Soedoet Pandang

Home » 2014 » June

Monthly Archives: June 2014

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

KESAKSIAN FARID TENTANG PRABOWO PADA 1998

Farid Prawiranegara

 

Saya kenal Prabowo sejak kecil. Bapaknya sama bapak saya dekat walau beda ideologi. Satu PSI satu Masyumi. Hubungan dengan umat Islam itu sejak 1989. Dia mulai dengan Hartono Marjono dan Khalil Badawi. Pada 1991, saya yang mempertemukan dia dengan Pak Natsir. Waktu itu ketika belum tahu mau kemana arahnya. Pak Natsir waktu itu menasihati saya agar jangan jauh-jauh dari dia. “Barangkali kamu, secara chemistry tidak cocok dengan dia. Tapi itu jangan dibawa, ibarat orang kawin, kalau kamu ribut sama dia kamu keluar kamar sebentar, tapi jangan sampai putus pembicaraan dengannya.”

Soal Benny Moerdani, dia tidak bisa bicara soal Benny tanpa dilampiaskan. Karena Benny memojokkan umat Islam, bukan karena umat Islamnya. Misalnya contoh Priok. Prabowo sudah di Kopassus. Dia bilang, itu orang Indonesia, jangan lihat Islamnya. Sama-sama Indonesia mereka punya cita-cita, kenapa mesti memusuhi mereka? Kenapa kita tidak ngomong saja sama mereka?

Waktu itu Prabowo merasa umat Islam itu dikucilkan. Prabowo itu kan ibunya Katolik, bapaknya abangan PSI. Tapi sebagai anak Sumitro mungkin ada rasa keadilan dalam dirinya yang kuat. Jadi, dia berpihak pada keadilan. Jadi dia berpihak pada Islam bukan karena dia orang Islam yang baik. Dia merasa ada ketimpangan. Dia merasa 80 persen rakyat Indonesia Islam, lalu 3 persen penduduk Indonesia menguasai 80 persen kekayaan Indonesia. Dari begitu banyak panglima, berapa banyak yang Islam? Itu ketimpangan luar biasa. Prabowo melihat, jika ini diteruskan yang ada nanti adalah revolusi. Inilah yang ingin dia hilangkan.

 

Prabowo 16
Soal Benny Moerdani, dia tidak bisa bicara soal Benny tanpa dilampiaskan. Karena Benny memojokkan umat Islam, bukan karena umat Islamnya. Misalnya contoh Priok. Prabowo sudah di Kopassus. Dia bilang, itu orang Indonesia, jangan lihat Islamnya. Sama-sama Indonesia mereka punya cita-cita, kenapa mesti memusuhi mereka? Kenapa kita tidak ngomong saja sama mereka? Itu yang menyebabkan beberapa orang menyebut dia penakut.

 

Benny Moerdani

 

“Jujurlah, bagaimanapun itu mertua saya. Saya bukan tipe pengkhianat. Kita mesti mengakui bahwa dialah yang menjadikan kawan-kawan kita naik. Tapi kalau harus memilih, maka lebih baik abstain. Saya lebih baik berhenti jadi ABRI.”

Dia bercita-cita ingin mengembalikan ABRI ke masa Jenderal Soedirman di bawah sipil. Soal presiden saja dia dukung sipil. Di rumahnya di Cijantung, gambar Jenderal Soedirman melulu, itu idolanya.

Kalau harus memilih mertua dan umat Islam, Prabowo bilang, “Jujurlah, bagaimanapun itu mertua saya. Saya bukan tipe pengkhianat. Kita mesti mengakui bahwa dialah yang menjadikan kawan-kawan kita naik. Tapi kalau harus memilih, maka lebih baik abstain. Saya lebih baik berhenti jadi ABRI.”

Itu pilihan dia, jadi dari situ kita bisa tahu siapa dia. Saya dengar dia dituduh keluarga Cendana berkhianat.

Soal penculikan, yang dia tangkap itu, ingat kan waktu itu kita tiap sebentar ada ancaman bom. Itu siapa sih yang ngancem, kok sekarang orang tidak satupun yang ngomong kita diancam-ancam bom waktu itu? Itu teror namanya.

Dia dituduh begitu sebab dia ketemu Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, dan lainnya. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah yang besar. Saya menduga, dia disingkirkan atas permintaan Soeharto.

Soal penculikan, yang dia tangkap itu, ingat kan waktu itu kita tiap sebentar ada ancaman bom. Itu siapa sih yang ngancem, kok sekarang orang tidak satupun yang ngomong kita diancam-ancam bom waktu itu? Itu teror namanya. Jujur saja, apa itu bukan teror? Melanggar hak asasi manusia. Apa mereka yang menelepon-nelepon gelap itu tidak melanggar hak asasi manusia?

 

*) Farid Prawiranegara adalah putera Sjafruddin Prawiranegara, gubernur bank sentral Indonesia yang pertama, tokoh Masyumi, dan mantan Presiden PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia). Artikel ini dimuat di Majalah Sabili No. 4/VI, 2 September 1998.

PENGARUH SISTEM DEMOKRASI TERHADAP KEDUDUKAN NEGARA

sjahrir2

Oleh Sutan Sjahrir

Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

 

Di atas telah dikemukakan beberapa hal serta kenyataan dalam jaman kapitalis dewasa ini, yang bertentangan dengan apa yang ada dalam bayangan fikiran kaum Marxis-ortodoks. Ada kaum Marxis yang mengaku bahwa masyarakat kapitalis ternyata tidak berkembang seperti yang disangka oleh kaum Marxis sebelumnya, akan tetapi kata mereka hal ini disebabkan oleh karena sistem politik demokrasi menyebabkan bahwa perkembangan kapitalisme seperti yang diramalkan dalam penyelidikan Marx itu berbelok ke jurusan yang berlainan.

Oleh karena sistem demokrasi dengan pemilihan umumnya serta pemerintahan yang didasarkan atas kehendak rakyat yang memilih itu, maka mungkin bagi kaum buruh untuk menggunakan kekuasaan yang diperoleh bersama serikat-serikat sekerja untuk mencegah perkembangan seperti yang diramalkan oleh Marx. Kumpulan-kumpulan sekerja kaum buruh serta partai politiknya merupakan, di dalam susunan demokrasi, pemusatan-pemusatan kekuatan dalam masyarakat dan negara, sehingga negara lambat laun dapat dipergunakan oleh kaum buruh untuk membela kepentingan serta kedudukan mereka, meskipun masyarakatnya itu masih masyarakat kapitalis.

Dengan bertambah besarnya pengaruh kaum buruh atas negara, bertambah pulalah percampuran negara (campur-tangan negara—Ed.) dalam kehidupan ekonomi serta kehidupan dalam masyarakat umumnya. Lahirlah lambat laun berbagai undang-undang yang sekedar menjamin kehidupan serta keselamatan kaum buruh, tetapi tidak merubah susunan masyarakat. Bukan saja jam kerja ditentukan dengan batas maksimum (delapan jam), akan tetapi di berbagai negeri yang belum sosialis serta di mana masih berjalan sistem perusahaan milik orang-seorang, lahirlah perundang-undangan untuk kaum buruh, yaitu perundang-undangan sosial untuk menjamin kehidupan dan keselamatan mereka. Umpamanya, ditentukan upah minimum yang didasarkan atas harga barang-barang keperluan yang utama, yang pula didasarkan antara harga barang keperluan yang utama itu pada satu waktu (indeks), sehingga upah minimum adalah dimaksudkan sebagai upah yang riil. Malah ada negara yang menetapkan dalam undang-undang bahwa kalau harga indeks barang menunjukkan kenaikan, maka upah kaum buruh mesti dinaikkan oleh semua kaum majikan, sesuai dengan kenaikan harga barang-barang itu (Norwegia). Selain daripada itu ada keharusan perjanjian perburuhan secara kolektif antara kaum majikan dan kaum buruh, yang mesti pula dituruti dan dianggap berlaku pula terhadap kaum buruh yang tidak masuk menjadi anggota suatu serikat kerja yang menjadi salah satu fihak dalam perjanjian bekerja kolektif tersebut. Selain daripada itu negara turut pula serta dalam berbagai jaminan kehidupan lainnya, seperti jaminan hari tua untuk tiap orang (ouderdomspensioen), jaminan kehidupan untuk keluarga jika kepala keluarga mendapat kecelakaan (ongevallen-versekering), dan ada pula aturan tentang jaminan waktu sakit, jaminan perlop dengan bayaran gaji penuh. Semuanya itu diselenggarakan tiap kali bersama-sama dengan serikat-serikat sekerja kaum buruh. Di samping itu, negara sendiri menjamin pula adanya persekolahan untuk semua anak-anak kaum buruh dengan mengadakan kewajiban belajar, ia menyelenggarakan pula penjagaan kesehatan, sehingga kadang-kadang penjagaan kesehatan itu dapat diperoleh dengan cuma-cuma bagi orang-orang yang tidak mampu, dan selain itu ada pula penyelenggaraan perumahan untuk kaum buruh, sehingga tempat kediamannya menjadi lebih bersih dan sehat serta tiada lagi merupakan kandang babi yang kotor yang menjadi sarang kuman-kuman penyakit.

 

soekarno hatta sjahrir

 

Dengan perkataan lain, sebagian besar daripada pengeluaran uang negara digunakan untuk menjamin kehidupan kaum buruh. Segala ini, jika ditilik dari kedudukan upah, merupakan upah tambahan yang diterima oleh kaum buruh itu dalam mata uang. Malah di beberapa negeri yang masih dapat disebut negeri yang bekerja dengan sistem produksi kapitalis, upah minimum seorang pekerja itu ditetapkan pada tingkatan yang mesti dapat menjamin kehidupan minimum keluarganya, sehingga tingginya upah itu memang dimaksudkan tidak saja sebagai pembayaran tenaga yang diberikan oleh si buruh, akan tetapi sebagai penjamin keperluan hidup minimum keluarganya. Upahnya itu bukan lagi atas dasar keperluan orang-seorang, melainkan atas dasar keperluan satu keluarga. Seorang buruh yang demikian mendapat tambahan persentase untuk tiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, seperti biasanya kita lihat pada pegawai-pegawai negeri.

 

Segala percampuran negara dengan kehidupan dalam masyarakat dan dalam kehidupan ekonomi, kata sebagian kaum Marxis tadi, yang menyebabkan bahwa tiada terjadi verelendung di negeri-negeri kapitalis industrial di barat, seperti yang diramalkan oleh Marx dalam tulisan-tulisannya. Jikalau percampuran negara itu tidak ada atau dilenyapkan kembali, kata mereka, maka pasti akan berlaku segala-gala yang dikatakan Marx itu dengan sejelas-jelasnya. Ataupun jika percampuran negara dalam hal-hal ini dikurangi, maka akan pula terjadi kemunduran kehidupan kaum buruh dalam arti verelendung itu.

Percampuran negara yang menguntungkan bagi kaum buruh itu dapat dilenyapkan, jika golongan-golongan lain melenyapkan demokrasi yang didasarkan pemilihan umum dan yang diwujudkan dengan parlemen yang berdaulat, dan kalau didirikan suatu pemerintahan yang semata-mata berdasar atas kekuasaan dan kekerasan suatu golongan minoritas seperti di negeri-negeri fasis. Dalam keadaan yang begitu kaum buruh tidak dapat lagi menggunakan negara untuk membela kepentingannya, oleh karena kekuasaan negara telah dimonopoli sama sekali oleh golongan-golongan yang lain itu.

Keterangan seperti yang diberikan di atas ini sebenarnya tidak memuaskan. Keadaan seperti yang dikemukakan sebagai syarat untuk berlakunya hukum verelendung, serta untuk terjadinya polarisasi antara dua golongan saja di dalam masyarakat kapitalis, sebenarnya tidak berdasarkan pengalaman, dan sekarang sebenarnya tidak dapat dibayangkan berlakunya di negeri-negeri barat, di mana demokrasi parlementer telah menimbulkan pengaruh daripada kaum buruh atas fungsi negara, sehingga sudah dapat memperbaiki nasibnya dan menyebarkan kemajuan di antara kaum buruh itu umumnya. Tingkat pengetahuan serta pengertian mereka pun bertambah maju, begitu pula tingkat kehidupan umumnya. Di situ tidak dapat lagi dibayangkan bahwa akan mungkin timbul suatu kekuasaan yang dapat memaksa mereka kembali pada tingkatan kebodohan dan kemiskinan, sehingga menjadi sungguh melarat serta terlantar dan hanya lagi menunggu nasibnya mati kelaparan. Hal itu sedikitnya tidak lagi dapat dianggap mungkin untuk negeri-negeri Eropa Barat, terutama untuk negeri-negeri Skandinavia, Belanda, Swiss, Inggris. Di semua negeri itu sekarang orang telah menganggap sebagai suatu hal yang pantas serta semestinya bahwa negara telah mengusahakan supaya penduduknya terjamin hidupnya, malah bahwa tiada pengangguran dalam masyarakat. Sedangkan orang-orang yang terpaksa menganggur itu sedikitnya harus mendapat jaminan kehidupan dari masyarakat ataupun langsung dari negara. Negara-negara inilah yang dikatakan menjurus pada keadaan welfare states, yang dikatakan bertugas untuk menyelenggarakan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat ataupun rakyat umumnya. Negara yang demikian ini dianggap pula telah bertugas supaya hasil yang diperoleh masyarakat dapat adil merata, sehingga tiada terlalu besar perbedaan kehidupan antara yang kaya dengan yang miskin, antara kaum pemilik dan hartawan dengan kaum buruh dan kaum yang tidak berpunya. Negara mengadakan berbagai macam pajak terhadap kaum hartawan serta kaum yang berpendapatan besar, dan hasil yang diperoleh dari pajak itu digunakan untuk menjamin rakyat banyak, antara mana kaum buruh, dengan diadakannya berbagai jaminan yang disebut di atas tadi. Di dalam negeri-negeri itu kaum buruh dengan partai politiknya merupakan suatu kekuatan yang turut menentukan fungsi serta perkembangan negara. Di mana mereka memimpin pemerintahan, di situ diadakan tindakan-tindakan untuk mempercepat kenaikan tingkat kehidupan dan kemajuan kaum buruh itu. Negara yang demikian ini tidaklah lagi dapat dikatakan sebagai alat untuk menindas buruh seperti yang dikatakan Lenin, akan tetapi sebaliknya negara itu digunakan untuk kepentingan kaum buruh, padahal masyarakatnya belum lagi dapat dikatakan sebagai masyarakat yang bukan kapitalis, dan sebaliknya pula ia tidak dikemudikan dengan cara diktator proletariat. Malah ia didasarkan atas kerakyatan yang seluas-luasnya, yakni kerakyatan yang diluaskan sebanyak mungkin ke lapangan ekonomi dan sosial. Di dalam perusahaan, diikhtiarkan adanya kerakyatan dengan bedrijf-demokatie (demokrasi di perusahaan—Ed.), di lapangan sosial dicegah segala macam diskriminasi yang didasarkan atas perbedaan harta atau keturunan.

 

Sjahrir edit

 

Pendek kata, negara dan masyarakat itu memperoleh sifat-sifat serta bentuk yang sebenarnya berlainan sama sekali daripada masyarakat yang dapat dibayangkan, jika rakyat yang terbanyak adalah miskin, terlantar dan lapar, tidak berhak serta tidak berkekuatan, sedangkan kaum pemilik alat-alat penghasilan atau hartawan merupakan satu golongan yang kecil, yang dapat hidup serta berlaku menurut kesenangannya dengan menggunakan negara sebagai alat untuk mempertahankan kedudukannya, menindas rakyat banyak yang sengsara dan lapar itu. Masyarakat kapitalis yang seperti itu hanyalah dapat dibayangkan pada permulaannya. Meskipun di satu negeri yang fasis, sebenarnya keadaan kaum buruh di jaman modern yang menggunakan tenaga listrik serta tenaga mesin lebih baik daripada di waktu permulaan kapitalisme, yaitu di waktu Marx dan Engels mengadakan pengupasannya terhadap kapitalisme.

Oleh karena itu tiadalah banyak faedahnya untuk mengatakan bahwa segala teori Marx tentang perkembangan masyarakat kapitalis itu, dan terutama teori verelendungnya, tentu akan berlaku dengan tegas. Kalau kaum buruh tidak dapat memperoleh kedudukan dalam negara dan masyarakat seperti yang diperolehnya sekarang di berbagai negeri kapitalis, sehingga dengan demikian kaum buruh dapat memperoleh segala kesempatan yang diberikan oleh sistem pemerintahan demokrasi-parlementer dengan pemilihan umumnya, serta dapat merobah kedudukan negara terhadap dirinya dan dengan demikian dapat memajukannya sebagai golongan serta membantu kemajuannya terhadap kedewasaan atau emansipasi itu, maka mungkin benarlah bahwa verelendung itu akan bisa terjadi, dalam arti rakyat akan bertambah melarat, bertambah lapar, sengsara dan terlantar.

Sebenarnya memang tiada mungkin bagi Marx ataupun Engels untuk melihat seabad ke muka. Mereka pun sebenarnya tak pernah bermaksud menjadi ahli nujum, melainkan ingin memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan bagi orang-orang untuk memandang perkembangan masyarakat. Dasar pandangan ilmu itu tidaklah lain daripada pengalaman dan kenyataan. Mereka mencoba untuk memperoleh gambaran atas masyarakat yang mereka hadapi pada waktu mereka hidup. Hasilnya adalah Das Kapital, serta berbagai karangan hasil penyelidikan yang lain, yang mengikhtiarkan gambaran dan pandangan yang tersusun, yaitu yang sejelas mungkin menunjukkan hubungan-hubungan kehidupan dalam masyarakat mereka.

Historis materialisme adalah suatu cara yang digunakan mereka untuk dan ikhtiar itu. Dengan cara demikian mereka mengemukakan sistem berfikir sebagai kunci pengertian untuk menghadapi kehidupan di dalam masyarakat serta persoalannya, supaya orang dapat menambah pengertian dan kesadaran tentang kehidupan itu. Marxisme memang menambah pengertian manusia terhadap kehidupannya di dalam masyarakat. Ia adalah suatu kemajuan di dalam riwayat kesadaran kemanusiaan tentang diri dan kehidupannya. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran mutlak, yang mesti dapat menerangkan segala pertanyaan tentang kehidupan manusia. Ia sekali-kali tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran dan ajaran agama. Malah sebaliknya daripada itu. Contoh yang diberikan oleh Marxisme adalah bahwa tiap waktu manusia itu harus sanggup bersikap kritis terhadap segala anggapan-anggapan kebenarannya, dan menguji keyakinan-keyakinannya pada kenyataan yang dihadapi serta dialaminya. Untuk itu memang perlu kesanggupan untuk melepaskan dirinya dari anggapan-anggapan umum dan anggapan-anggapannya yang lama. Ia harus sanggup berpikir secara ilmu pengetahuan atau secara obyektif, dan pasti tidak dapat dan tidak boleh lebih dahulu menyangkal kemungkinan obyektiviteit itu, seperti yang kerap dilakukan oleh kaum Marxis-ortodoks. Mereka ini mengatakan bahwa yang mungkin hanyalah obyektiviteit kelas atau golongan, dengan lain perkataan, hal itu sebenarnya adalah subyektiviteit kelas atau golongan. Pada umumnya memang pula benar bahwa obyektivitiet yang dimaksudkan di sini lebih mudah diperoleh dalam lapangan ilmu alam atau dalam segala ilmu pengetahuan yang tidak langsung bersangkutan dengan kehidupan orang dalam masyarakat atau dengan kewajibannya. Memang pula benar bahwa dalam lapangan lain lajim terdapat prasangka yang dapat diterangkan dengan kedudukan orang dalam masyarakat, yaitu prasangka yang diperoleh dari berbagai pendapat, pandangan-pandangan dan nilai-nilai yang lazim di antara golongannya sendiri.

Meskipun begitu, tidaklah benar bahwa Marxisme tidak mengikhtiarkan sebanyak mungkin obyektiviteit itu di lapangan kehidupan manusia dalam masyarakat atau dalam soal-soal kewajibannya sama sekali. Pelajaran yang dapat diperoleh dari segala kegiatan Marx itu adalah, juga, bahwa ia tidak menguasai dunia yang nyata, lepas dari anggapan-anggapan orang pada berbagai saat. Namun sedikitnya, ia yakin pada kemungkinan untuk sedikit mendekatinya, dengan pengertian bahwa pendapat dan pengertian tentang kelemahan itu memperoleh harga dan guna untuk kemajuan pengertian serta kesadaran manusia pada umumnya dan bukan untuk satu golongan saja. Pendek kata ia percaya pada kemungkinan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan umumnya dan bukan hanya untuk satu golongan saja, juga sebelumnya tercapai dunia yang tidak berkelas atau dunia sosialis.

 

*) Dicuplik dari buku Sjahrir, Sosialisme dan Marxisme: Suatu Kritik terhadap Marxisme (Djakarta: Djambatan, 1967)

 

PEMBEBASAN SANDERA MAPENDUMA 1996

GATRA 1996 02 28

Kisah pembebasan sandera di Mapenduma pada 1996 oleh Kopassus telah membuat pasukan elite TNI Angkatan Darat ini disebut-sebut sebagai pasukan elite nomor tiga di dunia, setelah SAS (Inggris) dan Satuan Antiteror Israel. Keberhasilan operasi pembebasan sandera itu tak lepas dari tangan dingin Brigjen TNI Prabowo Subianto, Komandan Jenderal Kopassus waktu itu.

Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996, mengangkat laporan utama seputar operasi pembebasan sandera tersebut, lengkap dengan wawancara khusus dengan Brigjen TNI Prabowo Subianto, Danjen Kopassus.

Untuk memudahkan membaca kembali arsip laporan utama GATRA itu, pembaca bisa menyimak tautan-tautan berikut:

 

1. Mukadimah: Sandera

2. Ketika Palang Merah Pulang Kecewa

3. Setelah Kata-kata Tidak Berdaya

4. Kesaksian Seorang Sandera

5. Kami Ditipu Kelly Kwalik

6. Ini Semua Kehendak Tuhan

7. Prabowo: Menyelesaikan Kartu Politik Gangster

8. Suara “Anak” Jakarta

 

Prabowo 16

Rekaman video dokumenter operasi pembebasan itu bisa disimak di tautan http://www.youtube.com/watch?v=y2B2QCAUD3k atau tautan http://www.youtube.com/watch?v=npJhqPACUuY.

 

1. MUKADIMAH: SANDERA

sandera   001

Pedalaman Irian Jaya kembali merebut perhatian dunia. Di sela-sela kesu-nyian hutan belantara, tiba-tiba terlihat pasukan Baret Merah meluncur ke bumi lewat tali yang menjulur dari pintu sejumlah heli-kopter. Kemudian letusan bedil, kalang-kabut, dan kematian. Setelah itu terdengar ingar-bi-ngar kegembiraan menyambut kebebasan sem-bilan sandera yang dibekap oleh gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) selama empat bulan. Di balik itu terselip pula kepedihan, karena dua sandera lainnya tak pulang dalam keadaan hidup. Mereka dibunuh oleh anggota OPM, yang kehilangan delapan pendukung-nya.

Maka, berakhirlah penderitaan Tim Ekspe-disi Lorentz 1995, yang disandera gerombolan Kelly Kwalik sejak 8 Januari silam. Pujian bertubi disampaikan kepada jajaran ABRI, terutama ke alamat Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pimpinan Brigadir Jenderal Pra-bowo Subianto, yang selama ini berupaya keras membebaskan sandera.

Operasi militer yang dilancarkan ABRI pa-da 15 Mei itu memang dipandang sudah semestinya. Bahkan ada yang menilai agak terlambat. Sebelum operasi militer digelar, ABRI memang menempuh jalan persuasif. Upaya membujuk Kelly melalui mediator rohaniwan dan Komite Palang Merah Internasional dila-kukan dengan sabar dan hati-hati. Dalam tarik ulur itu, 15 anggota ABRI tewas dalam musi-bah di Timika dan Geselama. Namun yang di-peroleh dari Kelly hanyalah kekecewaan. Maka, tak ada jalan lain, kecuali menggempur le-wat Operasi Cenderawasih.

Di seputar masalah itulah, Laporan Utama minggu ini diarahkan. Bagian pertama, men-ceritakan proses pembebasan sandera, jalannya evakuasi, dan semarak sambutan masya-rakat. Bagian ini dilengkapi dengan kronolo-gi pembebasan. Bagian kedua, merunut kem-bali kisah penyanderaan hingga detik-detik terakhir menjelang operasi militer. Bagian ke-tiga, memuat pengalaman seorang sandera. Bagian keempat, galeri pengalaman sejumlah sandera dan komentar keluarga mereka. Ba-gian kelima, berisi wawancara dengan Briga-dir Jenderal Prabowo Subianto. Laporan Utama ini dilengkapi wawancara dengan Moses Weror, pimpinan OPM di Papua Nugini, Henry Fournier, Kepala Palang Merah Internasiorial di Jakarta. (Priyono B. Sumbogo)

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

2. KETIKA PALANG MERAH PULANG KECEWA

sandera   003

Sembilan sandera gerombolan Kelly Kwalik berhasil dibebaskan. Dua sandera lainnya tewas. Kelly dan Daniel Kogoya lolos.

Peti jenazah Navy W. Pa-nekenan, 29 tahun, sudah diangkat ke atas lubang pemakaman ketika kekasih-nya, Adinda Arimbi Saraswati, datang dengan kursi roda. Kesedihan tergurat dalam di wajah Adinda. Air matanya tidak putus mengalir mengiringi isaknya yang tertahan. Peti jenazah Navy pun dibuka untuk terakhir kali. Lalu, Adinda me-ngecup pipi Navy seba-gai tanda perpisahan, dan kemudian rnemasangkan cincin pertunangan mere-ka ke jari manis sang ke-kasihnya, yang dingin dan kaku.

Para pelayat menun-dukkan kepala, dan isak tangis terdengar menya-yat, melihat Adinda me-lepas kekasihnya di Pe-makaman Umum Kam-pung Rambutan, Jakarta Timur, Jumat siang pekan lalu itu. Lalu, peti jenazah diturunkan, dan secara perlahan ditimbun tanah merah. “Anak yang pa-ling baik, anakku yang manis, mengapa kamu begitu cepat meninggal-kan kami,” kata Nyonya Anamaria Irene Paneke-nan Korompis, ibu mendiang Navy, meratap li-rih.

Navy tewas akibat tin-dak kekerasan gerom-bolan Kelly Kwalik, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang berkeliaran di Dataran Tinggi Lorentz, di jantung Irian Jaya. Keberi-ngasan gerombolan pengacau keamanan (GPK) ini juga merenggut jiwa Yosias Matheis (Teis) Lasamahu, 32 tahun, kole-ga Navy di Biological Science Club (BScC) Universitas Nasional, Jakarta. Pembunuhan atas dua pemuda itu merupakan adegan pun-cak drama penculikan, yang didalangi Kel-ly, sejak 8 Januari lalu.

Penculikan itu memaksa ABRI menurunkan satuan tugas tempur sejak 9 Mei lalu. Setelah enam hari memburu, satuan ABRI berhasil menjepit gerombolan tersebut di sebuah lereng berhutan lebat dekat Desa Sika, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya. Rabu sore pekan lalu, serbuan dadakan prajurit TNI membuka peluang bagi sem-bilan sandera kabur melepaskan diri dari tangan penyandera mereka. Namun Navy dan Teis keburu terluka parah, dan diseret gerombolan sebelum diselamatkan satuan ABRI.

Navy dan Teis dimakamkan dengan upa-cara militer pada hari yang sama, tapi di tempat berbeda. Peti jenazah mereka diselimut benderaMerah Putih, dan diantar ke lubang kubur dengan tembakan salvo. Navy dima-kamkan tidak jauh dari kediaman keluarganya di Cililitan, dengan inspektur upacara Komandan Kodim 0505 Jakarta Timur, Let-nan Kolonel Dody Sudarno. Sembilan bekas sandera, yang sudah berbulan-bulan ber-sama Navy, hadir pada upacara pemakaman tersebut. Duta Besar Belanda Paul Rietze Brouwer serta Duta Besar Inggris Grahan Burton tampak pula di antara pelayat.

Sementara itu Teis diistirahatkan di Pe-makaman Pandit, Bandung, dengan inspek-tur upacara Letnan Kolonel B. Siregar dari Garnizun II Bandung. “Ini sebuah penghormatan. Jarang orang sipil dimakamkan de-ngan upacara militer penuh,” kata Mayor Jenderal (Purnawirawan) Ade Picaulima, sepupu mendiang Teis. Seperti pada pe-makaman Navy, penguburan Teis juga di-iringi kidung yang sendu.

Navy, Teis, Adinda, dan Jualita Maureen Tanasale, adalah empat peneliti BScC Universitas Nasional, yang dikirim ke Pegu-nungan Lorentz untuk riset keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial masyarakat setempat, awal November 1995. Bersama mereka bergabung pula Antropolog Markus Wa-rib, 35 tahun, dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, dan empat sar-jana baru lulusan Jurusan Biologi Universitas Cambridge, Inggris, yai-tu Daniel P. Start, 21 ta-hun, William (Bill) Oates, 23 tahun, Annete van der Kolk, 22 tahun, dan Anna McIvor, 21 ta-hun. Mereka bergabung dalam Tim Ekspedisi Lo-rentz 1995.

Seusai melakukan penelitian, Tim Lorentz 1995 beristirahat di Desa Mapenduma. Di situ mereka bertemu tiga pe-neliti lain, yakni pasang-an suami-istri Marco van der Wal dan Martha Klein (keduanya dari Belanda) dan Frank Mom-berg (asal Jerman). Van der Wal dan Momberg bekerja untuk World Wildlife Fund (WWF), sedangkan Klein beker-ja untuk Unesco. Pada saat kedua tim itu bersantai, pada 8 Januari, gerombolan Kelly datang dan menggelandang mereka masuk hutan.

Pada mulanya 26 orang yang disandera. “Selang empat hari kemudian, 9 sandera lokal, semuanya warga Mapenduma, dibe-baskan. Lalu, beberapa rohaniwan terke-muka di Irian Jaya turun tangan menjadi penengah, dan 4 sandera lagi dilepaskan, termasuk Momberg. Kemudian perunding-an macet. Kelly, yang didukung sekitar 200 laskar dengan 6 pucuk senjata api, menolak bertemu rohaniwan lagi.

 

sandera   004

Sejak 7 Februari, upaya perundingan dilakukan dengan mediator dari Palang Merah Internasional (ICRC). Tempo sebulan, pada 10 Februari dan 15 Maret, dua sandera dibebaskan lagi. Setiap pertemuan dengan gerombolan Kelly dimanfaatkan tim ICRC untuk memasok obat, makanan, pakaian, dan surat bagi para sandera. Pada pertemuan 1 Mei lalu, Kelly berjanji akan membe-baskan semua sandera tanpa persyaratan politik tepat di hari ulang tahun ICRC, 8 Mei.

Ternyata janji itu janji gombal. Kelly tetap memasang harga tinggi: pembebasan sandera harus ditebus de-ngan pengakuan atas ber-dirinya Republik Papua Barat dengan Kelly Kwalik sebagai presiden, dan bonus sejumlah sen-jata buat mereka. Tim ICRC menolak persya-ratan itu karena dianggap tidak realistis. Esoknya, tim ICRC kembali terbang menemui pimpinan gerombolan di Desa Geselama. Kelly tetap keras menolak membe-baskan sandera, bahkan Klein, yang hamil tujuh bulan. Perundingan men-tok. ICRC mengundur-kan diri sebagai mediator.

Lalu ABRI mengambil sikap: krisis penyanderaan akan diselesaikan melalui operasi militer. Prajurit telah disiagakan. Dan sejak pertengahan April, Markas Besar ABRI secara resmi telah membentuk satuan tugas pembebasan sandera dan menunjuk Komandan Koman-do Pasukan Khusus (Kopassus) Brigadir Jenderal Prabowo Subianto sebagai koman-dannya. Kota Timika, yang berjarak 125 km dari Geselama, ditetapkan sebagai markas komando.

Sekitar empat buah heli jenis Bell 412 dan Puma SA-330 berlogo TNI Angkatan Darat sering tampak di apron Lapangan Udara Timika. Empat perwira tinggi berbin-tang satu, yakni Brigadir Jenderal Prabowo, Kepala Staf Kodam Trikora Brigadir Jen-deral Johni Lumintang, Direktur A BIA (Badan Intelijen ABRI) Brigadir Jenderal Jacky Anwar, dan Wakil Asisten Operasi Brigadir Jenderal Suedi Muarasabessy, sering terlihat keluar-masuk markas koman-do di hanggar Lapangan Udara Timika.

Sumber militer di Timika mengatakan, operasi ini dilengkapi pula dengan sebuah drone, pesawat kecil tak berawak, yang mampu terbang sampai ke Geselama untuk melakukan pengintaian. Pesawat itu membawa kamera video.  Dua set perkakas telekomunikasi dengan antena parabola mini, yang terpasang di depan hanggar, menjamin hubungan telepon bebas hambatan Timika-Jakarta. Belakangan sepasukan Brimob, dengan lima ekor anjing pelacak German Shepperd dan seekor Dobberman, memperkuat markas komando di Timika.

Lalu, sekitar 600 personel dari pelbagai kesatuan didatangkan untuk mendukung operasi bersandi Cenderawasih itu. Ada satuan antiteroris Kopassus dengan seragam hitam. Ada prajurit baret hijau Kostrad dari Yon 330, 328, dan 327 (Jawa Barat). Ada Batalyon 514 (Brawijaya). Ada pula Batal-yon 742 (Trikora.). Mereka dibagi ke dalam dua peran: ada yang bertugas sebagai tim pemburu, dan ada pula pasukan penyekat untuk menghadang gerakan musuh. Manu-ver para prajurit dikendalikan dari pos komando di bawah Letnan Kolonel Chaera-wan dari Kopassus, yang berada di Desa Kenyam, sekitar 30 menit dengan heli dari Geselama. Setiap unit pasukan dibekali pula dengan instrumen GPS (Global Position-ing System), yang memungkinkan mereka mengetahui posisi koordinat secara cepat dan akurat.

Ketika misi ICRC mentok, satuan tugas operasi ABRI sudah siaga dengan skenario kedua, yakni operasi militer. Pada 9 Mei, sepa-sukan prajurit dikerahkan untuk memburu musuh dengan lima helikopter. Esoknya, mereka dibe-rangkatkan lagi. Namun, tak jauh dari Desa Ke-nyam, sebuah heli Bell 412 jatuh karena ekornya menyambar cabang po-hon. Dua penerbang dan tiga prajurit tew as. Tujuh lainnya cedera. Tapi mu-sibah itu tak mengendurkan semangat operasi.

Satu unit prajurit dikirim ke Geselama untuk melakukan pengejaran. Tim penyekat pun telah mengambil posisi me-ngunci daerah seluas 10 x 10 kilometer. Unit pem-buru lainnya didaratkan dengan tali dari heli di lokasi-lokasi yang diper-kirakan akan didatangi gerombolan, yakni sum-ber air bersih, atau belukar yang ditumbuhi kelapa gunung khas Irian, yang buahnya sebesar biji sawit dan bisa dimakan. Pasukan yang beruntung menemukan jejak para sandera itu adalah tim berkekuatan 25 orang dari Batalyon 330, yang dipimpin Kapten Agus Rochim.

 

sandera   005

Setelah bergerak dua hari, pada 11 Mei, pasukan Agus, yang memakai sandi Pan-dawa 1, menemukan ransel, kantong tidur, ceceran serpihan kertas, kaleng makanan, bahkan pembalut wanita yang ditinggalkan sandera di tengah hutan. Boleh jadi, mere-ka sengaja melakukannya. Barang-barang itu, bagi pasukan Agus, menjadi petunjuk yang berarti. Tim Pandawa 1 segera menge-jar, dan hari berikutnya sudah berada 2 km di belakang gerombolan. Unit ini terus me-nguntit kendati persediaan makanan mereka sudah tipis.

Sepanjang Senin dan Selasa pekan lalu, Pandawa 1 terus membayangi gerombolan tersebut. Dari jejak yang diperoleh, tim ini yakin bahwa rombongan yang diburunya tetap mengelompok, tidak bergerak memen-car. Pandawa 1 pun mengontak Kasuari 1, unit pasukan antiteroris Kopassus, agar datang untuk menjepit sasaran. Esoknya, Pandawa 1 dan Kasuari 1 sudah sangat dekat dengan sasaran. Tapi mereka tidak melakukan sergapan karena belum melihat posisi sandera secara pasti.

Baru Rabu pagi, Pandawa 1 melihat formasi musuh secara jelas. Ternyata pasukan Kelly, yang mengawal 11 sandera itu, tinggal sekitar 20 orang saja. Kel-ly dan Daniel Yudas Kogoya tidak bersama mereka. Tapi Pan-dawa 1 tidak kecewa karena sa-saran mereka adalah penyela-matan sandera. Sementara itu tim Kasuari 1, yang berkekuatan 20 orang, di bawah Sersan Mayor Bayani, sudah pula mendekati sasaran. Akhirnya, gerombolan yang dipimpin Silas Kogoya itu terjepit di sebuah lereng, yang di bawahnya mengalir Sungai Gilmit.

Silas mulai menyadari ada sanbo (sebutan mereka untuk anggota ABRI) telah berada di belakang mereka, dekat sungai. Ia lalu memerintahkan para sandera, untuk cepat mendaki. Navy berjalan paling depan diikuti Teis. Di belakang mere-ka, ada Adinda, Jualita, Markus Warib, dan Anna McIvor. San-dera yang lain ada di belakang, dekat tepian sungai. Suasana tegang. Namun Navy tidak me-nyangka bila tiba-tiba seorang anggota GPK mengayunkan kapaknya ke arah bahunya. Ia mengaduh dan jatuh.

Adinda yang melihat adegan itu dari jarak dekat kontan menjerit. Tapi jeritan itu tak menghalangi lelaki kekar tersebut mengayunkan kapaknya untuk kali kedua. “Saya histeris memanggiI-manggil nama Navy,” tutur Adinda sambil terisak. Tak lama kemudian Teis mendapat perlakuan serupa. Ia diba-cok bertubi-tubi dengan parang. Jeritan Adinda dan Jualita kembali memecah keheningan.

Adegan berikutnya, senapan menyalak. Seorang anggota gerombolan jatuh tersungkur tersambar peluru Sersan Pariki. Para anggota GPK panik, dan para sandera menyelamatkan diri dengan meluncur ke arah sungai, dan berlindung di bawah “paruh Cenderawasih”. Tembakan terus menyalak. Delapan anggota gerombolan roboh ditem-bus peluru. Dua tertangkap. Tapi Navy dan Teis, yang terluka parah, diseret anggota gerombolan ke tengah rimba. Sembilan sandera selamat. Malam itu mereka terpaksa menginap di lembah dingin tersebut.

Esoknya, para sandera dievakuasi de-ngan heli ke Geselama untuk transit. Bri-gadir Jenderal Prabowo, yang baru malam harinya tiba di Timika, ikut menjemput ke Geselama. Dari desa pegunungan itu para sandera dibawa turun dengan pesawat ringan, dan diistirahatkan sejenak di Hotel Sheraton Timika untuk mandi dan menjalani pemeriksaan dari tim medis. Sekitar pukul 15.15 WIT, para sandera diboyong ke Jakar-ta dengan Hercules C-130, dan langsung diantar Prabowo.

Navy dan Teis ditemukan sekitar 1,5 km dari lokasi sebelumnya dalam keadaan tak bernyawa. Mereka diduga meninggaI kare-na kehabisan darah. Jenazah mereka dievakuasi ke Rumah Sakit Timika untuk divisum, dan kemudian langsung dibawa ke Lapangan Udara Timika. Sekitar pukul 17.00 WIT, Boeing 737 Airfast menerbangkan kedua jenazah peneliti tersebut ke Jakarta.

Pukul 19.35 WIB, pesawat Hercules yang membawa sandera tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta. Sambutan luar biasa. Sekitar 200 wartawan, dan 50 di antaranya dari pers asing, tampak menunggu. Kepala Staf Umum ABRI Let-nanJenderal Soeyono telah siap di situ untuk menerima sandera dari Brigadir Jenderal Prabowo. Para juru foto kecele, karena para sandera langsung diangkut ke Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto.

 

“Ia hampir putus asa melihat medan yang berat itu. Anak saya bi-lang, hanya James Bond yang bisa menyelamatkan mereka,” kata Start, warga Mid-hurst, sebuah distrik kecil di selatan London, sambil tertawa.

 

Jenazah Navy dan Teis tiba 1,5 jam kemudian. Soeyono menyerahkannya ke Irjen Departemen Kehutanan,Utomo, kare-na instansi ini yang memberikan izin eks-pedisi ke Gunung Lorentz. Setelah itu ke-dua jenazah diserahkan Utomo kepada keluarga mereka. Esok-nya, di Aula Rumah Sakit Gatot Subroto, Soeyono juga menye-rahkan ketiga bekas sandera Indonesia ke Departemen Ke-hutanan untuk diteruskan ke keluarga mereka. Sedangkan keenam sandera asing diserah-kan melalui Irjen Departemen Luar Negeri, Abdul Irsan, kepa-da Duta Besar Belanda dan Ing-gris di Jakarta.

Sukses operasi pembebasan sandera itu mendapat sambutan hangat koran-koran Inggris dan Belanda. Hampir semua koran terbitan London menulis berita tersebut di halaman pertama edisi 16 Mei dan 17 Mei. Ada spekulasi yang mengatakan bahwa operasi itu dibantu Pasukan Khusus Inggris, SAS. Tapi gosip itu kontan ditepis Duta Besar Kerajaan Inggris di Jakarta, Graham Burton.

Jan Start, ayah salah seorang sandera, mengaku sangat gem-bira setelah menerima telepon anaknya, Daniel, dari Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. “Saya baru yakin anak saya selamat setelah berbicara lewat telepon,” kata Start. Daniel, tambah ayahnya, sempat menuturkan kecemasannya pada hari–hari terakhir penyanderaan. “Ia hampir putus asa melihat medan yang berat itu. Anak saya bi-lang, hanya James Bond yang bisa menyelamatkan mereka,” kata Start, warga Mid-hurst, sebuah distrik kecil di selatan London, sambil tertawa.

Pujian atas keberhasilan ini juga muncul di The Times, harian yang terbit di London. Koran itu, pada edisi Jumat lalu, menyebut Kopassus sebagai pasukan elite keti-ga terbaik di dunia setelah SAS dan Satuan Antiteroris Israel. Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali, melalui juru bicaranya, Syl-vana Foa, juga menyatakan kegembiraan bahwa drama penyanderaan telah berakhir.

Media massa Belanda juga ikut memberitakan pembebasan pasangan Marco van der Wal dan Martha Klein, yang asal Negeri Kincir Angin itu. Pers Belanda mencatat kegembiraan yang melimpah dari keluarga J.G. Klein, orang tua Martha. “Kami lega sekarang. Situasi buruk ini tak harus ber-larut-larut,” kata S. Klein, ibu Martha. Penduduk Heeemskerk, distrik tempat kelu-arga Klein tinggal, dan warga Zeewolde, kampung halaman keluarga Van der Wal, pun menyatakan kegembiraan mereka dengan cara unik. Mereka mengibarkan ben-dera nasional Belanda di depan rumah ting-gal masing-masing.

Sebagai komandan operasi, Brigadir Jen-deral Prabowo mendapat ucapan selamat bertubi-tubi dari pelba-gai kalangan. Ia menco-ba bersikap merendah. “Saya bersyukur operasi berjalan lancar, berkat kesungguhan para prajurit,” ujarnya. Prabowo juga menyatakan menyesal kare-na operasinya tak bisa inenyelamatkan semua sandera. “Sebagai orang yang memimpin operasi, saya minta maaf kepa-da keluarga korban,” tambahnya.

Namun Prabowo masih merasa gemas, karena Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya lolos. “Mereka harus terus diburu,” ujarnya. Namun boleh jadi, perburuan ter-hadap kedua bangkotan GPK itu akan dilakukan satuan reguler Kodam Trikora. Konon, Satgas Cenderawasih akan dibubar-kan karena misi pembebasan sandera telah selesai. Para prajurit pendukung operasi ini, termasuk Prabowo, disebut-sebut akan diusulkan untuk menerima kenaikan pangkat istimewa.

Tapi kemana Kelly Kwalik? Ia memang licin. Ketika gerombolannya diserbu, ia memilih memisahkan diri dari rombongan besar, dan menyingkir dari areal perburu-an bersama pengawalnya. “Sebagai geri-lyawan, ia lihai,” ujar Prabowo tentang mu-suhnya itu. [Laporan: Putut Trihusodo, Hidayat Gunardi, Dani Hamdani, Genot Widjoseno (Timika), dan Ruba’i Kadir (Jayapura)].

sandera   006
KRONOLOGI PENYANDERAAN

  • 8 Januari 1996

Sebanyak 26 orang diculik Gerombolan Kelly Kwalik dan Daniel Yudas Kogoya, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang beroperasi di Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya. Para sandera terdiri dari 10 peneliti dari Tim Ekspedisi Lorentz 1995, 3 periset WWF, serta 13 penduduk desa.

  • 12 Januari

Sebanyak 9 orang, semuanya warga Mapenduma, ditemukan bebas di Desa Digi, 20 km dari Mapenduma.

  • 13 Januari

Kelly Kwalik membuka kontak dengan Uskup Jayapura, Herman Munninghoff. Ia meminta bahan pangan dan obat-obatan, yang segera diberikan esok harinya.

  • 15 Januari

Frank Momberg, peneliti dari WWF, dilepas sebagai juru runding. Tapi Kedutaan Jerman melarangnya kembali ke hutan. Momberg dibawa pulang ke Jerman.

  • 16 Januari

Nyonya Ola Yakobus Wandikbo, seorang sandera, dibebaskan bersama bayinya yang berusia enam bulan.

  • 22 Januari

Giliran Yakobus Wandikbo, suami Ola, dilepas. Yakobus dikenal sebagai tenaga lepas Kanwil Kehutanan Irian Jaya, yang ditempatkan di Mapenduma. Namun setelah itu Kelly tak sudi lagi berunding para rohaniwan.

  • 7 Februari

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) tampil sebagai penengah, menggantikan para rohaniwan. Kontak yang tiga pekan terputus disambung kembali.

  • 10 Februari

Ikhtiar ICRC memberikan hasil. Penginjil Zarkeus dari Tiom dibebaskan.

  • 15 Maret

Gerombolan Kelly hijrah ke Desa Geselama. Hubungannya dengan ICRC masih mulus. ICRC bisa memasok makanan, obat-obatan, pakaian, bahkan perawatan kesehatan untuk para sandera. Pegawai Kanwil Kehutanan Irian Jaya, Abraham Wanggai, dibebaskan.

  • 1 Mei

Kelly menjanjikan pembebasan seluruh sandera pada 8 Mei, bertepatan dengan ulang tahun ICRC.

  • 8 Mei

Kelly menggelar pesta adat. Dua ekor babi dan sejumlah ayam dipotong. Para sandera lelaki bertelanjang dada, dan sandera wanita berpakaian lengkap dengan rok ekstra rumbai-rumbai. Kelly bersama sandera menyantap hati babi, sebagai lambang bahwa kedua belah pihak tak akan pernah saling menyakiti. Sejumlah anggota tim ICRC menyaksikan pesta itu. Tapi pembebasan sandera batal.

  • 9 Mei

Tim ICRC kembali mendarat di Geselama. Kelly tetap menolak pembebasan sandera, tanpa pengakuan dari Pemerintah RI adanya Republik Papua Barat dengan dirinya sebagai presiden. ICRC menyerah, dan tak mau melanjutkan peran sebagai juru runding. ABRI memutuskan operasi militer. Hari itu pula Geselama dilabrak. Kelly kabur bersama pengawalnya, dan memisahkan diri dari sandera.

  • 10 Mei

Sebuah Heli Satgas jatuh. Lima tewas, tujuh prajurit cedera. Tim Pandawa 1 menemukan jejak para sandera.

  • 14 Mei

Tim Pandawa 1 sudah berada di persis belakang gerombolan penyandera yang dipimpin Silas Kogoya.

  • 15 Mei

Tim Pandawa 1 dan tim Kasuari 1 menjepit rombongan Silas Kogoya. Serbuan dilakukan, 9 sandera bebas, tapi Navy dan Teis disekap.

  • 16 Mei

Kesembilan sandera diboyong ke Jakarta. Navy dan Teis ditemukan tewas, dan kemudian menyusul diterbangkan ke Jakarta.

  • 17 Mei

Navy dan Teis dimakamkan di Jakarta dan Bandung.

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

3. SETELAH KATA-KATA TIDAK BERDAYA

sandera   007

Tindakan militer ditempuh karena pendekatan persuasif gagal membebaskan sandera.

Bedil akhirnya harus me-nyalak setelah kata-kata tidak mampu mendesak Kel-ly Kwalik membebaskan 11 sandera yang ditahannya. Lewat Operasi Cenderawa-sih, 15 Mei lalu, satuan ABRI menusuk persembunyian gerakan pengacau keamanan (GPK) yang dipimpin Kelly. Sembilan san-dera berhasil diselamatkan, dan dua orang lainnya tewas dibacok penyandera mereka.

Kisah dramatis itu bermula pada 8 Jan-uari lalu. Ketika itu sebanyak 26 anggota Tim Ekspedisi Lorentz 1995 sedang melakukan penelitian keanekaragaman hay-ati di Cagar Alam Lorentz. Penelitian yang dilakukan di dataran tinggi seluas 15.000 kilometer persegi di jantung Irian Jaya itu bermula pada November 1995. Dan mereka membangun base camp di Desa Mapen-duma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayaw-ijaya. Desa ini memang masuk dalam kawasan cagar alam.

Namun waktu yang dipilih Tim Lorentz tidak tepat. Soalnya, ketika itu GPK Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan pen-dukungnya sedang menggencarkan aksi di sejumlah tempat. Di dekat perbatasan Irian Jaya dan Papua Nugini, awal November 1995, mereka menculik 30 penduduk Desa Ikcan Baru, Kecamatan Waropko, Merauke. Dua pegawai Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, yang kebetulan sedang melakukan survei di desa itu, ikut digondol. Seorang di antaranya  kemudian ditemukan tewas mengenaskan. Masih di bulan November, GPK menyandera Marwiyah Abubakar dan Basyir Kadir, dua siswa SMA Negeri I Kecamatan Arso, Kabupaten Jayawijaya. Keduanya disekap selama dua bulan, dan dibebaskan awal Februari 1996.

Selain ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia, pendukung GPK di Timika punya alasan lain untuk meradang. Mereka menyimpan dendam terhadap PT Freeport Indonesia, yang mereka anggap telah mengeruk emas di perut bumi Timika. Upaya mengusir Freeport sering dilakukan lewat serangkaian insiden. Petu-gas keamanan terpaksa turun tangan. Antara Oktober 1994 dan 1995, misalnya, pasukan ABRI menggelar serentetan operasi, yang kemudian membuahkan persoalan hak asasi menusia. Menurut catatan Komisi Nasion-al Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) operasi itu menewaskan  16 warga dan menyebabkan 4 penduduk hilang.

Antara Peristiwa Timika dan penculikan Tim Lorentz tampaknya memiliki benang merah. Empat penduduk yang hilang itu adalah kerabat dekat Kelly, yang disebut-sebut sebagai Panglima Komando Daerah Pertahanan III Fakfak. Adalah pasukan Kelly, yang berjumlah sekitar 200 orang, yang menyerang dan menyandera 26 anggota Tim Lorentz. Komandan pelaksana penculikan adalah Daniel Yudas Kogoya, yang dise-but-sebut sebagai komandan operasi Kelom-pok Kelly. Ikut disandera mereka, seorang bayi berumur enam bulan. Para sandera mereka pecah menjadi dua, dan dilarikan ke arah berbeda.

Jajaran militer segera menggelar upaya pembebasan. Sejumlah satuan, yang terdiri dari Batalyon 751 (Sentani), Batalyon 753 (Sorong), dan Batalyon Kostrad (Ujung Pandang), diturunkan untuk memburu. Pada 11 Januari, didatangkan lagi pasukan bantuan, yakni satu kompi (sekitar 90 orang) anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dari Cijantung, Jakarta. Empat helikopter juga disiapkan untuk mendukung operasi pem-bebasan sandera.

Gerak cepat ABRI tersebut memang membuahkan hasil. Empat hari setelah penyanderaan, pasukan ABRI memergoki kelompok GPK yang melarikan sembilan sandera ke arah Desa Digi. Tanpa perlawa-nan berarti, para sandera, yang semuanya warga Mapenduma, berhasil diselamatkan. Kesembilan sandera itu adalah aparat Desa Mapenduma (3 orang), guru (2 orang), pegawai Puskesmas (2 orang), dan petugas lapangan Kantor Wilayah Kehutanan Irian Jaya (2 orang).

Sedangkan 17 sandera lagi, di antaranya bayi tadi, yang dibawa ke arah lain, dijadikan “kartu” untuk berunding oleh Kel-ly. Mengingat tempat penahanan sandera terpencar-pencar, maka upaya membe-baskan mereka perlu dilakukan lebih hati-hati. Apalagi di antara sandera itu terdapat sejumlah warga negara asing. Lalu, jumlah personel ABRI ditambah. Di Wamena ter-lihat sekitar 300 prajurit, yang siap melakukan operasi pembebasan. Berbagai peralatan militer didatangkan ke Wamena, termasuk helikopter. Semua itu disiapkan bila tiba-tiba harus dilakukan operasi militer.

Namun cara utama yang diupayakan tim pembebasan sandera adalah jalan persuasif. Kontak radio pun dilakukan dengan pihak GPK. Sejumlah rohaniwan diminta menjadi mediator, dan mereka sempat beberapa kali mendatangi sarang GPK tersebut. Pertengahan Januari, misalnya, empat rohaniwan berdialog dengan pentolan GPK di sebuah tempat di sekitar Mapenduma. Para rohaniwan itu adalah Mgr. Herman Ferdinand Marie Munninghoff ( Uskup Jaya-pura), Pendeta Paul Burchart (Ketua Mision-aris Kristen di Irian Jaya), Pendeta Yohanes Gobay (Ketua Wilayah Gereja Kemah Injil), dan Pendeta Adrianus van der Bijl (peng-injil yang sudah tahunan di Mapenduma).

Dalam pertemuan itu, para rohaniwan minta Kelly membebaskan semua sandera. Namun yang dibebaskan hanya Frank Momberg, aktivis World Wildlife Fund (WWF). Dua hari kemudian menyusul Nyonya Ola Yakobus dan bayinya. Pada 21 Januari, masih berkat negosiasi para rohani-wan, suami Ola, Yakobus Wandikbo, mem-peroleh giliran dibebaskan.

Sisanya, 13 sandera (di antaranya 2 war-ga Belanda, 4 warga Inggris, dan 1 warga Jerman) ditahan terus oleh pasukan Kelly. Dalam pertemuan terakhir dengan utusan rohaniwan, Munninghoff dan van der Bijl, penyandera mengatakan hanya bersedia membebaskan orang-orang yang di tangan mereka asalkan tujuh tuntutan mereka dipenuhi. Tuntutan itu, antara lain, minta Pe-merintah menghentikan program transmi-grasi, ABRI harus ditarik dari Irian Jaya, dan menuntut agar Perserikatan Bangsa Bangsa mengakui OPM. Setelah menyam-paikan tuntutan para GPK itu, para rohani-wan tidak mau lagi menjadi mediator. Mere-ka menganggap permintaan Kelly tidak masuk akal. Dan sikap Pemerintah pun jelas. “Tak ada negosiasi dengan gerombolan pen-gacau kearnanan,” ujar Panglima ABRI Jen-deral Feisal Tanjung waktu itu.

Walau menutup pintu negosiasi, pasukan ABRI belum berniat rnenyerbu. Mereka bahkan masih minta Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk menjadi penen-gah. Sejak 7 Februari, saat hubungan GPK dengan dunia luar terputus, karena tidak ada yang mau menjadi mediator, ICRC pun turun tangan. “Keikutsertaan ICRC dida-sarkan atas permintaan Kelly Kwalik, yang disampaikan melalui misionaris,” cerita Henry Fournier, Kepala ICRC Delegasi Regional Jakarta, yang membawahkan wilayah operasi Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

ICRC, menurut pengakuan Fournier, telah melakukan banyak hal. Selain mem-buka kembali komunikasi antara OPM dan dunia luar, ICRC juga menjaga kesehatan sandera. Secara rutin, lembaga ini mengi-rim dokter ke lokasi penyanderaan. Boleh dikatakan, hampir tiap hari ada orang ICRC di markas Kelly.

Tentu saja ICRC tak lupa menyampaikan pesan dari pihak Indonesia agar GPK segera membebaskan sandera. Hasilnya lumayan. Pada 10 Februari, Penginjil Zarkeus Elopere dibebaskan. Lalu, pada 15 Maret, GPK membebaskan Abraham Wanggai, peneli-ti dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kanwil Kehutanan Irian Jaya. Setelah pembebasan terakhir ini, tinggal 11 sandera lagi di tangan Kelly.

Lantaran sudah lama ditahan, dan diberi makan seadanya, secara medis kondisi sandera kian mencemaskan. Beberapa di antara mereka terserang penyakit. Ada empat orang, menurut dokter ICRC, harus segera dibebaskan karena alasan kesehatan. Mereka: Adinda Arimbi Saraswati (Bio-logical Science Club), Markus Warib (Universitas Ceriderawasih), Navy Panekenan (Biological Science Club), dan Martha Klein (WWF). Klein sedang hamil tua.

Kelly, menurut Fournier, hanya bersedia melepas semua sandera apabila diperintahkan oleh pimpinan GPK OPM di luar negeri. “Kami segera mengontak para pim-pinan OPM di Belanda, Australia, dan Papua Nugini,” kata Fournier. Hasilnya lumayan. Suatu kali, di bulan Februari, ICRC dititipi surat oleh pimpinan OPM di Papua Nugini dan Belanda, tidak disebutkan namanya, yang berisi perintah agar Kelly melepas para sandera paling lambat dua bulan setelah penyanderaan. Surat senada dikirim pula oleh Moses Werror, yang mengklaim seba-gai Presiden OPM, dan kini bermukim di Papua Nugini. Ternyata Kelly tidak meng-gubris permintaan atasannya tersebut.

 

sandera   008

Di tengah situasi serba tak pasti itu, musi-bah rnenimpa jajaran ABRI. Dalam sebuah patroli, dua prajurit dikabarkan dibunuh oleh GPK. Korban bertambah dengan terjadinya insiden di posko pasukan ABRI, yang terletak di hanggar lapangan udara di Kecamatan Timika. Pada 15 April subuh, Letnan Dua Sanurip tiba-tiba memberondongkan peluru ke arah orang-orang di sek-itarnya. Sebanyak 16 orang meninggal, 10 anggota ABRI, 5 warga sipil, dan 1 pilot berkebangsaan Selandia Baru.

Peristiwa mengenaskan itu diduga bermula dari kondisi Sanurip yang kurang beres. Ada yang mengatakan, perwira per-tama itu tak dapat mengendalikan diri setelah mengetahui ada dua anggota ABRI tewas oleh GPK. Keterangan resmi mengatakan, Sanurip terserang penyakit malaria. Lebih jauh, menurut Kepala Pusat Penerangan ABRI, Brigadir Jenderal Amir Syarifuddin, seseorang yang terkena malaria memang bisa lepas kendali. Dan malaria adalah anca-man lain di Irian Jaya.

Pihak luar yang mengikuti jalannya operasi pembebasan menjadi geregetan. Dari gedung DPR-RI, misalnya, terdengar desakan agar ABRI segera menempuh tin-dakan militer. Sejauh itu, ABRI masih berta-han dengan upaya persuasif. Bantuan para rohaniwan kembali diminta untuk men-dukung upaya ICRC.

Tanggal 7 Mei, orang ICRC membawa kabar gembira bahwa Kelly bersedia menyerahkan semua sandera. Waktu pembebasan ditetapkan 8 Mei, dan akan diadakan upa-cara potong babi sebagai tanda perpisahan. Tanpa buang tempo, pada waktu yang diten-tukan itu, dua helikopter ICRC diterbangkan ke lokasi penyanderaan di Geselama. Mere-ka dikawal lima helikopter TNI, walau tak sampai ke lokasi. Lagi-lagi Kelly berubah pikiran. Ia mengatakan, hanya bersedia me-nyerahkan sandera jika disediakan sejum-lah persenjataan sebagai tebusan. Lalu utu-san ICRC pulang dengan penuh kegemasan. Esoknya, 9 Mei, mereka mengundurkan diri sebagai mediator. “Tidak ada lagi kemung-kinan untuk meneruskan dialog yang membangun. Kami merasa ditipu. Pihak pencu-lik tak memenuhi janji,” kata Fournier.

Lalu operasi militer pun dilancarkan. Setelah petugas ICRC mohon pamit pada ABRI, lima helikopter TNI melesat ke Gese-lama, tempat Kelly bersembunyi. Tapi mere-ka tidak menemukan ada tanda-tanda manu-sia di sana. Ketika pulang ke Timika, sebuah helikopter jatuh di hutan belantara, dan lima penumpangnya tewas. Kelima korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ku-suma Trikora, Abepura. Namun pengorba-nan mereka tidak sia-sia. Dalam sergapan 15 Mei, sembilan sandera berhasil dibe-baskan dalam keadaan hidup, dan dua orang lagi telah menjadi mayat. (Priyono B. Sumbogo dan Akmal Nasery Basral)

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya

4. KESAKSIAN SEORANG SANDERA

sandera   009

Markus menuturkan pengalamannya selama disandera sampai saat pembebasan mereka oleh pasukan ABRI.

Antropolog Markus Warib, 36 tahun, tampak ceria didampingi istrinya, Maria, dalam perjalanan dari Timika ke Jakarta bersama sandera yang dibebaskan pasukan ABRI, Kamis pekan lalu. “Terus terang, saya masih trauma kalau harus kem-bali ke tempat penyanderaan itu,” ka-tanya.

Dosen Fakultas Sastra Universitas Cenderawasih itu menuturkan pen-galamannya selama masa penyande-raan empat bulan hingga saat-saat pembebasan. Sebuah penuturan yang dilakukannya secara berteriak-teriak di kuping Dani Hamdani dari GATRA, sepanjang perjalanannya dari Timika ke Jakarta. Markus berteriak-teriak mengatasi bisingnya suara pesawat Hercules C-130, yang mengangkut sandera.

Drama penyanderaan dibuka Markus dengan cerita tentang rencana merayakan ulang tahun Bill Oates di rumah Pendeta Van der Bijl di Mapen-duma, 8 Januari lalu. “Kami mau bikin perayaan istimewa dengan memasak dua potong paha babi,” katanya. “Tapi belum lagi babi matang, kami dikagetkan oleh teriakan gerombolan orang dalam posisi siap perang suku.” Gerombolan itu, kata Markus lagi, membawa panah, tombak, dan muka mereka dicoret-coret hitam. Jam keti-ka itu menunjuk pada angka 13.10 WIT.

Rencana pesta 26 anggota Tim Ekspedisi Lorentz 1995 menjadi berantakan setelah Daniel Yudas Ko-goya dan kelompoknya, yang berjum-lah sekitar 200 orang, menarik picu senjata laras panjang. Gerombolan GPK itu merangsek maju dan men-dobrak pintu. “Mereka mengikat kami semua, dan mengumpulkan di luar rumah.” Itulah prolog penyanderaan yang digelar kelompok Kelly Kwalik.

Esoknya, kawanan Daniel menyeret sandera ke daerah Amtab, sebuah permukiman penduduk, yang tidak begitu jauh dari lokasi penangkapan. Di situ seorang mantri kesehatan tampak menyambut kedatangan tamu dengan membunuh seekor babi. Kemudian jantung babi dibagikan kepada pimpinan GPK dan sandera untuk dimakan bersama. Ini sebuah upacara adat, yang mengandung arti bahwa sandera tidak boleh dibunuh.

Selang beberapa hari kemudian, masih di Amtab, para sandera diarak untuk melintasi sungai besar dengan menyeberang jembat-an rotan menuju ke sebuah gereja tua. “Itulah kamp kami yang ketiga,” kata Markus. Di sana semua barang berharga dikumpulkan. Ada kamera, binokuler, monokuler, bebera-pa rol film, dan uang senilai Rp8 juta.

Dua hari kemudian rombongan Lotentz 1995 digelandang ke sebuah tempat guna membangun sebuah kamp yang keempat. Kemudian mereka diboyong lagi begitu GPK mengetahui ada pasukan ABRI menguntit mereka. “Kami menuruni tebing, menyeberangi sungai besar, Sungai Kilmib, dan segera membuat sebuah kamp lagi.” Itulah kamp yang kelima.

Hari berikutnya, sebuah helikopter mer-aung-raung. Untuk kesekian kalinya para sandera diperintahkan berjalan menyusuri tepian dan bibir sungai hingga malam, dan berhenti untuk mendirikan kamp yang keenam. Beberapa jam kemudian berjalan lagi. “Kami panjat gunung. Jalannya minta ampun, tidak bagus. Harus jalan di bawah lumut. Naik, dan naik terus. Begitu sampai di atas, kami menyeberang jembatan rotan lagi dan turun. Begitu sampai di pertenga-han gunung itu hari sudah gelap, dan kami bikin kamp lagi untuk ketujuh kalinya,” kata Markus.

Setelah bermalam, mereka kembali ber-jalan hingga menemukan sebuah sungai kecil, dan mendirikan kamp kedelapan. Sejak itu beberapa sandera mulai sakit. “Tapi kami terus jalan dan mendirikan kamp berikut-nya,” tutur Markus. Untuk pindah dari satu kamp ke kamp lain rata-rata makan waktu sekitar sehari, lalu tidur dua hingga tiga hari pada setiap kamp, yang didirikan seadanya.

“Di kamp kesepuluh, kami mulai mengadakan kontak surat melalui ICRC, dan helikopter mereka sering datang sesuai dengan permintaan Kel-ly Kwalik,” katanya. Di sana pula para sandera sempat diperiksa oleh Dr. Fe-renc Mayer. Tapi, seperti hari-hari sebelumnya, rombongan sandera kem-bali melakukan long march begitu fajar matahari mulai menyingkap. “Kami diajak masuk sebuah kampung. Ada sembilan rumah di situ, namanya Bogonduom, di atas puncak gunung. Kami diperiksa, difoto. Juga sempat buat surat buat keluarga segala,” ujar Markus.

Yang menarik, menurut Markus, sepanjang perjalanan sebelumnya para sandera cuma disuguhi makanan ubi hutan yang pahit, tapi kali ini ada pes-ta babi, ada rokok, dan juga susu. “Karena kami sudah terbiasa memakan makanan yang tidak betul di kamp kamp sebelumnya, maka setelah makan enak itu kami mencret semua.” Kamp ke-12, menurut Markus, satu-satunya penginapan yang paling enak selama disandera. “Ibaratnya kelas VIP.”

Di situ pula kontak dengan ICRC dilanjutkan. Gerombolan itu, menurut Markus, tampak mulai tidak percaya kepada tim Komite Palang Merah Internasional. Mereka menganggap ICRC mata-mata Indonesia. Bebera-pa hari kemudian rombongan angkat kaki lagi menuju Desa Dagangpem. Hari itu juga mereka segera pindah lagi, karena persem-bunyian mereka tercium tentara.

Pada waktu itu, entah tanggal berapa, tapi sudah masuk Maret, Markus mulai menden-gar adanya pertentangan di antara pimpinan GPK. Mereka berbeda pendapat tentang pem-bebasan sandera. “Kami mendengar bahwa para sandera akan dibebaskan,” kata Markus.

Tapi suasana berubah ketika gerombolan mendapat kabar bahwa Thomas Wanggai meninggal. Itu 12 Maret. Kelly Kwalik langsung menyiapkan tuntutan: “Sebenarnya kami ingin membebaskan sandera, tapi ada hal yang menghambat. Pertama, kami berdu-ka karena Tom (maksudnya Thomas Wanggai) meninggal. Kedua, karena tiga orang saudara Kelly Kwalik dibunuh tentara,” kata Markus menirukan tuntutan GPK. Surat Kelly Kwalik itu, yang dialamatkan kepada Dr. Mayer, dijemput Rene dan Alfred, petugas ICRC. Anehnya, pada saat bersamaan, seorang sandera bernama Abra-ham Wanggai malah dibebaskan. Sebelum-nya ICRC bersama misionaris telah membebaskan 14 sandera terhitung sejak hari keempat penyanderaan. Markus juga mendengar selentingan bahwa 11 sisa sandera dibebaskan akhir Maret.

Tak cuma itu. Markus juga men-guping pertengkaran mulut antara Kel-ly Kwalik dan Silas Kogoya. “Sayalah yang bertanggung jawab, jadi bawa ke saya punya tempat,” kata Silas. Kelly balas menjawab lebih keras: “Bawa ke saya punya tempat!” Silas akhirnya mengalah. Para sandera kembali dilarak ke suatu tempat tak jauh dari Gese-lama. “Kami tidur beberapa malam sete-lah membuat sebuah bivak kecil,” tutur Markus. Kemudian mereka digiring lagi untuk naik ke puncak gunung, menuju ke sebuah rumah yang beratap, tapi tak berdinding.

Selanjutnya adalah perjalanan menu-ju sebuah kampung kecil, Puruwa, tempat markas Kelly Kwalik. Di situ para sandera kernbali diperiksa kesehatan-nya. Sehari di sana, mereka dibawa turun ke Geselama. “Kami tinggal di honey milik Habel Wandikbo. Para sandera dipisah, enam orang dan lima orang,” kata Markus pula. “Mereka melayani kami dengan baik sekali.” Sampai kemudian muncul tawaran pem-bebasan awal Mei.

Pada waktu itu seseorang dari ICRC menyatakan bahwa 8 Mei adalah Hari Palang Merah. “Mereka menawarkan tanggal tersebut sebagai saat pelepasan sandera dengan mengadakan upacara,” katanya seperti ditirukan Markus. Lewat tanggal itu ICRC tidak akan datang lagi. Disebut-sebut, petugas ICRC juga bersedia mengantar pimpinan OPM bertemu dengan Brigadir Jenderal Prabowo, dan mengantar mereka terbang ke Eropa. Semua pimpinan GPK setu-ju. “Kami sudah kirim surat menyatakan setu-ju,” kata tokoh-totoh GPK kepada Markus.

Belakangan, kelompok Kelly Kwalik berubah sikap. Mereka membuat surat sep-anjang dua halaman, yang antara lain berisi: “Sandera akan dilepas bila ada pengakuan resmi kemerdekaan Papua Barat oleh Indone-sia.” Markus mengaku mengetahui hal itu karena dia yang mengetikkan surat tersebut sebanyak 27 eksemplar.

Yang terjadi kemudian, delegasi ICRC memang datang dengan dua helikopter, bersama seorang wakil dari Inggris, Belada, dan Indonesia pada 8 Mei. Pada “hari yang menjanjikan itu” para sandera dijemput dengan tari-tarian rakyat. “Semua sandera senang. Perempuan dipakaikan rok dari kulit kayo, dan kami dilepas baju,” kata Markus pula.

Ternyata pertemuan itu tidak mem-bicarakan apa-apa. Kelly Kwalik cuma berp-idato, dan menekankan tentang tuntutannya agar Indonesia mengakui kemerdekaan Papua Barat. “Kami kecewa, dan semua menangis, juga petugas ICRC,” ia menam-bahkan. Hingga para penyandera terpaksa membujuk-bujuk sanderanya agar kembali ke kamp semula.

Sekali lagi Silas Kogoya meminta ICRC datang keesokan harinya. “Malam ini kami akan membujuk Kelly,” kata Silas. Pada 9 Mei, pesawat heli ICRC pun kembali mendarat, dan membawa surat perjanjian yang harus ditandatangani Kelly Kwalik. Tapi Kel-ly tidak mau bertemu. Dia tetap di Puruwa, sekitar 15 menit dari Geselama.

Satu setengah jam kemudian terdengar suara helikopter mendekat dan memuntahkan peluru. Juga roket. Gerombolan Kelly Kwa-lik porak-poranda, dan Silas segera menggiring para sandera sambil berteriak-teriak, “Lari, lari…”

Selama perjalanan, menurut Markus, sandera hanya makan buah pohon pandan. Sejenis kelapa sawit hutan, sebesar kelingking. Yang paling melelahkan, katanya, adalah ketika diperintahkan untuk terus berjalan dari pagi hingga larut malam. “Kami sampai tertidur di jalanan tanpa alas,” kata Markus seperti menyesali nasibnya.

Sampai kemudian matahari mulai me-nampakkan diri, Rabu menjelang “drama pembebasan berakhir”. Sandera diperintah-kan lagi secara kasar untuk berjalan. “Jalan yang kami lalui kali ini minta ampun, banyak batu-batu besar, dan licin. Tapi kami disu-ruh jalan terus. Kalau ada ABRI, kami diam sebentar,” kenang Markus.

Dalam pelarian itu, baik penyandera maupun sandera seperti sudah kehabisan tenaga. Tapi terus diperintahkan naik ke tebing curam. Lalu tiba-tiba disuruh turun lagi. “Saya mulai curiga, saya me-lihat perubahan sikap rnereka,” kata Markus. Biasanya mereka akrab, ngo-brol bersama, makan sama-sama kami sepanjang waktu. “Tapi sore itu, mata mereka liar.” Tidak berapa lama kemudian sandera diperintahkan naik kem-bali. Sandera belum naik, pasukan Kel-ly Kwalik kembali berteriak, “Sanbo, sanbo.” Artinya: ada tentara.

Martha Klein dari Belanda, yang hamil tua, tampak jauh di belakang. “Saya di belakang Navy dan Adinda Saraswati. Lalu, Yosias dan Jualita di depannya la-gi,” ujar Markus. Seseorang tampak menghampiri dan memerintahkan Mar-kus untuk terus naik, dan kemudian Mar-kus mendengar teriakan histeris dari seo-rang wanita.

Suasana gaduh ini berada pada jarak 100 meter dari Markus. Tapi tidak kasat–mata karena terlindung pepohonan. Belakangan Markus tahu, Adinda meli-hat Navy dibacok. Kemudian para san-dera yang sudah di atas itu pada lari ke bawah. “Saya juga melihat seseorang turun dengan parang sudah di atas ke-palanya, siap membacok. Saya langsung lompat ke bawah dan terjatuh. Lutut terkena batu, rasanya sakit sekali, tapi saya terus berlari,” katanya.

Di bawah, Markus melihat Adinda dan Daniel sudah sampai di bibir sungai. Ternyata sudah ada pasukan ABRI yang menjemput. Ada sekitar 13 orang pasukan baret hijau yang menunggu di situ. Sedangkan 12 pasukan ABRI lainnya meny-isir di hulu sungai. “Saya cepat keluar sambil angkat tangan, dan berteriak: Saya sandera, saya sandera.” Pasukan ABRI lang-sung melindungi. Tidak lama kemudian, Anna turun. Dan sembilan orang berhasil dis-elamatkan. “Dua teman kami masih di atas,” kata Markus. “Kami sedih, tapi mau apalagi, hari sudah keburu gelap.” Itulah dua sandera yang tidak terselamatkan: Navy dan Teis. (Agus Basri)

 

*) Laporan Utama Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996.

>> Laporan Selengkapnya