Soedoet Pandang

Home » Politika » 5. KAMI DITIPU KELLY KWALIK

5. KAMI DITIPU KELLY KWALIK

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

sandera   010

Meski drama penyanderaan sudah berakhir, wajah Henry Fournier masih kelihatan lelah. Fournier, 47 tahun, Kepala Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Delegasi Regional Jakarta, yang membawahkan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, memang ikut sibuk. Sejak ICRD ditunjuk sebagai penengah pada 7 Februari lalu, Fournier bersama enam anggota Palang Merah lainnya, yakni Ferenc Mayer, Patrick Sergy, Silviane Bonadei, Rene Suter, Alfred Boll, dan Simeon Tulas, silih berganti menyambangi para sandera untuk memantau kondisi mereka. Fungsi itu mereka jalankan selama tiga bulan. Tanggal 9 Mei lalu, Forunier menyatakan, ICRC mundur dari perannya sebagai mediator.

“Komunikasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sudah macet,” ujarnya. Jumat pekan silam, Fournier dan Mayer menerima wartawan GATRA, Akmal Nasery Basral dan Fotografer Ivan N. Patmadiwiria untuk wawancara khusus di kantor ICRC. Petikannya:

Kapan ICRC terakhir melihat para sandera?
Terakhir kali, 8 Mei. Saat itu mereka masih berharap akan dibebaskan. Fisik mereka cukup baik. Meski ada yang sakit, tak ada yang mengeluh, karena mereka mengira beberapa jam lagi bisa mendapat perawatan yang lebih memadai. Ternyata OPM ingkar janji.

Itukah yang membuat Anda mundur?
Pada tanggal itu tak ada kemungkinan lagi untuk meneruskan dialog, karena hari sebelumnya kami ditipu. OPM tak memenuhi janji untuk membebaskan sandera.

Begitu Anda mundur, segera dilancarkan operasi militer. Apakah ICRC memang diimbau mundur?
Tidak. Sikap ICRC diambil berdasar kesepakatan kami dengan kantor pusat di Jenewa, tanpa imbauan atau tekanan dari pihak manapun.

Apakah Anda melihat operasi militer sebagai hal yang tepat?
Menurut informasi, yang terjadi bukan operasi militer, tetapi penyelamatan oleh militer. Ini dua hal yang berbeda. Tujuan utama operasi penyelamatan adalah untuk menyelamatkan sandera.

Seandainya setelah ICRC mundur ABRI tidak melakukan operasi, apa yang akan terjadi pada sandera?
Sulit untuk berandai-andai. Saat ini kurang pantas untuk membahas soal itu. Yang pasti, semua pihak harus berupaya menemukan jalan keluar secara damai.

Ketika ICRC memutuskan menjadi mediator, apakah ada target bahwa sandera harus bebas pada bulan tertentu?
Kami tak pernah bekerja dengan deadline begitu. Kami hanya ingin memastikan sandera diperlakukan dengan manusiawi, dan bebas secepatnya. Kalaupun akhirnya mundur, itu bukan karena deadline, tapi karena OPM menipu kami. Padahal pada 7 Februari hubungan dunia luar dengan mereka sudah putus selama 20 hari. Kami jadi mediator atas permintaan Kelly Kwalik melalui misionaris.

Langkah apa yang Anda lakukan?
Fungsi utama ICRC adalah membuka komunikasi yang terputus. Kami menyebarkan leaflet dari helikopter. Kami mendarat di beberapa desa, sehingga masyarakat tahu siapa ICRC, dan problem di daerah mereka. Cara itu cukup efektif. Kami bisa kontak dengan OPM.

Ketika berhasil menemui sandera, kami tahu ternyata beberapa orang sakit, kurang makan, dan butuh obat. Kami mencoba membangkitkan keyakinan psikologis sandera dengan menghubungkan mereka dengan keluarganya. Berdasar hasil pemeriksaan kesehatan, ICRC meminta empat sandera, yakni Martha Klein, Adinda Saraswati, Markus Warip, dan Navy Panekenan dilepaskan. Permintaan kami ditolak. Alasannya, mereka baru bisa melepas sandera bila ada perintah dari pimpinan OPM di luar negeri yang tersebar di Belanda, Papua Nugini, dan Australia. Kami hubungi mereka. Dari Belanda dan Papua Nugini, kami mendapat surat untuk diserahkan kepada para gerombolan itu. Isinya agar seluruh sandera dibebaskan paling telat dua bulan setelah penyanderaan. Artinya, pada bulan Maret sandera harusnya sudah bebas. Bahkan pemimpin tertinggi mereka, Moses Weror, sepakat untuk membedakan aspek politik dengan aspek kemanusiaannya. Nyatanya surat Weror tak diindahkan.

Menurut Anda, mengapa GPK tak mematuhi perintah atasan mereka?
(Angkat bahu). Mungkin salah paham. Banyak hal yang saya tak mengerti dan irasional.

Misalnya?
Saya tidak mengerti apa yang terjadi, jadi sulit menjelaskan untuk Anda. Kelihatannya banyak keputusan diambil untuk kepentingan mereka sendiri, bukan demi organisasi yang lebih luas.

Pernahkah sebelumnya ICRC mundur dari dialog yang sedang berlangsung?
Prinsipnya, ICRC itu penengah yang netral, meskipun kami berpandangan bahwa penyanderaan itu tetap sebuah kejahatan, dan melanggar hak asasi. Kami wajib mengusahakan pembebasan tanpa syarat. Tapi kasus kali ini beda. Belum pernah terjadi dalam sejarah ICRC dialog bisa mandek seperti ini. Kami ditipu Kwalik.

Apakah ini pertanda reputasi ICRC diremehkan oleh Kelly Kwalik?
(Menghela napas panjang). Tentu saja ini sebuah kegagalan. Namun tanggung jawab harus dibebankan pada pihak yang membuat macet. (Diam lagi, agak lama). Ada banyak aspek yang harus dilihat. Kegagalan ini terjadi dalam konteks dialog, bukan keseluruhan misi. Harus dilihat, ICRC berhasil membukakan kontak dengan OPM, menjalin komunikasi dengan para sandera, memeriksa kesehatannya. Kami juga berhasil menghubungkan sandera dengan keluarganya. Ini merupakan dukungan psikologis yang besar artinya. Tapi kami pun tak menutupi kekecewaan karena adanya dua sandera yang tewas. Kami sangat dekat dengan mereka.

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: