Soedoet Pandang

Home » Politika » 8. SUARA “ANAK” JAKARTA

8. SUARA “ANAK” JAKARTA

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

sandera   014

“Saya ini masih muda lho. Penampilan sih 30 tahun, tapi umur saya sudah 59 tahun. Ha… ha… ha… Malah saya sudah punya cucu dimana-mana,” kata Moses Weror dengan nada penuh canda kepada wartawan GATRA di Jayapura, Ruba’i Kadir. Kamis pekan lalu, selama 90 menit Ruba’i menghubungi Moses yang ada di Madang, Papua Nugini, lewat saluran telepon internasional. Moses, yang mengklaim dirinya sebagai Ketua Organisasi Papua Merdeka itu dikontak untuk diminta pendapatnya seputar operasi militer ABRI untuk membebaskan para sandera.

Sebelum wawancara, tak lupa Moses mengingatkan bahwa dirinya pernah tinggal di Jakarta. “Eh, gue ini anak Jakarta lho,” katanya riang. Memang, Moses pada 1960-an pernah bekerja di Departemen Luar Negeri. Ketika itu Irian Jaya belum bergabung dengan Indonesia. Selama penyanderaan, Moses termasuk ikut sibuk. Ia, misalnya, minta agar dalam tim perunding antara gerombolan dan Pemerintah Indonesia dimasukkan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Ketua PDI Megawati, dan Ketua DPR/MPR Wahono. Permintaan itu tidak dipenuhi. Tidak ada perundingan antara Pemerintah dan gerombolan.

Moses kini aktif menggalang lobi untuk menyuarakan aspirasi OPM ke luar negeri. Anehnya, ia menilai operasi militer ABRI itu sebagai tindakan yang bisa dipahami. Penjelasannya:

 

Mengapa Anda bisa memahami tindakan ABRI yang menimbulkan korban di pihak gerombolan?
Akhirnya ABRI mempunyai cara tersendiri. Dan kami bersyukur sandera asing bebas dengan selamat. Saya bersyukur tak ada korban baik bagi pihak ABRI maupun sandera (waktu itu ia belum tahu dua sandera meninggal akibat bacokan—Red.). Bagi saya, ini merupakan kegagalan pihak ICRC sebagai mediator.

 

Apakah Anda melihat ABRI sewenang-wenang?
Tidak. Penyanderaan itu terlalu lama. Mau apalagi yang dicapai oleh Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya? Tak mungkin dengan 11 sandera yang disekap mereka mendapat pengakuan internasional bahwa kemerdekaannya sudah tercapai. Kalau tujuannya mengkampanyekan OPM di luar negeri dalam rangka merebut opini internasional, itu sudah berhasil.

 

Kok Anda menyalahkan Kelly Kwalik. Apakah ini sebagai gambaran bahwa gerakan OPM tidak punya koordinasi antara front politik dan front bersenjata?
Penyanderaan secara keseluruhan dilihat dari kepentingan perjuangan Organisasi Pembebasan Papua Barat adalah menguntungkan. Cuma soal terlambatnya pembebasan sandera ternyata banyak pihak yang berkepentingan. Misalnya, ICRC bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri. Saya nilai ICRC itu gagal.

 

Bagaimana soal koordinasi, ketika kasus ini mencuat, banyak yang menyatakan diri sebagai pimpinan OPM?
Benar, mereka yang menyatakan diri sebagai pimpinan OPM di luar negeri itu tidak tahu diri. Mereka mengatakan bisa membebaskan sandera, termasuk Mathias Wenda (gembong gerombolan yang banyak beroperasi di perbatasan Jayapura-Papua Nugini—Red.).

 

Tadi Anda bilang ICRC gagal. Kenapa?
Mereka lambat menjalankan tugasnya. Tanggal 10 Maret lalu saya mengirimkan komunike bersama foto saya, lewat ICRC. Kalau komunike ini disampaikan, penyanderaan tak akan berlangsung lama. Tapi ICRC bilang tak ketemu Kelly Kwalik. Aneh kan?

 

Sebenarnya berapa kekuatan kelompok Kelly Kwalik waktu diserbu?
Yang ikut aktif menyandera sekitar 200 orang, berasal dari desa Geselama dan sekitarnya.

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: