Soedoet Pandang

Home » Politika » 2. KETIKA PALANG MERAH PULANG KECEWA

2. KETIKA PALANG MERAH PULANG KECEWA

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

sandera   003

Sembilan sandera gerombolan Kelly Kwalik berhasil dibebaskan. Dua sandera lainnya tewas. Kelly dan Daniel Kogoya lolos.

Peti jenazah Navy W. Pa-nekenan, 29 tahun, sudah diangkat ke atas lubang pemakaman ketika kekasih-nya, Adinda Arimbi Saraswati, datang dengan kursi roda. Kesedihan tergurat dalam di wajah Adinda. Air matanya tidak putus mengalir mengiringi isaknya yang tertahan. Peti jenazah Navy pun dibuka untuk terakhir kali. Lalu, Adinda me-ngecup pipi Navy seba-gai tanda perpisahan, dan kemudian rnemasangkan cincin pertunangan mere-ka ke jari manis sang ke-kasihnya, yang dingin dan kaku.

Para pelayat menun-dukkan kepala, dan isak tangis terdengar menya-yat, melihat Adinda me-lepas kekasihnya di Pe-makaman Umum Kam-pung Rambutan, Jakarta Timur, Jumat siang pekan lalu itu. Lalu, peti jenazah diturunkan, dan secara perlahan ditimbun tanah merah. “Anak yang pa-ling baik, anakku yang manis, mengapa kamu begitu cepat meninggal-kan kami,” kata Nyonya Anamaria Irene Paneke-nan Korompis, ibu mendiang Navy, meratap li-rih.

Navy tewas akibat tin-dak kekerasan gerom-bolan Kelly Kwalik, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang berkeliaran di Dataran Tinggi Lorentz, di jantung Irian Jaya. Keberi-ngasan gerombolan pengacau keamanan (GPK) ini juga merenggut jiwa Yosias Matheis (Teis) Lasamahu, 32 tahun, kole-ga Navy di Biological Science Club (BScC) Universitas Nasional, Jakarta. Pembunuhan atas dua pemuda itu merupakan adegan pun-cak drama penculikan, yang didalangi Kel-ly, sejak 8 Januari lalu.

Penculikan itu memaksa ABRI menurunkan satuan tugas tempur sejak 9 Mei lalu. Setelah enam hari memburu, satuan ABRI berhasil menjepit gerombolan tersebut di sebuah lereng berhutan lebat dekat Desa Sika, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Rabu sore pekan lalu, serbuan dadakan prajurit TNI membuka peluang bagi sem-bilan sandera kabur melepaskan diri dari tangan penyandera mereka. Namun Navy dan Teis keburu terluka parah, dan diseret gerombolan sebelum diselamatkan satuan ABRI.

Navy dan Teis dimakamkan dengan upa-cara militer pada hari yang sama, tapi di tempat berbeda. Peti jenazah mereka diselimut benderaMerah Putih, dan diantar ke lubang kubur dengan tembakan salvo. Navy dima-kamkan tidak jauh dari kediaman keluarganya di Cililitan, dengan inspektur upacara Komandan Kodim 0505 Jakarta Timur, Let-nan Kolonel Dody Sudarno. Sembilan bekas sandera, yang sudah berbulan-bulan ber-sama Navy, hadir pada upacara pemakaman tersebut. Duta Besar Belanda Paul Rietze Brouwer serta Duta Besar Inggris Grahan Burton tampak pula di antara pelayat.

Sementara itu Teis diistirahatkan di Pe-makaman Pandit, Bandung, dengan inspek-tur upacara Letnan Kolonel B. Siregar dari Garnizun II Bandung. “Ini sebuah penghormatan. Jarang orang sipil dimakamkan de-ngan upacara militer penuh,” kata Mayor Jenderal (Purnawirawan) Ade Picaulima, sepupu mendiang Teis. Seperti pada pe-makaman Navy, penguburan Teis juga di-iringi kidung yang sendu.

Navy, Teis, Adinda, dan Jualita Maureen Tanasale, adalah empat peneliti BScC Universitas Nasional, yang dikirim ke Pegu-nungan Lorentz untuk riset keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial masyarakat setempat, awal November 1995. Bersama mereka bergabung pula Antropolog Markus Wa-rib, 35 tahun, dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, dan empat sar-jana baru lulusan Jurusan Biologi Universitas Cambridge, Inggris, yai-tu Daniel P. Start, 21 ta-hun, William (Bill) Oates, 23 tahun, Annete van der Kolk, 22 tahun, dan Anna McIvor, 21 ta-hun. Mereka bergabung dalam Tim Ekspedisi Lo-rentz 1995.

Seusai melakukan penelitian, Tim Lorentz 1995 beristirahat di Desa Mapenduma. Di situ mereka bertemu tiga pe-neliti lain, yakni pasang-an suami-istri Marco van der Wal dan Martha Klein (keduanya dari Belanda) dan Frank Mom-berg (asal Jerman). Van der Wal dan Momberg bekerja untuk World Wildlife Fund (WWF), sedangkan Klein beker-ja untuk Unesco. Pada saat kedua tim itu bersantai, pada 8 Januari, gerombolan Kelly datang dan menggelandang mereka masuk hutan.

Pada mulanya 26 orang yang disandera. “Selang empat hari kemudian, 9 sandera lokal, semuanya warga Mapenduma, dibe-baskan. Lalu, beberapa rohaniwan terke-muka di Irian Jaya turun tangan menjadi penengah, dan 4 sandera lagi dilepaskan, termasuk Momberg. Kemudian perunding-an macet. Kelly, yang didukung sekitar 200 laskar dengan 6 pucuk senjata api, menolak bertemu rohaniwan lagi.

 

sandera   004

Sejak 7 Februari, upaya perundingan dilakukan dengan mediator dari Palang Merah Internasional (ICRC). Tempo sebulan, pada 10 Februari dan 15 Maret, dua sandera dibebaskan lagi. Setiap pertemuan dengan gerombolan Kelly dimanfaatkan tim ICRC untuk memasok obat, makanan, pakaian, dan surat bagi para sandera. Pada pertemuan 1 Mei lalu, Kelly berjanji akan membe-baskan semua sandera tanpa persyaratan politik tepat di hari ulang tahun ICRC, 8 Mei.

Ternyata janji itu janji gombal. Kelly tetap memasang harga tinggi: pembebasan sandera harus ditebus de-ngan pengakuan atas ber-dirinya Republik Papua Barat dengan Kelly Kwalik sebagai presiden, dan bonus sejumlah sen-jata buat mereka. Tim ICRC menolak persya-ratan itu karena dianggap tidak realistis. Esoknya, tim ICRC kembali terbang menemui pimpinan gerombolan di Desa Geselama. Kelly tetap keras menolak membe-baskan sandera, bahkan Klein, yang hamil tujuh bulan. Perundingan men-tok. ICRC mengundur-kan diri sebagai mediator.

Lalu ABRI mengambil sikap: krisis penyanderaan akan diselesaikan melalui operasi militer. Prajurit telah disiagakan. Dan sejak pertengahan April, Markas Besar ABRI secara resmi telah membentuk satuan tugas pembebasan sandera dan menunjuk Komandan Koman-do Pasukan Khusus (Kopassus) Brigadir Jenderal Prabowo Subianto sebagai koman-dannya. Kota Timika, yang berjarak 125 km dari Geselama, ditetapkan sebagai markas komando.

Sekitar empat buah heli jenis Bell 412 dan Puma SA-330 berlogo TNI Angkatan Darat sering tampak di apron Lapangan Udara Timika. Empat perwira tinggi berbin-tang satu, yakni Brigadir Jenderal Prabowo, Kepala Staf Kodam Trikora Brigadir Jen-deral Johni Lumintang, Direktur A BIA (Badan Intelijen ABRI) Brigadir Jenderal Jacky Anwar, dan Wakil Asisten Operasi Brigadir Jenderal Suedi Muarasabessy, sering terlihat keluar-masuk markas koman-do di hanggar Lapangan Udara Timika.

Sumber militer di Timika mengatakan, operasi ini dilengkapi pula dengan sebuah drone, pesawat kecil tak berawak, yang mampu terbang sampai ke Geselama untuk melakukan pengintaian. Pesawat itu membawa kamera video.  Dua set perkakas telekomunikasi dengan antena parabola mini, yang terpasang di depan hanggar, menjamin hubungan telepon bebas hambatan Timika-Jakarta. Belakangan sepasukan Brimob, dengan lima ekor anjing pelacak German Shepperd dan seekor Dobberman, memperkuat markas komando di Timika.

Lalu, sekitar 600 personel dari pelbagai kesatuan didatangkan untuk mendukung operasi bersandi Cenderawasih itu. Ada satuan antiteroris Kopassus dengan seragam hitam. Ada prajurit baret hijau Kostrad dari Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat). Ada Batalyon 514 (Brawijaya). Ada pula Batal-yon 742 (Trikora.). Mereka dibagi ke dalam dua peran: ada yang bertugas sebagai tim pemburu, dan ada pula pasukan penyekat untuk menghadang gerakan musuh. Manu-ver para prajurit dikendalikan dari pos komando di bawah Letnan Kolonel Chaera-wan dari Kopassus, yang berada di Desa Kenyam, sekitar 30 menit dengan heli dari Geselama. Setiap unit pasukan dibekali pula dengan instrumen GPS (Global Position-ing System), yang memungkinkan mereka mengetahui posisi koordinat secara cepat dan akurat.

Ketika misi ICRC mentok, satuan tugas operasi ABRI sudah siaga dengan skenario kedua, yakni operasi militer. Pada 9 Mei, sepa-sukan prajurit dikerahkan untuk memburu musuh dengan lima helikopter. Esoknya, mereka dibe-rangkatkan lagi. Namun, tak jauh dari Desa Ke-nyam, sebuah heli Bell 412 jatuh karena ekornya menyambar cabang po-hon. Dua penerbang dan tiga prajurit tew as. Tujuh lainnya cedera. Tapi mu-sibah itu tak mengendurkan semangat operasi.

Satu unit prajurit dikirim ke Geselama untuk melakukan pengejaran. Tim penyekat pun telah mengambil posisi me-ngunci daerah seluas 10 x 10 kilometer. Unit pem-buru lainnya didaratkan dengan tali dari heli di lokasi-lokasi yang diper-kirakan akan didatangi gerombolan, yakni sum-ber air bersih, atau belukar yang ditumbuhi kelapa gunung khas Irian, yang buahnya sebesar biji sawit dan bisa dimakan. Pasukan yang beruntung menemukan jejak para sandera itu adalah tim berkekuatan 25 orang dari Batalyon 330, yang dipimpin Kapten Agus Rochim.

 

sandera   005

Setelah bergerak dua hari, pada 11 Mei, pasukan Agus, yang memakai sandi Pan-dawa 1, menemukan ransel, kantong tidur, ceceran serpihan kertas, kaleng makanan, bahkan pembalut wanita yang ditinggalkan sandera di tengah hutan. Boleh jadi, mere-ka sengaja melakukannya. Barang-barang itu, bagi pasukan Agus, menjadi petunjuk yang berarti. Tim Pandawa 1 segera menge-jar, dan hari berikutnya sudah berada 2 km di belakang gerombolan. Unit ini terus me-nguntit kendati persediaan makanan mereka sudah tipis.

Sepanjang Senin dan Selasa pekan lalu, Pandawa 1 terus membayangi gerombolan tersebut. Dari jejak yang diperoleh, tim ini yakin bahwa rombongan yang diburunya tetap mengelompok, tidak bergerak memen-car. Pandawa 1 pun mengontak Kasuari 1, unit pasukan antiteroris Kopassus, agar datang untuk menjepit sasaran. Esoknya, Pandawa 1 dan Kasuari 1 sudah sangat dekat dengan sasaran. Tapi mereka tidak melakukan sergapan karena belum melihat posisi sandera secara pasti.

Baru Rabu pagi, Pandawa 1 melihat formasi musuh secara jelas. Ternyata pasukan Kelly, yang mengawal 11 sandera itu, tinggal sekitar 20 orang saja. Kel-ly dan Daniel Yudas Kogoya tidak bersama mereka. Tapi Pan-dawa 1 tidak kecewa karena sa-saran mereka adalah penyela-matan sandera. Sementara itu tim Kasuari 1, yang berkekuatan 20 orang, di bawah Sersan Mayor Bayani, sudah pula mendekati sasaran. Akhirnya, gerombolan yang dipimpin Silas Kogoya itu terjepit di sebuah lereng, yang di bawahnya mengalir Sungai Gilmit.

Silas mulai menyadari ada sanbo (sebutan mereka untuk anggota ABRI) telah berada di belakang mereka, dekat sungai. Ia lalu memerintahkan para sandera, untuk cepat mendaki. Navy berjalan paling depan diikuti Teis. Di belakang mere-ka, ada Adinda, Jualita, Markus Warib, dan Anna McIvor. San-dera yang lain ada di belakang, dekat tepian sungai. Suasana tegang. Namun Navy tidak me-nyangka bila tiba-tiba seorang anggota GPK mengayunkan kapaknya ke arah bahunya. Ia mengaduh dan jatuh.

Adinda yang melihat adegan itu dari jarak dekat kontan menjerit. Tapi jeritan itu tak menghalangi lelaki kekar tersebut mengayunkan kapaknya untuk kali kedua. “Saya histeris memanggiI-manggil nama Navy,” tutur Adinda sambil terisak. Tak lama kemudian Teis mendapat perlakuan serupa. Ia diba-cok bertubi-tubi dengan parang. Jeritan Adinda dan Jualita kembali memecah keheningan.

Adegan berikutnya, senapan menyalak. Seorang anggota gerombolan jatuh tersungkur tersambar peluru Sersan Pariki. Para anggota GPK panik, dan para sandera menyelamatkan diri dengan meluncur ke arah sungai, dan berlindung di bawah “paruh Cenderawasih”. Tembakan terus menyalak. Delapan anggota gerombolan roboh ditem-bus peluru. Dua tertangkap. Tapi Navy dan Teis, yang terluka parah, diseret anggota gerombolan ke tengah rimba. Sembilan sandera selamat. Malam itu mereka terpaksa menginap di lembah dingin tersebut.

Esoknya, para sandera dievakuasi de-ngan heli ke Geselama untuk transit. Bri-gadir Jenderal Prabowo, yang baru malam harinya tiba di Timika, ikut menjemput ke Geselama. Dari desa pegunungan itu para sandera dibawa turun dengan pesawat ringan, dan diistirahatkan sejenak di Hotel Sheraton Timika untuk mandi dan menjalani pemeriksaan dari tim medis. Sekitar pukul 15.15 WIT, para sandera diboyong ke Jakar-ta dengan Hercules C-130, dan langsung diantar Prabowo.

Navy dan Teis ditemukan sekitar 1,5 km dari lokasi sebelumnya dalam keadaan tak bernyawa. Mereka diduga meninggaI kare-na kehabisan darah. Jenazah mereka dievakuasi ke Rumah Sakit Timika untuk divisum, dan kemudian langsung dibawa ke Lapangan Udara Timika. Sekitar pukul 17.00 WIT, Boeing 737 Airfast menerbangkan kedua jenazah peneliti tersebut ke Jakarta.

Pukul 19.35 WIB, pesawat Hercules yang membawa sandera tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta. Sambutan luar biasa. Sekitar 200 wartawan, dan 50 di antaranya dari pers asing, tampak menunggu. Kepala Staf Umum ABRI Let-nanJenderal Soeyono telah siap di situ untuk menerima sandera dari Brigadir Jenderal Prabowo. Para juru foto kecele, karena para sandera langsung diangkut ke Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto.

 

“Ia hampir putus asa melihat medan yang berat itu. Anak saya bi-lang, hanya James Bond yang bisa menyelamatkan mereka,” kata Start, warga Mid-hurst, sebuah distrik kecil di selatan London, sambil tertawa.

 

Jenazah Navy dan Teis tiba 1,5 jam kemudian. Soeyono menyerahkannya ke Irjen Departemen Kehutanan,Utomo, kare-na instansi ini yang memberikan izin eks-pedisi ke Gunung Lorentz. Setelah itu ke-dua jenazah diserahkan Utomo kepada keluarga mereka. Esok-nya, di Aula Rumah Sakit Gatot Subroto, Soeyono juga menye-rahkan ketiga bekas sandera Indonesia ke Departemen Ke-hutanan untuk diteruskan ke keluarga mereka. Sedangkan keenam sandera asing diserah-kan melalui Irjen Departemen Luar Negeri, Abdul Irsan, kepa-da Duta Besar Belanda dan Ing-gris di Jakarta.

Sukses operasi pembebasan sandera itu mendapat sambutan hangat koran-koran Inggris dan Belanda. Hampir semua koran terbitan London menulis berita tersebut di halaman pertama edisi 16 Mei dan 17 Mei. Ada spekulasi yang mengatakan bahwa operasi itu dibantu Pasukan Khusus Inggris, SAS. Tapi gosip itu kontan ditepis Duta Besar Kerajaan Inggris di Jakarta, Graham Burton.

Jan Start, ayah salah seorang sandera, mengaku sangat gem-bira setelah menerima telepon anaknya, Daniel, dari Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. “Saya baru yakin anak saya selamat setelah berbicara lewat telepon,” kata Start. Daniel, tambah ayahnya, sempat menuturkan kecemasannya pada hari–hari terakhir penyanderaan. “Ia hampir putus asa melihat medan yang berat itu. Anak saya bi-lang, hanya James Bond yang bisa menyelamatkan mereka,” kata Start, warga Mid-hurst, sebuah distrik kecil di selatan London, sambil tertawa.

Pujian atas keberhasilan ini juga muncul di The Times, harian yang terbit di London. Koran itu, pada edisi Jumat lalu, menyebut Kopassus sebagai pasukan elite keti-ga terbaik di dunia setelah SAS dan Satuan Antiteroris Israel. Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali, melalui juru bicaranya, Syl-vana Foa, juga menyatakan kegembiraan bahwa drama penyanderaan telah berakhir.

Media massa Belanda juga ikut memberitakan pembebasan pasangan Marco van der Wal dan Martha Klein, yang asal Negeri Kincir Angin itu. Pers Belanda mencatat kegembiraan yang melimpah dari keluarga J.G. Klein, orang tua Martha. “Kami lega sekarang. Situasi buruk ini tak harus ber-larut-larut,” kata S. Klein, ibu Martha. Penduduk Heeemskerk, distrik tempat kelu-arga Klein tinggal, dan warga Zeewolde, kampung halaman keluarga Van der Wal, pun menyatakan kegembiraan mereka dengan cara unik. Mereka mengibarkan ben-dera nasional Belanda di depan rumah ting-gal masing-masing.

Sebagai komandan operasi, Brigadir Jen-deral Prabowo mendapat ucapan selamat bertubi-tubi dari pelba-gai kalangan. Ia menco-ba bersikap merendah. “Saya bersyukur operasi berjalan lancar, berkat kesungguhan para prajurit,” ujarnya. Prabowo juga menyatakan menyesal kare-na operasinya tak bisa inenyelamatkan semua sandera. “Sebagai orang yang memimpin operasi, saya minta maaf kepa-da keluarga korban,” tambahnya.

Namun Prabowo masih merasa gemas, karena Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya lolos. “Mereka harus terus diburu,” ujarnya. Namun boleh jadi, perburuan ter-hadap kedua bangkotan GPK itu akan dilakukan satuan reguler Kodam Trikora. Konon, Satgas Cenderawasih akan dibubar-kan karena misi pembebasan sandera telah selesai. Para prajurit pendukung operasi ini, termasuk Prabowo, disebut-sebut akan diusulkan untuk menerima kenaikan pangkat istimewa.

Tapi kemana Kelly Kwalik? Ia memang licin. Ketika gerombolannya diserbu, ia memilih memisahkan diri dari rombongan besar, dan menyingkir dari areal perburu-an bersama pengawalnya. “Sebagai geri-lyawan, ia lihai,” ujar Prabowo tentang mu-suhnya itu. [Laporan: Putut Trihusodo, Hidayat Gunardi, Dani Hamdani, Genot Widjoseno (Timika), dan Ruba’i Kadir (Jayapura)].

sandera   006
KRONOLOGI PENYANDERAAN

  • 8 Januari 1996

Sebanyak 26 orang diculik Gerombolan Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang beroperasi di Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya. Para sandera terdiri dari 10 peneliti dari Tim Ekspedisi Lorentz 1995, 3 periset WWF, serta 13 penduduk desa.

  • 12 Januari

Sebanyak 9 orang, semuanya warga Mapenduma, ditemukan bebas di Desa Digi, 20 km dari Mapenduma.

  • 13 Januari

Kelly Kwalik membuka kontak dengan Uskup Jayapura, Herman Munninghoff. Ia meminta bahan pangan dan obat-obatan, yang segera diberikan esok harinya.

  • 15 Januari

Frank Momberg, peneliti dari WWF, dilepas sebagai juru runding. Tapi Kedutaan Jerman melarangnya kembali ke hutan. Momberg dibawa pulang ke Jerman.

  • 16 Januari

Nyonya Ola Yakobus Wandikbo, seorang sandera, dibebaskan bersama bayinya yang berusia enam bulan.

  • 22 Januari

Giliran Yakobus Wandikbo, suami Ola, dilepas. Yakobus dikenal sebagai tenaga lepas Kanwil Kehutanan Irian Jaya, yang ditempatkan di Mapenduma. Namun setelah itu Kelly tak sudi lagi berunding para rohaniwan.

  • 7 Februari

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) tampil sebagai penengah, menggantikan para rohaniwan. Kontak yang tiga pekan terputus disambung kembali.

  • 10 Februari

Ikhtiar ICRC memberikan hasil. Penginjil Zarkeus dari Tiom dibebaskan.

  • 15 Maret

Gerombolan Kelly hijrah ke Desa Geselama. Hubungannya dengan ICRC masih mulus. ICRC bisa memasok makanan, obat-obatan, pakaian, bahkan perawatan kesehatan untuk para sandera. Pegawai Kanwil Kehutanan Irian Jaya, Abraham Wanggai, dibebaskan.

  • 1 Mei

Kelly menjanjikan pembebasan seluruh sandera pada 8 Mei, bertepatan dengan ulang tahun ICRC.

  • 8 Mei

Kelly menggelar pesta adat. Dua ekor babi dan sejumlah ayam dipotong. Para sandera lelaki bertelanjang dada, dan sandera wanita berpakaian lengkap dengan rok ekstra rumbai-rumbai. Kelly bersama sandera menyantap hati babi, sebagai lambang bahwa kedua belah pihak tak akan pernah saling menyakiti. Sejumlah anggota tim ICRC menyaksikan pesta itu. Tapi pembebasan sandera batal.

  • 9 Mei

Tim ICRC kembali mendarat di Geselama. Kelly tetap menolak pembebasan sandera, tanpa pengakuan dari Pemerintah RI adanya Republik Papua Barat dengan dirinya sebagai presiden. ICRC menyerah, dan tak mau melanjutkan peran sebagai juru runding. ABRI memutuskan operasi militer. Hari itu pula Geselama dilabrak. Kelly kabur bersama pengawalnya, dan memisahkan diri dari sandera.

  • 10 Mei

Sebuah Heli Satgas jatuh. Lima tewas, tujuh prajurit cedera. Tim Pandawa 1 menemukan jejak para sandera.

  • 14 Mei

Tim Pandawa 1 sudah berada di persis belakang gerombolan penyandera yang dipimpin Silas Kogoya.

  • 15 Mei

Tim Pandawa 1 dan tim Kasuari 1 menjepit rombongan Silas Kogoya. Serbuan dilakukan, 9 sandera bebas, tapi Navy dan Teis disekap.

  • 16 Mei

Kesembilan sandera diboyong ke Jakarta. Navy dan Teis ditemukan tewas, dan kemudian menyusul diterbangkan ke Jakarta.

  • 17 Mei

Navy dan Teis dimakamkan di Jakarta dan Bandung.

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: