Soedoet Pandang

Home » 2014 » February

Monthly Archives: February 2014

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

PRABOWO: DEMI ALLAH, SAYA TAK SERENDAH ITU

prabowo 03 

 

Bertemu seorang Prabowo, di saat kasus orang hilang ramai dibicarakan, merupakan angin segar bagi DETAK. Pasalnya, mantan Danjen Kopassus ini, belakangan tidak mudah ditemui, apalagi diajak bicara seputar dugaan keterlibatan sepuluh anggota Kopassus yang terkait dengan kedudukannya sebagai atasan mereka saat terjadinya peristiwa. Beruntung seorang kawan yang mengadakan pesta ulang tahun, Minggu, 19 Juli 1998, menghadirkan mantan Danjen Kopassus ini sebagai salah satu tamunya. Langsung saja kesernpatan emas ini tidak begitu saja dilewatkan DETAK tanpa kongko-kongko seputar dirinya dan kasus penculikan. Seperti biasa, penampilannya tetap cerah, penuh percaya diri dan hangat.

 

Halo, Jenderal, apa kabar?

Alhamdulillah saya tetap sehat, lahir batin.

 

Kabar keluarga?

Oh, alhamdulillah juga, semua sehat. Hanya istri dan anak saya nggak bisa ikut ke sini. Titiek lagi nganter anak saya yang mau sekolah.

 

Jadi Anda bebas merdeka dong?

Dalam hal itu saya selalu bebas.

 

Lho, memangnya dalam hal apa nggak bebas?

Yah…, kalau you nanya soal kasus penculikan, baru saya tidak bebas.

 

bowo 2

 

Mengapa begitu?

Saya ini militer, tidak seperti you, bisa bebas bicara sesuka kata hati. Setiap bicara masalah yang sensitif, harus terlebih dahulu melapor pada atasan.

 

Tapi Jumat kemarin, 17 Juli 1998, anda bicara terbuka di depan wartawan, Saya siap bertanggung jawab bila anak buah saya ter­bukti bersalah…’?

Saya harus mengatakan itu. Saya ini seorang perwira. Moral sebagai komandan harus saya tegakkan. Saya waktu bicara itu karena ter­paksa. Soalnya teman-teman you (wartawan—Red.) sudah begitu gen­car menyerbu saya dengan berbagai pertanyaan. Tapi, semua ini telah saya laporkan pada Pangab.

 

Jelasnya, apa yang Anda maksud dengan bertanggung jawab?

Lho, sebagai komandan harus mau bertanggung jawab.

 

Komentar Anda seputar kasus penculikan dan kedudukan Anda sebagai Danjen Kopassus saat itu?

Wah, saya milih no comment! Karena semua persoalan menyangkut diri saya, sudah saya laporkan pada Pangab. Saya memilih diam.

 

Dengan diam, apakah Anda mengakui semua tuduhan yang bergulir?

Tuduhan apa? Kan proses sedang berjalan. Kita lihat saja nanti.

 

Proses yang bagaimana?

Seperti kata saya tadi…, sesuai prosedur semua sudah saya laporkan pada atasan.

 

Jadi Anda melapor bahwa benar Anda yang mengotaki penculikan..? Heran saya, kenapa sih kalian senang betul menempatkan saya sebagai biang keladi penculikan. Pokoknya, no comment!

 

prabowo-subianto-01

 

Tapi masyarakat telanjur dibuat berpikir bahwa Anda dalang utama peristiwa penculikan?

Saya seorang yang beragama. Tuhan maha tahu. Saya cinta negeri ini. Saya orang yang menghargai kemanusiaan. Demi Allah, saya tidak serendah itu.

 

Jadi akan tetap diam dan membiarkan seluruh prasangka berkembang?

Biarkan saja orang berburuk sangka pada saya. Bersikap pasrah pada Sang Pencipta membuat saya tenang. Apalah arti pangkat dan jabatan? Saya seorang prajurit yang mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. Bila harus, nyawa saya pun siap saya serahkan untuk Ibu Pertiwi.

 

Harapan Anda ke depan?

Harapan saya agar masyarakat tahu; saya ini seorang prajurit TNI. Saya rasa itu saja!

 

*) Wawancara ini dimuat dalam Tabloid DETAK No. 2/I, 21-27 Juli 1998.

Advertisements

AYAH PRABOWO BUKA KARTU

detak 1998

 

 

“Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi…”

 

Pada September 1998, Tabloid DETAK No. 9/I, yang dipimpin oleh Eros Djarot, menulis laporan utama mengenai buka kartunya Sumitro Djojohadikusumo atas kasus yang menimpa anaknya, Letjen TNI (Pur) Prabowo Subianto, yang diberhentikan dari dinas militernya. Apa saja yang diketahui oleh Pak Cum? Kenapa Eros Djarot menganggap bahwa kesaksian Sumitro itu penting dan menilai bahwa apa yang sudah dilakukan Prabowo adalah sebuah sikap kesatria, terlebih jika dibandingkan dengan para jenderal lainnya yang cuci tangan begitu saja? Benarkah bahwa relasi antara keluarga besar Sumitro Djojohadikusumo dan keluarga besar Soeharto sejak awal sebenarnya menghadapi jurang yang menganga, karena ada perbedaan kultur yang melingkupi keduanya, yaitu antara kultur Banyumasan yang terbuka, seperti melekat pada keluarga Sumitro, dengan kultur Mataraman yang tertutup sebagaimana melekat pada keluarga Soeharto? Simak tiga buah artikel menarik dalam laporan DETAK waktu pada link di bawah ini.

 

EROS DJAROT: PESAN DARI BESAN

… saya secara pribadi cukup lama berpikir, percaya dan teryakinkan bahwa apa yang dilakukan Oom Cum bukanlah tindakan yang bersifat ingkar terhadap kebenaran. Sebaliknya, kesan bahwa yang dilakukannya hanyalah suatu upaya mendudukkan kebenaran …”

 

PASANG SURUT BIDUK PAK CUM

“Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.”

 

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

“Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua.”

SUMITRO: SOEHARTO LEMAH TERHADAP ANAK-ANAKNYA

 prabowo005

 

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Ketika Letjen TNI Prabowo Subianto dipecat dari ABRI, banyak mata menatap ke arah Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo—ayah Prabowo yang juga mantan Menteri Perdagangan dan Menristek pada pemerintahan Soeharto. Menjelang turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Sumitro sempat melontarkan sejumlah kritik keras terhadap kepemimpinan presiden yang juga besannya itu. Lalu apa yang dirasakannya ketika Prabowo dipecat? Apa pula pandangannya tentang 32 tahun kekuasaan Soeharto? DeTAK beruntung berkesempatan mewawancarai guru besar ekonomi UI yang oleh sejumlah kalangan digelari sebagai “Ayatullah” ekonomi Indonesia itu. Berikut petikan wawancara yang dilakukan di rumah­nya hari Minggu (6/9/1998) sore lalu:

 

Menurut Anda, apa yang paling krusial dari keadaan sekarang ini?

Yang menamakan  diri  pemerintahan, agregate kenegaraan itu memer­lukan legitimasi. Sekarang yang ada baru legalitas. Saya mengadakan pembedaan antara legality (keabsahan hukum) dan legitimacy (pen­gakuan mandat rakyat—Red.). Legality bisa saja dibikin dan sekarang ini memang dibikin. Tapi legitimacy atau mandat dari rakyat itu belum.

 

Indikasinya?

Sekarang itu masyarakat kita, dunia lembaga formal, DPR/MPR, semua sedang resah terus. Begitu juga para politisi yang kurang puas, para profesional, para akademisinya ribut terus. Semua menghendaki reformasi, tapi apa reformasi yang dimaui, kurang jelas. Ini yang secepatnya harus diatasi.

 

Dengan situasi seperti ini, bagaimana cara memenangkan kepercayaan rakyat dan dunia luar?

Salah satunya lewat pemilu. Tapi pemilu yang pelaksanaannya den­gan undang-undang pemilihan yang sudah direformasi, yang sudah dijanjikan. Walau pasti tidak mungkin perfek, tapi itu kan legal for­mal sekaligus legitimasi yang diperlukan.

 

Tapi bagaimana bila ternyata ABRI masih bersikeras mendukung hanya Golkar?

Mungkin ABRI tidak melihat alternatif lain selain Golkar.

 

Apa tidak mungkin sikap ini merupakan kelanjutan budaya poli­tik selama tiga puluh tahun yang diwariskan Soeharto?

Memang budaya politik yang saya rasa tertanam selama 32 tahun, merupakan hambatan dari demokrasi tulen. Tentang hak rakyat dan kedaulatan rakyat, dalam benak, pikiran dan perasaan masyarakat sekarang ini masih pada pengertian siapa yang punya legalitas itu dominan. Pokoknya, seolah yang berkuasa selalu benar terus.

 

Kembali ke masalah Pak Harto. Dalam kaitan psiko-politik Pak Harto ditempatkan sebagai masih memainkan peran penting, menurut Anda?

Bahwasanya orang-orang masih melihat di belakang Habibie dan Wiranto ada bayangan Soeharto, itu juga psikologis sifatnya. Tapi saya nggak lihat itu. Saya rasa, saya kenal besan saya itu dengan baik, walaupun nggak tahu seluruhnya, tapi saya pernah bekerja dekat dengan dia.

 

Pandangan Anda terhadap Pak Harto yang sekarang banyak menerima hujatan?

Saya rasa masalahnya lain dulu lain sekarang. Pada awal bekerja de­ngan Pak Harto, waktu itu menurut saya dia baik dan hebat. Selama 10 tahun sebagai pembantu presiden, kita para teknokrat berhasil membangun, dan gawatnya ekonomi bisa diatasi. Karena kita bisa percaya dan bisa mengandalkan dia secara sepenuhnya. Masa itu dia benar-benar pegang janji dan kata-katanya. Begitu banyak kritik di luar negeri, dan untuk setiap kesalahan yang dilakukan oleh menteri­-menterinya, Pak Harto selalu bersikap, “Sudahlah saya tanggung jawab.” Hebatnya di situ.

 

Mitro - Bio Crop Outer copy

 

Sekarang ini bagaimana?

Sesudah itu memang ada perubahan. Seingat saya, 10 tahun terakhir ini yang paling kentara buat saya.

 

Permasalahan intinya apa?

Dua hal, terlalu lemah terhadap anak-anaknya dan pengaruh yang sangat merugikan masyarakat dan negara dari kelakuan anak-­anaknya. Dan selain itu Soeharto terlalu lama berkuasa, kombinasi dua itulah yang terbaca oleh saya.

 

Di satu sisi betul bahwa anak-anaknya juga turut menciptakan suasana yang tidak menguntungkan. Tapi apakah ada kemung­kinan bahwa sebetulnya the real Soeharto ya seperti itu. Seperti tuduhan rakus harta dan haus kekuasaan. Menurut Anda?

Haus kekuasaan mungkin. Tapi greedy material thing (rakus harta benda), arahnya menurut saya, pribadinya loh, itu tidak. Jadi dia ambil kekayaan supaya kekuasaan semakin kuat terkonsentrasi padanya. Seperti kasus yayasan-yayasan, semua itu untuk kekuasaan. Dia jadikan salah satu sumber dana menghimpun keku­atan untuk mempengaruhi orang lain. He needs money to buy power, lebih mengarah ke sana. Tapi memang… pengaruh anak-anaknya besar sekali.

 

Perhatian pada anak yang berlebihan ini, sebagai mantan menteri dan besan, adakah penjelasan rasional yang Anda bisa sampaikan?

Mungkin begini… Saya pernah membicarakan masalah ini dengan orang tua saya, ibu saya. Memang ada semacam beban kejiwaan masa lalu. Suatu waktu dalam satu acara keluarga, waktu saya berusa­ha memperkenalkan keluarga kami dan nanya perihal keluarga Pak Harto, tanpa saya duga dia berbicara dengan sangat intens mengenai masa lalu dirinya.

 

Tepatnya kapan kejadian itu?

Oh, itu saat saya melamar Titiek (untuk jadi isteri Prabowo—Red.). Yah, ini saya buka sekalian saja. Pak Harto bercerita bahwa sewaktu dia masih dalam kandungan, ibunya sudah mengasingkan  diri  dari dunia keduniaan. “Jadi sejak lahir saya sebenarnya enggak kenal ibu kandung saya. Jadi saya besar di desa. Saya jadi rebutan saat saya umur 10 tahun, antara keluarga yang mengasuh saya dengan bapak kandung saya. Kemudian saya dikompromikan ditaruh di Wonogiri, di keluarga mantri, bapaknya Sudwikatmono. Makanya Sudwikatmono lebih dari saudara kandung….” Begitu menurut ceritanya.

 

prabowo004

 

Makna dari peristiwa itu?

ltulah yang membuat dirinya berlebih terhadap anak-anaknya. Karena tidak mau anak-anaknya bernasib seperti masa kecilnya yang gelap keluarga dan kasih sayang orang tua aslinya. Makanya sekarang ia tebus dengan memberikan segalanya pada anak-­anaknya.

 

Artinya, dalam hal ini posisi anak di sini dengan posisi bangsa dan negara, menurut Anda, kira-kira kalau Pak Harto disuruh mengambil pilihan, dia akan memilih yang mana?

Nyatanya dia pilih anaknya. Kenapa? Saudara tadi bicara soal sindrom, saya rasa dia juga terbiasa merasakan ungkapan l‘Etat c’est moi, negara adalah saya. Itu ‘kan sindrom budaya keraton juga, tuh. Seperti Amangkurat VII, bukan Amangkurat I.

 

Anda sebagai besan pernah nggak menegur?

Mungkin saya satu-satunya. Dua kali tentang anaknya. Saya dengar bahwa Benny Moerdani juga pernah singgung itu, tapi dimarahi. Saya dengar dari Sudharmono.

Saya datang ke dia, nggak tahu persis kapan, mungkin kira-kira 6-7 tahun lalu, dua kali saya nanya di Cendana. Saya kan Ketua Umum IKPN (Ikatan Koperasi Pegawai Negeri), saya sampaikan bahwa putra-­putra Bapak sudah menjadi isu politik. Saya sengaja nggak mengritik, hanya menyampaikan fakta saja. Dia diam, tidak ada perubahan. Saya nggak tahu apa dia marah atau dia terima. Waktu saya pamit, di pintu dia bilang, “Iya Pak Mitro, saya menyadari anak-anak saya terkena isu politik.” Nah, saya kan lega.

 

Mengapa hasilnya tetap sama, tak ada perubahan berarti?

Wah, itu yang saya sulit mengerti…

 

Bagaimana Anda memposisikan Pak Harto sebagai seorang besan?

Ini hubungan yang sifatnya pribadi, jadi saya akan bicara secara umum saja. Saya kira tidak usahlah menilai hubungan pribadi dalam konteks pembicaraan ini.

Saya tidak pernah membantah bahwa saya mempunyai utang budi politik kepada Soeharto, sebab dialah yang memungkinkan saya kembali ke tanah air dari pengasingan. Dia sengaja mengirim Ali Moertopo untuk menemui saya dan meminta saya pulang. Akan tetapi utang budi saya yang paling utama dan lebih luas lagi ialah kepada rakyat dan masyarakat bangsa saya. Di kala kepentingan rak­yat dilanggar, dan ini terjadi beberapa kali dalam pengalaman saya, waktu itu juga saya harus berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

 

Kalau Anda sendiri terhadap anak-anak Anda bagaimana?

Waktu Hashim (adik Prabowo) selesai sekolah, saya masih dalam kabinet. Ketika dia mengatakan mau bisnis di Indonesia, saya jawab, “Selama saya masih jadi menteri, Please… Not in Indonesia!” Makanya dia kerja di luar waktu itu.

November 1977, saya datang kepada Pak Harto, lalu saya katakan, “Nanti tahun 1978 saudara akan mempertimbangkan susunan kabi­net, saya jangan dimasukkan lagi, saya sudah mendekati 60 tahun…. Hashim itu mau berkarir di bidang bisnis, selama saya masih dalam pemerintahan nggak saya perkenankan….”

 

Jawaban Pak Harto?

You know what he said, yang mengejutkan dia bilang soal Hashim… “Kalau begitu Pak Mitro enggak adil terhadap anak-anak.” Nah, coba itu kan pandangan yang sangat berbeda. Sementara saya selalu anjurkan kepada anak-anak saya untuk tidak bergantung pada bantu­an dan kemampuan orang tua. Maklum etos itu telah saya tanamkan sejak saya jadi buron politik di zaman pemerintahan Bung Karno. Hidup di luar negeri itu harus mandiri. Kalau soal anak, Pak Harto memang sangat lemah dan di situlah kelemahannya yang mendasar.

 

Sebagai ayah, Anda sendiri bagaimana menghadapi kasus Prabowo ini?

Begini, saya mulai dengan dua hal dulu. Saya mengingatkan apa yang pernah saya bilang selalu sebagai prinsip dasar yang tak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap anggota keluarga: unequivocally, human dignity, dan social justice merupakan hal yang harus selalu dijunjung tinggi. Tanpa itu, mau jadi apa kita?!

Saya nggak bisa membayangkan menghadapi situasi sekarang. Itu pertama. Kedua, dengan situasi sekarang saya sekeluarga mendukung segenap langkah yang bertujuan menegakkan keadilan masyarakat, termasuk dalam kasus Prabowo.

Mengadili perwira dalam tata cara yang tidak fair dan tidak kesatria itu yang tidak saya setuju. Dalam kaitan human dignity dan human right, jangan atasan harus selalu benar…. Saya masih ingat tahun per­tama dia di Akabri, taruna di situ diajar untuk “kejam” sekali. Taruna kedua, ketiga, itu boleh apa saja terhadap juniornya. Di West Point nggak boleh begitu. Jadi darnpak dari budaya pendidikan seperti itu, saya rasa sekarang it is danger, apalagi seperti menghadapi Raja Jawa ini (Soeharto—Red.), jenderal-jenderal nggak berani.

 

prabowo 03

 

Kembali pada kasus Prabowo, bagaimana dia sebagai militer dalam pandangan Anda?

Dalam beberapa hal Bowo mungkin kompromi. Seperti saya kasih kasus di Timor Timur itu, nggak mungkin sama komando mem­bangkang atasannya. Tapi ada kasus dia ternyata membangkang. Karena tidak mau nurut perintah disuruh membunuh tawanan perang yang tak bersenjata. Saya mendukung langkah-langkah dia yang seperti itu, walau terkena sanksi tak apalah.

 

Termasuk yang sekarang?

Kasus Bowo khusus kali ini kok seakan-akan asas keadilan ini jadi kabur. Karena, pertama, Prabowo pada khususnya dan Kopassus pada umumnya, seolah yang paling bersalah dan satu-satunya yang diper­salahkan. Bahwa ada berbagai instansi dan kesatuan yang terlibat, mengapa harus ditutup-tutupi? Toh semua yang terjadi merupakan satu paket program, untuk menegakkan kekuasaan, status quo.

 

Jadi, dalam kasus Prabowo, Anda bukan tidak setuju untuk diusut tuntas?

Caranya itu, loh. Dan, ini kan juga diakui oleh bekas-bekas korban penculikan. Mereka tidak ingin hanya Kopassus. Dengan dibawa ke Kramat (wilayah komando Kodam V Jaya—Red.), jelas yang terlibat bukan hanya Kopassus. Tapi mengapa semua seolah-olah terpusat ke Bowo, semua kecaman ditujukan ke dia?! Apakah seorang Prabowo begitu berkuasa hingga bisa perintah sana-sini ke berbagai daerah dan institusi? Padahal, menurut seorang mantan Kasad, seperti ditulis DeTAK, kalau dalam ABRI ada oknum yang salah itu dua tingkat di atas kena, turut bertanggung jawab. Sebagai Danjen Kopassus kan dia punya dua atasan, KSAD dan Pangab waktu itu, mereka nggak mungkin nggak tahu, seharusnya mereka tahu!

 

Tapi ada juga kebiasaan yang mengatakan bahwa bisa saja mere­ka nggak tahu karena…

Maksud Saudara adanya Pangti? Yak, seperti yang dibenarkan oleh
Hasnan Habib, Pangti itu (Soeharto—Red.) punya kebiasaan untuk langsung kasih perintah ke bawahan tanpa menghiraukan tingkat-tingkat hierarki. Saya itu sebagai menteri kadang-kadang di-by pass (dipo­tong). Nah, itu kebiasaan Raja Jawa. Tapi bagi dia that’s right. Jadi tidak pernah ada keberanian mengungkap secara kesatria tentang KSAD, Pangab, dan Pangti. Kalau yang tiga ini dipertanyakan baru ada pengertian justice, keadilan, that’s about it.

 

Hal lain yang Anda anggap sebagai penyimpangan keadilan?

Intinya seperti tadi itu, tapi cara pemberitaan dari sementara kalang­an media dari dalam maupun luar negeri juga patut disesalkan, kare­na banyak berita cenderung mengandung hukuman. Seolah tidak ada asas praduga tak bersalah yang dipegang. Sudah cenderung meng­hakimi. Beberapa di antaranya tidak segan-segan membikin profil­-profil personality yang sudah menodai tabiat pribadinya.

 

prabowo007

 

Seperti apa misalnya?

Salah satu media menulis, Prabowo kemarin pergi umroh dan sekarang dia entah di mana… Padahal jelas dia ada di sini. Untung Gus Dur turut membantah isu tersebut. Kemarin, tanggal 1 September, kita merayakan ulang tahun istri saya. Bowo ada di sini dengan Titiek dan anaknya. Jadi apa maksud melancarkan pemberitaan yang menyudutkan itu? Ini kan sudah merusak citra pribadi dan nilai personality dia (Prabowo).

 

Mengapa tidak secara resmi dilakukan bantahan?

Saya enggak mau seakan-akan karena dia itu anak saya maka saya bela-­bela, kita hanya ingin melihat ada justice, keadilan. Harapan saya hanyalah adanya perlakuan dan tanggapan terhadap Prabowo secara adil dan lancar. Tapi mengapa asas keadilan seakan-akan jadi kabur?

Tentu saya enggak mau bilang bahwa dia itu seluruhnya benar, tapi semua salah pun saya tidak berani katakan.

 

Tapi kenapa dari keluarga Bapak seringkali tidak menggunakan hak jawab?

Karena, pertama, dalam proses ini kan Bowo terus-menerus diproses dalam DKP, kita tidak mau tambah mempersulit kedudukannya. Jangan sampai ada distorsi atas tragedi yang ada.

 

Dengan dipecatnya Bowo, bagaimana perasaan sebagai seorang ayah?

Sedih tentunya. Karena saya tahu Bowo… Dia itu kan hanya men­jalankan perintah. Sebagai militer, sulit saya untuk sepenuhnya menyalahkan dia. Kalau dia seorang sipil, jelas dia telah melanggar hak asasi manusia. Tapi kalau memang mau mengusut sesuatu, hen­daknya bersifat menyeluruh.

 

Maksud Anda?

Cari siapa dalang sesungguhnya di balik berbagai peristiwa. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Kasus Lampung, dan lainnya?

 

Kalau bicara keadilan, artinya posisi Pangti pun harus diper­tanyakan?

Iya, dong. Asal-usulnya dari sana kok. Mengapa tidak usut tuntas kasus Tanjung Priok, Lampung, dan lainnya? Siapa yang paling bertanggung jawab? Saya katakan ini bukan dengan dasar dendam atau sentimen. Saya bukan pendendam. Dulu saya jadi buronnya Bung Karno, tapi hubungan saya dengan Bu Fatmawati sangat baik. Jadi semata-mata hal ini saya lakukan karena menegakkan keadilan sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat luas.

 

Bicara soal keadilan, dalam hal DKP yang harus menggunakan norma-norma militer dalam menegakkan kehormatan perwira, kesan Anda bagaimana?

Saya sendiri kurang tahu persis apa yang terjadi. Bowo juga enggak mau banyak omong selama proses ini. Tapi kadang-kadang kan ada kebocoran juga. Bukan dari Bowo saja, tapi ada lah yang lapor. Saya ‘kan dulu mengajar di mana-mana, di Seskoad, Seskogab, Lemhanas, dan masih banyak lagi.

 

Kenyataannya, proses belum selesai tapi hukuman sudah dijatuhkan, bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Dari sudut legalitas kan segalanya sudah diserahkan pada Pangab. Apa ada kemungkinan proses pengusutan berkembang sampai ke tingkat yang lebih tinggi, jawabannya ya dan tidak. Saya merasa kemungkinan ada juga keseganan untuk meneruskan. Kalau toh dianggap secara legalitas final, secara morality sebenarnya belum final.

 

Khusus dalam kasus putra Anda, Prabowo?

Yah, kalau saudara mau bersikap kritis, coba bertanya; mengapa 9 (sembilan) aktivis yang diculik selamat semuanya, tapi yang 14 (empat belas) lainnya masih hilang sampai hari ini, apa ya mereka masih hidup?

 

Maksud Anda?

Karena yang sembilan orang itu, memang sepengetahuan Bowo dan dibebaskan dengan selamat atas kehendak Bowo pribadi.

 

Maksud katapribadi dalam kaitan ini?

Karena perintahnya tidak begitu.

 

Bagaimana perintah itu sebenarnya?

Perintahnya bukan hanya diculik, tapi mungkin lebih jauh lagi.

 

Dihabiskan maksudnya?

(Menjawab hanya dengan anggukkan kepala sambil menyimpan suatu perasaan yang terkesan sangat dalam).

 

Setahu Anda siapa yang memerintahkan Prabowo melakukan hal itu?

Siapa lagi kalau bukan seseorang yang sangat berkuasa?

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998.

 

PASANG SURUT BIDUK PAK CUM

Soebianto & Soejono

 

Kami bukan pembina candi
Kami hanya pengangkut batu
Kamilah angkatan yang mesti musnah
Agar menjelma angkatan baru
Di atas kuburan kami lebih sempurna

 

Puisi di atas ditemukan di kantung baju jasad Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo, yang tewas dalam pertempuran di daerah Serpong, Tangerang. Lettu Soebianto gugur bersama adiknya, Taruna Soejono Djojohadikusumo, dalam kontak senjata melawan tentara Jepang, yang kemudian hari dikenal sebagai “Peristiwa Lengkong”, 25 Januari 1946.

Puisi itu seperti telah meramalkan nasib yang bakal ditanggung keponakan Letnan Soebianto, yaitu Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo. Karena sebagai prajurit, Prabowo “hanya pengangkut batu”, atawa sekadar menjalankan perintah. Untuk selanjutnya Prabowo menjadi “angkatan yang mesti musnah”.

Dengan membaca puisi itu, seolah-olah ada hubungan batin antara paman dan keponakan, meski antara keduanya tidak pernah saling bertemu (Prabowo lahir 1951). Secara kebetulan, pilihan hidup mereka pun sama, yakni sebagai infanteris. Nama keduanya juga mirip, sama-sama ada unsur “Subianto”-nya.

 

makam soebianto, 1947075

 

Gugurnya dua orang adiknya dalam waktu bersamaan, dari kasus yang menimpa Prabowo, hanyalah sebagian dari badai kehidupan yang pernah menerpa Sumitro Djojohadikusumo. Pak Cum—begitu Sumitro acap dipanggil—sangatlah terpukul ketika mendengar kabar atas gugurnya kedua adiknya sekaligus. Karena sudah bertahun-­tahun mereka tidak saling jumpa.

 

Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka.

 

Pertemuan terakhir Pak Cum dengan kedua adiknya terjadi tahun 1942, menjelang Jaman Jepang, di Paris, saat Pak Cum sedang menyelesaikan studinya di Universitas Sorbonne. Pada sebuah libur­an, kedua adiknya berkesempatan menjenguknya. Ketika kedua adiknya akan kembali ke Amsterdam dengan menumpang kereta api, Pak Cum mengantarkan hingga ke Stasiun Metro Paris. Sungguh tak ada yang menduga, kalau perpisahan di stasiun kereta api Paris itu adalah pertemuan mereka yang terakhir.

Sebagai kenangan terhadap kedua adiknya, kelak Pak Cum menterakan nama keduanya pada anak-anak lelakinya. “Subianto” untuk Prabowo, dan “Sujono” untuk adik Prabowo, yaitu Hashim (lengkapnya Hashim Sujono Djojohadikusumo). Hashim lebih dike­nal sebagai pengusaha yang sukses, lewat holding Tirta Mas Group.

 

Prabowo & Hashim Kecil

 

 

Tradisi Banyumas

Sebagai orang kosmopolitan, karena sebagian besar hidupnya dihabiskannya di luar negeri, ternyata Pak Cum tetap bangga sebagai orang Banyumas. “Saya ini orang Banyumas, kalau ngomong blak­blakan,” demikian Pak Cum pada suatu kali.

Dalam budaya Jawa, Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri. Selain dialek bahasa yang berbeda, dan segi perilaku juga berbeda, dibanding kultur Jawa “pusat” Mataram (Yogya dan Solo). Perilaku Banyumasan dianggap lebih terbuka. Dari wilayah dengan kultur seperti itulah Pak Cum berasal. Pak Cum lahir di Kebumen, 28 Mei 1917.

 

Sikap keterusterangan khas Banyumasan Pak Cum, diperli­hatkannya ketika negeri ini mulai dilanda krisis berkepanjangan, sejak pertengahan tahun lalu. Menurut Pak Cum, kalau hanya kri­sis moneter, obatnya cukup aspirin. “Padahal yang diperlukan sekarang ‘obat antibiotik’ untuk menyembuhkan penyakit kronis yang terjadi di luar sektor ekonomi, seperti penyakit dalam bidang ketatanegaraan, hukum, birokrasi, dan sebagainya.” (Kompas, 11 Januari 1998).

 

Sumitro, Sjahrir, Soedjatmoko, Agus Salim

Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.

 

Pendapat Pak Cum tersebut tergolong keras. Karena semua orang tahu, walau bagaimanapun Pak Cum adalah bagian dari kekuasaan, melalui hubungan besannya dengan Presiden Soeharto. Sementara salah seorang anaknya, Prabowo, masuk dalam struktur kekuasaan (saat itu), selaku komandan pasukan elite. Kopassus.

Sikap keras yang sama, juga ditunjukkan Pak Cum di era Presiden Soekarno. Karena merasa tidak sepaham lagi dengan kebijakan politik Soekarno, yang menurut pandangan Pak Cum terlalu memberi angin pada PKI. Pak Cum memilih menyingkir dari Jakarta, untuk bergabung dengan gerakan PRRI/Permesta, di pedalaman Sumbar dan Sulut.

Padahal kalau Pak Cum mau sedikit “kompromi”. Kursi empuk di kabinet selalu tersedia untuknya. Sebagai satu-satunya doktor ekono­mi kala itu, nama Pak Cum selalu masuk nominasi. Pak Cum adalah presentasi unsur PSI yang masuk kabinet, di tengah dominasi Masyumi dan PNI.

 

prabowo005

Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 

Tak tanggung-tanggung, sikap politik Pak Cum menentang Soekarno, mendapat dukungan penuh dari ayahnya, R.M. Margono Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai pendiri Bank BNI 1946. Demi membela anaknya, R.M. Margono rela meninggalkan jabatan di peme­rintahan, selaku ketua DPA.

 

margono

 

Sebagai orang Banyumas, di benak Pak Cum selalu ada tempat bagi segala sesuatu yang berbau Banyumas. Sampai sekarang pun, jika Pak Cum akan menulis sebuah buku atau karya lainnya, yang memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih senang mengerjakan­nya di Kebumen, ketimbang di rumahnya yang asri di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain itu Pak Cum masih tercatat sebagai sesepuh Paguyuban Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), organisasi keke­rabatan warga asal Banyumas di Jakarta.

Ciri menonjol lain dari kultur Banyumas adalah tradisi kemiliterannya yang kental. Sejak lama, kawasan Banyumas (ditambah Kedu dan Bagelen), merupakan sumber rekrutmen terpenting bagi calon personel KNIL. Terlebih pusat pendidikan calon bintara KNIL terletak di Gombong, Kabupaten Kebumen. Salah seorang alumninya adalah Soeharto, kelak menjadi besan Pak Cum. Maka jika kedua adik Pak Cum dan salah seorang anaknya, menempuh jalan hidup sebagai ten­tara, ada alasan logisnya.

 

 

Begawan Ekonomi

Perjalanan hidup Pak Cum merupakan kombinasi antara karir ilmuwan dan partisipasi dalam pemerintahan. Meski sejak lama Pak Cum tidak memiliki jabatan resmi dalam pemerintahan, namun pemikiran dan pendapat Pak Cum selalu menjadi rujukan banyak pihak, termasuk kalangan pemerintah.

Di masa Orde Baru, sekembalinya dari masa “pengasingannya” (1958-1968), Pak Cum sempat dua kali dipercaya sebagai menteri. Sebagai Menteri Perdagangan pada Kabinet Pembangunan I (1968-1973), dan Menteri Negara Riset (1973-1978). Setelah lengser dari pemerintahan, Pak Cum lebih dikenal sebagai pengamat ekonomi­ politik yang tajam, dan aktif pada lembaga konsultan yang didirikan­nya dulu, Indoconsult.

Justru dalam status sebagai ilmuwan inilah posisi Pak Cum tak pernah surut. Posisinya yang sangat dihormati sebagai ilmuwan, terutama dalam disiplin ekonomi, terlihat dari julukan yang diberikan kepadanya: Begawan Ekonomi.

 

prabowo003

Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial per­nah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun.

 

Di satu sisi, julukan itu merupakan penghormatan. Namun, di sisi lain, kurang kondusif bagi wacana ilmu-ilmu sosial, dan ini yang kurang disadari. Karena segala pendapat Pak Cum dianggap sebagai keniscayaan. Itu terlihat dari tiadanya sanggahan dari ekonom­-ekonom Indonesia terhadap gagasan Pak Cum. Keengganan untuk berpolemik dengan Pak Cum, juga melanda ekonom-ekonom senior semacam Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Emil Salim. Mungkinkah keengganan mereka berargumen dengan Pak Cum kare­na ada rasa utang budi terhadap “Sang Guru”?

Bisa jadi satu-satunya orang Indonesia, yang secara esensial per­nah melontarkan kritikan terhadap pemikiran Pak Cum, adalah Semaun. Ketika dipromosikan sebagai Doctor Honoris Causa dalam bidang ekonomi, dari Universitas Padjadjaran, 31 Juli 1961, Semaun menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul “Tenaga Manusia Sebagai Postulat Teori Ilmu Ekonomi Terpimpin”.

Inti dari pidato Semaun itu merupakan kritik langsung terhadap pemikiran Sumitro, dalam bukunya Ekonomi Pembangunan (terbit 1955). Sayang ketika Semaun menus kritikannya itu, Pak Cum masih dalam masa “pengasingan” di luar negeri. Jadi Pak Cum tidak bisa merespons balik kritikan Semaun.

Setelah Orde Baru kehidupan Pak Cum tak pernah surut. Hari-hari ini cobaan pada keluarga Pak Cum, seperti datang berun­tun. Sebelum kasus Prabowo mencuat, Pak Cum sudah harus meng­hadapi kenyataan pahit, ketika salah seorang menantunya, J. Sudrajad Djiwandono secara mendadak dicopot dari jabatannya selaku Gubernur BI. Kini ditambah lagi, ketika putranya Hashim, harus beru­rusan dengan Kejaksaan Agung, dalam kasus Bank Pelita.

Kini suasana keluarga Sumitro sedang temaram. Sanggupkah klan Djojohadikusumo bangkit kembali? Kemungkinan itu masih terbuka, karena daya tahan keluarga itu menghadapi gelombang kehidupan telah teruji oleh sang waktu.

 

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998

PESAN DARI BESAN

eros-djarot

Oleh Eros Djarot

Pemimpin Redaksi Tabloid DETAK

 

 

saya secara pribadi cukup lama berpikir, percaya dan teryakinkan bahwa apa yang dilakukan Oom Cum bukanlah tindakan yang bersifat ingkar terhadap kebenaran. Sebaliknya, kesan bahwa yang dilakukannya hanyalah suatu upaya mendudukkan kebenaran

 

Menjadi besan orang yang sangat dan paling berkuasa di sebuah negara, ternyata tidak selalu menguntungkan. Apalagi ketika sang besan telah dalam posisi sebagai mantan orang paling berkuasa. Saat masih berkuasa, segan untuk berkata ‘tidak’ pada sang besan, dan pada saat kekuasaan lengser dari sang besan, yang menguat adalah perasaan ewuh pekewuh, sungkan dan Kondisi psikologis inilah yang paling tidak dirasakan oleh Profesor Sumitro Djojohadikusumo, ayah Prabowo dan mertua Titiek Soeharto.

Sebagai seorang teknokrat dan cendekiawan pengagum Andre Malraux dan Sartre, sejak putra satu-satunya yang berkarier sebagai militer menjadi sorotan publik sehubungan dengan kasus penculikan, agak sulit baginya bagaimana harus memposisikan  diri  agar masyarakat tetap memandangnya sebagai figur yang netral. Maklum, naluri seorang ayah terhadap penderitaan seorang anak tetap tak dapat mengesampingkan apa yang sering diucapkan oleh orang Jawa sebagai tega larane, ora tega patine (mungkin tega melihat sakitnya, tetapi tak mungkin tega melihat kematiannya). Itulah kira-kira yang membuat Oom Cum, panggilan akrab ayah Prabowo yang begawan ekonomi Indonesia ini, merasa terpang­gil untuk angkat bicara, mengabarkan pada seluruh rakyat Indonesia bagaimana sesungguhnya wajah kekuasaan dan penguasa yang sela­ma tiga puluh tahun hadir begitu mencekam dalam benak dan tulang sumsum rakyatnya.

 

prabowo007

 

Keberanian Oom Cum ini hendaknya dijadikan suatu langkah awal dari kemungkinan menegakkan kembali institusi moral yang sangat diperlukan oleh situasi seperti sekarang ini. Keberanian dan kejujurannya yang secara terbuka mengindikasikan keterlibatan Soeharto sehubungan kasus penculikan para aktivis, merupakan angin segar yang mungkin sangat membantu terbukanya pintu berkarat yang selama ini tertutup rapat karena digunakan sebagai pintu ruang penyimpan sejumlah misteri dan rahasia budaya kuasaan a la Soeharto selama ini.

 

Terlepas dari bobot akurasi yang terkandung di dalam setiap ungkapan dan pernyataannya sehubungan kasus siapa di balik peris­tiwa penculikan, satu hal yang perlu dicatat adalah peristiwa kebu­dayaan itu sendiri. Karena keterangan terbuka yang disampaikan de­ngan penuh cinta dan tanggung jawab terhadap anak, besan, manu­sia, dan rakyat negerinya, sungguh merupakan peristiwa kebudayaan yang perlu diabadikan dalam kaitan terobosan terhadap kebekuan dan kebisuan banyak tokoh dan pelaku sejarah

 

Sedalam dan selama apa pun bangkai disembunyikan, suatu hari baunya akan tercium juga. Begitu kata pepatah orang-orang tua kita dulu. Karenanya, bila apa yang dikatakan Oom Cum mengandung kebenaran yang hakiki, maka inilah salah satu bukti kebenaran dari nasihat para leluhur kita: hanya waktulah yang tak dapat ditaklukan oleh kebohongan. Kalau toh kebenaran dapat ditikam setiap saat, tapi ia tetap saja takkan pernah mati.

Bangkitnya kebenaran dari mati suri yang panjang biasanya selalu membawa dampak yang mengejutkan. Karena sebagai orang yang selama bertahun terkena sihir, pada saat tersadarkan biasanya men­jadi sedikit tak percaya pada apa yang selama ini terjadi maupun kenyataan yang ada di depannya sejak ia dapat dengan segala kesadarannya melihat dunia nyata dalam kenyataan sesungguhnya. Begitu pula kita pun akan merasakan hal yang sama ketika men­dengar berita tentang betapa seorang yang sangat berkuasa di negeri ini ternyata tak kuasa menguasai dirinya dalam banyak hal. Termasuk menguasai nafsu untuk terus berkuasa, walau untuk itu harus me­nempuh berbagai cara. Termasuk memangsa ‘anak’-nya sendiri.

 

prabowo004

 

Benarkah demikian kejadian sesungguhnya? Mencari kepastian jawaban ini, kembali kita dihadapkan pada keberanian untuk berada dalam kebenaran itu sendiri. Bila dalam mencari dan menegakkan kebenaran seseorang melakukannya dengan cara yang tidak benar, niscaya segalanya menjadi sia-sia. Oleh karenanya saya secara pribadi cukup lama berpikir, percaya dan teryakinkan bahwa apa yang dilakukan Oom Cum bukanlah tindakan yang bersifat ingkar terhadap kebenaran. Sebaliknya, kesan bahwa yang dilakukannya hanyalah suatu upaya mendudukkan kebenaran, kian menguat ketika dengan penuh santun dan tanggung jawab yang jauh ke depan tercermin dari setiap ucapan dan pertimbangan sehubungan dengan langkah angkat bicara yang telah diputuskan Oom Cum secara mendalam.

Terlepas dari bobot akurasi yang terkandung di dalam setiap ungkapan dan pernyataannya sehubungan kasus siapa di balik peris­tiwa penculikan, satu hal yang perlu dicatat adalah peristiwa kebu­dayaan itu sendiri. Karena keterangan terbuka yang disampaikan de­ngan penuh cinta dan tanggung jawab terhadap anak, besan, manu­sia, dan rakyat negerinya, sungguh merupakan peristiwa kebudayaan yang perlu diabadikan dalam kaitan terobosan terhadap kebekuan dan kebisuan banyak tokoh dan pelaku sejarah terhadap upaya menyampaikan kebenaran.

Karenanya selama berpuluh tahun ini, perasaan kita sebagai rak­yat seringkali terasa seperti dipermainkan oleh sementara tokoh pelaku sejarah yang memilih diam demi suatu ketidakjelasan. Bagaimana sebenarnya sejarah terjadinya Surat Perintah 11 Maret, sampai hari ini tetap dalam bingkai gelap sejarah bangsa ini. Begitu juga bagaimana persisnya peristiwa G-30-S bisa terjadi berikut sejum­lah peristiwa di balik itu, sampai hari ini pun tetap menjadi teka-teki yang setiap tahun dimunculkan oleh para peneliti dan pengamat sebagai sajian ilmiah yang tetap berada dalam kerangka pencarian tiada henti.

Dengan tampilnya Oom Cum menyampaikan apa yang ia tahu dan pahami, kita patut berharap: semoga yang lain menjadi lebih terbuka dan berani berpihak pada kebenaran. Paling tidak kebenaran yang oleh nurani, integritas dan daya jangkau intelektual kita, dapat dibenarkan. Tanpa keberanian ini niscaya bangsa ini akan berputar di tempat sehingga pusing, letih dan kehilangan segala daya geraknya.

Selanjutnya kita hanya akan menjadi bangsa yang tenggelam dan ditenggelamkan oleh berbagai ketidakjelasan dan ketidakpastian. Siapakah kita?

*) Dimuat di Tabloid DETAK No. 09/I, 8-14 September 1998

PERWIRA SEJATI DAN PERWIRA TIKUS

eros-djarot

 

Oleh Erros Djarot

Pemimpin Redaksi Tabloid DETAK

 

Seorang perwira sekelas Prabowo, yang telah dengan berani mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab atas nama kedudukannya sebagai komandan, oleh DKP ter­nyata diasumsikan bersalah hanya karena salah menerjemahkan (menganalisa) komando. Sehingga layak bila kita pun bertanya, siapa gerangan sang pemberi komando yang masih bersembunyi dalam lorong itu?

 

Seorang perwira, belum tentu berjiwa kesatria. Karena untuk mewarisi jiwa kesatria, memang tidak mudah. Minimal, se­orang kesatria harus berani mengaku bersalah pada saat melakukan kesalahan. Selainnya, selalu berani menyatakan ke­benaran, walau karena keberaniannya dirinya harus menanggung aki­bat yang paling buruk sekalipun. Maka, hanya perwira berjiwa kesatrialah yang bisa disebut sebagai perwira sejati.

Dalam dunia keperwiraan, tidak sedikit juga perwira yang berjiwa “tikus”. Hobinya hanya menggerogoti apa saja dan pandai melakukan gerakan “colong playu(lari dari tanggung jawab). Biasanya perwira “tikus” ini memiliki banyak lorong persembunyian. Termasuk menyembunyikan kebenaran maupun seluruh niat dan perbuatan jahatnya ke dalam lorong gelap peradaban. Tapi pada saat bahaya datang mengancam dirinya, bila perlu ia akan meninggalkan lorongnya—sekalipun sejumlah anak-anaknya masih tertingal di dalam. Begitulah watak dasar makhluk yang bernama tikus.

Perbuatan sanggup mengorbankan anak (buah), yang menjadi ciri dari tabiat tikus, ternyata dianut pula oleh para perwira “tikus”. Ini berbeda benar dengan perbuatan seorang perwira sejati yang rela berkorban demi kehormatan dan keutuhan anak buahnya. Seorang perwira sejati menganut falsafah hidup seorang kapten kapal; ia rela mati bersama tenggelamnya kapal. Dan, sebelum itu ter­jadi, terlebih dahulu ia perintahkan seluruh awak kapal untuk menye­lamatkan diri, kecuali dirinya.

 

Pada hakikatnya, dan ini perlu kita sepakati, seseorang melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tapi melimpahkan kesalahan hanya pada seseorang, apalagi seorang anak buah, jelas merupakan tindakan tak manusiawi, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang pengecut.

 

Ekspresi kebesaran jiwa kesatria yang membanggakan dan meng­harukan ini sebenarnya dapat kita pelajari dan resapi makna sakral­nya dengan menyediakan sedikit waktu menonton sepenggal adegan dari film Titanic garapan sutradara James Cameron. Walau hanya adegan dalam sebuah film, paling tidak rasa hormat terhadap tang­gung jawab mempertahankan harga diri dan kehormatan korps dapat kita hayati dengan segala perasaan dan kesadaran. Oleh karenanya, mungkin perlu dipertimbangkan untuk menjadikan film Titanic seba­gai tontonan wajib para perwira.

Seluruh ilustrasi di atas bisa jadi merupakan bahan yang menarik sebagai pintu masuk untuk mendalami permasalahan yang tengah dihadapi oleh Dewan Kehomatan Perwira (DKP). Karena lewat ruang ‘persidangan’ merekalah kita akan segera tahu mana perwira sejati dan mana perwira jenis “tikus”. Pada hakikatnya, dan ini perlu kita sepakati, seseorang melakukan kesalahan adalah manusiawi. Tapi melimpahkan kesalahan hanya pada seseorang, apalagi seorang anak buah, jelas merupakan tindakan tak manusiawi, yang hanya mungkin dilakukan oleh seorang pengecut.

Tapi sepandai-pandainya tikus, manusia yang cerdik pasti bisa menangkapnya. Salah satu caranya adalah dengan membuat jebakan yang diberi umpan agar sang tikus terpancing keluar dari lorong persembunyian. Cara ini, selain memerlukan kesabaran, memerlukan juga kecermatan membaca waktu dan isyarat. Inilah cara yang paling murah, sedikit risiko, dan cukup efektif bila dilakukan secara tepat. Sedangkan cara lain, misalnya dengan membakar seluruh lahan atau menebar gas beracun agar tikus-tikus keluar dari sarang persem­bunyiannya, merupakan cara yang mahal dan mengandung risiko tinggi. Salah-salah kobaran apinya justru akan melahap segalanya, atau gas beracun yang ditebarkan dapat mematikan semua yang ada.

Dalam kaitan kerja Dewan Kehormatan Perwira (DKP), menen­tukan sikap dan cara menjaring para perwira “tikus” inilah yang banyak dinantikan publik. Seorang perwira sekelas Prabowo, yang telah dengan berani mengakui kesalahan dan mau bertanggung jawab atas nama kedudukannya sebagai komandan, oleh DKP ter­nyata diasumsikan bersalah hanya karena salah menerjemahkan (menganalisa) komando. Sehingga layak bila kita pun bertanya, siapa gerangan sang pemberi komando yang masih bersembunyi dalam lorong itu? Menanti jawaban inilah yang membuat seluruh capaian kerja DKP merjadi antiklimaks bila banya berhenti sampai sebatas menyeret Prabowo ke Mahkamah Militer sekalipun.

 

prabowo-subianto-01

 

Bila pernyataan resmi ketua DKP, Jenderal Subagyo, mengarahkan kita untuk meyakini bahwa komando yang diterima Prabowo bukan berasal dari Panglima Tertinggi (Pangti) maupun Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab), maka satu jabatan yang tersisa dalam struktur organisasi TNI AD adalah lembaga Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Hanya, masalahnya, pada saat penculikan para aktivis terjadi, siapa sang jenderal berbintang empat yang duduk dalam jabatan sebagai KSAD?

 

prabowo-gatra

 

Yang membuat tanda tanya di atas menjadi lebih bermuatan mis­teri tingkat tinggi, pada saat peristiwa penculikan terjadi jabatan KSAD diduduki oleh dua jenderal berbintang empat dalam dua peri­ode waktu yang saling berbeda. Dari rumor yang berkembang maupun dari berbagai sumber yang sempat dimintai keterangan dan tanggapan, tembakan anak panah ternyata cenderung ditujukan hanya pada seorang jenderal berbintang empat.

Mengapa hanya seorang yang cenderung dituju? Jawabannya masih belum juga dapat secara pasti kita dapatkan. Kecuali bila DKP mengumumkan secara resmi siapa sang jenderal yang diasumsikan publik sebagai sang pemberi kornando. Selama hal ini tak pernah ter­jadi, ada baiknya bila semua pihak tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah.

Untuk sementara, bagi para perwira yang secara kesatria berani rnengakui perbuatan salah yang pernah dilakukannya, patut kita berikan penghargaan yang layak. Sekalipun sangat sulit menghargai perbuatan yang pernah dilakukannya. Apa pun penilaian dan vonis yang akan dijatuhkan baik oleh pihak DKP maupun oleh publik secara lepas dan bebas, ada baiknya bila segala sesuatu yang bersifat pribadi dijauhi, sejauh persoalan hukum, etik dan poilik masih ber­ada dalam ruang tanpa dinding pemisah yang pasti.

Tanpa keinginan menegakkan sikap ini, bukan tidak mungkin kita semua malah menjadi “tikus” itu sendiri.

 

*) Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid DETAK. Dicuplik dari buku Erros Djarot, dkk., Prabowo Sang Kontroversi (Jakarta: Media Kita, 2006)