangat modern, basil pendidikan barat, dan dalam banyak hal justru “tak paham” dengan tradisi Jawa. Isteri Sumitro berasal dari Minahasa yang lama hidup di Eropa, sedangkan Sumitro sendiri dibesarkan keluarganya di daerah Banyumas yang memiliki tradisi “memberontak”.

 

Melalui emisario (utusan khusus)—yang sebenarnya berfungsi semata-mata untuk mencegah kehilangan muka—ada pemberitahuan bahwa keluarga Sumitro Djojohadikusumo sudah dapat datang melamar ke keluarga Soeharto. Sebelumnya Sumitro telah memutuskan bahwa ia akan datang melamar tanpa menggunakan bahasa Jawa priyayi (kromo inggil), melainkan dengan bahasa Indonesia. Pikirnya kala itu, “Isteri saya orang Minahasa, bukan Jawa, jadi nggak mengerti bahasa Jawa. Saya ingin siapa pun, termasuk besan saya, harus menghormati isteri saya. Kalau nggak mau, ya, nggak apa-apa. Kalau mereka menganggap ini kurang sopan, ya, that’s too bad.”

Dalam jawaban atas lamaran yang disampaikan Sumitro, maka Soeharto menjawab, “Pak Mitro, tentu kita betul-betul merasa bahagia, tapi saya harus bicara juga sama kedua anak ini terlebih dahulu untuk kasih nasehat. Bagaimanapun juga, pasti masyarakat luas akan menyoroti ini, mengingat saya sebagai kepala negara dan Pak Mitro sebagai cendekiawan terkemuka.”

Sumitro memahami “kecemasan” Soeharto mengingat dua anak ini: yang satu seorang perwira tapi tak mengerti adat Jawa, dan yang wanita masih suka disco.

 

prabowo005

 

Singkat cerita keluarga Soeharto menerima lamaran keluarga Sumitro dengan baik dan dengan penuh sikap hormat. Terlebih-lebih Ibu Tien terlihat amat bahagia. Mungkin sudah lupa olehnya bagaimana “luka-luka” tempo hari ditolak Sumitro ihwal impor cengkeh.

+++

Setelah menjadi besan, hubungan keluarga Sumitro-Soeharto dilukiskan berjalan secara normal, dalam artian tak dapat dikatakan jauh, tapi juga tak bisa dibilang mesra. Beberapa kali bahkan diwarnai perbedaan pendapat.

Agak sulitnya terjalin hubungan yang akrab, menurut analisis Sumitro, bersumber dari perbedaan kultur di antara kedua keluarga. Soeharto dari Yogya dan isterinya berasal dari lingkungan keraton Mangkunegara. “Kombinasi” ini tentu saja membentuk sebuah keluarga yang sangat kental warna Jawanya: amat feodal. Sebaliknya, keluarga Sumitro sangat berbeda dalam tradisi yang terbuka, egaliter, sangat modern, basil pendidikan barat, dan dalam banyak hal justru “tak paham” dengan tradisi Jawa. Isteri Sumitro berasal dari Minahasa yang lama hidup di Eropa, sedangkan Sumitro sendiri dibesarkan keluarganya di daerah Banyumas yang memiliki tradisi “memberontak”. Sumitro menjelaskan bahwa silsilah keluarganya sebetulnya juga berasal dari Yogya, namun dari kelompok pemberontaknya, sehingga harus terusir ke Banyumas. Leluhurnya ialah Pangeran Diponegoro dan Pangeran Moerdoningrat.

Sumitro mengemukakan bahwa ia tidak mungkin dapat menempatkan diri dalam suasana keluarga yang sangat Jawa seperti di keluarga Soeharto. I can’t do that, daripada saya harus munafik.” Sumitro menyadari bahwa pribadinya sangat berbeda, dengan kebiasaan untuk senantiasa bersikap terbuka, dalam mengutarakan sesuatu tak ada yang perlu ditutup-tutupi. Semuanya serba terus-terang.

Namun, keluarga Soeharto tetap menghormati adanya perbedaan kultur tersebut.

 

Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah panas telinga Presiden ialah sinyalemennya mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan. Dari kasus ini, kian tebal kesan yang tertangkap oleh Sumitro bahwa Soeharto semakin memerintah bak seorang raja.

 

Dalam saat-saat berlebaran atau di hari ulang tahun Soeharto dan Bu Tien, keluarga Sumitro tetap diundang ke Cendana.

Sebagai akibat akumulasi dari berbagai persoalan, hubungan keluarga Sumitro-Soeharto mulai agak renggang semenjak sekitar tahun 1995. Sumitro sebagaimana diketahui tetap dengan sifatnya yang terbuka dan merdeka. Ia, umpamanya, masih merasa bebas berkunjung dan mengundang H.R. Dharsono, semata-mata didorong oleh perasaan tak bisa melupakan segala kebaikan Dharsono selama Sumitro berada di pembuangan, di London. Perasaan ini nyatanya tetap hidup, dan jauh lebih penting ketimbang “kewajiban” menyenangkan hati Soeharto, yang notabene merupakan musuh politik Dharsono. Kecuali itu, Sumitro juga tak pernah berhenti melancarkan kritik-kritiknya yang tajam terhadap jalannya pembangunan. Sumitro tak mengenal kamus off the record. Bila mengatakan sesuatu memang itulah maksudnya. Ia mengupas berbagai persoalan secara gamblang dan ungkapannya ditujukan pada persoalannya dan bukan kepada orang per orang atau pejabat-pejabatnya.

Salah satu kritik Sumitro yang membuat merah panas telinga Presiden ialah sinyalemennya mengenai kebocoran 30 persen dana pembangunan. Dari kasus ini, kian tebal kesan yang tertangkap oleh Sumitro bahwa Soeharto semakin memerintah bak seorang raja. Bila semula Soeharto masih mau memperhatikan kritik-kritik Sumitro, namun dalam sepuluh tahun terakhir sangat terasa bahwa Presiden enggan menggubrisnya lagi, ia terlihat lebih senang memperhatikan ucapan dan kemauan orang-orang semacam Anthony Salim atau Bob Hasan. Dalam tahun-tahun terakhir, advis dari Widjojo cs pun kabarnya sudah tak didengarkan lagi.

Sumitro sesungguhnya sangat menghormati Soeharto sebagai seseorang yang memiliki begitu banyak kecerdasan alamiah. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal terbatas, Soeharto mampu menguasai berbagai persoalan pelik, termasuk masalah ekonomi. “Sewaktu pembahasan dalam penyusunan rencana pembangunan lima tahun pertama bersama para menteri, Presiden lebih banyak mendengar dan mencatat. Namun, pada saat penyusunan rencana pembangunan lima tahun kedua, ia sudah menguasai masalah-masalah ekonomi yang serba kompleks, dan justru para menterinya yang banyak mencatat,” ungkap Sumitro.

Namun bekal kecerdasan alamiah yang luar biasa ditambah dengan kemampuan naluri yang tajam seakan tak ada artinya ketika di kemudian hari, di saat-saat terakhirnya, ia semakin bersikap keras kepala dan menutup telinganya dari saran orang lain, kecuali memperhatikan kepentingan anak-cucu dan suara segelintir cukong.

 

Banyak sekali persoalan yang telah disampaikan Sumitro kepada Presiden, semata-mata untuk mengingatkan Presiden bahwa tengah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni tepatnya sedang berlangsung suatu pengkhianatan terhadap cita-cita kerakyatan!

 

Sumitro, sekitar dua tahun menjelang kejatuhan Soeharto, sudah mengingatkan bahwa diperlukan kearifan dalam kepemimpinan Presiden Soeharto pada tahap sejarah yang begitu penting bagi Indonesia. “Ada berbagai masalah dalam pemerintahan yang tidak pernah saya dengar tatkala saya masih menjadi menteri. Banyak rakyat yang sudah kesal dengan berbagai rupa ketidakadilan. Rakyat kecil yang selama ini selalu mendapat tekanan dan intimidasi dari penguasa, saat ini sudah mulai menggunakan saluran-saluran di luar hukum untuk menuntut penguasa tersebut. Hal ini membuktikan adanya peningkatan keresahan di hampir seluruh wilayah Indonesia. “Saya percaya, Presiden adalah seorang pemimpin yang sangat cerdas dan rasional. Setiap saat ia memutuskan untuk bertindak, kita akan menyaksikan kesungguhan politik. Namun pertanyaannya ialah apakah orang-orang di sekelilingnya memiliki keberanian untuk secara sungguh-sungguh menyampaikan kepada Presiden mengenai keresahan-keresahan ataupun gangguan-gangguan yang terjadi tersebut,” ujarnya.[1]

Masa tiga tahun terakhir menjelang kejatuhan Soeharto dengan demikian merupakan saat yang kritis, yang ditandai dengan semakin sukarnya Soeharto menerima kritik. Bila Sumitro kelewat keras mengkritik, maka sang anak menantu akan datang kepada Sumitro sembari menyampaikan pesan Presiden.

“Ada apa, Tiek, ada pesan dari Bapak?” begitu biasanya Sumitro langsung menyambut.

“Ya, Bapak bilang, ‘Tiek, mertuamu sudah priyayi sepuh kok masih radikal saja!” ujar Siti Hediyati.

Sumitro tenang saja menerima pesan tersebut, dan justru ia balik berkata, “Ya, saya memang sudah terlalu tua untuk mengubah diri!”

Banyak sekali persoalan yang telah disampaikan Sumitro kepada Presiden, semata-mata untuk mengingatkan Presiden bahwa tengah terjadi sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni tepatnya sedang berlangsung suatu pengkhianatan terhadap cita-cita kerakyatan! Dari hari ke hari Soeharto semakin bertambah kurang senang mendengar tajamnya kritik-kritik yang dilontarkan sang besan, tapi ia tak pernah menunjukkan rasa marahnya terhadap Sumitro. Kata-kata Soeharto tetap halus, walaupun mungkin sedang marah. Ia adalah pribadi yang mampu mengendalikan emosinya dengan sangat baik.

Sumitro tak sungkan pula mengkritik Soeharto ihwal perilaku anak-anak Presiden. “Pak, yang saya dengar dari mana-mana, putra-putri Bapak menjadi masalah politik.” Mendengar kritik tersebut niscaya panas hati Soeharto, namun ketika hendak berpisah toh Soeharto berkata juga kepada Sumitro, “Ya, Pak Mitro, saya menyadari anak-anak sudah menjadi isu politik.” Bagi orang waras, ucapan Soeharto itu mungkin pertanda bahwa yang bersangkutan sudah menyadari kekhilafannya, dan mungkin bisa berharap akan terjadi perbaikan. Namun, betapa kagetnya Sumitro menyaksikan dua pekan setelah pertemuan itu, Soeharto memberikan lagi proyek- proyek lain kepada anak-anaknya!

 

Hubungan keluarga Sumitro dengan putra-putri Cendana kelak memang tak berjalan mulus. Bahkan Prabowo Subianto telah lama memiliki hubungan yang dingin dan boleh dibilang tegang dengan Bambang, Tutut, Mamiek, dan Tommy. Semua anak Soeharto mendendam kepada Bowo. Cuma Sigit yang sedikit netral, ungkap Sumitro.

 

Sumitro dalam saat-saat merenung mencoba berusaha memahami mengapa “cinta” Soeharto kepada anak-anaknya sedemikian besarnya. Sumitro akhirnya menemukan jawabannya. Bahwa itu mungkin pengaruh psikologis dari masa kecil Soeharto yang suram, sebagaimana pernah diceriterakan sendiri oleh Soeharto dalam acara lamaran Prabowo-Titiek. Saat itu Soeharto berkisah tentang masa kecilnya yang niscaya membekaskan luka yang dalam pada dirinya. Di usia tiga bulan di dalam kandungan, ibu kandungnya memutuskan untuk meninggalkan hal-hal duniawi: untuk menempuh jalan hidup spiritual, yakni suatu keputusan yang diambil oleh seorang wanita dalam situasi batin yang sangat rumit, lantaran mungkin dikecewakan oleh lelaki. Soeharto pun lantas dibesarkan oleh familinya di Godean. “Ketika ibu angkatnya itu meninggal, Soeharto berkisah bahwa ia datang ke Godean, seraya berkata, ‘Inilah satu-satunya Ibu yang saya kenal’,” ujar Sumitro.

Sewaktu berusia sepuluh tahun, Soeharto jadi rebutan antara orang tua angkatnya dengan ayah kandungnya yang berasal dari lingkungan keraton. Oleh sebab itulah, Soeharto dipindahkan ke Wonosari dan kemudian tinggal bersama keluarga Sudwikatmono. “Wajar kiranya bila Soeharto menganggap Sudwikatmono lebih dari saudara kandung, sehingga semua-semua dikasih ke Sudwikatmono,” tambah Sumitro.

Sumitro berusaha menangkap maksud di balik mengapa Soeharto bercerita tentang masa kecilnya yang suram itu di depan segenap anggota keluarga pada acara lamaran Prabowo-Titiek. Bagi Sumitro ini cukup ganjil mengingat sebelumnya Soeharto pernah memarahi Sugiyanto (eksponen Opsus) lantaran yang bersangkutan mengungkapkan silsilah keluarga Soeharto di suatu majalah, di mana disebutkan bahwa Soeharto memiliki darah bangsawan. “Itu artinya, kamu nggak boleh menegur terlalu keras kalau ia banyak memberi fasilitas kepada anak-anaknya. Ia tak ingin anak-anaknya menderita seperti dia. Apa pun anak-anaknya minta, akan diluluskan,” ujar Ibunda Sumitro coba menjelaskan kepada Sumitro. Ibunda Sumitro sangat memahami perangai Sumitro, kalau tidak suka maka langsung menegur, tanpa peduli.

Hubungan keluarga Sumitro dengan putra-putri Cendana kelak memang tak berjalan mulus. Bahkan Prabowo Subianto telah lama memiliki hubungan yang dingin dan boleh dibilang tegang dengan Bambang, Tutut, Mamiek, dan Tommy. “Semua anak Soeharto mendendam kepada Bowo. Cuma Sigit yang sedikit netral,” ungkap Sumitro. Hal ini sebenarnya wajar bila mengingat bahwa Prabowo mewarisi sikap ayahnya yang kerap bersikap terbuka, bila tidak senang/tidak setuju terhadap sesuatu hal maka langsung mengemukakan rasa ketidak-senangannya itu. Prabowo terutama amat prihatin menyangkut sepak terjang bisnis anak-anak Presiden. Ia pernah menentang pembelian tank dan pesawat lantaran mark-up nya mencapai empat kali lipat dari harga sebenarnya! Prabowo dengan ketus menyebut perbuatan itu sebagai penjarahan! Komentar-komentar tajam semacam ini pastilah menyakiti hati keluarga Soeharto. Tatkala Tutut sangat mendominasi penyusunan kabinet dan keanggotaan MPR/DPR 1997, Prabowo juga bereaksi keras, “Mengapa orang-orang terbaik disingkirkan?”

 

Cendana marah mengapa Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, mereka curiga bahwa itu disengaja oleh Prabowo sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan sang raja.

 

Setiap kali berselisih paham dengan Prabowo, anak-anak Soeharto biasanya segera mengadu kepada ayahanda tercinta: Soeharto.

Padahal, semula Sumitro mengenal putra-putri Soeharto sebagai anak-anak yang “manis”. Pada tahun-tahun awal di mana hubungan keluarga Sumitro-Soeharto masih lancar, Sumitro-lah yang diminta menjadi saksi perkawinan Mamiek. She is a very nice girl,” kata Sumitro mengenai kesannya terhadap Mamiek kala itu. Namun, rupanya waktu telah mengubah segalanya.

Tindak-tanduk Sumitro dan keluarga rupanya semakin tidak berkenan di hati keluarga Cendana. Puncaknya adalah peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998. Cendana marah mengapa Prabowo membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR, mereka curiga bahwa itu disengaja oleh Prabowo sebagai bagian dari konspirasi untuk menjatuhkan sang raja. Tutut dan Mamiek marah-marah kepada Prabowo, “Kamu ke mana saja dan mengapa membiarkan mahasiswa menduduki gedung MPR/DPR?” Prabowo dengan sengit balik bertanya apakah ia harus menembaki para mahasiswa itu!

 

prabowo007

 

“Dua kali setelah ia lengser saya coba menelepon, namun ia menolak menjawab. Bagi saya, ah, sudahlah peduli amat! Saya memang punya kebiasaan, kalau ada orang yang turun dari jabatan atau dilanda kesulitan, saya undang makan. Dharsono atau Ibnu Sutowo pun pernah saya undang waktu dia dibebaskan dari kedudukan,” tutur Sumitro.

 

*) Dicuplik dari buku Aristides Katoppo, dkk., Sumitro Djojohadikusumo: Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (Jakarta: Sinar Harapan, 2000). Judul asli bagian yang dipetik, “Besanan dan Hubungan dengan Soeharto”.


[1] Wawancara Sumitro Djojohadikusumo dengan wartawan The Busi­ness Times, Singapura, edisi 15-16 Februari 1997

SOSIALISME KERAKYATAN

Sjahrir edit

 

Oleh Sjahrir

Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

 

Sosialisme adalah suatu cita-cita, suatu ajaran dan suatu pandangan hidup. Akan tetapi Sosialisme adalah pula suatu gerakan untuk mengubah masyarakat hidup bersama, serta kehidupan kita umumnya. Malahan Sosialisme sekarang pun merupakan kekuasaan, kekuasaan di berbagai negeri dan bangsa dimana kaum yang mengaku dirinya sosialis telah berhasil untuk memegang tampuk pemerintahan.

Sosialisme adalah untuk sebahagian suatu tujuan dan satu ajaran, satu teori, akan tetapi kita baru akan lengkap mengerti apa yang harus kita pahamkan dengan Sosialisme itu jika kita tambahkan pada pengetahuan teori kita tentang berbagai ajaran Sosialisme, pengetahuan tentang gerakan gerakan Sosialis, tentang praktek dalam perjuangan untuk mencapai Sosialisme.

 

Tujuannya

Tujuan Sosialisme umumnya diketahui orang terpelajar, yaitu mencapai suatu masyarakat pada mana rezeki adil dan rata terbagi, suatu masyarakat yang tidak mengenal penghisapan dan penindasan, artinya suatu masyarakat pada mana tiada terdapat orang yang sengsara dan mati kelaparan sedangkan ada pula orang yang lain yang hidup dalam kemewahan dan kekayaan yang berlebihan, suatu masyarakat pada mana tidak terdapat bahwa segolongan kecil orang menguasai kehidupan orang banyak yang lain secara ekonomis ataupun politis. Apalagi suatu masyarakat pada mana segolongan kecil manusia dapat memperkaya diri mereka atas dasar kemiskinan dan kebodohan golongan manusia yang terbesar.

 

Oleh karena itu maka dasar dan jiwa Sosialisme, inti Sosialisme, adalah rasa kemanusiaan, adalah rasa setia kawan kemanusiaan.

 

Dasar tuntutan Sosialisme sebenarnya adalah moril. Sosialisme memihak pada orang banyak yang miskin serta sengsara serta terbelakang dalam segala segi kehidupan. Sosialisme menentang penindasan, penghisapan serta kesewenangan dari satu golongan kecil yang berkuasa terhadap golongan yang terbesar. Ia berbuat begitu oleh karena Sosialisme berpegang pada keyakinan bahwa pada yang miskin, sengsara dan lemah selalu akan terdapat lebih banyak kebenaran dan kebaikan daripada yang berkuasa dan kaya serta merajalela. Sosialisme berpihak pada yang banyak, yang lemah dan miskin oleh karena kemanusiaan terdiri dari yang banyak itu. Oleh karena itu maka dasar dan jiwa Sosialisme, inti Sosialisme, adalah rasa kemanusiaan, adalah rasa setia kawan kemanusiaan. Hal ini juga benar untuk apa yang kerap menamakan dirinya Sosialisme yang berdasar pada ilmu pengetahuan ataupun Sosialisme Marx Engels.

Atas dasar setiakawan kemanusiaan itu Sosialisme menghen­daki supaya tidak saja rezeki yang diperoleh di antara kemanusiaan itu adil terbagi secara merata, akan tetapi juga bahwa rezeki untuk kemanusiaan itu diusahakan dengan cara setiakawan kemanusiaan, yaitu dengan usaha bersama, atau dengan kata asing dengan cara kollektief.


Sejarah Cita-cita Sosialisme

Teranglah bahwa cita-cita Sosialisme berdasarkan pada rasa adil dan tidak adil, pada rasa buruk dan baik, pada rasa kema­nusiaan dan rasa setiakawan kemanusiaan. Sejak kemanusiaan sadar akan sifat-sifat kemanusiaannya, jadi sejak nilai-nilai buruk dan baik, serta nilai-nilai adil dan tidak adil dijadikan pedoman di dalam kehidupan kemanusiaan, cita-cita yang menjadi jiwa, inti dan tujuan Sosialisme itu sebenarnya sudah ada, akan tetapi gerakan yang memihak pada kaum yang miskin dan tertindas di antara kemanusiaan itu baru menamakan dirinya Sosialis di abad­-abad yang paling terakhir ini. Ketika itu sudah timbul pengertian tentang sifat-sifat hidup bersama, dan timbul pengertian tentang apa yang disebut masyarakat. Ketika itu rasa keadilan di antara kemanusiaan telah diperkaya pula dengan rasa bahwa tiap manusia itu adalah sama derajatnya dengan manusia yang lain, kaya ataupun miskin. Timbul pula pengertian bahwa masyarakat hidup bersama itu adalah berbentuk serta bentuknya dapat pula dimengerti serta dapat dipengaruhi dengan sadar perwujudannya. Sosialisme di waktu itu menamakan tujuannya Sosialis, dengan arti bahasa: memperhatikan, hendak mengubah masyarakat-hidup-bersama, sehingga tiada lagi terdapat di dalamnya ketidakadilan dan kesewenangan, tidak terdapat lagi di dalamnya penindasan dan peng­hisapan oleh yang kuasa dan kaya terhadap yang miskin, lemah dan bodoh. Sosialisme mendapat arti: gerakan hendak mengubah masyarakat, ataupun gerakan untuk mendirikan masyarakat baru yang adil, di dalam mana kehidupan tiap anggota masyarakat serta hak-hak kemanusiaannya, derajat kemanusiaannya, terjamin oleh masyarakat itu sendiri. Sosialisme dan gerakan Sosialis di zaman ini, yaitu di abad kedelapan belas dan permulaan abad kesembilan belas, kemudian disebut oleh kaum Sosialis yang menyebut diri kaum Sosialis yang berpedoman pada ilmu pengetahuan, ataupun juga disebut kaum Marxis, Sosialisme Utopia. Maksudnya adalah bahwa kaum Sosialis yang hendak mendirikan masyarakat baru dengan dasar-dasar hidup-bersama yang baru dan adil itu, adalah kaum Sosialis yang tidak memperhatikan dan mengenal kenyataan di dalam mana mereka hidup sehingga mereka tiada mempunyai pengertian tentang yang dikehendakinya itu dalam sangkutan serta kemungkinan yang menjadi kenyataan di dalam masyarakat-hidup-bersama.

 

Marxisme

Marx dan Engels adalah pujangga-pujangga Sosialis yang terutama mengupas dan mengkritik usaha-usaha dan gerakan- gerakan kaum Sosialis yang mereka namakan kaum Sosialis Utopia, yang selalu gagal dalam usaha mereka mendirikan masyarakat baru dan adil itu. Marx dan Engels yang terutama mencoba memperkuat cita-cita serta gerakan Sosialis itu, dengan mengemukakan suatu dasar baru untuknya yaitu bahwa Sosialisme itu bukan saja suatu impian dan cita-cita kemanusiaan melainkan adalah suatu keharusan yang akan dilalui di dalam sejarah kemanusiaan. Mereka ini mengikhtiarkan menerangkan bahwa masyarakat hidup-bersama kemanusiaan dalam mana kita hidup itu, yang dinamakannya masyarakat kapitalis, tidak saja perlu diubah, akan tetapi menurut takdir dan hukum hidupnya sendiri mesti berubah menjadi masyarakat sosialis, pada mana tidak ada lagi kaum kaya serta kuasa dapat mempergunakan kemanusiaan yang miskin dan tiada berpunya sebagai alat untuk mempertahankan serta menambah kekayaannya.

 

Pendapat Marx, yang dibentangkannya di berbagai buah pikirannya antara mana di dalam Manifesto Komunis dan Das Kapital, adalah bahwa golongan yang akan memikul masyarakat baru itu ialah kaum buruh yang dipekerjakan di pabrik-pabrik, di dalam industri. Mereka yang akan memelopori perubahan masyarakat kapi­talis itu menjadi masyarakat sosialis.

 

Untuk itu mereka menerjemahkan sejarah kemanusiaan, seperti yang dapat diketahui berdasar tulisan-tulisan serta pengetahuan kita yang lain, tentang asal-usul serta sejarah kemanusiaan, sebagai sejarah masyarakat-hidup-bersama kemanusiaan. Masyarakat hidup-bersama itu dipandang mereka sebagai sesuatu yang mempunyai hukum hidupnya sendiri, yaitu sebagai bentuk-bentuk kehidupan-bersama yang selalu berubah dan berganti menurut keperluan untuk melanjutkan kehidupan kemanusiaan.

Bentuk-bentuk itu pada suatu ketika lahir, sesudah itu berkembang dan kemudian gugur dan runtuh serta lenyap untuk tumbuh kembali sebagai bentuk baru yang bibitnya sudah terkandung di dalam bentuk yang lama. Berpikir dan membentangkan cara begini dinamakan mereka berpikir dan memahamkan cara dialektis.

Bahwa pada itu segi jasmani kelanjutan kehidupan kemanusiaanlah, atau dengan lain perkataan kehidupan fisik kemanusiaanlah, yang menjadi tujuan segala kehidupan dengan berbagai bentuknya, dipandang oleh mereka sebagai hal yang pokok, seperti sebagai kunci pengertian kehidupan dalam masyarakat.

Oleh karena itu mereka memusatkan perhatian mereka pada segi kehidupan kemanusiaan dalam mengusahakan kelanjutan kehidupannya secara fisik, kepada usaha mencari rezeki kemanusiaan dan pada segi kegiatan ekonomi yang dapat dilihat dan dipelajari di dalam masyarakat-hidup-bersamanya. Untuk keperluan itu mereka membagi sejarah di dalam beberapa zaman dan tingkatan, dan ditunjukkan beberapa bentuk hidup bersama dalam mencari rezeki untuk melanjutkan kehidupan jasmani kemanusiaan itu. Dipertunjukkannya bagaimana berbagai bentuk itu tumbuh, berkembang dan lenyap oleh karena mula-mula diperlukan untuk mem­perbaiki syarat-syarat untuk melanjutkan kehidupan secara fisik itu, yaitu menambah rezeki, menambah apa yang menjadi keperluan hidup untuk seluruh kemanusiaan dan kemudian ternyata masih kurang dibanding dengan perkembangan dan kemajuan kemanusiaan dari segi jumlahnya dan sebagainya, hingga tiada pula lagi mencukupi serta timbul kembali keharusan memperoleh bentuk dan cara baru untuk melanjutkan pula kehidupan itu.

Zaman-zaman dan tingkatan-tingkatan itu dinamakan mereka bentuk dan tingkatan kolektivisme purbakala, pada mana kehidupan mencari nafkah dan rezeki masih berbentuk sangat sederhana, dan begitu pula masyarakat-hidup-bersama. Pada waktu itu semua hal yang diperlukan manusia dikumpulkan dari alam secara bersama-sama dan digunakan pula secara bersama-sama. Sesudah itu datang zaman feodal, pada mana keperluan hidup terutama dihasilkan dengan jalan pertanian yang menetap. Untuk itu dipergunakan perbudakan oleh kaum raja dan ningrat untuk kelanjutan dan kehidupan kemanusiaan itu. Dan kemudian datanglah zaman atau tingkatan kapitalisme pada mana lebih terkemuka di dalam masyarakat-hidup-bersama itu pabrik, mesin serta perdagangan dengan perburuhannya dan kaum majikannya sebagai sumber terutama daripada rezeki dan nafkah kemanusiaan.

Masyarakat pada tingkat yang terakhir inilah yang kemudian menjadi perhatian pokok Marx-Engels. Mereka berkeyakinan bahwa jika diperoleh pengertian yang cukup luas dan benar atas masyarakat kapitalis itu akan terang pula kelak bila dan bagaimana akan lenyapnya masyarakat yang berbentuk kapitalis itu dan kekuatan-kekuatan mana yang harus dianggap sebagai pemikul-pemikul bentuk baru kehidupan kemanusiaan kelak. Kekuatan-kekuatan itu dianggap sebagai bibit yang telah terdapat di dalam masyarakat kapitalis itu sendiri untuk bertumbuh menjadi bentuk masyarakat baru.

Pendapat Marx, yang dibentangkannya di berbagai buah pikirannya antara mana di dalam Manifesto Komunis dan Das Kapital, adalah bahwa golongan yang akan memikul masyarakat baru itu ialah kaum buruh yang dipekerjakan di pabrik-pabrik, di dalam industri. Mereka yang akan memelopori perubahan masyarakat kapi­talis itu menjadi masyarakat sosialis. Bagaimana pentingnya kaum buruh itu di dalam masyarakat kapitalis juga sudah dijelaskannya dengan mengemukakan teori arbeidswaarde-nya, dan keharusan berlalu dan runtuhnya sistem kapitalis itu digambarkannya dengan tidak dapat dihindarkannya krisis-krisis ekonomi di dalam masyarakat kapitalis, yang selalu menambah pengangguran serta ketegangan-ketegangan di dalam masyarakat, sehingga akhirnya menimbulkan kemelaratan dan kesengsaraan yang kian hebatnya (ditambah lagi dengan kegoncangan-kegoncangan di dalam masyarakat dan kehidupan) sehingga dapat mengancam kehidupan kemanusiaan dengan kehancuran. Pada waktu itu terjadilah krisis kapitalisme yang akan menghasilkan kemenangan kaum buruh dan proletar.

Mereka ini akan menyelamatkan kehidupan kemanusiaan dengan memulai kehidupan ekonomi dan masyarakat dalam bentuk yang baru, yaitu dengan bentuk masyarakat sosialis, pada mana milik perseorangan atas alat-alat penghasilan diganti dengan milik bersama (kolektif) atasnya, atau dengan melenyapkan paham milik atas alat-alat penghasilan itu sama sekali.

 

Oleh kaum Bolshevik di Rusia, ajaran Marx-Engels diangkat menjadi semacam agama yang dianggap mengandung segala kebenaran yang terakhir di dunia. Ia dijadikan agama yang menolak segala agama yang lain.

 

Dengan tujuannya bahwa masyarakat kapitalis mesti melahirkan masyarakat Sosialis, bahwa krisis dan pengangguran akan berganti menjadi jaminan kerja dan jaminan kehidupan buat tiap orang, sebenarnya ajaran Marx-Engels menjadi pendorong dan penarik yang terkuat atas kaum buruh untuk menganut gerakan Sosialis. Ajaran Marx-Engels menjadi alat yang paling tajam dan efektif untuk membangunkan keinginan dan kesadaran kaum buruh untuk memperjuangkan nasib mereka di dalam masyarakat.

Ajaran dan anjuran yang terdapat di dalam teori Marx-Engels itu tentang perjuangan kelas yang berkembang menjadi kebencian dan peperangan kelas, mempercepat lagi kegiatan kaum buruh itu dan tiadalah dapat disangkal bahwa kemajuan gerakan buruh serta gerakan Sosialis sangat maju dan meluas dengan pertolongan ajaran-ajaran Marx-Engels tentang kapitalisme dan pertentangan kelas. Marxisme di tempo yang lalu menjadi ajaran dan kepercayaan pemimpin buruh dalam gerakan sekerja dan dalam gerakan Sosialis. Ia menjadi pembantu yang paling penting dalam perjuangan kaum bolshevik di Rusia sehingga dapat menghasilkan kemenangannya.

Oleh karena itu tiadalah mengherankan bahwa kepercayaan terhadap ajaran Marx-Engels itu akhirnya berkembang menjadi pemujaan serta dianggap mutlak kebenarannya seperti ajaran agama-agama, dan dilepaskanlah ia dari kritik terus menerus, diberikan pula padanya kedudukan yang lain daripada kebenaran penetapan ilmu pengetahuan yang biasa, yang selalu dianggap sementara dan selalu pula harus disesuaikan dengan kenyataan- kenyataan yang baru diketahui dan diperoleh. Oleh kaum Bolshevik di Rusia, ajaran Marx-Engels diangkat menjadi semacam agama yang dianggap mengandung segala kebenaran yang terakhir di dunia. Ia dijadikan agama yang menolak segala agama yang lain.

Oleh karena itu ajaran Marx-Engels itupun menjadi beku, atau ia hanya lagi dihargakan sebagai suatu peralatan politik dalam perjuangan kaum buruh. Senjata yang digunakan menurut keperluan.

 

Sosialisme Modern

Perkembangan sejarah kemanusiaan sesudah Marx dan Engels mengemukakan ajaran-ajaran mereka itu tidaklah sesuai seluruhnya dengan kiraan Marx-Engels. Sedikitnya sama sekali tidak sesuai dengan kesan yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran mereka itu pada kebanyakan pemimpin kaum buruh dan kaum cerdik pandai yang menganut paham sosialisme. Krisis-krisis ekonomi benar berulang, akan tetapi ternyata tidak seperti yang dikesankan dalam gambaran teori krisis Marx-Engels. Kesengsaraan dan kemelaratan, malahanpun pengangguran, tidak bertambah seperti yang disangka orang. Sebaliknya dengan sangat nyata kemajuan dalam kedudukan jasmani dan kecerdasan kaum buruh justru di negeri-negeri yang paling maju industrinya, dapat dilihat. Oleh karena itu janji keruntuhan kapitalisme melewati jalan yang digambarkan oleh Marx-Engels itu lambat laun tidak lagi dapat meyakinkan. Maka datanglah ajaran Lenin-Stalin yang menekankan keperluan persediaan dan kecakapan menjalankan pemberontakan. Ajaran itu mengatakan bahwa sebenarnya dunia telah berada dalam zaman peralihan kapitalisme menjadi sosialisme, dan berhasil atau tidaknya perubahan itu hanya tergantung pada kecakapan dan kesediaan kaum Sosialis untuk merebut kekuasaan dari tangan kaum kapitalis atau borjuis. Oleh karena itu maka menambah kesediaan dan kecakapan melakukan pemberontakan itulah yang harus diutamakan di antara kaum buruh, kaum pelopor dan pemimpinnya, yaitu kaum komunis Lenin dan Stalin.

 

Yang menjadi pegangan pokok mereka hanyalah solidaritas kelas, malah pada akhirnya yang menguasai segala pikiran dan tindakannya hanyalah disiplin partai komunis dan kepentingan partai komunis. Maka lenyaplah apa yang sebenarnya inti dan jiwa segala sosialisme dari jiwa Stalinisme dan Leninisme ini.

 

Kaum komunis Stalin dan Lenin dengan demikian mengemukakan sebagai hal yang terpenting bagi orang yang menamakan dirinya kaum Marxis, ialah mengatur peperangan kelas seperti peperangan biasa dengan ajaran perangnya, yaitu strategi dan taktik perjuangan dan peperangan kelas. Manifesto Komunis dijadikannya landasan ajaran perang kelas itu dan diaturnya pula komando-komando untuk balatentara dan barisan buruh dan proletar. Kesatuan komando diperoleh dengan mengajarkan bahwa hanya Partai Komunis atau bolshevik saja yang berhak memimpin peperangan kelas kaum buruh itu, yang tidak hendak dan sanggup tunduk kepada komando kaum bolshevik atau komunis itu harus dianggap musuh dan lawan kaum proletar, musuh kelas yang juga bisa berada sebagai musuh di dalam selimut di kalangan kaum buruh sendiri. Komando peperangan kelas itu disusun sebagai komando tentara, dengan disiplin baja dan dengan indoktrinasi yang dapat menimbulkan kepatuhan yang fanatik terhadap kaumnya dan perjuangannya. Mereka harus dapat berlaku sebagai dan berkepercayaan bahwa segala kebenaran ada pada mereka dan mereka pula yang telah ditakdirkan oleh sejarah untuk menyelamatkan kaum­nya, yaitu kaum proletar. Sikap jiwa yang demikian telah berhasil menimbulkan di antara mereka ini yang menganggap dirinya sosialis yang paling benar, kebencian yang kian besarnya terhadap sekalian yang tidak dapat atau sanggup mengikuti mereka, sehingga bahagian kemanusiaan yang bukan komunis seperti mereka, apalagi mereka yang menentang ajaran serta gerakannya, dipandangnya sebagai bahagian kemanusiaan yang harus dihancurkannya dengan segala akal dan jalan. Terhadap mereka yang dianggapnya lawan itu tidaklah berlaku rasa kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan.

Yang menjadi pegangan pokok mereka hanyalah solidaritas kelas, malah pada akhirnya yang menguasai segala pikiran dan tindakannya hanyalah disiplin partai komunis dan kepentingan partai komunis. Maka lenyaplah apa yang sebenarnya inti dan jiwa segala sosialisme dari jiwa Stalinisme dan Leninisme ini. Dan berlaku di antara mereka nilai-nilai peperangan pada mana tiada salahnya untuk membunuh sesama manusia jika ia berada dipihak lawan, dan menjadi pujian jika dapat menipu dan memperdaya musuh yang mesti dibunuh dan dihancurkan itu. Tiadalah berlaku di antara mereka kesusilaan kemanusiaan, melainkan sikap jiwa perang semata-mata, pada mana kaum komunis itu merasa diri berperang kelas dengan bahagian kemanusiaan yang tidak hendak tunduk pada pimpinan komando komunisnya itu. Sikap kaum Stalinis dan Leninis yang kianlah yang selama berpuluh tahun lebih hari lebih jelas diperlihatkan dan sikap itu pulalah yang membuatnya terkenal sebagai tiada berperasaan sesama kemanusiaan dan tiada berperasaan kasihan. Hal ini mempengaruhi perkembangan dan kedudukan Sosialisme di dunia selanjutnya.

Sebahagian kaum Sosialis menolak bahwa apa yang dikemukakan oleh kaum komunis itu adalah Sosialisme yang dimaksudkan oleh Marx-Engels. Mereka menolak segala hubungan dan sangkut-paut antara kekejaman dan ketiadaan kemanusiaan kaum komunis Leninis-Stalinis dengan cita-cita dan perjuangan sosialis Marx dan Engels. Mereka menunjukkan bahwa sosialisme berdasar ilmu-pengetahuan yang dikemukakan oleh Marx-Engels itu hanyalah suatu alat untuk mewujudkan Sosialisme yang harus dipandang sebagai bentuk yang sempurna daripada setia-kawan kemanusiaan. Bukanlah bahwa dengan menganut sosialisme Marx-Engels tiada lagi berlaku nilai-nilai kemanusiaan umumnya untuk kaum sosialis, sehingga kaum sosialis tidak bersikap sebagai sesama manusia terhadap siapa yang dipandang musuh atau lawan kelas. Apalagi kegilaan Komunis Lenin dan Stalin itu menganggap dan mengemukakan diri seakan-akan mereka itu mewakilkan kaum proletar dengan secara ekslusif sehingga semua yang dianggapnya dan dipandangnya sebagai lawannya haruslah pula dipandang dan dianggap musuh kelas, yang dapat diperlakukan sebagai binatang buas, yaitu ditipu, dibunuh, dan dimusnahkan secara lahir dan batin.

 

Oleh karena itu mereka menghormati MarxEngels sebagai penganjur dan pahlawan perjuangan buruh dan sosialis, akan tetapi sekali-kali mereka tidak memandang pikiran-pikiran Marx-Engels itu sebagai mengandung kebenaran mutlak, apalagi sebagai kata-kata nabi, atau seperti ajaran yang harus diperlakukan sebagai suatu agama yang modern yang menggantikan agama-agama yang lebih dahulu dan lebih tua.

 

Mereka yang menentang ajaran bolshevisme ini sekarang sebaliknya menekankan bahwa Sosialisme tiadalah lain daripada cita-cita kemanusiaan yang lebih sempurna dan tinggi. Oleh karenanya sosialisme sungguh-sungguh dan bukan untuk akal-akal perjuangan dan peperangan kelas saja, berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan umumnya pada moral dan setiakawan kemanusiaan sebagai lebih tinggi daripada moral dan setiakawan segolongan atau kelas. Mereka mengakui kebenaran kritik Marx bahwa penipuan moralitas yang digunakan oleh banyak kaum yang berkuasa sebagai moralitas dan etik yang digunakan untuk membela kedudukan yang berkuasa. Akan tetapi tidaklah itu berarti bahwa tiada sama sekali tempat untuk moralitas dan etik kemanusiaan yang bukan moralitas dan etik kelas dan perjuangan kelas.

Dan tidaklah dapat teori bangunan atas dan bangunan dasar Marx (bovenbouw dan onderbouw) diterjemahkan kian rupanya sehingga kaum yang menganggap dirinya Marxis tidak usah bersikap sesama manusia terhadap orang yang dianggapnya lawan kelasnya.

 

Bagi kita solidaritas kelas tetap kita pandang duduknya di bawah solidaritas kemanusiaan, dan begitu pula segala perjuangan yang dinamakan perjuangan kelas itu hanya kita anggap benar jika sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan umumnya.

 

Mereka inipun tidak menganggap bahwa kemungkinan terwujudnya Sosialisme di antara kemanusiaan tergantung pada benar atau tidaknya seluruh teori dan tujuan Marx-Engels. Oleh karena itu mereka menghormati Marx-Engels sebagai penganjur dan pahlawan perjuangan buruh dan sosialis, akan tetapi sekali-kali mereka tidak memandang pikiran-pikiran Marx-Engels itu sebagai mengandung kebenaran mutlak, apalagi sebagai kata-kata nabi, atau seperti ajaran yang harus diperlakukan sebagai suatu agama yang modern yang menggantikan agama-agama yang lebih dahulu dan lebih tua. Kaum sosialis yang berpegang pada etik dan setia kawan kemanusiaan ini, yang memperjuangkan sosialisme secara kemanusiaan, yang tidak fanatik membabi-buta berpegang pada keramatnya ajaran Marx-Engels seperti diterjemahkan oleh Lenin dan Stalin ini, oleh karena itu lebih luas dan lega jiwa dan pandangannya. Segala perjuangan dilakukan oleh mereka di dalam batas-batas nilai kemanusiaan. Jika adakalanya bahwa tidak dapat dihindarkan perjuangan tajam dan fisik, seperti jika terpaksa mengadakan perberontakan terhadap tin­dasan dan kesewenangan yang mengancam kehancuran, tiadalah mungkin bahwa mereka dapat memuja kekerasan dan tindasan dan pengekangan kehidupan sebagai suatu sistem seperti dilakukan oleh kaum komunis (bolshevik) di semua negara dimana mereka berkuasa. Di negeri-negeri dimana kaum komunis (bolshevik) itu berkuasa atas nama perjuangan kelas, atas nama pemerintahan diktatur proletar, diadakan pengekangan, tindasan dan penghisapan secara teratur dan totaliter atas seluruh rakyat. Untuk orang Sosialis yang benar-benar hendak menganut jiwa dan semangat Marx-Engels haruslah tiap kekerasan terhadap sesama manusia itu dirasakan sebagai suatu penyelewengan dan kesalahan yang bukan saja harus selekas mungkin ditinggalkan, akan tetapi selalu dihindarkan dan sebaliknya di dalam segala kehidupannya selalu harus terutama yang ke muka sifat kemanusiaannya terhadap sesama manusia meskipun dia sebenarnya dianggap lawan atau musuh kelas.

 

Sosialisme Kerakyatan

Sosialisme Kerakyatan di Indonesia adalah termasuk golongan Sosialisme modern ini. Kerakyatan seperti yang dikemukakan oleh Sosialisme Kerakyatan di Indonesia ini memanglah bertentangan dengan ajaran bahwa Sosialisme yang berniat menjadi wali atas kemanusiaan seperti yang diperlihatkan oleh kaum Stalinis dan Leninis di muka bumi sekarang ini. Sosialisme Kerakyatan menjunjung tinggi jiwa kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan, meskipun pada itu ada juga dikemukakan perjuangan kelas pada kaum buruh, jika ternyata bahwa sifat-sifat kelas itu sangat nyata dan diperlukan menunjukkan pada kaum buruh untuk mempercepat timbul dan majunya kesadarannya akan kedudukan ekonomisnya dan dapat pula membantunya memperkuat dan menyusun diri serta perjuangan kehidupannya. Bagi kita solidaritas kelas tetap kita pandang duduknya di bawah solidaritas kemanusiaan, dan begitu pula segala perjuangan yang dinamakan perjuangan kelas itu hanya kita anggap benar jika sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan umumnya.

 

*) Dicuplik dari buku Bunga Rampai Sosialisme Kerakjatan (Djakarta: DPP Gemsos, 1957)

DAPATKAH BANGSA INDONESIA MEMPERTAHANKAN “HARGA-DIRINYA” DALAM ALAM INDONESIA MERDEKA?

margono018

 

Oleh Margono Djojohadikusumo

Pendiri BNI ’46; Pendiri dan Ketua Bagian Keuangan Hatta Foundation

 

Bung Hatta pada tanggal 12  Agustus 1972 akan berusia  70 tahun. Sebagai tokoh nasional dan seorang pejuang kemerdekaan yang murni sudah cukup terkenal baik di luar maupun di dalam negeri sendiri.

Dalam buku peringatan ini bagi penulis tidak ada tempatnya untuk mengulangi atau mengenangkan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan perjuangan beliau di waktu yang lampau. Saya hanya ingin mengungkapkan beberapa peristiwa kecil yang menurut hemat saya merupakan pegangan pokok bagi kehidupan kita sebagai bangsa yang telah berhasil memulihkan kemerdekaan tanah air dan berhasrat tetap menikmati kemerdekaan ini.

“Pegangan pokok” yang saya maksudkan ini tidak lain sifat kepribadian seseorang dalam pergaulannya dengan bangsa lain, yaitu menjunjung tinggi harga diri atau dengan kata-kata asing “self-respect”.

Sifat demikian itu bukanlah berarti mengagungkan diri dan sombong atau takabur dan merasa gagah sendiri dalam tingkah lakunya. Manusia yang menjunjung tinggi self respect umumnya rendah hati dalam percakapan dan pergaulan hidup sesama.

Perkenalan saya pertama kali dengan Bung Hatta pada masa pendudukan Jepang dalam tahun 1942, kurang lebih satu bulan setelah Pemerintah Belanda menyerah.

 

Beberapa Peristiwa Kecil yang Mengesankan

Sebelum melanjutkan tulisan ini lebih dahulu saya minta maaf jika sifat daripada karangan ini tidak sesuai dengan mutu buku peringatan yang akan dipersembahkan pada Bung Hatta.

Akan tetapi apa yang saya uraikan di bawah ini berdasarkan penglihatan dan pengalaman waktu yang lampau, yang patut menjadi pelajaran bagi generasi kita sekarang dan generasi mendatang.

Peristiwa kecil yang mengesankan saya dalam hubungan saya dengan Bung Hatta adalah demikian:

Baru satu bulan tentara Jepang menduduki Jakarta, ke­pada Gun Seikanbu (pejabat tertinggi pemerintahan Jepang) akan disampaikan sebuah lukisan sebagai tanda terima kasih bangsa Indonesia. Oleh Bung Karno diminta pada Bung Hatta untuk bersama-sama “menghadap” pada Gun Seikanbu menyampaikan lukisan itu. Bung Hatta menolak dengan jawab­nya, “Tidak sepatutnya kita merendahkan diri sebagai pelayan terhadap tentara Jepang. Pemberian lukisan itu baiklah diberikan pada lain kesempatan dengan cara lain juga.”

Penolakan Bung Hatta bukan semata-mata untuk menentang kemauan Bung Karno, akan tetapi hanya menunjukkan harga-dirinya, atau self-respect-nya.

Pada waktu itu hubungan kedua pemimpin satu sama lainnya masih sangat erat dan tidak perlu disangsikan.

“Harga-diri” atau “self-recpect” yang selama penjajahan berabad-abad hampir lenyap dari tubuh bangsa Indonesia terbukti pada tanggapan negatif instansi Pemerintah yang ber­wenang dahulu mengenai persiapan pusat perbankan atau bank sentral. Indonesia Merdeka tanpa alat perbankan tak akan ada artinya. Alat perbankan untuk mengatur perekonomian nasional tidak kurang pentingnya daripada tentara guna pertahanan fisik.

Sebulan sesudahnya Proklamasi (September 1945) pada instansi tersebut saya ajukan gagasan menyiapkan sebuah bank sentral (yang sekarang disebut BNI ‘46). Penulis mendapat dampratan demikian: “Kita sedang sibuk menyiapkan peme­rintahan negara, jangan ribut-ribut memikirkan sesuatu bank sentral, nanti kita mengambil oper Javasche Bank yang sudah lengkap peralatannya dan orang-orang yang ahli sekaligus.”

Saya sangat mendongkol mendengar kata-kata itu, bukan oleh karena saya dipandang tidak ahli—memang hal itu benar, saya sekali-kali bukan ahli dalam soal itu—akan tetapi seolah-olah kita tidak punya kepercayaan lagi pada diri sendiri, sehingga hanya mengharapkan saja kembalinya De Javasche Bank.

Dalam perasaan demikian saya pergi ke Bung Hatta. Sjukurlah beliau mempunyai pandangan lain yang menguatkan pendirian saya dengan tanggapannya demikian, “Teruskanlah usaha saudara, saya akan membantu sedapat mungkin. Memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi kita harus mencoba dengan kekuatan sendiri dengan segala risikonya.”

 

margono

 

Sejenak Menengok ke Belakang

Proses melunturnya self-respect dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sebenarnya sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Dalam pengalaman saya dari waktu yang lampau saya mengikuti pelongsoran pendirian demikian yang dimulai dari lapisan atas masyarakat kita yang saya maksudkan cara kita berhadapan dengan bangsa asing—dalam hal ini dahulu bangsa Belanda.

Tahun 1912, ketika itu saya berusia 18 tahun dan baru lulus dari Osvia Magelang dan bekerja sebagai juru tulis pada kantor Kepatihan di Banyumas, yaitu kantor seorang pejabat Pamong Praja tertinggi di bawah Bupati. Patihnya seorang pejabat kuno, tetapi berpendidikan Osvia juga dan menguasai bahasa Belanda. Pada suatu waktu saya mendengar percakapan telepon beliau dengan seorang kontrolir (pejabat Pamong Praja bangsa Belanda). Maksudnya beliau dipanggil oleh kontrolir itu. Lalu dijawab demikian, “Kalau Tuan membutuhkan pendapat saya, silahkan datang di kantor saya. Saya sudah ada di kantor mulai jam 7.” Dalam bahasa Belanda, “Als U mijn advies nodig heeft, komt U hier in mijn kantoor. Ik ben hier al vanaf 7 uur.”

Itu sifat seorang pejabat kuno yang secara halus memberi pelajaran pada kontrolir muda itu dan menunjukkan self-respect-nya. Nama patih itu adalah R. Gandasubrata yang kemudian lebih terkenal sebagai Pangeran Gandasubrata setelah menjabat bupati di Banyumas.

Dalam periode yang sama (1914) di Kutoarjo saya sudah bekerja pada lain jawatan, bukan pada Pamong Praja lagi. Kebetulan bersama-sama seorang kontrolir Belanda saya akan mengunjungi Pak Bupati setempat. Bupati ini seorang yang sudah lanjut usianya. Kontrolir tersebut tidak berani menginjak lantai pendopo sebelum Pak Bupati keluar dan mempersilahkan dia masuk ke pendopo. Demikian keadaan pada waktu itu.

Para Bupati kuno masih disegani oleh pajabat-pejabat Belanda atau bangsa asing umumnya, walaupun sikap demikian bersumber pada tradisi feodal. Juga pendirian Pak Gandasubrata boleh dikatakan sisa feodal, sedang Bung Hatta adalah seorang demokrat. Betapapun pejabat bangsa Belanda masih mempunyai keseganan (Jawa = éring) terhadap pejabat Indonesia.

 

Periode Sepuluh Tahun kemudian (1923/1924)

Kali ini kejadiannya di Jawa Timur. Ini percakapan seorang bupati dengan seorang pejabat Belanda (bukan dari Pamong Praja) yang datang dari Jakarta. Sikap bupati itu dalam percakapan dengan pejabat tersebut begitu menggelikan bagi yang mendengarnya. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan oleh pejabat itu disambut dengan “hamba, hamba”. Mengapa tidak cukup dengan “ya” atau “saya tuan”? Seorang bupati bukan pesuruh atau pelayan. Jika kepala daerah bersikap demikian terhadap orang asing, apa lagi bawahannya.

Seorang wedana (kepala distrik) dalam kabupaten yang sama menunjukkan sikap serupa waktu berhadapan dengan seorang kontrolir Belanda. Wedana itu masih muda dan sebaya dengan saya. Oleh karena dia menguasai bahasa Belanda, percakapan dengan kontrolir berlangsung dalam bahasa itu. Akan tetapi kepada kepala-kepala desa yang berkumpul pada kesempatan itu dia selalu menjebutkan kontrolir itu dengan “Kanjeng Tuan”. Misalnya, “Kangjeng tuan kontrolir bilang begini, kangjeng tuan kontrolir bilang begitu” dan selanjutnya.

Waktu kontrolir itu sudah meninggalkan tempat, saya tanya pada Pak Wedana, “Mengapa saudara memberi gelar ‘kangjeng tuan’ begitu murah pada kontrolir itu?” Jawabnya, “Ya di daerah ini sudah lazim begitu. Habis saja toh juga harus turut kebiasaan.”

 

Sedikit Penjelasan

Perkataan “kangjeng” adalah singkatan dari kalimat ba­hasa Jawa, “Hingkang wonten hing ngajeng”, yang berarti “Yang ada di barisan muka”, jadi sebutan bagi seorang pemimpin.

Di zaman lampau juga banyak singkatan-singkatan yang pada waktu ini sukar ditransir kembali. Juga singkatan seperti “jagung” (jaksa agung), “mendagri “ (menteri dalam negeri), “Sulut”, “Jateng”, “Jatim” dan sebagainya mungkin lima puluh tahun kemudian tidak ada orang akan tahu asal mulanya.

Gelar “kangjeng” dahulu hanya dipergunakan untuk “Rijks-bestuurder” kerajaan Sala dan Yogya dengan sebutan “Kangjeng Raden Adipati”.

Kemudian para bupati yang diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda oleh masyarakat kita diberi sebutan juga “Kangjeng Bupati”; di daerah Parahiyangan disebut “Kanjeng Dalem” dan sebagainya. Bahkan para bupati di Jawa Tengah bagian Uta­ra yang disebut “pesisiran”, seperti Brebes, Pekalongan, Semarang, Kudus, Rembang dan seterusnya, di muka “kangjeng” ditambah “gusti”, sehingga menjadi “gusti-kangjeng” atau “super-kangjeng”.

Keadaan itu mungkin peninggalan dari zaman VOC. Bupati-bupati ini yang oleh Belanda (VOC) selalu dipergunakan sebagai alat menentang kerajaan Mataram, meskipun daerahnya resmi termasuk wilayah Mataram.

Baiklah itu semua adalah sejarah yang tidak dapat digang­gu-gugat lagi. Saya akan membatasi diri dan mengakhiri mengenangkan peristiwa-peristiwa yang untuk generasi sekarang hanya memuakkan saja.

Tulisan ini, yang disiapkan guna buku peringatan Bung Hatta, merupakan pula renungan kalbu seorang kakek yang selama seperempat abad merasa ada hubungan batin dengan beliau. Ada peribahasa Belanda yang berbunyi “In het verleden ligt het heden, in het heden wat worden zal.”

Terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia saya serah­kan pada para ahli bahasa. Bagi saya sendiri peribahasa itu hanya mengandung makna yang sangat sederhana, yaitu hendaklah perbuatan kita di hari ini jangan sampai disesalkan oleh generasi mendatang.

 

Kesimpulan

Renungan kalbu pada hakekatnya menganalisa diri pribadi, baik sebagai individu, maupun sebagai anggota masyarakat. Pada karangan ini saya beri judul, “Dapatkah Bangsa Indo­nesia Mempertahankan “Harga Dirinya” dalam Alam Indonesia Merdeka?”.

Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu. Perjalanan kita masih jauh dan lama. Kemerdekaan 25 tahun tidak dapat menghilangkan sekaligus ciri-ciri peninggalan penjajahan berabad-abad.

Hanya rasa terima kasih terhadap Tuhan yang Maha Esa meliputi diri saya, bahwa bangsa dan negara Indonesia telah menduduki kembali tempat yang terhormat di lingkungan ne­gara-negara yang merdeka dan berdaulat di dunia.

Belum lama berselang, pada 1962, saya ada di pengasingan di luar negeri, melihat beberapa pedagang nasional kita keliaran dengan paspor dinas dan surat resmi dari Gubernur Bank Sentral dahulu, mencarikan kredit, utangan dari luar negeri. Siapa yang tidak malu melihat keadaan demikian?! Belum ber­usia 20 tahun Republik Indonesia merdeka sudah begitu merosot self-respectnya, mengemis kanan-kiri dan menjadi tertawaan negara asing.

Tragedi nasional bulan September 1965, betapa beratpun penderitaan kita pada saat itu, adalah peringatan Tuhan pada bangsa kita, khususnya pada pemimpin-pemimpin kita, pada “kangjeng-kangjeng” kita (hingkang wonten hing ngajeng) untuk kembali pada jalan yang benar. Dapatkah kita mengambil pelajaran dari peringatan Tuhan itu?

Syukurlah berkat bangkitnya Angkatan 1966, generasi muda dengan jiwa yang murni dan suci, kehormatan bangsa dan negara Indonesia yang merdeka sedikit demi sedikit mulai pulih kembali. Kita mulai lega dapat bernapas lagi, berpikir dan bicara secara bebas, bergaul dengan leluasa dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Pendek kata merasa hidup merdeka lagi.

Akan tetapi justru dalam situasi demikian itu orang lalu menjadi alpa, lengah meninggalkan kewaspadaan. Dewasa ini sudah berduyun-duyun bangsa asing mengunjungi negara kita. Kita merasa bangga dan gembira.

Bangsa asing tetap bangsa asing. Apa itu Inggris, Jepang, Belanda, Amerika tidak ada bedanya. Mereka semua mencari rezeki di bumi Indonesia dengan jalan apapun. Empat ratus tahun yang lalu, Portugis, Inggris, Belanda juga sudah mulai datang di sini, sebagai tamu, pedagang. Kemudian oleh karena kelengahan, kealpaan dan perbuatan kita sendiri maka mereka dari tamu berubah menjadi majikan, dari majikan menjadi “Kangjeng Tuan”.

Kita senang jika ada bangsa asing mengatakan bahwa orang-orang Indonesia lemah-lembut, ramah dan sebagainya. Sudah sewajarnya kita menerima tamu dengan ramah-tamah, akan tetapi kita harus membatasi diri, jangan memberi pelayanan yang berlebih-lebihan, seperti di waktu yang lampau. Untuk pinjam istilah dunia film atau sandiwara, janganlah over acting. Inilah yang saya maksudkan dengan mempertahankan self-respect kita.

 

*) Dicuplik dari buku Bung Hatta: Mengabdi pada Tjita-tjita Perdjoangan Bangsa (Djakarta: Panitia Peringatan Ulang Tahun Bung Hatta ke-70, 1972)

KEADAAN INDONESIA

tan-malaka-2

 

Oleh Tan Malaka

 

Ekonomi

Adapun sifat kapitalisme di jajahan, seperti Indonesia dan Asia lain, adalah berlainan sekali dengan kapitalisme di Belanda dan Eropa lain. Di sana lahir dan majunya kapitalisme itu terbawa oleh keperluan negeri sendiri, sedangkan di sini lahir dan majunya kemodalan itu terbawa oleh keperluan bangsa asing. Sebab itu di Eropa majunya kapitalisme itu dengan jalan menurut alam atau organisch, sedangkan di Indonesia kunstamatig atau bikinan. Berpadan dengan hal itu, Kapitalisme di Eropa ada sehat dan sempurna, sedangkan yang di Indonesia verkracht atau terperkosa, seolah-olah sepokok kayu yang kena kelindungan.

Kapitalisme di Eropa membagi negeri atas kota dan desa. Di kota terdapat perusahaan atau industri dari kain, besi, batu, kertas, dan lain-lain. Sedangkan di desa terdapat gandum, sayur, sapi, domba dan hasil buat lain-lain makanan. Jadi dipukul rata kota memperusahakan barang pabrik dan desa mengadakan hasil tanah dan ternak. Bagian pekerjaan di kota dengan desa itu bertambah terang sekali pada negeri yang sangat maju permodalannya

Tentulah hasil pabrik di kota itu, gunanya, terutama buat penduduk kota sendiri. Sisanya itu ditukarkan dengan makanan yang dihasilkan oleh desa. Begitulah kain, pisau, perkakas rumah, baja, dan lain-lain yang dibikin di kota ditukar dengan gandum, sayur, daging, dan lain-lain yang dihasilkan di desa, yakni dengan sisa yang dimakan oleh penduduk desa. Pada negeri kemodalan yang belum terang imperialistis, dan sehat ekonominya seperti Amerika sebelum perang 1914-1918, maka jumlah harga sisa barang kota itu hampir sama dengan harga sisa hasil tanah di desa. Begitulah asal majunya kemodalan dan perusahaan, yakni dari pertukaran barang pabrik di kota-kota dan hasil tanah di desa-desa. Makin maju perusahaan di kota, makin banyak penduduk desa lari ke kota mencari pekerjaan, kepandaian atau kepalsiran, karena di kota terkumpul, pabrik, sekolah, bioskop, rumah komedi, dan lain-lain.

Di Indonesia juga akan bisa begitu, kalau Belanda tak datang dan membunuh perusahaan kecil-kecil, buat membikin kapal, kain, barang-barang besi, seperti sudah ada di Tuban, Gresik, dan lain-lain. Perusahaan kecil-kecil itu juga akan jadi besar, memakai uap dan listrik seperti di Eropa dan Amerika. Kota-kota Indonesia juga akan menarik penduduk desa dengan lekas dan bertambah hari bertambah maju penduduk, pabrik dan kaum buruhnya. Juga di kota Indonesia akan diadakan kain, bajak buat desa, dan desa-desa terutama hasilnya buat penduduk kota-kota Indonesia sendiri.

Tetapi sebab Belanda dengan hukum melarang membuat kapal dan membunuh perusahaan anak negeri dengan memasukkan barang pabrik yang murah harganya, maka kota dan desa kita jadi lain sifatnya dari kota di Eropa. Kota kita tidak ada yang menghasilkan, kain, bajak dan perkakas lain buat desa-desa, karena semua barang, ini dimonopoli atau diborong oleh Belanda. Desa kita tidak buat mengadakan hasil untuk penduduk kota, melainkan terutama buat tebu, teh, kopi, getah dan sebagainya bukan buat keperluan negeri dan Bumiputera, melainkan buat untung si Pengisap yang tidur di Belanda. Sebab itu desa dan kota kita satu dengan lainnya tidak bergandengan dan tali bertali seperti pada suatu negeri yang sehat ekonominya, melainkan keduanya buat pengisi perut besar si Lintah Darat yang tidur di Belanda itu saja. Berhubung dengan hal ini, maka majunya kapitalisme di negeri kita jadi kunstmatig atau tak sehat.

Sebab perusahaan di negeri kita tidak buat keperluan anak bumi putera sendiri, maka barang yang perlu buat hidup kita, harus dibeli dari negeri lain dengan harga sesukanya orang lain itu saja. Dan oleh karena tanah di Jawa terdesak oleh kebun-kebun besar, maka beras, yakni nyawa kita, mesti datang dari negeri lain.

Demikianlah pada tahun 1922 Rakyat membeli barang kain yang masuk ada kira-kira f182.531.000. Di jajahan lain seperti India, Tiongkok dan Filipina barang pakaian sudah bisa dibikin dinegeri sendiri. Jadi disana uang Rakyat bayaran kain itu tinggal di negeri sendiri, sedangkan di Indonesia terbang kesakunya Lintah Darat Belanda. Harga beras masuk, walaupun beras Jawa nomor 1 kualitasnya di dunia dan bangsa Jawa memang pintar bertani pada tahun 1922 juga ada f74.947.000. Karena di Jawa hampir tak ada kapital dan saudagar anak negeri, seperti di jajahan maka untung perniagaan beras ini tidak satu peser jatuh di tangan anak negeri. Demikianlah untung perniagaan berhubung dengan import (barang masuk) yang pada tahun 1922 banyaknya ada f696.300.000 itu hampir semuanya mengalir ke saku Lintah Darat Bangsa Asing.

Sudahlah terang, bahwa total export (harga barang keluar) yang pada tahun 1922 ada f1.142.400.000 sama sekali dimakan oleh Lintah Darat Belanda yang memonopoli sekalian perusahaan besar-besar di Indonesia ini. Sedangkan di jajahan lain untung dari import dan export itu ada sebagian jatuh di tangan anak negeri, maka di Indonesia yang sangat subur dan kaya ini, semuanya keuntungan perniagaan dan hasilnya perusahaan dan tanah sama sekali terbang ke perutnya Lintah Darat yang tidur, palsir atau mondar-mandir di Belanda. Sisanya yang terlempar kepada Bumiputera, gunanya sekedar buat hidup sebentar, seperti kuda atau kerbau, yang dipakai penarik kereta, juga mesti diberi makan.

Sebab kapitalisme Indonesia gunanya buat memenuhi keperluan bangsa asing, yang jauh tinggalnya itu, maka keadaan dan majunya kapitalisme Indonesia juga semata-mata menurut keperluan bangsa asing yang tinggal di negeri asing itu. Kromo mesti menyewakan tanah buat gula, getah dan teh dan jadi kuli Belanda mau dapat untung. Rakyat Indonesia tak bisa dapat pabrik kain, pabrik mesin dan kapal, sebab Belanda takut Twente dan perusahaan kain sana akan jatuh, dan juga saudagar-saudagar Belanda, pabrik kapal dan perusahaan-perusahaan kapal yang mengangkut barang import dan export dari Indonesia ke Belanda akan turut jatuh. Sebab itu Indonesia mesti tinggal jadi landbow-land atau negeri-pertanian tidak negeri perusahaan atau industri-land. Penduduknya mesti tinggal mundur (pasif) dan mudah ditindas. Tiadalah seperti pada negeri industri, yang mempunyai buruh yang lebih maju dan lebih aktif dan tak gampang ditindas. Selama Indonesia tinggal jadi jajahan, maka ia tak akan bisa memajukan ekonomi dan perusahaannya sebagaimana yang baik buat dirinya senriri, karena ia terpaut oleh Lintah Darat Belanda, yang tak memperdulikan nasib Rakyat Indonesia.

 

Sosial

Di negeri-negeri yang sangat maju kemodalannya, seperti Jerman dan Amerika maka Kaum Buruh itu jumlahnya ada kurang lebih 3/4 bagian dari seluruh penduduk negeri. Artinya itu ada 3/4 atau 75% dari penduduk yang tak berpunya apa-apa lain dari tenaganya dan tergantung hidupnya semata-mata dari modal besar.

Sepanjang ada bahwa perhitungan tahun 1905, maka di Jawa saja ada kira-kira 40% dari Bumiputera yang proletar atau tak berpunya apa-apa. Kalau kita taksir sekarang, berhubung dengan bertambah majunya industri, angka itu sudah jadi 50%, maka dari penduduk tanah Jawa yang 36 juta itu ada 18 juta yang hidupnya tergantung dari perusahaan besar dan kecil. Tetapi di Sumatra, Borneo, Celebes, Daerah Ternate dan sebagainya yang jumlah jiwa kira-kira 18 juta itu masih sedikit kaum proletar. Hampir semua penduduk mempunyai tanah, modal kecil, perusahaan kecil atau perahu penangkap ikan. Kita pikir kita akan tak berapa salah menaksir (karena statistik yang sah belum ada), bahwa kaum proletar di seluruh Indonesia pada masa ini ada kira-kira 18 juta, yakni kira-kira 34% dari penduduk yang 54 juta itu.

Tetapi di antara yang tak berpunya, Buruh Industri masih sangat sedikit. Di Jerman umpamanya, yang jumlah isi negeri hampir sama dengan Indonesia, yakni 60 juta ada kira-kira 2 juta buruh-pelikan (buruh pertambangan), sedangkan di Indonesia tak lebih dari 100.000, yakni seperdua puluhnya. Buruh kereta juga kira-kira 2 juta, sedangkan di Indonesia tak lebih dari 80,000, jadi kurang dari seperduapuluhnya di Jerman. Berjuta-juta buruh industri model baru, seperti pada pabrik membuat kereta, mesin, kapal, kain dan lain-lain.  yang ada di Jerman, sama sekali tak ada di Indonesia. Jadi perkara banyaknya buruh industri, maka Indonesia, jauh kalahnya oleh Jerman, Inggris dan Amerika, juga kalah oleh Jepang dan India, dimana juga sudah terdapat buruh industri model baru.

 

Di antara kasta-kasta ini, kasta inilah yang terbanyak dan kasta buruhlah yang terkuat dan makin hari makin kuat, karena kaum buruhlah yang geconcentreerd atau terkumpul dan ialah yang menjalankan industri, yakni nyawanya ekonomi, dan kasta buruhlah yang akan termaju pikiran dan wataknya dalam pergerakan ekonomi dan politik.

 

Di Eropa, Amerika dan Jepang yang memiliki Pabrik, Tambang, Kereta, Kapal, Bank dan lain-lain itu ialah Bumiputera juga, Di Jajahan seperti India, Filipina dan Mesir sudah banyak Bumiputera sendiri yang mernpunyai industri model baru, pertanian dan perniagaan model baru. Tetapi di Indonesia modal besar Bumiputera bolehlah dikatakan tak ada. Betul di Jawa, lebih-lebih Sumatera di antara Bumiputera ada yang mempunyai modal f100.000 ke bawah, tetapi ini masih kecil, dan urusan perniagaan atau perusahaan yang mempunya f50.000.000, yang memiliki tambang, pabrik dan Bank seperti di Tiongkok, India atau Jepang, jadi kasta Hartawan Bumiputera, memang di Indonesia tak ada. Sebabnya ialah karena dulunya Belanda dengan sengaja membunuh timbulnya modal anak negeri. Di Indonesia kasta-kasta itu terutama kasta-tani, kasta-buruh dan kasta tengah (ambtenar, saudagar, tani besar, kaum terpelajar dan segalanya). Di antara kasta-kasta ini, kasta inilah yang terbanyak dan kasta buruhlah yang terkuat dan makin hari makin kuat, karena kaum buruhlah yang geconcentreerd atau terkumpul dan ialah yang menjalankan industri, yakni nyawanya ekonomi, dan kasta buruhlah yang akan termaju pikiran dan wataknya dalam pergerakan ekonomi dan politik.

Dengan angka-angka saja belum bisa kita dengan sempurna memperbandingkan majunya buruh Indonesia dengan Eropa. Majunya itu terutama pula tergantung pada kualitas atau tingginya industri yang ada. Kita sudah terangkan di atas, bahwa Indonesia bukanlah industri-land melainkan terutama landbow-land, walaupun landbow atau pertanian di Indonesia dijalankan dengan perkakas yang model baru sekali.

Berhubung dengan itu, maka buruh Indonesia terutama bukanlah buruh industri malah buruh tani (gula, teh, getah dan sebagaianya). Yang buruh industri betul (minyak tanah, kereta, kapal) masih sedikit sekali. Perbedaan buruh pertanian Indonesia dengan buruh perusahaan di Eropa itu membawa perbedaan lahir batin pula. Proletar Indonesia masih muda, dan masih ada pertaliannya dengan familinya di desa-desa, dan acap kali masih mempunyai tanah di desa-desa. sedangkan proletar-industri Eropa sudah sampai ke nenek moyangnya terikat oleh pabriknya. Proletar kita masih mundur dalam pekerjaan teknik, masih percaya sama tahayul dan masih pasif. Proletar industri Barat sigap dan disiplin dalam pekerjaan, tak terikat oleh tahayul lagi, serta bersikap aktif dalam pikiran dan pekerjaan.

Begitulah pula kaum-tengah Eropa bersifat lain dari kaum tengah Indonesia. Di Indonesia sendiripun, berbeda pula satu kasta dengan kasta yang lain dan berbeda pula satu kasta pada satu pulau dengan kasta itu juga pada pulau lain di Indonesia. Seorang tani di Jawa umpamanya, yang selalu campur dengan pabrik gula, yang acap naik kereta tentulah berlainan sekali pikiran dan wataknya dengan seorang tani pemotong sagu di daerah Ternate, yang belum pernah seumur hidupnya melihat asap pabrik atau mendengar peluit kereta express. Ringkasnya perbedaan kemajuan industri pada satu negeri dengan negeri lain membawa perbedaan kualitas, yakni pikiran dan wataknya kasta-kasta di negeri negeri itu, seperti Buruh Eropa dengan Buruh Indonesia, Tani Jawa dengan Tani di daerah Ternate.

 

Rakyat Indonesia tidak saja membiarkan harta, tenaga dan kemerdekaannya dirampok oleh Kaum Modal Belanda, tetapi mesti membayar gaji hambanya kaum modal itu, yaitu Gubernur-jendral, Resident, Regent, Wedono, Commissaris van Politie, Jendral, Major dan beribu-ribu hamba yang lain-lain.

 

 

Krisis-Ekonomi

Walaupun Indonesia sangat kaya, dan pertanian serta perusahaan dijalankan dengan cara model baru sekali, tetapi Bumiputera selalu dalam kemiskinan dan urusan uang (staatsfinancien) sudah lama selalu dalam krisis. Walaupun pada waktu perang yang baru lalu, modal-besar mendapat untung berlipat ganda dari waktu normal atau biasa, tetapi sebab harga barang naik dan gaji tinggal sedikit, maka kemelaratan Rakyat malah bertambah dari yang sudah-sudah. Pada penghabisan perang, urusan uang kalang kabut, sehingga hampir mendatangkan bangkrutnya negeri.

Sebab yang dalam, yang mendatangkan kesengsaraan dan krisis itu, walaupun kapital-besar mendapat untung berlipat ganda, terutama sekali, karena untung itu baik langsung atau tak-langsung semuanya mengalir ke Eropa. Langsung karena tiap-tiap tahun berjuta-juta uang dikirim ke Eropa, buat membauar bunga modal (dividenten) yang masuk di industri, kereta, pelikan dan kapal tak langsung, yakni dengan jalan perniagaan (export dan import), yang sama sekali dimiliki oleh bangsa asing juga.

Walaupun Pemerintah Indonesia sekarang (ambtenar, serdadu, Justisi, armada, polisi dan segalanya) gunanya bermata-mata buat membantu dan membesarkan modal asing serta sebaliknya penindas dart, pengisap Bumiputera buat modal besar itu, tetapi uang buat pengisi perutnya Pemerintah itu, yakni pajak, tiadalah dibayar oleh Kaum-Modal Belanda sendiri, melainkan oleh Bumiputera juga. Jadi Rakyat Indonesia tidak saja membiarkan harta, tenaga dan kemerdekaannya dirampok oleh Kaum Modal Belanda, tetapi mesti membayar gaji hambanya kaum modal itu, yaitu Gubernur-jendral, Resident, Regent, Wedono, Commissaris van Politie, Jendral, Major dan beribu-ribu hamba yang lain-lain.

Sebab Modal-Belanda tak mau membayar gaji hambanya itu dari kantongnya sendiri, dan buat penambah Modal-Besar di Indonesia, maka Pemerintah Belanda terpaksa meminjam uang ke lain negeri. Sampai tahun 1923, maka banyaknya uang pinjaman itu sampai f 1476.662.000. Dengan bunga 5%, maka saban-saban tahun mesti dibayar bunga kepada negeri lain f6.471.641. Bunga itu tentulah tiada dibayar dari gaji Guberner-Jendral atau untungnya Colijn, melainkan dengan pendapatan Rakyat juga. (Semua angka-angka ini kita petik dari Handbook of the Netherlands East-Indie, yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri)

Uang masuk atau inkomsten, yakni terutama buat gaji hambanya pemerintah pada tahun 1921 ada f769.700.000 tetapi uang keluar atau uitgaven, yakni yang dimakan oleh hamba-hamba tadi ada f1.055.200.000. Jadi dapat kekurangan f285.500.000. Kekurangan itu tinggal terus menerus, tiap-tiap tahun.

Buat pengobat krisis ini, maka Kaum-Modal Belanda memilih hambanya Guberner-Jendral  Fock.

Sebab Fock ini dulunya ia mengaku liberal, maka buat penutup malunya sebagai liberal ia mula-mula pura-pura mau menolong Rakyat Indonesia. Ia berjanji mau memaksa Modal-Gula memperbaiki nasib buruh dan tani gula dengan ongkos Modal Gula sendiri. Lagi pula ia mau memaksa Modal Besar menolong Rakyat membayar pajak yang besar itu, supaya kekurangan pajak tadi bisa tertutup dan rakyat dapat kelonggaran.

 

Makin besar Pemerintah-Indonesia meminjam uang kepada bangsa lain seperti Amerika dan Inggris, makin berkuasa Modal Asing di Indonesia, makin habis tanah ditelan oleh Modal-Asing itu, makin besar uang yang mengalir ke negeri sebagai bunga dan dividen uang pinjaman itu

 

Tetapi sesudah Modal Gula menyepak kembali, maka tuan Fock diam saja. Dan apabila Colijn, yakni Raja Minyak menjawab “Tutup mulutmu, kalau tidak kamu saja boikot, dan pabrik minyak kami tutup,” maka tuan Fock yang liberal tadi lebih suka memihak kepada gajinya yang beribu-ribu itu, dari pada memihak kepada Rakyat atau kepada paham liberalismenya. Malah ia lebih menjilat ke atas dan lebih menendang ke bawah.

Ke atas: Gaji ambtenaren yang besar-besar di naikkan, laskar, armada dan polisi dibesarkan.

Ke bawah: Pajak dinaikkan, buruh dilepas dan diturunkan gajinya, uang-keluar buat onderwys, dan kesehatan Rakyat diturunkan.

Walaupun Fock sedikit menaikan cukai dari barang masuk dan ke luar tetapi saudagar Belanda yang mempunyai barang-barang itu dengan mudah bisa menaikkan harga barang-barangnya, yang mesti dibayar oleh Rakyat yang membelinya juga (minyak, kain, korek-api dan lain-lain)

Rumah-Gadai, yang dipunyai oleh pemerintah sendiri menaikan untungnya pula dengan jalan menaikan isapan (Renten) pada Rakyat yang miskin juga. Sekarang ini menurut keterangan buku-buku, Rakyat Indonesialah yang tertinggi sekali membayar pajak di dunia ini.

Di negeri-negeri lain di Timur seperti India, Filipina dan Tiongkok, Bumiputera sendiri ada mempunyai perusahaan, pertanian dan perniagaan besar, sehingga untungnya juga tinggal dalam negeri sendiri, dan sebagian dari untung itu dipakai buat membayar pajak negeri. Tetapi di Indonesia pikulan uang sama sekali tertimpa pada Rakyat-Melarat, yang makin tahun bertambah miskin, karena semuanya untung mengalir ke sakunya Lintah Darat yang tidur di Den Haag atau Zorgvliet.

Makin besar Pemerintah-Indonesia meminjam uang kepada bangsa lain seperti Amerika dan Inggris, makin berkuasa Modal Asing di Indonesia, makin habis tanah ditelan oleh Modal-Asing itu, makin besar uang yang mengalir ke negeri sebagai bunga dan dividen uang pinjaman itu, dan berhubung dengan itu makin dalam kemelaratan Rakyat dan makin hebat pula krisis ekonomi yang akan datang.

 

Tetapi oleh karena Nasionalis atau Islamis di negeri kita tak sepeser mengerti Marxisme, yakni keadaan dan kedudukan kasta-kasta di Indonesia dan berhubung dengan itu politiknya kasta, maka mereka tentu masih bingung, tak mengerti apa-apa

 

Selama semua untung dari modal-besar, baik langsung atau tak langsung sama sekali mengalir ke luar negeri, selamanya itu Krisis ekonomi Indonesia tak bisa diobat. Betul sekarang, Fock hampir bisa mengadakan balans-begrooting atau sama-berat uang masuk dan uang-keluar, tetapi balance itu semata-mata memperberat pikulan Rakyat, dan wujudnya langsung akan memperjauhkan yang memerintah dari yang terperintah dan memperdalam krisis-politik.

 

Krisis Politik

Di Filipina, India dan Mesir, oleh karena adanya Tani-Besar, Kapitalis besar dan Saudagar Besar dari Bumiputera sendiri, maka dalam waktu krisis politik, kaum imperialist bisa memadamkan atau mengurangkan krisis politik itu, dengan jalan konsesi, yakni memberikan sebagian dari kekuasaan itu kepada Bumiputera. Disana kaum modal asing mempunyai banyak sama keperluan ekonomi dengan modal Bumiputera. Kalau pada suatu jajahan, dimana Imperialisme itu masih autokratik (yakni memungut semua kekuasaan) Rakyat bergerak menuntut kemerdekaan, seperti di India pada tahun 1918-1923, maka kaum imperialis memukul pergerakan itu dengan konsesi politik. Imperialisme Inggris memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, dimana Kaum-Modal Bumiputera boleh mengirimkan wakilnya. Oleh karena kaum-tengah dan intelektual pada negeri yang ada mempunyai nasional-capital hampir semuanya memihak pada nasional kapitalis itu, maka mereka itulah yang terpilih menjadi anggota dari 1/2 atau 3/4 Parlemen tadi. Oleh karena keperluan Modal-Asing dan Modal Bumiputera banyak bersamaan, maka buat modal asing itu tak besar bahayanya, kalau sebagian dari politik negeri terserah pada wakilnya modal kulit hitam. Oleh karena kaum buruh dalam pertandingan buat keperluannya tak bisa membedakan Modal hitam dan Modal putih, maka Kaum Tengah dan intelektual, yang mempertahankan modal hitam itu terbawa-bawa mempertahankan modal putih seperti C. R. Das pemimpin Partai-Swaray di India. Dengan konsesi politik itulah di India Inggris menarik Kaum intelektual, yakni pemimpin pergerakan Rakyat ke dalam Parlemen dan dengan jalan kompromi itulah ia sering-sering mengundurkan revolusi.

Menurut pemandangan kita, atas dasar Marxisme, maka di Indonesia, sebab tidak ada nasional-kapital, Modal Belanda tak bisa memberi konsesi-politik yang berarti. Ia harus sendirinya memerintah atau dengan Bumiputera yang memang terang budaknya.

Kaum cap Budi-Utomo (B.O.), Serikat-Islam (S.I.) dan Nasionale Indische Partij (N.I.P) yang dulu terpikat oleh suara merdunya Van Limburg Stirum, sekarang kita harap sudah yakin, bahwa mereka yang mau tinggal jadi Wakil Rakyat Indonesia tak bisa kerja bersama-sama dengan Wakil Modal Belanda di Volksraad, dan Volksraad tak bisa jadi 1/2 Parlemen, seperti di India atau 3/4 Parlemen seperti di Mesir dan Filipina. Volksraad mesti tinggal semata-mata buat Kapital-Asing, dan anti seluruh Rakyat. Tetapi oleh karena Nasionalis atau Islamis di negeri kita tak sepeser mengerti Marxisme, yakni keadaan dan kedudukan kasta-kasta di Indonesia dan berhubung dengan itu politiknya kasta, maka mereka tentu masih bingung, tak mengerti apa-apa, apa sebab Dr. Tjipto, Tjokro dan Muis disepakkan, sesudah dipakai oleh Limburg Stirum pada waktu Krisis-Politik tahun 1918. Kita kaum Komunis yang memboikot Volksraad pun belum pernah mengadakan pemandangan kekastaan yang jelas dan terang, kenapa Volksraad Indonesia tak bisa menjadi Parlemen, selama Keadaan Sosial d inegeri kita masih tetap seperti sekarang.

Pemandangan kita di negeri jajahan lain, seperti India di atas sudah sebagian memberi keterangan. Di Indonesia tak ada Kasta-Landlords (Tuan Tanah) atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya. Kasta saudagar-besar dan Modal-Besar sama sekali tak ada. Sebab itu kaum intelektual, yang di negeri kita baru mulai timbul belum mempunyai kasta bumi­putera tempat mereka berlindung. Sebab itu kaum intelektual kita masih pasif. Karena didikannya di sekolah imperialis, mereka tak mengerti, bahwa kasta mereka mesti mencampurkan diri ke kasta Buruh dan tani, karena kasta-kasta inilah di Indonesia yang bisa merebut kemerdekaan.

Oleh karena Kasta Modal Bumiputera di indonesia tak ada atau masih sangat kuno dan lemah serta kasta-intelektualnya pasif, maka kalau Modal Belanda mau memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, haruslah ia memberi Hak-Politik dan Suara Memilih Wakil kepada Buruh dan Tani. Kepada kasta-kasta kedua inilah ia harus memberi konsesi dan dengan Rakyat melaratlah ia harus membagi kekuasaan politik.

Ini namanya contradictio determinis, artinya itu membantah diri sendiri. Masakan yang menindas bisa memberi 1/2 atau 3/4 senjata kepada yang tertindas, seperti si Penyamun akan memberikan pistolnya kepada yang disamunnya. Dengan segera yang disamun akan membunuh yang menyamun.

Semua Hukum dan Kekuasaan yang ada di Indonesia sekarang, ialah buat membantu dan membesarkan Modal Asing dan sebaliknya buat menginjak Rakyat Indonesia. Kalau Rakyat yang sama sekali terinjak itu diberi Hak Politik, yakni senjata buat mengubah, atau menghapuskan Hukum-Negeri tentulah tak satu Hukum akan tinggal buat mempertahankan Modal Asing itu. Kalau di Indonesia ada kasta Modal Bumiputera yang kuat, Kasta-Terpelajar yang kuat pula, tentulah kasta-terpelajar ini bisa ditipu oleh Modal Asing dengan 1/2 atau 3/4 sampai 7/8 Parlemen. Dengan Politik menipu kaum-terpelajar (kaum mana terutama di jajahan sangat dipercayai oleh Rakyat), kaum imperialist. Belanda akan bisa menipu Rakyat yang mengikut kaum-intelektual itu dan meundurkan revolusi. Tetapi di Indonesia sebagian besar dari Rakyat ialah Tani, Buruh dan Saudagar kecil-kecil yang sama sekali tak bersamaan keperluannya dengan Modal Asing, malah sama sekali bertentangan. Sebab itulah Belanda takkan bisa memberi konsesi-politik yang berarti kepada Rakyat kita.

Pertanyaan di negeri kita tidaklah revolusioner atau evolusioner, melainkan bagaimana kita harus mengadakan program-merah, taktik-merah, organisasi-merah, agitasi-merah dan aksi-merah, supaya Rakyat kita dengan lekas dan dengan sedikit kerugian jiwa bisa lekas lepas dari tindasan dan isapan Modal Belanda.

Sikap Merah kita ini menjadikan cemas dan ketakutannya Kaum Modal Belanda, dan kecemasan serta ketakutannya itu membesarkan, laskar, armada, polisi dan resisir pula. Hal yang terakhir ini seterusnya menaikan pajak pula dan kenaikan pajak mendalamkan dendam kesumat Rakyat Indonesia pada pemerintah asing ini pula. Demikianlah satu bersangkutan dengan yang lain dan hasilnya memperdalamkan krisis ekonomi dan politik juga. Ringkasnya sikap merah kita tidak saja berguna, buat mendidik Rakyat Indonesia dalam politik, tetapi juga memperdalam pertentangan antara si Penghisap dan yang Terisap, sebab itulah mencepatkan datangnya kemerdekaan.

 

*) Dicuplik dari naskah “Semangat Moeda (De Jonge Geest)” karangan Tan Malaka, dicetak di Tokyo, Januari 1926.

EMPAT TANTANGAN BAGI GERAKAN SOSIALIS DI MASA DEPAN

 Image

 

Oleh Imam Yudotomo

Direktur CSDS (Center for Social Democratic Studies);

Pendiri RTI (Rukun Tani Indonesia)

 

 

TANTANGAN 1: IDEOLOGI SOSIALISME YANG JELAS

 

Gerakan sosialis telah berperan besar dalam proses membawa bangsa Indonesia merdeka. Secara ekstrem bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa mereka Indonesia tidak akan merdeka dalam bentuknya yang sekarang. Mungkin kemerdekaan tidak diproklamasikan, melainkan dihadiahkan oleh bala-tentara fasis Jepang. Kalau Syahrir-Amir Syarifudin yang dikenal sebagai tokoh anti fasis tidak muncul memimpin pemerintahan ( perdana menteri dan menteri pertahahan) mungkin negara dan pemerintahan Indonesia yang baru diproklamirkan akan dianggap sebagai negara dan pemerintahan boneka Jepang, bahkan besar kemungkinannya tokoh-tokoh yang dianggap berkolaborator dengan Jepang akan ditangkap dan diadili sebagai penjahat perang. Akan tetapi bersamaan dengan itu, harus juga dikatakan bahwa selama 32 tahun pemerintahan orde baru dikakukan kampanye yang sistematis untuk menjadikan sosialisme dan gerakan sosialis sebagai musuh bangsa ini. Pembubaran PKI dan larangan menyebar-luaskan ajarannya, komunisme/marxisme-leninisme, telah dimanipulasikan menjadi larangan menyebar-luasan ajaran komunisme, marxisme, leninisme, yang menjadikan semua ajaran yang bersumber pada marxisme disama-ratakan dan dihancurkan. Dan sekarang, di mata rakyat Indonesia, termasuk kaum intelektual para pengajar-dosen di banyak fakultas ilmu politik, sosialisme adalah komunisme ! Dan trauma peristiwa G30S/PKI, sosialisme dihindari dan dilupakan orang. Apa itu sosialisme, tidak banyak orang yang tahu. Jadi tantangan pertama bagi gerakan sosialis di Indonesia adalah bagaimana menjelaskan apa itu sosialisme kepada rakyat Indonesia.

 

Namun, untuk menjelaskan apa itu sosialisme juga bukan pekerjaan yang gampang. Masalahnya, apa yang bisa dijelaskan ? Sampai sekarang, gerakan sosialis sendiri belum bisa dan belum mampu merumuskan ideologi sosialisme-nya secara jelas, yaitu ideologi sosialisme yang pas dengan realitias sosial dan politik yang ada sekarang, baik secara nasional maupun secara internasional. Harus kita akui, kalau kita bicara tentang sosialisme dan tentang gerakan sosialis di Indonesia selama ini, maka referensi kita selalu mengacu ke belakang, ke masa lalu : sosialisme-nya PSI, sosialisme-nya PKI, sosialisme-nya Murba dan sosialisme-nya marhaenisme. Cilakanya, semua kekuatan itu sudah lenyap ditelan bumi ! Dan kalaupun ada yang ingin menyesuaikan ideologinya dengan realitas sekarang, maka sifatnya masih pada tahapan explorasi. PRD misalnya, mencoba menggotong apa yang disebutnya sebagai sosdemkra (sosialisme-demokrasi-kerakyatan) yang kurang jelas. Selain itu, FPPI mencoba memperkenalkan nademkra (nasionalisme-demokrasi-kerakyatan), yang sama tidak jelasnya. Sementara itu, Pergerakan Sosialis mempropagandakan ideologi berlandaskan marxis-kritis, yang sifatnya masih pada tahap tiada rotan akarpun berguna.

 

Yang dapat dicatat dari pengalaman dalam menyebar-luaskan ideologi sosialisme selama ini, ternyata pertanyaan pertama yang muncul dari masyarakat adalah pertanyaan apa bedanya sosialisme dengan komunisme ! Jadi, sekalipun sekarang ini kita belum bisa menjelaskan apa itu sosialisme secara keseluruhan, namun kita sudah harus bisa menjawab pertanyaan itu ! Secara singkat, pertanyaan itu kami jawab dengan analog sebagai berikut. Di kalangan orang sosialis India, pertanyaan apa itu sosialisme selalu dijawab dengan : socialism is communism with democracy ! Atau, socialism is marxism with democracy ! Sebaliknya, pertanyaan apa itu komunisme selalu dijawab dengan : communism is socialism without democracy. Atau, communism is marxism without democracy. Jawaban seperti ini bisa dimengerti, karena sekalipun sosialisme dan komunisme pada dasarnya bermuara di satu sumber, yaitu marxisme, tetapi keduanya mempunyai perbedaan. Perbedaan itu terletak pada cara mereka memperjuangkan cita-citanya. Kaum sosialis berjuang dengan jalan demokrasi (bahkan Karl Kautsky mengatakan bahwa sosialisme tanpa demokrasi adalah omong kosong !) dan menjadikan demokrasi sebagai bagian dari cita-citanya. Kaum sosialis selalu mempertimbangkan kehendak mayoritas rakyat. Sementara itu, kaum komunis memperjuangkannya dengan cara yang tidak demokratis (demokrasi sentralisme, diktator proletariat dan sistem ekonomi terpusat dan lain-lain). Bagi kaum komunis, komunisme adalah keharusan sejarah, sekalipun mungkin mayoritas rakyat menolaknya. Jadi perbedaan yang paling pokok antara  sosialisme dan komunisme adalah dalam masalah demokrasi.

 

 

TANTANGAN 2: ORGANISASI DAN BUDAYA BARU ORGANISASI

 

Untuk menjawab tantangan ini, mau tidak mau maka kita akan kembali menyalahkan kebijakan pemerintah rejim orde baru.  Kebijakan de-politisasi rakyat, pada tahap berikutnya diikuti dengan proses dis-organisasi  rakyat atau penghancuran organisasi-organisasi rakyat. Untuk memudahkan kontrol dan penguasaan, semua organisasi harus diamalgamasikan ke dalam satu organisasi : semua organisasi pemuda harus tergabung dalam KNPI, semua organisasi tani harus berada dalam naungan HKTI, semua organisasi buruh harus masuk ke dalam SPSI yang kemudian menjadi FSPSI, semua organisasi nelayan harus menjadi anggota HNSI dan seterusnya. Dengan demikian tidak ada satupun organisasi massa yang bebas dari kontrol pemerintah. Lebih jauh, ketidak-percayaan rakyat dan masyarakat pada umumnya akan pentingnya organisasi untuk memperjuangkan cita-citanya menjadi semakin besar, karena organisasi-organisasi yang ada itu memang tidak memperjuangkan kepentingan rakyat. Organisasi-organisasi itu dibangun justru untuk mengontrol rakyat. Akibatnya, ketika kita berusaha untuk membangun organisasi rakyat yang kita perlukan sebagai alat perjuangan yang serius, kesulitan yang sangat besar menghadang kita.

 

Yang lebih menyedihkan adalah bahwa ternyata kesulitan itu pertama-tama justru datang dari diri kita sendiri. Karena selama 32 tahun kita hidup dalam alam pragmatisme, maka pada umumnya, kita menjadi tidak percaya pada perjuangan jangka panjang. Karena itu, kita juga menjadi merasa tidak perlu  untuk mempunyai alat perjuangan, karena dalam kerangka pragmatisme yang dibutuhkan adalah kelincahan dan ketrampilan individu pada suatu saat. Dan kalaupun kemudian kita sadar akan perlunya organisasi sebagai alat perjuangan, namun perilaku kita tetap saja belum atau bahkan tidak organisatoris. Mengapa ? Karena kita memang tidak mempunyai pemahaman dan pengalaman organisasi sama sekali. Kecenderungan mereka yang dipilih menjadi pemimpin dalam suatu organisasi untuk mengatur organisasi seenaknya sendiri tampak sangat besar. Karena itu, perbedaan pendapat menjadi tidak bisa ditolerir, sehingga karenanya pula perpecahan di kalangan kita sendiri menjadi hal yang semakin umum terjadi. Perbedaan pendapat selalu diartikan oleh mereka yang memimpin organisasi sebagai keabsyahan untuk memecat seseorang dan sebaliknya bagi mereka yang berbeda pendapat dengan pimpinan dianggap sebagai hak untuk memisahkan diri. Pecat memecat dan perpecahan ternyata bukan monopoli organisasi yang dibangun rejim orde baru, tetapi masih menjadi kebiasaan kita juga. Karena itu, selain kita perlu organisasi untuk memperjuangkan cita-cita kita, namun bersamaan dengan itu budaya baru organisasi juga harus dibangun, sehingga kekuatan yang kita bangun di dalam organisasi itu menjadi semakin kuat dan bukan sebaliknya. Organisasi ini adalah organisasi yang bisa mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan (dari sosialis yang paling kiri sampai sosialis yang paling kanan), akan tetapi bersamaan dengan itu, mampu bergerak secara organis melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditentukan.

 

Pemahaman tentang penting organisasi juga akan berpengaruh dalam menyusunan kekuatan gerakan sosialis. Dalam hal membangun kekuatan dalam gerakan sosialis, prioritas harus diberikan pada usaha membangun organisasi sektoral, buruh, tani, nelayan, miskin kita, perempuan, pemuda dan mahasiswa. Karena, dengan membangun organisasi yang bersifat sektoral kita masih mempunyai kemungkinan yang besar untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat. Dengan adanya organisasi-organisasi sektoral tersebut, maka kita bisa menjamin bahwa partai yang didirikan nanti adalah benar-benar partai rakyat.

 

 

TANTANGAN 3: PROGRAM AKSI YANG APLIKATIF

 

Suatu gerakan harus mempunyai program aksi dan program aksi itu harus aplikatif, dalam arti masuk akal dan bisa dilaksanakan untuk jangka panjang ataupun jangka pendek. Dan program aksi ini haruslah merupakan refleksi dari sikap dan pendirian politik dari gerakan itu.  Dalam kontek sekarang, program aksi itu haruslah mempunyai kaitan dengan masalah-masalah:

 

  • Usaha untuk mengatasi krisis ekonomi yang masih terasakan sekarang ini, dengan mengetengahkan dimensi keadilan dalam penyelesaiannya,
  • Usaha untuk membangun kembali kehidupan perekonomian di masa depan, dengan menjadikan kontrol atas modal dan keadilan sosial sebagai dasar,
  • Usaha untuk menegakkan supremasi hukum, penertiban lembaga-lembaga peradilan dan melaksanakan perlindungan atas hak azasi manusia,
  • Usaha untuk mendemokratisasikan negara agar kontrol atas negara dan pemerintahan bisa dilakukan,
  • Usaha untuk menghentikan kerusakan lingkungan di berbagai bidang,
  • Usaha untuk menjaga keutuhan wilayah dengan cara yang demokratis, dengan memberikan otonomi daerah di tingkat propinsi seluas-luasnya,
  • Usaha untuk meningkatkan kesetaraan peran kaum perempuan atau yang sekarang lajim disebut kesetaraan jender,
  • Usaha untuk menghadapi dan melawan proses globalisasi dan pasar bebas dunia,
  • Usaha untuk menghadapi dan melawan terorisme yang melanda dunia.

 

Program aksi tersebut di atas harus dengan jelas mencerminkan atau merupakan refleksi dari ideologi sosialisme.

 

 

TANTANGAN 4: TAKTIK DAN STRATEGI

 

Untuk melaksanakan program tersebut di atas gerakan sosialis memerlukan kader-kader yang trampil dan mempunyai kreativitas untuk mencari jalan atau cara untuk bisa melaksanakan program tersebut atau menentukan taktik dan strategi perjuangan. Untuk itu, maka kader-kader gerakan sosialis harus juga mempunyai pengetahuan yang memadai. Dan lebih dari itu, diperlukan latihan yang intensif bagi kader-kader tersebut.

 

Syarat pertama, kader-kader gerakan sosialis harus berada dalam dinamik masyarakat. Mereka yang tertarik pada nasib kaum buruh, harus aktif dalam organisasi sektoral buruh dan ikut di dalam dinamiknya. Bahkan kalau perlu, mereka harus mendirikan organisasi tersebut. Mereka yang tertarik pada kehidupan kaum tani, harus aktif dalam organisasi sektoral petani dan ikut di dalam dinamiknya, dan seterusnya. Keberadaan mereka di dalam dinamik masyarakat akan melatih dan meningkatkan ketrampilan teknis perjuangan, seperti memimpin aksi, melakukan perundingan dan sebagainya. Di samping itu, keberadaan mereka di dalam dinamik masyarakat akan meningkatkan sensitivitas mereka terhadap masalah-masalah yang perlu ditangani. Kader-kader gerakan sosialis haruslah kader-kader massa, kader-kader pemimpin rakyat, bukan kader salon yang hanya pintar menganalisa persoalan masyarakat akan tetapi tidak berada di tengah masyarakat. Hal ini sangat penting karena partai yang hendak kita dirikan nanti adalah partai rakyat !

 

Yogyakarta, 25 Maret 2004

SEPOTONG MIMPI ANAK PELARIAN

prabowo 03

DI bawah pohon besar, dua bocah itu berhadapan dengan tangan terbungkus sarung tinju. Yang satu 13 tahun, tinggi ramping menjulang. Bocah di depannya 11 tahun, tegap atletis dengan mata setajam elang.

”Saya menantang dia untuk bertinju tiga ronde,” tutur Eko Muhatma Kartodirdjo, bocah yang lebih tua. Yang dihadapinya adalah Prabowo Subianto, anak ketiga Sumitro, kini purnawirawan jenderal bintang tiga dan calon wakil presiden koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya. Perlombaan itu terjadi di halaman rumah keluarga Sumitro Djojohadikusumo di kawasan Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1962.

Eko putra Mayor Penerbang Petit Muharto Kartodirdjo, salah satu pilot pertama TNI Angkatan Udara, yang pada 1957 memilih bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta). Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, adalah salah satu pentolan pemberontak untuk urusan logistik dan keuangan.

Sejak perang melawan Jakarta meletus, keluarga semua pemimpin pemberontak terserak di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Di tengah ketakpastian nasib ayah mereka yang bergerilya di hutan-hutan Sulawesi dan Sumatera, Eko dan Prabowo bertanding tinju.

Buk, buk…, dua pukulan beruntun Eko masuk ke dagu Prabowo. Yang dipukul hanya menyeringai. Prabowo, yang saat itu belum menamatkan sekolah dasar, cepat balik menyerang dan memasukkan satu dua pukulan ke wajah Eko. ”Saya mengernyit, sakit sekali,” kata Eko mengenang.

Dalam tiga ronde, Eko kalah. Sampai puluhan tahun kemudian, pertandingan itu terekam jelas di benaknya. Bayangan Prabowo, bocah 11 tahun yang liat berkelahi dengan wajah kukuh enggan mengalah, tak mudah dia lupakan. ”You are a good fighter,” kata Eko memuji lawannya.

l l l
DES Alwi, diplomat senior Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, berperan besar membantu keluarga Sumitro Djojohadikusumo ketika harus lari ke luar negeri, pada akhir 1950-an. ”Saya bertemu Ibu Dora Sigar dan anak-anaknya di Palembang,” katanya awal Juni lalu. Dora Sigar adalah istri Sumitro. Pada Mei 1957, Sumitro duluan menghilang di pedalaman Sumatera, mempersiapkan deklarasi PRRI/Permesta.

Des segera membantu keluarga Sumitro menyeberang ke Singapura. Selain karena sama-sama aktivis Partai Sosialis Indonesia, dia senasib karena juga dicari-cari aparat keamanan.

Ada sekitar 10 keluarga pemberontak PRRI/Permesta yang berlindung di Singapura. Di antaranya keluarga Tan Goan Po alias Paul Mawira, ekonom karib Sumitro, yang juga orang PSI. Pada awal 1950-an, Tan dan Sumitro bersama-sama membangun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di Singapura, mereka tinggal berdekatan di kawasan Bukit Timah. Keluarga Kartodirdjo di Margoliouth Road, sedangkan keluarga Djojohadikusumo di Dalkeith Road.

Kun Mawira, putra Tan Goan Po, dan Prabowo sering bermain bersama. ”Kami masih 6-7 tahun waktu itu, tidak tahu bagaimana kesusahan orang tua lari dari kejaran pemerintah,” tutur Kun, kini komisaris di Panin Sekuritas. Mereka hanya tahu agar tidak bergaul rapat dengan putra-putri diplomat di Kedutaan Besar Indonesia. ”Kami kan anak-anak pemberontak.”

Kun ingat betul bagaimana Prabowo sering memimpin gerombolan bocah pelarian ini. ”Dia sering punya ide duluan dan tegas menyampaikan apa yang dia mau,” katanya. Eko punya kenangan serupa, ”Anaknya keras dan tidak mau mengalah,” katanya. Meski lebih tua dua tahun, dia sering tak kuasa menentang keinginan Prabowo.

Setelah dua tahun, pada 1959, keluarga-keluarga ini berpencar lagi. Keluarga Kartodirdjo mengungsi ke Penang, Malaysia. Adapun keluarga Mawira, Alwi, dan Djojohadikusumo pindah ke Hong Kong. Di sana mereka bergabung dengan keluarga Kolonel Jacob Frederick Warouw, atase militer Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, Cina. Jacob, yang lebih akrab disapa Joop Warouw, juga Wakil Perdana Menteri PRRI/Permesta.

”Sejak pertama bertemu, saya perhatikan anak itu,” kata Ronny Warouw, putra sulung Joop Warouw. Usia yang terpaut jauh membuat Ronny kerap berperan sebagai abang pelindung. ”Dia cerdas dan selalu ingin tahu,” katanya.

Sebagai anak serdadu, Ronny punya seperangkat mainan militer lengkap. Misalnya tank, panser, truk, pesawat, dan kapal selam. Juga ada aneka pistol dan senjata mainan. Prabowo betah bermain dengan semua tiruan alat militer itu. Ketika setahun kemudian keluarga Djojohadikusumo pindah ke Kuala Lumpur, Ronny menghibahkan semua mainan itu pada Prabowo.

Di Hong Kong, keluarga pemberontak ini tinggal di kawasan Hong Kong Side, di flat-flat kecil dekat Macdonald Road. Satu flat terdiri dari 3-5 kamar, tergantung besar-kecilnya keluarga yang tinggal. Flat keluarga Djojohadikusumo berkamar tiga. ”Untuk orang tua, untuk anak perempuan dan laki-laki,” kata Pinky Warouw, putri keluarga Warouw yang seusia dengan Prabowo.

Pinky, Prabowo, dan Kun sering bermain bersama sepulang sekolah. Kebetulan, di belakang flat mereka ketika itu, ada kawasan perbukitan yang masih berhutan lebat. ”Kami suka hiking ke sana, bikin kemah, dan meluncur turun lewat sungai dari atas bukit,” tutur Kun.

Pinky ingat bagaimana mereka bertiga doyan betul bermain koboi dan Indian. Prabowo selalu memilih menjadi koboi, ”Karena dia suka bermain pistol mainan,” katanya. Prabowo juga sangat serius jika bermain menjadi tentara. Dia mengoreksi cara berbaris kawan-kawannya, memperbaiki posisi mereka saat memegang senjata, dan selalu memberikan contoh di depan. ”Dia sangat tertarik pada dunia militer,” kata Pinky.

Di sekolah, Prabowo pendiam dan tidak jail. Suatu ketika, Prabowo dan Pinky bermain bersama Pasti, anjing boxer milik Pinky. ”Kami memberinya pisang,” kata Pinky. Tak disangka, Prabowo terpeleset menimpa pisang Pinky hingga penyet. ”Spontan, saya tonjok mukanya. Eh, dia nangis,” kata Pinky geli. ”Dia rupanya dididik untuk tidak memukul perempuan.”

Sifat Prabowo juga kerap kurang sabar dan temperamental. ”Tapi, kalau marah, cepat hilang lagi,” kata Ronny Warouw. Kesaksian serupa muncul dari Des Alwi. ”Prabowo cenderung ingin lekas, agak tergesa-gesa,” katanya.

l l l
PRABOWO lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Meski Sumitro muslim, ibu Prabowo memilih tetap beragama Kristen ketika mereka menikah empat tahun sebelumnya. Dalam bukunya Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, Sumitro mengakui peran besar istrinya dalam membesarkan putra-putri mereka. ”Saya jarang di rumah. Dalam hal memberikan pendidikan formal kepada anak-anak, istri sayalah yang banyak berperan,” katanya.

Sebagai perempuan yang dididik di dalam keluarga berpendidikan Belanda, Dora Sigar menerapkan disiplin ketat kepada putra-putrinya. Di meja makan, misalnya, semua tata krama dan etiket Belanda berlaku. ”Tangan tidak boleh ke sana-kemari, serbet harus dilipat di pangkuan,” kata Pinky Warouw.

Disiplin dan sikap keras Prabowo diturunkan dari ibu, gaya berpikirnya yang kritis dan bebas muncul dari ayah. Dalam bukunya, Sumitro mengaku menerapkan dua prinsip dalam mendidik anak. Pertama, kalau anak meminta waktu, orang tua harus meluangkan. Kedua, jangan sekali-kali meremehkan anak. Sumitro berusaha konsisten dengan prinsip itu.

Sepuluh tahun menjadi eksil di luar negeri, Sumitro tak bisa berperan sebagaimana kepala keluarga normal lain. Dia bertanggung jawab mencari dana untuk menjamin kelanjutan perjuangan PRRI/Permesta dan mengongkosi keluarga para pemberontak di pengasingan.

Dia harus sering meninggalkan keluarga berbulan-bulan, tanpa memberitahukan ke mana tujuannya. Selain menjalin hubungan dengan jaringan intelijen di Amerika Serikat, Eropa, Taiwan, dan negara Asia Tenggara, Sumitro membuka bisnis konsultan: Economic Consultants for Southeast Asia and The Far East. Semuanya untuk menjamin asap dapur keluarganya dan pendukung pemberontak lain.

Dari penuturan kawan-kawan dekat Prabowo, tampak bahwa putra ketiga Sumitro ini anak kesayangan ibunya. ”Bu Dora selalu bicara tentang Prabowo,” kata Des. Pinky dan Ronny Warouw punya cerita ibunda Prabowo tak mempersoalkan anaknya yang setiap bulan minta kiriman celana dalam saat mulai masuk Akademi Militer. ”Setelah kami periksa, ternyata Prabowo tak pernah mencuci pakaian dalamnya,” kata Ronny terbahak. Setiap habis mandi, Prabowo membuang pakaian dalam bekasnya.

Pada 1960, keluarga Djojohadikusumo pindah ke Malaysia. Sumitro membuka pabrik perakitan alat elektronik merek Premiere dari Prancis. Di Kuala Lumpur, Prabowo, yang menginjak usia 9 tahun, lolos ujian masuk Victoria Institution, sekolah bergengsi di sana. ”Prestasinya bagus di sekolah,” kata Des Alwi. Dua tahun di Malaysia, keluarga Djojohadikusumo hijrah lagi. Kali ini tujuannya ke Eropa.

l l l
Lulus sekolah menengah atas, American School in London, pada 1967, Prabowo Subianto menggebu-gebu ingin memperbaiki negerinya. Pulang ke Tanah Air, Sumitro meminta putranya berkeliling Jawa, untuk mengenal lebih dekat negeri yang ditinggalkannya satu dekade.

Prabowo tancap gas. Remaja 16 tahun itu aktif membangun jaringan dengan aktivis dan membentuk Korps Lembaga Pembangunan, meniru Korps Perdamaian, Peace Corps, kumpulan relawan sosial asal Amerika Serikat yang digagas Senator John F. Kennedy pada 1961.

Prabowo mengumpulkan rekannya, putra-putri para eksil Partai Sosialis Indonesia yang tumbuh bersamanya di luar negeri, untuk berdiskusi dengan para ekonom dan turun ke desa-desa. Emil Salim, yang ketika itu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pernah mereka datangi malam-malam. ”Kami berdiskusi berjam-jam di rumah Pak Emil,” kata Ronny. Hidupnya sebagai aktivis berhenti ketika dia memutuskan masuk Akademi Militer Nasional di Magelang, Jawa Tengah, pada 1970. (Sumber Majalah TEMPO No. 19/XXXVIII, 29 Juni 2009)