Soedoet Pandang

Home » 2014 » July

Monthly Archives: July 2014

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

KARIER SEORANG PRAJURIT

prabowo-subianto-01

Letnan Jenderal Prabowo Subianto dilantik menjadi panglima Kostrad. Kariernya penuh dengan penugasan di lapangan.

 
Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang ditinggalkan Letnan Jenderal Prabowo Subianto, mulai Jum’at pekaln lalu, adalah pasukan solid dengan segudang prestasi. Betapa tidak?

Adalah tiga anggota Kopassus yang menancapkan Merah Putih di atap dunia, Mount Everest, 26 April tahun lalu. Artinya, Letnan Satu Iwan Setiawan, Sersan Satu Misirin dan Prajurit Satu Asmujiono–tiga prajurit Kopassus itu–tercatat sebagai pasukan militer pertama di Asia Tenggara yang berhasil menaklukkan Puncak Everest, di pegunungan Himalaya. Untuk ukuran dunia, ketiganya merupakan anggota militer ketiga yang menapakkan kaki ke sana, setelah anggota angkatan bersenjata Nepal dan India. Lalu tercatat dalam sejarah bahwa itulah pertama kalinya pekik “Allahu Akbar” berkumandang di puncak dunia. Soalnya begitu berhasil mendaki puncak, Sersan Satu Misirin langsung meneriakkan kata puji-pujian untuk Allah SWT.

Lalu penerjun payung Kopassus pun kini tercatat sebagai pemegang rekor Asia untuk kerja sama antarparasut. Itu setelah 17 penerjun korps baret merah berhasil membentuk formasi 17 payung susun tegak, 16 April, tahun silam, di lapanga terbang Pondok Cabe, Tangerang, Jawa Barat. Sebelumnya, rekor Asia Tenggara dipegang tim Thailand dengan 14 payung, dan rekor asia oleh China dengan 15 payung.

Selain itu, pada tahun lalu pula, pasukan Kopassus di bawah bendera Tim Indonesia A berhasil menjadi juara umum kejuaraan judo antar angkatan bersenjata Asia Tenggara, di Jakarta. Dan pada tahun yang sama, kontingen penembak Kopassus, dipimpin oleh Kolonel Tono Suratman, menjadi juara umum lomba tembak Piala KASAD.

Prestasi olahraga ini penting bagi anggota Kopassus. Soalnya, bagi Komandan Jenderal Kopassus, Letnan Jenderal Prabowo Subianto, prajurit komando adalah juga prajurit militer. Mereka setidaknya harus memiliki keunggulan untuk tiga cabang olahraga yang dapat mendukung pelaksanaan tugas pokoknya: menembak, terjun bebas militer, dan bela diri. Karena itu, cabang olahraga tersebut selalu dikompetisikan di lingkungan Kopassus secaa periodik.

Selain itu, menurut Prabowo, olah raga merupakan salah satu sarana pembinaan satuan. Karena ia menumbuhkan rasa persatuan, kekompakan, dan sikap sportif. Dalam berbagai pengarahan di kesatuan, Prabowo selalu menekankan agar para pewiranya memilih olahraga yang melibatkan partisipasi anggota. “Dengan demikian, komandan selalu berada di antara bawahan, dan memahami setiap prajuritnya serta permasalahan yang mereka hadapi,” kata Prabowo dalam bebagai kesempatan.

 

prabowo 03

 

Untuk itu, Prabowo selalu melibatkan diri dalam berbagai kegiatan olah raga. Dalam pendakian Puncak Everest tadi misalnya, Prabowo menemani para korps baret merah itu sampai ke Himalaya. Agaknya, kini Letnan Jenderal Prabowo merupakan satu-satunya jenderal yang masih aktif melakukan terjung payung bersama anak buahnya. Malah ketika memberikan ceramah di hadapan para taruna Akabri di Magelang, Jawa Tengah, tahun lalu, Prabowo datang dengan terjun payung dari udara, disaksikan para taruna yang akan mendengarkan ceramahnya.

Suatu kali, Maret 1996, kerusuhan meletus di Timika, Kabupaten Fakfak, Irian Jaya. Ribuan orang turun ke jalan, membakar dan merusak kendaraan dan kantor yang ada kaitannya dengan PT Freeport, perusahaan Amerika Serikat yang menambang emas di sana. Kemarahan pada perusahaan itu memang sedang menggelegak. Lalu, sekitar 400 perusuh mengepung lapangan terbang Timika. Keadaan menjadi genting, ketika massa yang marah merengsek mendekati hanggar, tempat beberapa pesawat sedang parkir. Prabowo yang baru tiba di sana segera turun tangan: bersama 12 anak buahnya, ia menghadang demonstran yang kalap itu. Prabowo dan pasukannya terdesak. “Saya terpaksa memerintahkan petugas menembakkan peluru karet karena mereka sudah mendekati hanggar. Saya khawatir lapangan terbang dan pesawat dirusak,” kata Prabowo waktu itu kepada wartawan. Setelah itu, demonstran memang bubar berlarian.

Sederet prestasi pasukan elite Angkatan Darat dalam melaksanakan tugas pokoknya layak dijadikan catatan. Adalah prajurit Kopassus yang menjadi inti dalam Satuan Tugas Operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, yang dipimpin langsung Komandan Kopassus, Brigadir Jenderal Prabowo Subianto, Mei 1996. Ketika itu, Kopassus belum divalidasi, masih dipimpin seorang komandan dengan pangkat Brigadir Jenderal.

Para sandera terdiri dari 26 peneliti yang sedang melakukan ekspedisi di Taman Nasional Lorentz. Tujuh di antara Tim Ekspedisi Lorentz ini adalah warga asing: seorang warga Jerman, empat orang warga Inggris, dan dua warga Belanda. Pada Januari 1996, ketika berada di Desa Mapenduma, mereka dikepung 200 anggota GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) dipimpin oleh Daniel Yudhas Kagoya. Para peneliti itu kemudian diculik dan dilarikan ke hutan belantara. Para penculik bersenjata api, panah , tombak, dan parang, kemudian bergabung dengan kelompok GPK lainnya. Pimpinan penculik lalu diambil alih Kelly Kwalik, yang aksi-aksi terornya sudah amat terkenal di Irian Jaya. Adanya tujuh warga asing di antara para sandera menyebabkan peristiwa ini menjadi isu internasional.

 

Prabowo

 

Itu pula yang menyebabkan Kelly Kwalik merasa posisinya di atas angin, sehingga harga yang diberikannya untuk pembebasan sandera menjadi amat tinggi. Memang pendekatan yang dilakukan aparatur keamanan dibantu tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat menyebabkan beberapa sandera lokal dibebaskan. Tapi sampai 15 maret 1996, perundingan tak lagi menunjukkan kemajuan. Malah, anggota Palang Merah Internasional (International Commision for Red Cross-ICRC) yang mencoba menjadi mediator belakangan menyerah karena sikap keras Kelly Kwalik. Sementara itu, petugas keamanan menemukan dokumen, surat instruksi dari Mathias Wenda, yang mengaku sebagai panglima komando Papua Barat, untuk membunuh saja seluruh sandera.

Tapi di atas kertas, operasi militer untuk membebaskan sandera adalah suatu hal yang mustahil. Seorang anggota pasukan khusus negara lain pada waktu itu mengatakan, hanya James Bond–tokoh film spionase itu–yang bisa menyelamatkan sandera. Soalnya, penyanderaan ini unik, dilakukan di hutan belantara yang medannya berat: berbukit-bukit terjal dengan hutan belukar dan bercuaca dingin serta selalu diselimuti kabut. Repotnya, para penyandera sangat mengenal medan, dan sudah terbiasa dengan lingkungan seperti itu.

Ternyata pada 15 mei 1996, satuan tugas berhasil dengan gemilang membebaskan sandera. Sejumlah penyandera tertembak atau diringkus, sementara hampir semua sandera dapat diselamatkan. Hanya dua sandera, Drs. Navy Panekenan dan Drs. Yosias Lasamahu, yang tewas dibunuh GPK. Sementara tujuh sandera asing tadi tak kurang satu apapun, dan berhasil dikembalikan ke negerinya.

Keberhasilan ini mendapat banyak pujian di dalam dan luar negeri. Perdana Menteri Inggris ketika itu, John Major, menulis surat ucapan terima kasih kepada Presiden Soeharto, atas selamatnya sandera asal Ingggris–dengan titipan ucapan terima kasih kepada Komandan Kopassus, Prabowo Subianto. Salah satu koran terkemuka di Inggris malah sempat menyejajarkan Kopassus dengan pasuka elite terkemuka di dunia, SAS Ingggris dan Special Force Israel.

Bukan cuma Operasi Mapenduma yang berhasil meningkatkan nama Kopassus. Belakangan ini di Aceh, misalnya, Satuan Tugas Tribuana 3 berhasil melumpuhkan tokoh GPK Aceh Merdeka, Rahman Paloh, dalam kontak senjata di Aceh Utara, 24 Maret tahun lalu. Padahal Rahman Paloh adalah salah seorang pelaku perampokan Rp400 juta di bank BCA Lhoksuemawe, 4 Februari tahun silam. Tim Satgas Tribuana 3 pula yang berhasil membongkar tempat penyelundupan senjata GPK Aceh Merdeka, yang tersebar di kawasan Aceh Utara, sepanjang Januari hingga Maret tahun lalu. Dari penyimpanan senjata selundupan di Desa Menasah Papeun, Samalanga, ditemukan 20 pucuk senjata api campuran, serta 1.200 peluru. Sedangkan di Desa Meurah, Sigli, ditemukan 5 senjata AK dengan 10 magasin penuh peluru. Di daerah lainnya, ditemukan 56 senjata api berbagai jenis. Total seluruhnya ada 81 senjata api yang bisa disita.

Di Timor Timur, tokoh GPK fretilin, David Alex, yang sudah diuber aparatur keamanan selama 20 tahun, dapat disergap Satuan Tugas Rajawali 2, di Caebada Aimua, Baucau, 25 Juni tahun silam. Dalam kontak senjata itu, David Alex tertembak mati, sedangkan lima anggotanya tertangkap. Sejumlah dokumen dan barang buktipun dapat disita.

Prabowo Subianto, 47 tahun, menantu Presiden Soeharto itu, dilahirkan di tengah keluarga teknokrat. Ayahnya adalah Profesor Sumitro Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai “begawan ekonomi”. Kakeknya, Margono Djojohadiksumo, adalah salah seorang pendiri Bank Negara Indonesia 1946, dan ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Tak aneh kalau minat Prabowo membaca buku memang kelewatan. Ketika masih taruna Akabri, saat mengikuti latihan survival di hutan, Prabowo tetap tak ketinggalan membawa buku. “Di atas pohon saja ia membaca Majalah Time,” kata Mayor Jenderal Zacky Anwar–kini Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA)–beberapa waktu yang lalu, kepada Gatra. Bacaannya menjadi luas karena dia memang menguasai beberapa bahasa asing.

Maka seusai SMA, ia diterima di tiga universitas di Amerika Serikat. Tapi ternyata dia memilih masuk Akabri di Magelang. Ia dilantik menjadi perwira ABRI pada 1974, dan bergabung dalam pasukan baret merah. Sejak itu, ia banyak sekali terlibat dalam operasi tempur. Bila dihitung-hitung, sekitar enam tahun penuh dari kariernya yang sudah 24 tahun di ABRI dihabiskannya di daerah operasi.

Ketika Timor Timur pertama bergejolak, 1976, ia diterjunkan ke sana bergabung dalam Tim Nanggala X. Setelah berpangkat Letnan Satu, ia menjadi Komandan Tim Naggala 28. Tim Baret Merah ini kemudian menjadi terkenal karena berhasil menembak mati Fretilin, Nico Lobato. Dalam operasi yang lain, Prabowo dan pasukannya berhasil menembak mati Guido Soares, Panglima Angkatan Bersenjata Fretilin, dan Somotso, Asisten Sosial Politik Fretilin.

Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Kapten, jabatannya Perwira Operasi Grup 1, Kopasandha (Komando Pasukan Sandi Yudha, nama Kopassus waktu itu). Pada 1980, ia mengikuti pendidikan infanteri di Amerika Serikat, dan menjadi lulusan terbaik (distinguished graduated). Tak berapa lama setelah itu ia mengikuti pendidikan antiteror di Satuan Khusus Jerman Barat, GSG-9. Ia pun terpilih menjadi siswa terbaik. Maka setelah pulang ke Indonesia, atas perintah Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf, ia beserta beberapa perwira lainnya ditunjuk sebagai pelaksana pembentukan pasukan antiteror, atau yang dikenal sebagai Detasemen 81 (Den 81).

Sebagai uji coba pertama pasukan antiteror itu, Kapten Prabowo ditunjuk sebagai Komandan Tim (Dantim) Operasi Bravo. Inilah operasi penyelundupan ke negeri asing untuk mengejar GPK. Anggota tim ini tidak dipersiapkan untuk kembali, mengingat kondisi medan dan awan yang dihadapi. Maka seluruh identitas pribadi prajurit yang terlibat–berikut perlengkapannya–dihapus. Operasi itu dilancarkan di malam hari, melalui pesisir pantai, dengan memanfaatkan kegelapan malam dan kelebatan hutan pantai. Dan ternyata, setelah operasi itu, Kapten Prabowo dan anak buahnya berhasil kembali.

Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Komandan Den 81 Kopassus. Ketika itu, sebagai Komandan Tim Candrasa VII, ia berhasil menembak mati Komandan Sektor GPK Fretilin, Collimau. Baru pada 1985 pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor dan ia dipindahkan menjadi Wakil Komandan Batalyon Infanteri 328 Kostrad. Tahun itu, dalam pendidikan kursus lanjutan perwira di Amerika Serikat, ia kembali lulus dengan predikat Honor Graduate Advance Course.

Dua tahun kemudian, ia menjadi Komandan Batalyon 328 Kostrad. Ternyata batalyon itu disulapnya menjadi pasukan yang betul-betul terlatih. Taktik pemburu yang diterapkannya pada pasukan itu menyebabkan kesatuan tersebut terpilih sebagai batalyon terbaik dalam penugasan di Timor Timur. Pada 1989, pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel.

Setelah delapan tahun bertugas di Kostrad, pada 1993 ia kembali ke pasukan baret merah, sebagai Komandan Grup3/Pusat Pendidikan Pasukan Khusus di Batujajar, Bandung. Setelah itu, tampaknya kariernya tak lagi tertahan. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Wakil Komandan Kopassus, dan tahun berikutnya, November 1995, ia menggantikan Brigjen Subagyo H.S.–kini KSAD–menjadi Komandan Kopassus.

Dialah yang punya gagasan membentuk–dan ikut melatih–Satgas Darat Rajawali yang dikenal sebagai “Kompi Pemburu”. Inilah pasukan yang diambil dari kompi terbaik di Kodam, lalu dilatih secara khusus. Satgas ini terbukti menunjukkan hasil menonjol dalam penugasan di Timor Timur. Lalu, muncul gagasannya yang lain, agar Kopassus divalidasikan: dari tiga grup menjadi lima grup. Dan ternyata ketika pimpinan ABRI menyetujui gagasan ini, dalam tempo satu tahun Prabowo berhasil merealisasikannya. Padahal itu bukan soal mudah. Kendala yang muncul, mulai dari perekrutan pasukan sampai penyusunan organisasi.

 

Prabowo 16

”Keberanian untuk menghadapi segala tantangan akan selalu diuji, dan ujian itulah yang akan menentukan apakah kita berdiri tegak dan teguh penuh kehormatan, atau tidak.”

 

Ternyata hasil validasi itu dalam waktu singkat sukses mencapai kualifikasi yang ditentukan sebagai pasukan khusus. Dan Kopassus banyak melakukan latihan bersama dengan pasukan khusus negara asing, misalnya Prancis (1 RPIMA), Korea Selatan (Special Warfare Command), Thailand (Royal Thai Army Special Forces), Australia (SASR), USA Army, Jordania Special Force, dan Singapore Army Special Force.

Tampaknya sebagai seorang prajurit, Prabowo bersikap bahwa segala sesuatu baru bisa diterima bila telah teruji. Dalam buku kenang-kenangan taruna setelah lulus Akabri 1974, ia memang menulis, ”Keberanian untuk menghadapi segala tantangan akan selalu diuji, dan ujian itulah yang akan menentukan apakah kita berdiri tegak dan teguh penuh kehormatan, atau tidak.” Dan ternyata ia memang telah melewati banyak ujian. Di mata Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Prabowo memang dilahirkan untuk menjadi prajurit tulen. Maka melihat melesatnya karier Prabowo, bekas KSAD itu berkata kepada wartawan pekan lalu, ”Bukan saja layak, dia memang orangnya buat itu.” (Amran Nasution)

 

*) Majalah GATRA No. 19/IV, 28 Maret 1998

Advertisements