Soedoet Pandang

Home » Politika » KESAKSIAN FARID TENTANG PRABOWO PADA 1998

KESAKSIAN FARID TENTANG PRABOWO PADA 1998

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

Farid Prawiranegara

 

Saya kenal Prabowo sejak kecil. Bapaknya sama bapak saya dekat walau beda ideologi. Satu PSI satu Masyumi. Hubungan dengan umat Islam itu sejak 1989. Dia mulai dengan Hartono Marjono dan Khalil Badawi. Pada 1991, saya yang mempertemukan dia dengan Pak Natsir. Waktu itu ketika belum tahu mau kemana arahnya. Pak Natsir waktu itu menasihati saya agar jangan jauh-jauh dari dia. “Barangkali kamu, secara chemistry tidak cocok dengan dia. Tapi itu jangan dibawa, ibarat orang kawin, kalau kamu ribut sama dia kamu keluar kamar sebentar, tapi jangan sampai putus pembicaraan dengannya.”

Soal Benny Moerdani, dia tidak bisa bicara soal Benny tanpa dilampiaskan. Karena Benny memojokkan umat Islam, bukan karena umat Islamnya. Misalnya contoh Priok. Prabowo sudah di Kopassus. Dia bilang, itu orang Indonesia, jangan lihat Islamnya. Sama-sama Indonesia mereka punya cita-cita, kenapa mesti memusuhi mereka? Kenapa kita tidak ngomong saja sama mereka?

Waktu itu Prabowo merasa umat Islam itu dikucilkan. Prabowo itu kan ibunya Katolik, bapaknya abangan PSI. Tapi sebagai anak Sumitro mungkin ada rasa keadilan dalam dirinya yang kuat. Jadi, dia berpihak pada keadilan. Jadi dia berpihak pada Islam bukan karena dia orang Islam yang baik. Dia merasa ada ketimpangan. Dia merasa 80 persen rakyat Indonesia Islam, lalu 3 persen penduduk Indonesia menguasai 80 persen kekayaan Indonesia. Dari begitu banyak panglima, berapa banyak yang Islam? Itu ketimpangan luar biasa. Prabowo melihat, jika ini diteruskan yang ada nanti adalah revolusi. Inilah yang ingin dia hilangkan.

 

Prabowo 16
Soal Benny Moerdani, dia tidak bisa bicara soal Benny tanpa dilampiaskan. Karena Benny memojokkan umat Islam, bukan karena umat Islamnya. Misalnya contoh Priok. Prabowo sudah di Kopassus. Dia bilang, itu orang Indonesia, jangan lihat Islamnya. Sama-sama Indonesia mereka punya cita-cita, kenapa mesti memusuhi mereka? Kenapa kita tidak ngomong saja sama mereka? Itu yang menyebabkan beberapa orang menyebut dia penakut.

 

Benny Moerdani

 

“Jujurlah, bagaimanapun itu mertua saya. Saya bukan tipe pengkhianat. Kita mesti mengakui bahwa dialah yang menjadikan kawan-kawan kita naik. Tapi kalau harus memilih, maka lebih baik abstain. Saya lebih baik berhenti jadi ABRI.”

Dia bercita-cita ingin mengembalikan ABRI ke masa Jenderal Soedirman di bawah sipil. Soal presiden saja dia dukung sipil. Di rumahnya di Cijantung, gambar Jenderal Soedirman melulu, itu idolanya.

Kalau harus memilih mertua dan umat Islam, Prabowo bilang, “Jujurlah, bagaimanapun itu mertua saya. Saya bukan tipe pengkhianat. Kita mesti mengakui bahwa dialah yang menjadikan kawan-kawan kita naik. Tapi kalau harus memilih, maka lebih baik abstain. Saya lebih baik berhenti jadi ABRI.”

Itu pilihan dia, jadi dari situ kita bisa tahu siapa dia. Saya dengar dia dituduh keluarga Cendana berkhianat.

Soal penculikan, yang dia tangkap itu, ingat kan waktu itu kita tiap sebentar ada ancaman bom. Itu siapa sih yang ngancem, kok sekarang orang tidak satupun yang ngomong kita diancam-ancam bom waktu itu? Itu teror namanya.

Dia dituduh begitu sebab dia ketemu Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, dan lainnya. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah yang besar. Saya menduga, dia disingkirkan atas permintaan Soeharto.

Soal penculikan, yang dia tangkap itu, ingat kan waktu itu kita tiap sebentar ada ancaman bom. Itu siapa sih yang ngancem, kok sekarang orang tidak satupun yang ngomong kita diancam-ancam bom waktu itu? Itu teror namanya. Jujur saja, apa itu bukan teror? Melanggar hak asasi manusia. Apa mereka yang menelepon-nelepon gelap itu tidak melanggar hak asasi manusia?

 

*) Farid Prawiranegara adalah putera Sjafruddin Prawiranegara, gubernur bank sentral Indonesia yang pertama, tokoh Masyumi, dan mantan Presiden PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Artikel ini dimuat di Majalah Sabili No. 4/VI, 2 September 1998.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: