Soedoet Pandang

Home » Politika » PASANG SURUT BIDUK PAK CUM

PASANG SURUT BIDUK PAK CUM

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

Soebianto & Soejono

 

Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yang mesti musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami lebih sempurna

 

Puisi di atas ditemukan di kantung baju jasad Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo, yang tewas dalam pertempuran di daerah Serpong, Tangerang. Lettu Soebianto gugur bersama adiknya, Taruna Soejono Djojohadikusumo, dalam kontak senjata melawan tentara Jepang, yang kemudian hari dikenal sebagai “Peristiwa Lengkong”, 25 Januari 1946.

Puisi itu seperti telah meramalkan nasib yang bakal ditanggung keponakan Letnan Soebianto, yaitu Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Karena sebagai prajurit, Prabowo “hanya pengangkut batu”, atawa sekadar menjalankan perintah. Untuk selanjutnya Prabowo menjadi “angkatan yang mesti musnah”.

Dengan membaca puisi itu, seolah-olah ada hubungan batin antara paman dan keponakan, meski antara keduanya tidak pernah saling bertemu (Prabowo lahir 1951). Secara kebetulan, pilihan hidup mereka pun sama, yakni sebagai infanteris. Nama keduanya juga mirip, sama-sama ada unsur “Subianto”-nya.

 

makam soebianto, 1947075

 

Gugurnya dua orang adiknya dalam waktu bersamaan, dari kasus yang menimpa Prabowo, hanyalah sebagian dari badai kehidupan yang pernah menerpa Sumitro Djojohadikusumo. Pak Cum—begitu Sumitro acap dipanggil—sangatlah terpukul ketika mendengar kabar atas gugurnya kedua adiknya sekaligus. Karena sudah bertahun-­tahun mereka tidak saling jumpa.

 

Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka.

 

Pertemuan terakhir Pak Cum dengan kedua adiknya terjadi tahun 1942, menjelang Jaman Jepang, di Paris, saat Pak Cum sedang menyelesaikan studinya di Universitas Sorbonne. Pada sebuah libur­an, kedua adiknya berkesempatan menjenguknya. Ketika kedua adiknya akan kembali ke Amsterdam dengan menumpang kereta api, Pak Cum mengantarkan hingga ke Stasiun Metro Paris. Sungguh tak ada yang menduga, kalau perpisahan di stasiun kereta api Paris itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.

Sebagai kenangan terhadap kedua adiknya, kelak Pak Cum menterakan nama keduanya pada anak-anak lelakinya. “Subianto” untuk Prabowo, dan “Sujono” untuk adik Prabowo, yaitu Hashim (lengkapnya Hashim Sujono Djojohadikusumo). Hashim lebih dike­nal sebagai pengusaha yang sukses, lewat holding Tirta Mas Group.

 

Prabowo & Hashim Kecil

 

 

Tradisi Banyumas

Sebagai orang kosmopolitan, karena sebagian besar hidupnya dihabiskannya di luar negeri, ternyata Pak Cum tetap bangga sebagai orang Banyumas. “Saya ini orang Banyumas, kalau ngomong blak­blakan,” demikian Pak Cum pada suatu kali.

Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka. Dari wilayah dengan kultur seperti itulah Pak Cum berasal. Pak Cum lahir di Kebumen, 28 Mei 1917.

 

Sikap keterusterangan khas Banyumasan Pak Cum, diperli­hatkannya ketika negeri ini mulai dilanda krisis berkepanjangan, sejak pertengahan tahun lalu. Menurut Pak Cum, kalau hanya kri­sis moneter, obatnya cukup aspirin. “Padahal yang diperlukan sekarang ‘obat antibiotik’ untuk menyembuhkan penyakit kronis yang terjadi di luar sektor ekonomi, seperti penyakit dalam bidang ketatanegaraan, hukum, birokrasi, dan sebagainya.” (Kompas, 11 Januari 1998).

 

Sumitro, Sjahrir, Soedjatmoko, Agus Salim

Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.

 

Pendapat Pak Cum tersebut tergolong keras. Karena semua orang tahu, walau bagaimanapun Pak Cum adalah bagian dari kekuasaan, melalui hubungan besannya dengan Presiden Soeharto. Sementara salah seorang anaknya, Prabowo, masuk dalam struktur kekuasaan (saat itu), selaku komandan pasukan elite. Kopassus.

Sikap keras yang sama, juga ditunjukkan Pak Cum di era Presiden Soekarno. Karena merasa tidak sepaham lagi dengan kebijakan politik Soekarno, yang menurut pandangan Pak Cum terlalu memberi angin pada PKI. Pak Cum memilih menyingkir dari Jakarta, untuk bergabung dengan gerakan PRRI/Permesta, di pedalaman Sumbar dan Sulut.

Padahal kalau Pak Cum mau sedikit “kompromi”. Kursi empuk di kabinet selalu tersedia untuknya. Sebagai satu-satunya doktor ekono­mi kala itu, nama Pak Cum selalu masuk nominasi. Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.

 

prabowo005

Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 

Tak tanggung-tanggung, sikap politik Pak Cum menentang Soekarno, mendapat dukungan penuh dari ayahnya, R.M. Margono Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai pendiri Bank BNI 1946. Demi membela anaknya, R.M. Margono rela meninggalkan jabatan di peme­rintahan, selaku ketua DPA.

 

margono

 

Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu Pak Cum masih tercatat sebagai sesepuh Paguyuban Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), organisasi keke­rabatan warga asal Banyumas di Jakarta.

Ciri menonjol lain dari kultur Banyumas adalah tradisi kemiliterannya yang kental. Sejak lama, kawasan Banyumas (ditambah Kedu dan Bagelen), merupakan sumber rekrutmen terpenting bagi calon personel KNIL. Terlebih pusat pendidikan calon bintara KNIL terletak di Gombong, Kabupaten Kebumen. Salah seorang alumninya adalah Soeharto, kelak menjadi besan Pak Cum. Maka jika kedua adik Pak Cum dan salah seorang anaknya, menempuh jalan hidup sebagai ten­tara, ada alasan logisnya.

 

 

Begawan Ekonomi

Perjalanan hidup Pak Cum merupakan kombinasi antara karir ilmuwan dan partisipasi dalam pemerintahan. Meski sejak lama Pak Cum tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan, namun pemikiran dan pendapat Pak Cum selalu menjadi rujukan banyak pihak, termasuk kalangan pemerintah.

Di masa Orde Baru, sekembalinya dari masa “pengasingannya” (1958-1968), Pak Cum sempat dua kali dipercaya sebagai menteri. Sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan Menteri Negara Riset (1973-1978). Setelah lengser dari pemerintahan, Pak Cum lebih dikenal sebagai pengamat ekonomi­ politik yang tajam, dan aktif pada lembaga konsultan yang didirikan­nya dulu, Indoconsult.

Justru dalam status sebagai ilmuwan inilah posisi Pak Cum tak pernah surut. Posisinya yang sangat dihormati sebagai ilmuwan, terutama dalam disiplin ekonomi, terlihat dari julukan yang diberikan kepadanya: Begawan Ekonomi.

 

prabowo003

Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial per­nah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun.

 

Di satu sisi, julukan itu merupakan penghormatan. Namun, di sisi lain, kurang kondusif bagi wacana ilmu-ilmu sosial, dan ini yang kurang disadari. Karena segala pendapat Pak Cum dianggap sebagai keniscayaan. Itu terlihat dari tiadanya sanggahan dari ekonom­-ekonom Indonesia terhadap gagasan Pak Cum. Keengganan untuk berpolemik dengan Pak Cum, juga melanda ekonom-ekonom senior semacam Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim. Mungkinkah keengganan mereka berargumen dengan Pak Cum kare­na ada rasa utang budi terhadap “Sang Guru”?

Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial per­nah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun. Ketika dipromosikan sebagai Doctor Honoris Causa dalam bidang ekonomi, dari Universitas Padjadjaran, 31 Juli 1961, Semaun menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul “Tenaga Manusia Sebagai Postulat Teori Ilmu Ekonomi Terpimpin”.

Inti dari pidato Semaun itu merupakan kritik langsung terhadap pemikiran Sumitro, dalam bukunya Ekonomi Pembangunan (terbit 1955). Sayang ketika Semaun menus kritikannya itu, Pak Cum masih dalam masa “pengasingan” di luar negeri. Jadi Pak Cum tidak bisa merespons balik kritikan Semaun.

Setelah Orde Baru kehidupan Pak Cum tak pernah surut. Hari-hari ini cobaan pada keluarga Pak Cum, seperti datang berun­tun. Sebelum kasus Prabowo mencuat, Pak Cum sudah harus meng­hadapi kenyataan pahit, ketika salah seorang menantunya, J. Sudrajad Djiwandono secara mendadak dicopot dari jabatannya selaku Gubernur BI. Kini ditambah lagi, ketika putranya Hashim, harus beru­rusan dengan Kejaksaan Agung, dalam kasus Bank Pelita.

Kini suasana keluarga Sumitro sedang temaram. Sanggupkah klan Djojohadikusumo bangkit kembali? Kemungkinan itu masih terbuka, karena daya tahan keluarga itu menghadapi gelombang kehidupan telah teruji oleh sang waktu.

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: