Soedoet Pandang

Home » Posts tagged 'ABRI'

Tag Archives: ABRI

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

KARIER SEORANG PRAJURIT

prabowo-subianto-01

Letnan Jenderal Prabowo Subianto dilantik menjadi panglima Kostrad. Kariernya penuh dengan penugasan di lapangan.

 
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang ditinggalkan Letnan Jenderal Prabowo Subianto, mulai Jum’at pekaln lalu, adalah pasukan solid dengan segudang prestasi. Betapa tidak?

Adalah tiga anggota Kopassus yang menancapkan Merah Putih di atap dunia, Mount Everest, 26 April tahun lalu. Artinya, Letnan Satu Iwan Setiawan, Sersan Satu Misirin dan Prajurit Satu Asmujiono–tiga prajurit Kopassus itu–tercatat sebagai pasukan militer pertama di Asia Tenggara yang berhasil menaklukkan Puncak Everest, di pegunungan Himalaya. Untuk ukuran dunia, ketiganya merupakan anggota militer ketiga yang menapakkan kaki ke sana, setelah anggota angkatan bersenjata Nepal dan India. Lalu tercatat dalam sejarah bahwa itulah pertama kalinya pekik “Allahu Akbar” berkumandang di puncak dunia. Soalnya begitu berhasil mendaki puncak, Sersan Satu Misirin langsung meneriakkan kata puji-pujian untuk Allah SWT.

Lalu penerjun payung Kopassus pun kini tercatat sebagai pemegang rekor Asia untuk kerja sama antarparasut. Itu setelah 17 penerjun korps baret merah berhasil membentuk formasi 17 payung susun tegak, 16 April, tahun silam, di lapanga terbang Pondok Cabe, Tangerang, Jawa Barat. Sebelumnya, rekor Asia Tenggara dipegang tim Thailand dengan 14 payung, dan rekor asia oleh China dengan 15 payung.

Selain itu, pada tahun lalu pula, pasukan Kopassus di bawah bendera Tim Indonesia A berhasil menjadi juara umum kejuaraan judo antar angkatan bersenjata Asia Tenggara, di Jakarta. Dan pada tahun yang sama, kontingen penembak Kopassus, dipimpin oleh Kolonel Tono Suratman, menjadi juara umum lomba tembak Piala KASAD.

Prestasi olahraga ini penting bagi anggota Kopassus. Soalnya, bagi Komandan Jenderal Kopassus, Letnan Jenderal Prabowo Subianto, prajurit komando adalah juga prajurit militer. Mereka setidaknya harus memiliki keunggulan untuk tiga cabang olahraga yang dapat mendukung pelaksanaan tugas pokoknya: menembak, terjun bebas militer, dan bela diri. Karena itu, cabang olahraga tersebut selalu dikompetisikan di lingkungan Kopassus secaa periodik.

Selain itu, menurut Prabowo, olah raga merupakan salah satu sarana pembinaan satuan. Karena ia menumbuhkan rasa persatuan, kekompakan, dan sikap sportif. Dalam berbagai pengarahan di kesatuan, Prabowo selalu menekankan agar para pewiranya memilih olahraga yang melibatkan partisipasi anggota. “Dengan demikian, komandan selalu berada di antara bawahan, dan memahami setiap prajuritnya serta permasalahan yang mereka hadapi,” kata Prabowo dalam bebagai kesempatan.

 

prabowo 03

 

Untuk itu, Prabowo selalu melibatkan diri dalam berbagai kegiatan olah raga. Dalam pendakian Puncak Everest tadi misalnya, Prabowo menemani para korps baret merah itu sampai ke Himalaya. Agaknya, kini Letnan Jenderal Prabowo merupakan satu-satunya jenderal yang masih aktif melakukan terjung payung bersama anak buahnya. Malah ketika memberikan ceramah di hadapan para taruna Akabri di Magelang, Jawa Tengah, tahun lalu, Prabowo datang dengan terjun payung dari udara, disaksikan para taruna yang akan mendengarkan ceramahnya.

Suatu kali, Maret 1996, kerusuhan meletus di Timika, Kabupaten Fakfak, Irian Jaya. Ribuan orang turun ke jalan, membakar dan merusak kendaraan dan kantor yang ada kaitannya dengan PT Freeport, perusahaan Amerika Serikat yang menambang emas di sana. Kemarahan pada perusahaan itu memang sedang menggelegak. Lalu, sekitar 400 perusuh mengepung lapangan terbang Timika. Keadaan menjadi genting, ketika massa yang marah merengsek mendekati hanggar, tempat beberapa pesawat sedang parkir. Prabowo yang baru tiba di sana segera turun tangan: bersama 12 anak buahnya, ia menghadang demonstran yang kalap itu. Prabowo dan pasukannya terdesak. “Saya terpaksa memerintahkan petugas menembakkan peluru karet karena mereka sudah mendekati hanggar. Saya khawatir lapangan terbang dan pesawat dirusak,” kata Prabowo waktu itu kepada wartawan. Setelah itu, demonstran memang bubar berlarian.

Sederet prestasi pasukan elite Angkatan Darat dalam melaksanakan tugas pokoknya layak dijadikan catatan. Adalah prajurit Kopassus yang menjadi inti dalam Satuan Tugas Operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, yang dipimpin langsung Komandan Kopassus, Brigadir Jenderal Prabowo Subianto, Mei 1996. Ketika itu, Kopassus belum divalidasi, masih dipimpin seorang komandan dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Para sandera terdiri dari 26 peneliti yang sedang melakukan ekspedisi di Taman Nasional Lorentz. Tujuh di antara Tim Ekspedisi Lorentz ini adalah warga asing: seorang warga Jerman, empat orang warga Inggris, dan dua warga Belanda. Pada Januari 1996, ketika berada di Desa Mapenduma, mereka dikepung 200 anggota GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) dipimpin oleh Daniel Yudhas Kagoya. Para peneliti itu kemudian diculik dan dilarikan ke hutan belantara. Para penculik bersenjata api, panah , tombak, dan parang, kemudian bergabung dengan kelompok GPK lainnya. Pimpinan penculik lalu diambil alih Kelly Kwalik, yang aksi-aksi terornya sudah amat terkenal di Irian Jaya. Adanya tujuh warga asing di antara para sandera menyebabkan peristiwa ini menjadi isu internasional.

 

Prabowo

 

Itu pula yang menyebabkan Kelly Kwalik merasa posisinya di atas angin, sehingga harga yang diberikannya untuk pembebasan sandera menjadi amat tinggi. Memang pendekatan yang dilakukan aparatur keamanan dibantu tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat menyebabkan beberapa sandera lokal dibebaskan. Tapi sampai 15 maret 1996, perundingan tak lagi menunjukkan kemajuan. Malah, anggota Palang Merah Internasional (International Commision for Red Cross-ICRC) yang mencoba menjadi mediator belakangan menyerah karena sikap keras Kelly Kwalik. Sementara itu, petugas keamanan menemukan dokumen, surat instruksi dari Mathias Wenda, yang mengaku sebagai panglima komando Papua Barat, untuk membunuh saja seluruh sandera.

Tapi di atas kertas, operasi militer untuk membebaskan sandera adalah suatu hal yang mustahil. Seorang anggota pasukan khusus negara lain pada waktu itu mengatakan, hanya James Bond–tokoh film spionase itu–yang bisa menyelamatkan sandera. Soalnya, penyanderaan ini unik, dilakukan di hutan belantara yang medannya berat: berbukit-bukit terjal dengan hutan belukar dan bercuaca dingin serta selalu diselimuti kabut. Repotnya, para penyandera sangat mengenal medan, dan sudah terbiasa dengan lingkungan seperti itu.

Ternyata pada 15 mei 1996, satuan tugas berhasil dengan gemilang membebaskan sandera. Sejumlah penyandera tertembak atau diringkus, sementara hampir semua sandera dapat diselamatkan. Hanya dua sandera, Drs. Navy Panekenan dan Drs. Yosias Lasamahu, yang tewas dibunuh GPK. Sementara tujuh sandera asing tadi tak kurang satu apapun, dan berhasil dikembalikan ke negerinya.

Keberhasilan ini mendapat banyak pujian di dalam dan luar negeri. Perdana Menteri Inggris ketika itu, John Major, menulis surat ucapan terima kasih kepada Presiden Soeharto, atas selamatnya sandera asal Ingggris–dengan titipan ucapan terima kasih kepada Komandan Kopassus, Prabowo Subianto. Salah satu koran terkemuka di Inggris malah sempat menyejajarkan Kopassus dengan pasuka elite terkemuka di dunia, SAS Ingggris dan Special Force Israel.

Bukan cuma Operasi Mapenduma yang berhasil meningkatkan nama Kopassus. Belakangan ini di Aceh, misalnya, Satuan Tugas Tribuana 3 berhasil melumpuhkan tokoh GPK Aceh Merdeka, Rahman Paloh, dalam kontak senjata di Aceh Utara, 24 Maret tahun lalu. Padahal Rahman Paloh adalah salah seorang pelaku perampokan Rp400 juta di bank BCA Lhoksuemawe, 4 Februari tahun silam. Tim Satgas Tribuana 3 pula yang berhasil membongkar tempat penyelundupan senjata GPK Aceh Merdeka, yang tersebar di kawasan Aceh Utara, sepanjang Januari hingga Maret tahun lalu. Dari penyimpanan senjata selundupan di Desa Menasah Papeun, Samalanga, ditemukan 20 pucuk senjata api campuran, serta 1.200 peluru. Sedangkan di Desa Meurah, Sigli, ditemukan 5 senjata AK dengan 10 magasin penuh peluru. Di daerah lainnya, ditemukan 56 senjata api berbagai jenis. Total seluruhnya ada 81 senjata api yang bisa disita.

Di Timor Timur, tokoh GPK fretilin, David Alex, yang sudah diuber aparatur keamanan selama 20 tahun, dapat disergap Satuan Tugas Rajawali 2, di Caebada Aimua, Baucau, 25 Juni tahun silam. Dalam kontak senjata itu, David Alex tertembak mati, sedangkan lima anggotanya tertangkap. Sejumlah dokumen dan barang buktipun dapat disita.

Prabowo Subianto, 47 tahun, menantu Presiden Soeharto itu, dilahirkan di tengah keluarga teknokrat. Ayahnya adalah Profesor Sumitro Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai “begawan ekonomi”. Kakeknya, Margono Djojohadiksumo, adalah salah seorang pendiri Bank Negara Indonesia 1946, dan ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Tak aneh kalau minat Prabowo membaca buku memang kelewatan. Ketika masih taruna Akabri, saat mengikuti latihan survival di hutan, Prabowo tetap tak ketinggalan membawa buku. “Di atas pohon saja ia membaca Majalah Time,” kata Mayor Jenderal Zacky Anwar–kini Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA)–beberapa waktu yang lalu, kepada Gatra. Bacaannya menjadi luas karena dia memang menguasai beberapa bahasa asing.

Maka seusai SMA, ia diterima di tiga universitas di Amerika Serikat. Tapi ternyata dia memilih masuk Akabri di Magelang. Ia dilantik menjadi perwira ABRI pada 1974, dan bergabung dalam pasukan baret merah. Sejak itu, ia banyak sekali terlibat dalam operasi tempur. Bila dihitung-hitung, sekitar enam tahun penuh dari kariernya yang sudah 24 tahun di ABRI dihabiskannya di daerah operasi.

Ketika Timor Timur pertama bergejolak, 1976, ia diterjunkan ke sana bergabung dalam Tim Nanggala X. Setelah berpangkat Letnan Satu, ia menjadi Komandan Tim Naggala 28. Tim Baret Merah ini kemudian menjadi terkenal karena berhasil menembak mati Fretilin, Nico Lobato. Dalam operasi yang lain, Prabowo dan pasukannya berhasil menembak mati Guido Soares, Panglima Angkatan Bersenjata Fretilin, dan Somotso, Asisten Sosial Politik Fretilin.

Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Kapten, jabatannya Perwira Operasi Grup 1, Kopasandha (Komando Pasukan Sandi Yudha, nama Kopassus waktu itu). Pada 1980, ia mengikuti pendidikan infanteri di Amerika Serikat, dan menjadi lulusan terbaik (distinguished graduated). Tak berapa lama setelah itu ia mengikuti pendidikan antiteror di Satuan Khusus Jerman Barat, GSG-9. Ia pun terpilih menjadi siswa terbaik. Maka setelah pulang ke Indonesia, atas perintah Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf, ia beserta beberapa perwira lainnya ditunjuk sebagai pelaksana pembentukan pasukan antiteror, atau yang dikenal sebagai Detasemen 81 (Den 81).

Sebagai uji coba pertama pasukan antiteror itu, Kapten Prabowo ditunjuk sebagai Komandan Tim (Dantim) Operasi Bravo. Inilah operasi penyelundupan ke negeri asing untuk mengejar GPK. Anggota tim ini tidak dipersiapkan untuk kembali, mengingat kondisi medan dan awan yang dihadapi. Maka seluruh identitas pribadi prajurit yang terlibat–berikut perlengkapannya–dihapus. Operasi itu dilancarkan di malam hari, melalui pesisir pantai, dengan memanfaatkan kegelapan malam dan kelebatan hutan pantai. Dan ternyata, setelah operasi itu, Kapten Prabowo dan anak buahnya berhasil kembali.

Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Komandan Den 81 Kopassus. Ketika itu, sebagai Komandan Tim Candrasa VII, ia berhasil menembak mati Komandan Sektor GPK Fretilin, Collimau. Baru pada 1985 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor dan ia dipindahkan menjadi Wakil Komandan Batalyon Infanteri 328 Kostrad. Tahun itu, dalam pendidikan kursus lanjutan perwira di Amerika Serikat, ia kembali lulus dengan predikat Honor Graduate Advance Course.

Dua tahun kemudian, ia menjadi Komandan Batalyon 328 Kostrad. Ternyata batalyon itu disulapnya menjadi pasukan yang betul-betul terlatih. Taktik pemburu yang diterapkannya pada pasukan itu menyebabkan kesatuan tersebut terpilih sebagai batalyon terbaik dalam penugasan di Timor Timur. Pada 1989, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.

Setelah delapan tahun bertugas di Kostrad, pada 1993 ia kembali ke pasukan baret merah, sebagai Komandan Grup3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung. Setelah itu, tampaknya kariernya tak lagi tertahan. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Komandan Kopassus, dan tahun berikutnya, November 1995, ia menggantikan Brigjen Subagyo H.S.–kini KSAD–menjadi Komandan Kopassus.

Dialah yang punya gagasan membentuk–dan ikut melatih–Satgas Darat Rajawali yang dikenal sebagai “Kompi Pemburu”. Inilah pasukan yang diambil dari kompi terbaik di Kodam, lalu dilatih secara khusus. Satgas ini terbukti menunjukkan hasil menonjol dalam penugasan di Timor Timur. Lalu, muncul gagasannya yang lain, agar Kopassus divalidasikan: dari tiga grup menjadi lima grup. Dan ternyata ketika pimpinan ABRI menyetujui gagasan ini, dalam tempo satu tahun Prabowo berhasil merealisasikannya. Padahal itu bukan soal mudah. Kendala yang muncul, mulai dari perekrutan pasukan sampai penyusunan organisasi.

 

Prabowo 16

”Keberanian untuk menghadapi segala tantangan akan selalu diuji, dan ujian itulah yang akan menentukan apakah kita berdiri tegak dan teguh penuh kehormatan, atau tidak.”

 

Ternyata hasil validasi itu dalam waktu singkat sukses mencapai kualifikasi yang ditentukan sebagai pasukan khusus. Dan Kopassus banyak melakukan latihan bersama dengan pasukan khusus negara asing, misalnya Prancis (1 RPIMA), Korea Selatan (Special Warfare Command), Thailand (Royal Thai Army Special Forces), Australia (SASR), USA Army, Jordania Special Force, dan Singapore Army Special Force.

Tampaknya sebagai seorang prajurit, Prabowo bersikap bahwa segala sesuatu baru bisa diterima bila telah teruji. Dalam buku kenang-kenangan taruna setelah lulus Akabri 1974, ia memang menulis, ”Keberanian untuk menghadapi segala tantangan akan selalu diuji, dan ujian itulah yang akan menentukan apakah kita berdiri tegak dan teguh penuh kehormatan, atau tidak.” Dan ternyata ia memang telah melewati banyak ujian. Di mata Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Prabowo memang dilahirkan untuk menjadi prajurit tulen. Maka melihat melesatnya karier Prabowo, bekas KSAD itu berkata kepada wartawan pekan lalu, ”Bukan saja layak, dia memang orangnya buat itu.” (Amran Nasution)

 

*) Majalah GATRA No. 19/IV, 28 Maret 1998

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

 prabowo005

 

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Ketika Letjen TNI Prabowo Subianto dipecat dari ABRI, banyak mata menatap ke arah Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo—ayah Prabowo yang juga mantan Menteri Perdagangan dan Menristek pada pemerintahan Soeharto. Menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Sumitro sempat melontarkan sejumlah kritik keras terhadap kepemimpinan presiden yang juga besannya itu. Lalu apa yang dirasakannya ketika Prabowo dipecat? Apa pula pandangannya tentang 32 tahun kekuasaan Soeharto? DeTAK beruntung berkesempatan mewawancarai guru besar ekonomi UI yang oleh sejumlah kalangan digelari sebagai “Ayatullah” ekonomi Indonesia itu. Berikut petikan wawancara yang dilakukan di rumah­nya hari Minggu (6/9/1998) sore lalu:

 

Menurut Anda, apa yang paling krusial dari keadaan sekarang ini?

Yang menamakan  diri  pemerintahan, agregate kenegaraan itu memer­lukan legitimasi. Sekarang yang ada baru legalitas. Saya mengadakan pembedaan antara legality (keabsahan hukum) dan legitimacy (pen­gakuan mandat rakyat—Red.). Legality bisa saja dibikin dan sekarang ini memang dibikin. Tapi legitimacy atau mandat dari rakyat itu belum.

 

Indikasinya?

Sekarang itu masyarakat kita, dunia lembaga formal, DPR/MPR, semua sedang resah terus. Begitu juga para politisi yang kurang puas, para profesional, para akademisinya ribut terus. Semua menghendaki reformasi, tapi apa reformasi yang dimaui, kurang jelas. Ini yang secepatnya harus diatasi.

 

Dengan situasi seperti ini, bagaimana cara memenangkan kepercayaan rakyat dan dunia luar?

Salah satunya lewat pemilu. Tapi pemilu yang pelaksanaannya den­gan undang-undang pemilihan yang sudah direformasi, yang sudah dijanjikan. Walau pasti tidak mungkin perfek, tapi itu kan legal for­mal sekaligus legitimasi yang diperlukan.

 

Tapi bagaimana bila ternyata ABRI masih bersikeras mendukung hanya Golkar?

Mungkin ABRI tidak melihat alternatif lain selain Golkar.

 

Apa tidak mungkin sikap ini merupakan kelanjutan budaya poli­tik selama tiga puluh tahun yang diwariskan Soeharto?

Memang budaya politik yang saya rasa tertanam selama 32 tahun, merupakan hambatan dari demokrasi tulen. Tentang hak rakyat dan kedaulatan rakyat, dalam benak, pikiran dan perasaan masyarakat sekarang ini masih pada pengertian siapa yang punya legalitas itu dominan. Pokoknya, seolah yang berkuasa selalu benar terus.

 

Kembali ke masalah Pak Harto. Dalam kaitan psiko-politik Pak Harto ditempatkan sebagai masih memainkan peran penting, menurut Anda?

Bahwasanya orang-orang masih melihat di belakang Habibie dan Wiranto ada bayangan Soeharto, itu juga psikologis sifatnya. Tapi saya nggak lihat itu. Saya rasa, saya kenal besan saya itu dengan baik, walaupun nggak tahu seluruhnya, tapi saya pernah bekerja dekat dengan dia.

 

Pandangan Anda terhadap Pak Harto yang sekarang banyak menerima hujatan?

Saya rasa masalahnya lain dulu lain sekarang. Pada awal bekerja de­ngan Pak Harto, waktu itu menurut saya dia baik dan hebat. Selama 10 tahun sebagai pembantu presiden, kita para teknokrat berhasil membangun, dan gawatnya ekonomi bisa diatasi. Karena kita bisa percaya dan bisa mengandalkan dia secara sepenuhnya. Masa itu dia benar-benar pegang janji dan kata-katanya. Begitu banyak kritik di luar negeri, dan untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh menteri­-menterinya, Pak Harto selalu bersikap, “Sudahlah saya tanggung jawab.” Hebatnya di situ.

 

Mitro - Bio Crop Outer copy

 

Sekarang ini bagaimana?

Sesudah itu memang ada perubahan. Seingat saya, 10 tahun terakhir ini yang paling kentara buat saya.

 

Permasalahan intinya apa?

Dua hal, terlalu lemah terhadap anak-anaknya dan pengaruh yang sangat merugikan masyarakat dan negara dari kelakuan anak-­anaknya. Dan selain itu Soeharto terlalu lama berkuasa, kombinasi dua itulah yang terbaca oleh saya.

 

Di satu sisi betul bahwa anak-anaknya juga turut menciptakan suasana yang tidak menguntungkan. Tapi apakah ada kemung­kinan bahwa sebetulnya the real Soeharto ya seperti itu. Seperti tuduhan rakus harta dan haus kekuasaan. Menurut Anda?

Haus kekuasaan mungkin. Tapi greedy material thing (rakus harta benda), arahnya menurut saya, pribadinya loh, itu tidak. Jadi dia ambil kekayaan supaya kekuasaan semakin kuat terkonsentrasi padanya. Seperti kasus yayasan-yayasan, semua itu untuk kekuasaan. Dia jadikan salah satu sumber dana menghimpun keku­atan untuk mempengaruhi orang lain. He needs money to buy power, lebih mengarah ke sana. Tapi memang… pengaruh anak-anaknya besar sekali.

 

Perhatian pada anak yang berlebihan ini, sebagai mantan menteri dan besan, adakah penjelasan rasional yang Anda bisa sampaikan?

Mungkin begini… Saya pernah membicarakan masalah ini dengan orang tua saya, ibu saya. Memang ada semacam beban kejiwaan masa lalu. Suatu waktu dalam satu acara keluarga, waktu saya berusa­ha memperkenalkan keluarga kami dan nanya perihal keluarga Pak Harto, tanpa saya duga dia berbicara dengan sangat intens mengenai masa lalu dirinya.

 

Tepatnya kapan kejadian itu?

Oh, itu saat saya melamar Titiek (untuk jadi isteri Prabowo—Red.). Yah, ini saya buka sekalian saja. Pak Harto bercerita bahwa sewaktu dia masih dalam kandungan, ibunya sudah mengasingkan  diri  dari dunia keduniaan. “Jadi sejak lahir saya sebenarnya enggak kenal ibu kandung saya. Jadi saya besar di desa. Saya jadi rebutan saat saya umur 10 tahun, antara keluarga yang mengasuh saya dengan bapak kandung saya. Kemudian saya dikompromikan ditaruh di Wonogiri, di keluarga mantri, bapaknya Sudwikatmono. Makanya Sudwikatmono lebih dari saudara kandung….” Begitu menurut ceritanya.

 

prabowo004

 

Makna dari peristiwa itu?

ltulah yang membuat dirinya berlebih terhadap anak-anaknya. Karena tidak mau anak-anaknya bernasib seperti masa kecilnya yang gelap keluarga dan kasih sayang orang tua aslinya. Makanya sekarang ia tebus dengan memberikan segalanya pada anak-­anaknya.

 

Artinya, dalam hal ini posisi anak di sini dengan posisi bangsa dan negara, menurut Anda, kira-kira kalau Pak Harto disuruh mengambil pilihan, dia akan memilih yang mana?

Nyatanya dia pilih anaknya. Kenapa? Saudara tadi bicara soal sindrom, saya rasa dia juga terbiasa merasakan ungkapan l‘Etat c’est moi, negara adalah saya. Itu ‘kan sindrom budaya keraton juga, tuh. Seperti Amangkurat VII, bukan Amangkurat I.

 

Anda sebagai besan pernah nggak menegur?

Mungkin saya satu-satunya. Dua kali tentang anaknya. Saya dengar bahwa Benny Moerdani juga pernah singgung itu, tapi dimarahi. Saya dengar dari Sudharmono.

Saya datang ke dia, nggak tahu persis kapan, mungkin kira-kira 6-7 tahun lalu, dua kali saya nanya di Cendana. Saya kan Ketua Umum IKPN (Ikatan Koperasi Pegawai Negeri), saya sampaikan bahwa putra-­putra Bapak sudah menjadi isu politik. Saya sengaja nggak mengritik, hanya menyampaikan fakta saja. Dia diam, tidak ada perubahan. Saya nggak tahu apa dia marah atau dia terima. Waktu saya pamit, di pintu dia bilang, “Iya Pak Mitro, saya menyadari anak-anak saya terkena isu politik.” Nah, saya kan lega.

 

Mengapa hasilnya tetap sama, tak ada perubahan berarti?

Wah, itu yang saya sulit mengerti…

 

Bagaimana Anda memposisikan Pak Harto sebagai seorang besan?

Ini hubungan yang sifatnya pribadi, jadi saya akan bicara secara umum saja. Saya kira tidak usahlah menilai hubungan pribadi dalam konteks pembicaraan ini.

Saya tidak pernah membantah bahwa saya mempunyai utang budi politik kepada Soeharto, sebab dialah yang memungkinkan saya kembali ke tanah air dari pengasingan. Dia sengaja mengirim Ali Moertopo untuk menemui saya dan meminta saya pulang. Akan tetapi utang budi saya yang paling utama dan lebih luas lagi ialah kepada rakyat dan masyarakat bangsa saya. Di kala kepentingan rak­yat dilanggar, dan ini terjadi beberapa kali dalam pengalaman saya, waktu itu juga saya harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

 

Kalau Anda sendiri terhadap anak-anak Anda bagaimana?

Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….”

 

Jawaban Pak Harto?

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua. Maklum etos itu telah saya tanamkan sejak saya jadi buron politik di zaman pemerintahan Bung Karno. Hidup di luar negeri itu harus mandiri. Kalau soal anak, Pak Harto memang sangat lemah dan di situlah kelemahannya yang mendasar.

 

Sebagai ayah, Anda sendiri bagaimana menghadapi kasus Prabowo ini?

Begini, saya mulai dengan dua hal dulu. Saya mengingatkan apa yang pernah saya bilang selalu sebagai prinsip dasar yang tak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap anggota keluarga: unequivocally, human dignity, dan social justice merupakan hal yang harus selalu dijunjung tinggi. Tanpa itu, mau jadi apa kita?!

Saya nggak bisa membayangkan menghadapi situasi sekarang. Itu pertama. Kedua, dengan situasi sekarang saya sekeluarga mendukung segenap langkah yang bertujuan menegakkan keadilan masyarakat, termasuk dalam kasus Prabowo.

Mengadili perwira dalam tata cara yang tidak fair dan tidak kesatria itu yang tidak saya setuju. Dalam kaitan human dignity dan human right, jangan atasan harus selalu benar…. Saya masih ingat tahun per­tama dia di Akabri, taruna di situ diajar untuk “kejam” sekali. Taruna kedua, ketiga, itu boleh apa saja terhadap juniornya. Di West Point nggak boleh begitu. Jadi darnpak dari budaya pendidikan seperti itu, saya rasa sekarang it is danger, apalagi seperti menghadapi Raja Jawa ini (Soeharto—Red.), jenderal-jenderal nggak berani.

 

prabowo 03

 

Kembali pada kasus Prabowo, bagaimana dia sebagai militer dalam pandangan Anda?

Dalam beberapa hal Bowo mungkin kompromi. Seperti saya kasih kasus di Timor Timur itu, nggak mungkin sama komando mem­bangkang atasannya. Tapi ada kasus dia ternyata membangkang. Karena tidak mau nurut perintah disuruh membunuh tawanan perang yang tak bersenjata. Saya mendukung langkah-langkah dia yang seperti itu, walau terkena sanksi tak apalah.

 

Termasuk yang sekarang?

Kasus Bowo khusus kali ini kok seakan-akan asas keadilan ini jadi kabur. Karena, pertama, Prabowo pada khususnya dan Kopassus pada umumnya, seolah yang paling bersalah dan satu-satunya yang diper­salahkan. Bahwa ada berbagai instansi dan kesatuan yang terlibat, mengapa harus ditutup-tutupi? Toh semua yang terjadi merupakan satu paket program, untuk menegakkan kekuasaan, status quo.

 

Jadi, dalam kasus Prabowo, Anda bukan tidak setuju untuk diusut tuntas?

Caranya itu, loh. Dan, ini kan juga diakui oleh bekas-bekas korban penculikan. Mereka tidak ingin hanya Kopassus. Dengan dibawa ke Kramat (wilayah komando Kodam V Jaya—Red.), jelas yang terlibat bukan hanya Kopassus. Tapi mengapa semua seolah-olah terpusat ke Bowo, semua kecaman ditujukan ke dia?! Apakah seorang Prabowo begitu berkuasa hingga bisa perintah sana-sini ke berbagai daerah dan institusi? Padahal, menurut seorang mantan Kasad, seperti ditulis DeTAK, kalau dalam ABRI ada oknum yang salah itu dua tingkat di atas kena, turut bertanggung jawab. Sebagai Danjen Kopassus kan dia punya dua atasan, KSAD dan Pangab waktu itu, mereka nggak mungkin nggak tahu, seharusnya mereka tahu!

 

Tapi ada juga kebiasaan yang mengatakan bahwa bisa saja mere­ka nggak tahu karena…

Maksud Saudara adanya Pangti? Yak, seperti yang dibenarkan oleh
Hasnan Habib, Pangti itu (Soeharto—Red.) punya kebiasaan untuk langsung kasih perintah ke bawahan tanpa menghiraukan tingkat-tingkat hierarki. Saya itu sebagai menteri kadang-kadang di-by pass (dipo­tong). Nah, itu kebiasaan Raja Jawa. Tapi bagi dia that’s right. Jadi tidak pernah ada keberanian mengungkap secara kesatria tentang KSAD, Pangab, dan Pangti. Kalau yang tiga ini dipertanyakan baru ada pengertian justice, keadilan, that’s about it.

 

Hal lain yang Anda anggap sebagai penyimpangan keadilan?

Intinya seperti tadi itu, tapi cara pemberitaan dari sementara kalang­an media dari dalam maupun luar negeri juga patut disesalkan, kare­na banyak berita cenderung mengandung hukuman. Seolah tidak ada asas praduga tak bersalah yang dipegang. Sudah cenderung meng­hakimi. Beberapa di antaranya tidak segan-segan membikin profil­-profil personality yang sudah menodai tabiat pribadinya.

 

prabowo007

 

Seperti apa misalnya?

Salah satu media menulis, Prabowo kemarin pergi umroh dan sekarang dia entah di mana… Padahal jelas dia ada di sini. Untung Gus Dur turut membantah isu tersebut. Kemarin, tanggal 1 September, kita merayakan ulang tahun istri saya. Bowo ada di sini dengan Titiek dan anaknya. Jadi apa maksud melancarkan pemberitaan yang menyudutkan itu? Ini kan sudah merusak citra pribadi dan nilai personality dia (Prabowo).

 

Mengapa tidak secara resmi dilakukan bantahan?

Saya enggak mau seakan-akan karena dia itu anak saya maka saya bela-­bela, kita hanya ingin melihat ada justice, keadilan. Harapan saya hanyalah adanya perlakuan dan tanggapan terhadap Prabowo secara adil dan lancar. Tapi mengapa asas keadilan seakan-akan jadi kabur?

Tentu saya enggak mau bilang bahwa dia itu seluruhnya benar, tapi semua salah pun saya tidak berani katakan.

 

Tapi kenapa dari keluarga Bapak seringkali tidak menggunakan hak jawab?

Karena, pertama, dalam proses ini kan Bowo terus-menerus diproses dalam DKP, kita tidak mau tambah mempersulit kedudukannya. Jangan sampai ada distorsi atas tragedi yang ada.

 

Dengan dipecatnya Bowo, bagaimana perasaan sebagai seorang ayah?

Sedih tentunya. Karena saya tahu Bowo… Dia itu kan hanya men­jalankan perintah. Sebagai militer, sulit saya untuk sepenuhnya menyalahkan dia. Kalau dia seorang sipil, jelas dia telah melanggar hak asasi manusia. Tapi kalau memang mau mengusut sesuatu, hen­daknya bersifat menyeluruh.

 

Maksud Anda?

Cari siapa dalang sesungguhnya di balik berbagai peristiwa. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Kasus Lampung, dan lainnya?

 

Kalau bicara keadilan, artinya posisi Pangti pun harus diper­tanyakan?

Iya, dong. Asal-usulnya dari sana kok. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Lampung, dan lainnya? Siapa yang paling bertanggung jawab? Saya katakan ini bukan dengan dasar dendam atau sentimen. Saya bukan pendendam. Dulu saya jadi buronnya Bung Karno, tapi hubungan saya dengan Bu Fatmawati sangat baik. Jadi semata-mata hal ini saya lakukan karena menegakkan keadilan sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat luas.

 

Bicara soal keadilan, dalam hal DKP yang harus menggunakan norma-norma militer dalam menegakkan kehormatan perwira, kesan Anda bagaimana?

Saya sendiri kurang tahu persis apa yang terjadi. Bowo juga enggak mau banyak omong selama proses ini. Tapi kadang-kadang kan ada kebocoran juga. Bukan dari Bowo saja, tapi ada lah yang lapor. Saya ‘kan dulu mengajar di mana-mana, di Seskoad, Seskogab, Lemhanas, dan masih banyak lagi.

 

Kenyataannya, proses belum selesai tapi hukuman sudah dijatuhkan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Dari sudut legalitas kan segalanya sudah diserahkan pada Pangab. Apa ada kemungkinan proses pengusutan berkembang sampai ke tingkat yang lebih tinggi, jawabannya ya dan tidak. Saya merasa kemungkinan ada juga keseganan untuk meneruskan. Kalau toh dianggap secara legalitas final, secara morality sebenarnya belum final.

 

Khusus dalam kasus putra Anda, Prabowo?

Yah, kalau saudara mau bersikap kritis, coba bertanya; mengapa 9 (sembilan) aktivis yang diculik selamat semuanya, tapi yang 14 (empat belas) lainnya masih hilang sampai hari ini, apa ya mereka masih hidup?

 

Maksud Anda?

Karena yang sembilan orang itu, memang sepengetahuan Bowo dan dibebaskan dengan selamat atas kehendak Bowo pribadi.

 

Maksud katapribadi dalam kaitan ini?

Karena perintahnya tidak begitu.

 

Bagaimana perintah itu sebenarnya?

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Dihabiskan maksudnya?

(Menjawab hanya dengan anggukkan kepala sambil menyimpan suatu perasaan yang terkesan sangat dalam).

 

Setahu Anda siapa yang memerintahkan Prabowo melakukan hal itu?

Siapa lagi kalau bukan seseorang yang sangat berkuasa?

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998.