Soedoet Pandang

Home » Politika » 6. INI SEMUA KEHENDAK TUHAN

6. INI SEMUA KEHENDAK TUHAN

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

sandera   011

Para bekas sandera dan keluarga dekat berbicara tentang pengalaman buruk itu.

Jualita Maureen Tanasale, 32 tahun, Pimpinan Ekspedisi Tim Lorentz 1995. Sarjana biologi Universitas Nasional, Jakarta, lulusan tahun 1991 ini sudah berulang kali merambah hutan.

Kami sebenarnya di situ dari bulan November untuk melakukan penelitian. Seming-gu sebelum pulang, kami ditangkap. Kami tak punya pilihan karena kami orang tahanan. Kami pernah ketemu Kelly Kwalik ketika dilaksanakan upacara di Geselama. Pada awal penyanderaan juga pernah. Tapi setelah itu jarang ketemu. Orangnya tenang, tapi sadis. Yang namanya pimpinan pasti galak, tapi anak buahnya tidak. Karena kami bisa bikin gelang dari benang, lalu mereka kasih kami gelang dari kayu (menunjuk gelang kayu di tangannya). Jadi dengan mereka seperti dengan teman. Kami ngobrol pakai bahasa Indonesia.

Makanan memang menjadi kendala. Yang kami tahu, di mana kami berada, yang memberi kami makan adalah penduduk. Tapi porsinya beda antara orang asing dan kami. Mereka porsinya banyak, kami sedikit. Tapi kami tak pernah protes atau marah. Kalau mandi, biasanya di sungai atau dibuatkan pancuran. Tapi paling banyak satu kali sehari, atau tiga hari satu kali. Ada sabun kami pakai, kalau tidak ada, mau apa lagi. Pakaian yang kami pakai seadanya saja. Untunglah sela-ma empat bulan ini kami dapat kiriman dari orangtua, karena adanya Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

Surat-menyurat cukup lancar, hanya datangnya paling cepat dua minggu sekali. Kadang sampai sebulan. Surat itu hiburan kami satu-satunya. Kalau kami baca surat, kami sedih karena timbul keinginan, kapan kami akan dilepas, kapan kami bisa pulang. Kalau orang asing dapat surat, dan kami tidak, kami jadi bingung. Apa orangtua kami lupa.

Kami belum tahu apakah bisa buat laporan penelitian atau tidak, sebab semua hasil penelitian kami sudah hilang, banyak yang dirusak GPK.

Harry Lasamahu, kakak mendiang Yosias Matheis Lasamahu. Teis, nama panggilan Matheis, 29 tahun, adalah anak kelima dari tujuh bersaudara pasangan Leonard Yacobus Lasamahu (almarhum) dan Sarah Lasamahu. Karena kurang banyak bermain dan berolah raga, menurut Harry, fisik Teis paling lemah dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Namun hutan di Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi Utara, pernah dimasukinya.

Teis adalah anak yang pendiam dan serius. Ia jarang main keluar, seper-ti kakak-kakaknya. Kalau sedang kumpul, lalu ada yang ngomong ngelantur, ia terus pergi langsung baca buku. Sebenarnya ia sudah pernah juga mengalami hal-hal yang menegangkan. Waktu peneli-tian di Aceh, saat itu pembe-rontakan GPK Aceh Merde-ka juga sedang hangat-ha-ngatnya. Tapi ia berhasil kembali dengan selamat. Selama disandera di Irian, Teis delapan kali mengirim surat. Isinya mengabarkan bahwa ia baik-baik saja. Karena itu, ketika ada kabar bahwa para sandera akan dibebaskan GPK, kami sekeluarga sudah hendak berangkat ke Irian. Tiket sudah dibeli. Tapi pembebasan tidak jadi. Ketika berita kematian Teis sampai, Ibu sangat terpukul, dan terus menangis, mengurung diri di kamar. Atas permintaan Ibu, Teis dimakamkan dekat makam Ayah di TPU Pandu, Bandung.

Anna McIvor, 22 tahun. Sarjana biologi Universitas Cambridge, Inggris, ini baru pertama kali datang ke Indonesia. Akibat penyanderaan itu ia sekarang mengalami infeksi saluran napas dan infeksi kulit. Ibunya, Susan McIvor, menyatakan bahwa keluarga mereka tak akan merayakan pembebasan Anna. “Pera-saan gembira karena bebas seperti tidak ber-arti karena meninggalnya dua teman mere-ka,” ujarnya terbata-bata.

Saya tak tahu harus bilang apa. Saya sedih, bingung. Semua terlalu cepat. Sudah lama kami dikatakan akan dibebaskan, tapi tidak pernah jadi. Sekarang kami betul-betul bebas. Saya bingung. Pengalaman paling mengerikan waktu saya terkena malaria, dan infeksi banyak sekali. Mungkin selama dua minggu. Saat itu, saya pikir, saya akan mati. Se-karang Adinda dan Markus yang paling sakit. Martha tidak apa-apa, hanya hamil.

Goresan di tangan ini waktu kami lari dari GPK. Saya lari sendiri karena orang lain pikir saya hilang. Saya terus turun meluncur ke -bawah. Yang ada hanya duri. Tapi saya tidak rasakan. Kami semua turun sendiri, tidak sa-ling bantu. Hutan Irian sebenarnya indah sekali, tapi susah hidup di sana. Saya belum biasa. Banyak orang baik, tapi ada juga yang jahat. Saya mungkin tidak akan melakukan penelitian lagi di Irian. Mungkin 15 tahun lagi.

Adinda Arimbi Saraswati, 26 tahun. Adinda (Dinda) termasuk salah seorang bekas sandera yang terserang penyakit cukup serius. Ia mengalami infeksi saluran kencing, batu ginjal bagian kanan, memar tungkai kaki kanan bawah, dan retak tumit kaki kanannya, sehingga harus digips.  Ia juga mengalami deraan traumatik yang berat, karena menyaksikan pacarnya, Navy Paneken-an, dibunuh secara brutal oleh GPK.

Semula posisi kami di tempat yang agak tinggi, kemudian disuruh turun ke arah sungai. Para anggota GPK jalan di depan. Kami jalan kayak baris, gitu. GPK kayaknya tahu kalau di depan ada ABRI. Kami lalu disuruh balik ke atas, naik lagi. Ada yang menolak, seperti Martha Klein dan Mark. Rombongan kemudian terpecah. Ada yang sudah kemba-li naik. Lalu kelompok tengah, saya, Navy, Teis, dan Markus. Lantas Martha dan Mark paling belakang. Anna McIvor terpisah sen-diri. Mendadak ada orang baru yang muncul membawa kapak. Ini anggota GPK baru, yang selama ini belum kami kenal. Tiba-tiba saja ia mengayunkan kapak dari belakang ke badan Navy, kemudian Teis. Semua sangat cepat. Saya tak melihat lang-sung peristiwa itu, tapi cuma mende-ngar jeritan panjang. Ketika saya lihat, Navy sudah tertelungkup. Saya berte-riak histeris memanggil Navy.

Melisa Panekenan, adik mendiang Navy W. Th. Panekenan. Suasana pemakaman Navy tak ubahnya lautan tangis dan jerit pilu. Sembilan bekas sandera lainnya hadir di pemakaman sambil terus berangku-lan, berurai air mata. Martha Klein tak henti-hentinya mengusap kepala Adinda Saraswati yang terkulai lemah di atas kursi rodanya. Sesekali tangan Dinda diciuminya. Sebelum jenazah dimasukkan ke liang kubur, peti mati kembali dibuka untuk memberi kesempatan terakhir kepada Dinda melihat wajah Navy. Dua pelayat membo-pongnya mendekati peti mati. Dinda menciumi pipi mendiang dan mema-sangkan cincin pertunangan mereka ke jari Navy. Isak tangis kemudian meledak tak terkendali. “Navy orang yang taat beribadah, ia selalu aptimistis dan berkata pada kami bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita,” kata Markus Warib, dengan mata berkaca-kaca. Hal itu dikuatkan oleh pernyataan Melisa.

Navy orangnya pengertian. Puluhan suratnya mengalir lancar selama disandera. Surat terakhirnya, tanggal 28 April, men-gatakan bahwa ia ingin cepat pulang. Meski hampir seluruh pulau di Indonesia sudah dije-lajahinya, ia mengaku mengeluhkan dinginnya cuaca hutan Geselama, dan lelah harus lari-lari terus. Lima tahun terakhir ini Navy sangat dekat dengan Adinda. Rencananya, selepas dari penyanderaan, keduanya akan melangsungkan pertunangan. Tapi mau bilang apa? Ini semua kehendak Tuhan. [ANB, HO, YD, BHS (Bandung), dan DH (Timika)]

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: