Soedoet Pandang

Home » Politika » 4. KESAKSIAN SEORANG SANDERA

4. KESAKSIAN SEORANG SANDERA

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

sandera   009

Markus menuturkan pengalamannya selama disandera sampai saat pembebasan mereka oleh pasukan ABRI.

Antropolog Markus Warib, 36 tahun, tampak ceria didampingi istrinya, Maria, dalam perjalanan dari Timika ke Jakarta bersama sandera yang dibebaskan pasukan ABRI, Kamis pekan lalu. “Terus terang, saya masih trauma kalau harus kem-bali ke tempat penyanderaan itu,” ka-tanya.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Cenderawasih itu menuturkan pen-galamannya selama masa penyande-raan empat bulan hingga saat-saat pembebasan. Sebuah penuturan yang dilakukannya secara berteriak-teriak di kuping Dani Hamdani dari GATRA, sepanjang perjalanannya dari Timika ke Jakarta. Markus berteriak-teriak mengatasi bisingnya suara pesawat Hercules C-130, yang mengangkut sandera.

Drama penyanderaan dibuka Markus dengan cerita tentang rencana merayakan ulang tahun Bill Oates di rumah Pendeta Van der Bijl di Mapen-duma, 8 Januari lalu. “Kami mau bikin perayaan istimewa dengan memasak dua potong paha babi,” katanya. “Tapi belum lagi babi matang, kami dikagetkan oleh teriakan gerombolan orang dalam posisi siap perang suku.” Gerombolan itu, kata Markus lagi, membawa panah, tombak, dan muka mereka dicoret-coret hitam. Jam keti-ka itu menunjuk pada angka 13.10 WIT.

Rencana pesta 26 anggota Tim Ekspedisi Lorentz 1995 menjadi berantakan setelah Daniel Yudas Ko-goya dan kelompoknya, yang berjum-lah sekitar 200 orang, menarik picu senjata laras panjang. Gerombolan GPK itu merangsek maju dan men-dobrak pintu. “Mereka mengikat kami semua, dan mengumpulkan di luar rumah.” Itulah prolog penyanderaan yang digelar kelompok Kelly Kwalik.

Esoknya, kawanan Daniel menyeret sandera ke daerah Amtab, sebuah permukiman penduduk, yang tidak begitu jauh dari lokasi penangkapan. Di situ seorang mantri kesehatan tampak menyambut kedatangan tamu dengan membunuh seekor babi. Kemudian jantung babi dibagikan kepada pimpinan GPK dan sandera untuk dimakan bersama. Ini sebuah upacara adat, yang mengandung arti bahwa sandera tidak boleh dibunuh.

Selang beberapa hari kemudian, masih di Amtab, para sandera diarak untuk melintasi sungai besar dengan menyeberang jembat-an rotan menuju ke sebuah gereja tua. “Itulah kamp kami yang ketiga,” kata Markus. Di sana semua barang berharga dikumpulkan. Ada kamera, binokuler, monokuler, bebera-pa rol film, dan uang senilai Rp8 juta.

Dua hari kemudian rombongan Lotentz 1995 digelandang ke sebuah tempat guna membangun sebuah kamp yang keempat. Kemudian mereka diboyong lagi begitu GPK mengetahui ada pasukan ABRI menguntit mereka. “Kami menuruni tebing, menyeberangi sungai besar, Sungai Kilmib, dan segera membuat sebuah kamp lagi.” Itulah kamp yang kelima.

Hari berikutnya, sebuah helikopter mer-aung-raung. Untuk kesekian kalinya para sandera diperintahkan berjalan menyusuri tepian dan bibir sungai hingga malam, dan berhenti untuk mendirikan kamp yang keenam. Beberapa jam kemudian berjalan lagi. “Kami panjat gunung. Jalannya minta ampun, tidak bagus. Harus jalan di bawah lumut. Naik, dan naik terus. Begitu sampai di atas, kami menyeberang jembatan rotan lagi dan turun. Begitu sampai di pertenga-han gunung itu hari sudah gelap, dan kami bikin kamp lagi untuk ketujuh kalinya,” kata Markus.

Setelah bermalam, mereka kembali ber-jalan hingga menemukan sebuah sungai kecil, dan mendirikan kamp kedelapan. Sejak itu beberapa sandera mulai sakit. “Tapi kami terus jalan dan mendirikan kamp berikut-nya,” tutur Markus. Untuk pindah dari satu kamp ke kamp lain rata-rata makan waktu sekitar sehari, lalu tidur dua hingga tiga hari pada setiap kamp, yang didirikan seadanya.

“Di kamp kesepuluh, kami mulai mengadakan kontak surat melalui ICRC, dan helikopter mereka sering datang sesuai dengan permintaan Kel-ly Kwalik,” katanya. Di sana pula para sandera sempat diperiksa oleh Dr. Fe-renc Mayer. Tapi, seperti hari-hari sebelumnya, rombongan sandera kem-bali melakukan long march begitu fajar matahari mulai menyingkap. “Kami diajak masuk sebuah kampung. Ada sembilan rumah di situ, namanya Bogonduom, di atas puncak gunung. Kami diperiksa, difoto. Juga sempat buat surat buat keluarga segala,” ujar Markus.

Yang menarik, menurut Markus, sepanjang perjalanan sebelumnya para sandera cuma disuguhi makanan ubi hutan yang pahit, tapi kali ini ada pes-ta babi, ada rokok, dan juga susu. “Karena kami sudah terbiasa memakan makanan yang tidak betul di kamp kamp sebelumnya, maka setelah makan enak itu kami mencret semua.” Kamp ke-12, menurut Markus, satu-satunya penginapan yang paling enak selama disandera. “Ibaratnya kelas VIP.”

Di situ pula kontak dengan ICRC dilanjutkan. Gerombolan itu, menurut Markus, tampak mulai tidak percaya kepada tim Komite Palang Merah Internasional. Mereka menganggap ICRC mata-mata Indonesia. Bebera-pa hari kemudian rombongan angkat kaki lagi menuju Desa Dagangpem. Hari itu juga mereka segera pindah lagi, karena persem-bunyian mereka tercium tentara.

Pada waktu itu, entah tanggal berapa, tapi sudah masuk Maret, Markus mulai menden-gar adanya pertentangan di antara pimpinan GPK. Mereka berbeda pendapat tentang pem-bebasan sandera. “Kami mendengar bahwa para sandera akan dibebaskan,” kata Markus.

Tapi suasana berubah ketika gerombolan mendapat kabar bahwa Thomas Wanggai meninggal. Itu 12 Maret. Kelly Kwalik langsung menyiapkan tuntutan: “Sebenarnya kami ingin membebaskan sandera, tapi ada hal yang menghambat. Pertama, kami berdu-ka karena Tom (maksudnya Thomas Wanggai) meninggal. Kedua, karena tiga orang saudara Kelly Kwalik dibunuh tentara,” kata Markus menirukan tuntutan GPK. Surat Kelly Kwalik itu, yang dialamatkan kepada Dr. Mayer, dijemput Rene dan Alfred, petugas ICRC. Anehnya, pada saat bersamaan, seorang sandera bernama Abra-ham Wanggai malah dibebaskan. Sebelum-nya ICRC bersama misionaris telah membebaskan 14 sandera terhitung sejak hari keempat penyanderaan. Markus juga mendengar selentingan bahwa 11 sisa sandera dibebaskan akhir Maret.

Tak cuma itu. Markus juga men-guping pertengkaran mulut antara Kel-ly Kwalik dan Silas Kogoya. “Sayalah yang bertanggung jawab, jadi bawa ke saya punya tempat,” kata Silas. Kelly balas menjawab lebih keras: “Bawa ke saya punya tempat!” Silas akhirnya mengalah. Para sandera kembali dilarak ke suatu tempat tak jauh dari Gese-lama. “Kami tidur beberapa malam sete-lah membuat sebuah bivak kecil,” tutur Markus. Kemudian mereka digiring lagi untuk naik ke puncak gunung, menuju ke sebuah rumah yang beratap, tapi tak berdinding.

Selanjutnya adalah perjalanan menu-ju sebuah kampung kecil, Puruwa, tempat markas Kelly Kwalik. Di situ para sandera kernbali diperiksa kesehatan-nya. Sehari di sana, mereka dibawa turun ke Geselama. “Kami tinggal di honey milik Habel Wandikbo. Para sandera dipisah, enam orang dan lima orang,” kata Markus pula. “Mereka melayani kami dengan baik sekali.” Sampai kemudian muncul tawaran pem-bebasan awal Mei.

Pada waktu itu seseorang dari ICRC menyatakan bahwa 8 Mei adalah Hari Palang Merah. “Mereka menawarkan tanggal tersebut sebagai saat pelepasan sandera dengan mengadakan upacara,” katanya seperti ditirukan Markus. Lewat tanggal itu ICRC tidak akan datang lagi. Disebut-sebut, petugas ICRC juga bersedia mengantar pimpinan OPM bertemu dengan Brigadir Jenderal Prabowo, dan mengantar mereka terbang ke Eropa. Semua pimpinan GPK setu-ju. “Kami sudah kirim surat menyatakan setu-ju,” kata tokoh-totoh GPK kepada Markus.

Belakangan, kelompok Kelly Kwalik berubah sikap. Mereka membuat surat sep-anjang dua halaman, yang antara lain berisi: “Sandera akan dilepas bila ada pengakuan resmi kemerdekaan Papua Barat oleh Indone-sia.” Markus mengaku mengetahui hal itu karena dia yang mengetikkan surat tersebut sebanyak 27 eksemplar.

Yang terjadi kemudian, delegasi ICRC memang datang dengan dua helikopter, bersama seorang wakil dari Inggris, Belada, dan Indonesia pada 8 Mei. Pada “hari yang menjanjikan itu” para sandera dijemput dengan tari-tarian rakyat. “Semua sandera senang. Perempuan dipakaikan rok dari kulit kayo, dan kami dilepas baju,” kata Markus pula.

Ternyata pertemuan itu tidak mem-bicarakan apa-apa. Kelly Kwalik cuma berp-idato, dan menekankan tentang tuntutannya agar Indonesia mengakui kemerdekaan Papua Barat. “Kami kecewa, dan semua menangis, juga petugas ICRC,” ia menam-bahkan. Hingga para penyandera terpaksa membujuk-bujuk sanderanya agar kembali ke kamp semula.

Sekali lagi Silas Kogoya meminta ICRC datang keesokan harinya. “Malam ini kami akan membujuk Kelly,” kata Silas. Pada 9 Mei, pesawat heli ICRC pun kembali mendarat, dan membawa surat perjanjian yang harus ditandatangani Kelly Kwalik. Tapi Kel-ly tidak mau bertemu. Dia tetap di Puruwa, sekitar 15 menit dari Geselama.

Satu setengah jam kemudian terdengar suara helikopter mendekat dan memuntahkan peluru. Juga roket. Gerombolan Kelly Kwa-lik porak-poranda, dan Silas segera menggiring para sandera sambil berteriak-teriak, “Lari, lari…”

Selama perjalanan, menurut Markus, sandera hanya makan buah pohon pandan. Sejenis kelapa sawit hutan, sebesar kelingking. Yang paling melelahkan, katanya, adalah ketika diperintahkan untuk terus berjalan dari pagi hingga larut malam. “Kami sampai tertidur di jalanan tanpa alas,” kata Markus seperti menyesali nasibnya.

Sampai kemudian matahari mulai me-nampakkan diri, Rabu menjelang “drama pembebasan berakhir”. Sandera diperintah-kan lagi secara kasar untuk berjalan. “Jalan yang kami lalui kali ini minta ampun, banyak batu-batu besar, dan licin. Tapi kami disu-ruh jalan terus. Kalau ada ABRI, kami diam sebentar,” kenang Markus.

Dalam pelarian itu, baik penyandera maupun sandera seperti sudah kehabisan tenaga. Tapi terus diperintahkan naik ke tebing curam. Lalu tiba-tiba disuruh turun lagi. “Saya mulai curiga, saya me-lihat perubahan sikap rnereka,” kata Markus. Biasanya mereka akrab, ngo-brol bersama, makan sama-sama kami sepanjang waktu. “Tapi sore itu, mata mereka liar.” Tidak berapa lama kemudian sandera diperintahkan naik kem-bali. Sandera belum naik, pasukan Kel-ly Kwalik kembali berteriak, “Sanbo, sanbo.” Artinya: ada tentara.

Martha Klein dari Belanda, yang hamil tua, tampak jauh di belakang. “Saya di belakang Navy dan Adinda Saraswati. Lalu, Yosias dan Jualita di depannya la-gi,” ujar Markus. Seseorang tampak menghampiri dan memerintahkan Mar-kus untuk terus naik, dan kemudian Mar-kus mendengar teriakan histeris dari seo-rang wanita.

Suasana gaduh ini berada pada jarak 100 meter dari Markus. Tapi tidak kasat–mata karena terlindung pepohonan. Belakangan Markus tahu, Adinda meli-hat Navy dibacok. Kemudian para san-dera yang sudah di atas itu pada lari ke bawah. “Saya juga melihat seseorang turun dengan parang sudah di atas ke-palanya, siap membacok. Saya langsung lompat ke bawah dan terjatuh. Lutut terkena batu, rasanya sakit sekali, tapi saya terus berlari,” katanya.

Di bawah, Markus melihat Adinda dan Daniel sudah sampai di bibir sungai. Ternyata sudah ada pasukan ABRI yang menjemput. Ada sekitar 13 orang pasukan baret hijau yang menunggu di situ. Sedangkan 12 pasukan ABRI lainnya meny-isir di hulu sungai. “Saya cepat keluar sambil angkat tangan, dan berteriak: Saya sandera, saya sandera.” Pasukan ABRI lang-sung melindungi. Tidak lama kemudian, Anna turun. Dan sembilan orang berhasil dis-elamatkan. “Dua teman kami masih di atas,” kata Markus. “Kami sedih, tapi mau apalagi, hari sudah keburu gelap.” Itulah dua sandera yang tidak terselamatkan: Navy dan Teis. (Agus Basri)

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

Advertisements

1 Comment

  1. Stay put general! U r the man! Pls be success against all these fakers! And lead the country!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: