Soedoet Pandang

Home » Politika » AYAH PRABOWO BUKA KARTU

AYAH PRABOWO BUKA KARTU

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

detak 1998

 

 

“Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi…”

 

Pada September 1998, Tabloid DETAK No. 9/I, yang dipimpin oleh Eros Djarot, menulis laporan utama mengenai buka kartunya Sumitro Djojohadikusumo atas kasus yang menimpa anaknya, Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto, yang diberhentikan dari dinas militernya. Apa saja yang diketahui oleh Pak Cum? Kenapa Eros Djarot menganggap bahwa kesaksian Sumitro itu penting dan menilai bahwa apa yang sudah dilakukan Prabowo adalah sebuah sikap kesatria, terlebih jika dibandingkan dengan para jenderal lainnya yang cuci tangan begitu saja? Benarkah bahwa relasi antara keluarga besar Sumitro Djojohadikusumo dan keluarga besar Soeharto sejak awal sebenarnya menghadapi jurang yang menganga, karena ada perbedaan kultur yang melingkupi keduanya, yaitu antara kultur Banyumasan yang terbuka, seperti melekat pada keluarga Sumitro, dengan kultur Mataraman yang tertutup sebagaimana melekat pada keluarga Soeharto? Simak tiga buah artikel menarik dalam laporan DETAK waktu pada link di bawah ini.

 

EROS DJAROT: PESAN DARI BESAN

… saya secara pribadi cukup lama berpikir, percaya dan teryakinkan bahwa apa yang dilakukan Oom Cum bukanlah tindakan yang bersifat ingkar terhadap kebenaran. Sebaliknya, kesan bahwa yang dilakukannya hanyalah suatu upaya mendudukkan kebenaran …”

 

PASANG SURUT BIDUK PAK CUM

“Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.”

 

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

“Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua.”

Advertisements

6 Comments

  1. ditya says:

    Hmmm, nice story! Love it !! Sangat berkesan,,

  2. agoes joesoef says:

    Kenapa berita ini muncul disaat menyongsong 2014? Kenapa secara terbuka tidak di sampaikan jauh sebelum usaha untuk menempati RI1 di pemilu ini. Kesan akan lebih objektif apabila di sampaikan jauh sebelum 2014, dengan diskusi terbuka mengundang sejumlah tokoh yang terlibat maupun tokoh yang “dirugikan” jadipara saksi sejarah dan angkatan muda yang memang perlu tahu sejarah yang sebenarnya. Sejarah yang tidak menguntungkan untuk pengusa maupun untuk calon penguasa.

    • noval vera r zed says:

      berita tentang kebenaran sejarah ini sudah berulang-ulang, cuma saat menyongsong 2014 masyarakat yg belum pernah membaca.. perlu diulang kembali kebenaran sejarah ini.

  3. jamin says:

    karna orang indonesia pemaaf ….eeh pelupa jadi perlu direview utk menyegarkan sehingga dalam memutuskan sikap perlu ada referensi juga…

  4. ardiansyah says:

    wah bung agoes joesoef mesti mengerti dong situasinya saat itu, yang penting pada saat itu adalah keutuhan bangsa ini, keutuhan NKRI, kan beberapa kali sudah dijelaskan di televisi. Jadi sangat bijaksana sekali saat itu Sang Patriot pak Prabowo mengasingkan diri ke Yordania setelah tidak ada bukti beliau bersalah agar yang mengaku para pemimpin bisa menyusun kembali keutuhan bangsa yang hampir tercabik dan menyusun agenda reformasi yang hingga saat ini belum kelihatan hasilnya terutama yang di rasakan rakyat kecil. Patriot tidak pernah meninggalkan medan pertempuran, buktinya beliau kembali lagi untuk memenangkan pertempuran dari sisi yang lebih besar lagi untuk membela harkat martabat bangsa ini, belau telah tunjukkan pada kita semua Sang Patriot pak Prabowo lah pemimpin sejati dari bangsa ini, agar bangsa ini ditakuti kembali, seekor macan tidak pernah melahirkan domba, baca trah/silsilahnya dong bung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: