Soedoet Pandang

Home » Agraria » MASYARAKAT DESA PRAKAPITALIS

MASYARAKAT DESA PRAKAPITALIS

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

Boeke

 

Oleh J.H. Boeke

 

Ketika penulis Belanda Augusta De Wit mengakhiri pelayarannya mengelilingi kepulauan Hindia, ia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan, yaitu bahwa ia telah menemukan berbagai jenis alat-alat yang dikenal oleh bangsa Eropa waktu masih kanak-kanak. Sering di dalam perjalanan ia merasa tidak melintasi ruang tapi waktu, seakan mil adalah abad dan seolah perbedaan antara kulit putih dan kulit berwarna dapat dijelaskan dengan perbedaan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat oriental dalam banyak wajah mewakili tahapan prakapitalistis pembangunan sosial pada abad kedua pertengahan Barat. Namun perbedaan yang hakiki adalah bahwa di negara-negara oriental tersebut sistem sosial prakapitalis bentrok dengan kapitalis Barat secara nyata.

 

Karena pekerjaan ekonomi pada dirinya dianggap rendah—sebagai kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, untuk menjaga kekuatan tubuh—maka orang pun harus menghormati orang-orang yang tidak mau bekerja: pengemis, fakir, orang suci…

 

Oleh karena itu, apabila kita mencoba melihat masyarakat desa oriental sebagai suatu lingkungan di mana kehidupan bagian penduduk terbesar bermula dan berakhir, dan memahami masyakakat ini dalam hubungannya dengan lingkungan mereka; pertama-tama mungkin harus dibantu dengan mendapatkan pemahaman tentang ciri-ciri masyarakat prakapitalis. Sebagai rujukan dapat dipakai apa yang dikemukakan oleh seorang ekonom dan sosiolog Werner Sombart dalam bukunya, Modern Capitalism. Buku tersebut menggambarkan kondisi masyarakat Barat zaman pertengahan sebagai berikut:

 

Para bangsawan memimpin kehidupan feodal tanpa melakukan pekerjaan ekonomis apapun, mereka adalah pemimpin perang dan pemburu. Orang-orang awam berproduksi. Orang-orang awam adalah rakyat dengan sedikit perbedaan kedudukan sosial maupun memiliki semangat kelompok yang kuat. Mereka emosional, dengan kemampuan intelektual yang kurang berkembang, tidak disiplin dan kurang memiliki rasa ketepatan. Mereka cenderung beranggapan bahwa kerja adalah kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, sedapat mungkin dijauhi dan dibatasi. Kerja mereka tidak teratur dan umumnya lambat. Cara-cara kerja mereka tradisional. Walaupun bukan tujuan tetapi nyatanya adatlah yang menentukan corak produksi. Segala yang mereka kerjakan, baik hasil individu maupun masyarakat, dikuasai oleh tradisi. Individu mula-mula merasa dirinya sebagai anggota kelompok dan dengan demikian berusaha mengetengahkan dirinya sebagai berharga, dan berupaya semaksimal mungkin untuk dikagumi oleh para anggota masyarakat. Hidup diatur secara organis, tunduk serta menyesuaikan diri dengan penguasa alam yang maha kuasa. Landasan eksistensi prakapitalis adalah hemat, ingat, dan istirahat.

 

Sketsa ini memiliki kemiripan dengan desa oriental, misalnya tentang keterbatasan cakupan kebutuhan individu yang karena penyerapan individu oleh masyarakat, mengakibatkan penundukan kegiatan ekonomi di bawah kegiatan sosial: candi lebih penting daripada rumah; prestige lebih diperhitungkan daripada kekayaan; kekuasaan lebih penting daripada keuntungan. Semua kegiatan ekonomis dapat ditelaah menurut ukuran-ukuran etis atau keagamaan. Karena pekerjaan ekonomi pada dirinya dianggap rendah—sebagai kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, untuk menjaga kekuatan tubuh—maka orang pun harus menghormati orang-orang yang tidak mau bekerja: pengemis, fakir, orang suci; setiap orang harus membantu untuk memungkinkan mereka hidup. Di sebuah desa di India yang berpenduduk kurang dari 1.800 orang, terdapat 244 orang (lebih dari 13%) yang hidup dari belas kasihan orang lain. Di Punjab pada tahun 1930 jumlah pengemis sekitar 600 ribu orang—2,5% jumlah penduduk. Kelas sosial ini 4 kali jumlah seluruh pegawai negeri di propinsi itu; dan barangkali orang-orang lebih banyak mengeluarkan uang untuk memelihara gelandangan daripada untuk administrasi pedesaan.

 

Indie

Kehidupan orang desa menatap ke belakang bukan ke depan. Sebuah desa di Bali dapat kembali ke tanah yang telah ditinggalnya selama 200 tahun, karena keluarga-keluarga yang berasal dari situ masih dapat dikenal.

 

Sementara itu kerja harus menyesuaikan diri dengan keluarga serta susunan keluarga, bukan sebaliknya. Orang yang pekerjaannya bertani atau beternak dapat hidup mandiri karena dengan jalan ini orang dapat memperoleh makanan. Setiap keluarga tani merupakan unit swasembada: produksi untuk pertukaran jarang, dan tidak wajar. Seseorang yang tidak cukup memiliki tanah atau ternak untuk memenuhi kebutuhannya serta keluarganya harus mengabdi pada suatu keluarga tani sehingga dengan demikian dapat memperoleh hak untuk bagian penghasilan tahunannya.

Karena terbatasnya luas tanah yang tersedia dan pertumbuhan penduduk maka desa menghadapi masalah keseimbangan produksi dengan konsumsi. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membentuk anak desa yang masih mengikuti tradisi induk.

Desa merupakan masyarakat alami dan bukan buatan, tidak dibutuhkan batasan yang jelas untuk konstitusi serta kewenangan badan pemerintahannya. Hanya para pemilik tanah yang dianggap anggota masyarakat pedesaan. Dalam musyawarah bukan pendapat perorangan tetapi tradisi yang memutuskan, kesepakatan condong pada orang yang paling mengetahui tentang tradisi ini. Kehidupan orang desa menatap ke belakang bukan ke depan. Sebuah desa di Bali dapat kembali ke tanah yang telah ditinggalnya selama 200 tahun, karena keluarga-keluarga yang berasal dari situ masih dapat dikenal. Seorang petani Punjab mampu mengurutkan 22 orang nenek moyang yang menghubungkannya dengan pendiri desa. Petani Cina dan Jepang hampir setiap hari berkomunikasi dengan nenek moyangnya.

 

Produksi untuk pasar di luar tidak pada tempatnya karena mengganggu imbangan antara produksi dengan konsumsi dan mengancam swasembada. Di sisi lain seandainya memiliki kekuatan untuk itu, masyarakat desa akan menghindarinya dengan cara tidak mengizinkan pedagang untuk menetap atau setidak-tidaknya mengucilkan mereka.

 

Karena pertanian swasembada dilakukan secara umum maka dalam urusan-urusan ekonomi, masyarakat prakapitalistis jauh kurang terpadu dibandingkan dengan masyarakat kapitalistis. Pembagian kerja masyarakat, produksi untuk pertukaran, saling ketergantungan ekonomi—semua ciri masyarakat modern hampir tidak ada dalam masyarakat desa. Namun kurangnya perpaduan ekonomi ini diimbangi oleh perpaduan sosial yang erat.

Bila dalam masyarakat kapitalistis setiap individu menjaga kebebasan spiritualnya sendiri, dalam masyarakat prakapitalistis setiap orang merasa menjadi bagian dari keseluruhan, menerima tradisi dan moral kelompok. Mereka hidup dengan aktifitas komunal yang penuh dengan kerjasama dan tolong-menolong. Dilihat sepintas hal ini memberikan kesan adanya semangat sosial, uluran tangan, kepatuhan, dan bahkan kebesaran jiwa: tampak bahwa setiap orang siap menyumbang untuk tugas bersama. Tapi di balik itu dalam kenyataannya tidaklah ramah, melihat fakta, dan melakukan perhitungan dengan “njlimet“. Bila dalam jangka panjang seseorang tidak menerima imbalan yang sebanding dengan pertolongan atau sumbangan “cuma-cuma” yang diberikannya, apabila orang lain kurang memenuhi kewajiban-kewajibannya maka hal ini dianggap tercela dan masyarakat desa pun menganggap hal ini tidak pada tempatnya.

Mereka yang tidak memenuhi tugas-tugas sosialnya, menempatkan dirinya sendiri di luar masyarakat maka menanggung resiko tidak mendapat pertolongan sekalipun mereka membutuhkannya.

Ada landasan komunal yang memegang para anggota desa dan mengikat mereka ke tanah. Yang pertama memiliki watak keagamaan: terdapat sebuah keramat desa; harus dibuat kurban desa, harus dilangsungkan upacara-upacara desa, sesaji desa yang diselenggarakan pada setiap tahap penggarapan tanah dan musim panen. Kedua, pembudidayaan tanaman tertentu hanya melayani produsen serta keluarganya. Produksi untuk pasar di luar tidak pada tempatnya karena mengganggu imbangan antara produksi dengan konsumsi dan mengancam swasembada. Di sisi lain seandainya memiliki kekuatan untuk itu, masyarakat desa akan menghindarinya dengan cara tidak mengizinkan pedagang untuk menetap atau setidak-tidaknya mengucilkan mereka. Ketiga, unsur psikologis-spiritual berupa ikatan kolektif masyarakat desa dengan masa lampau yang suci.

 

indie 02

Menyamakan kemakmuran dengan kekayaan adalah sikap Barat, tidak dianut oleh mereka yang patuh pada prinsip-prinsip hidup Timur. Penanaman modal dihindarkan oleh kolektif maupun individu.

 

Dalam masyarakat seperti ini peran wanita sangat penting. Lalu lintas yang ada di desa hampir semuanya di tangan wanita. Laki-laki sangat kurang tahu tentang urusan-urusan uang dan mudah dibujuk. Tetapi seandainya beras simpanan mulai menipis, suami yang ditanya akan makan dari mana, akan menjawab: “terserah istri saya”. Sebab suami petani hampir tiap hari membajak dan mencangkul, mengawasi pengairan sawahnya serta memikul beban. Sedangkan istrinya menuai, menjaga ternak, menyiapkan makan, mengurus pakaian serta membawa hasil kebun—buah-buahan dan sayur—ke pasar desa. Wanitalah yang menenun, memintal, membakar tembikar, mengumpulkan hasil hutan serta mengemudikan perekonomian rumah tangga. Tanpa bantuan wanita tak seorangpun di desa dapat hidup mandiri. Istri dan tanah merupakan hal yang hakiki.

Keempat, orientasi nonekonomis. Pamrihnya, kesediaan untuk berkorban, tanggapan serta pertimbangan nilai, tidak diilhami oleh maksud-maksud ekonomi, tetapi oleh maksud-maksud sosial dan keagamaan. Lebih senang melakukan pembuatan dan perawatan candi, pondok, alat-alat musik, dan sebagainya, daripada jalan-jalan raya dan jembatan. Menyamakan kemakmuran dengan kekayaan adalah sikap Barat, tidak dianut oleh mereka yang patuh pada prinsip-prinsip hidup Timur. Penanaman modal dihindarkan oleh kolektif maupun individu. Setiap tahun rakyat akan bekerja membuat jembatan darurat melintasi sungai yang selalu akan tersapu banjir pada musim hujan; jalan-jalan pun tidak terawat.

Terdapat perbedaan sikap yang mencolok terhadap barang milik yang bersifat produktif dengan yang bersifat konsumtif, Kecerdikan, ketekunan, ketrampilan, dan kesabaran dicurahkan untuk membuat hiasan-hiasan, senjata, pakaian untuk upacara-upacara, rumah, dsb. Betapa telaten memelihara sapi karapan, kuda, ayam aduan, dan perkutut. Tetapi terhadap modal sebagai faktor produksi dan pengganti tenaga kerja sikap orang desa tidak bersahabat. Rumah tangga desa sering mengalami kelebihan tenaga kerja; tenaga kerja dinilai rendah di desa; lantas mengapa harus memperburuk kemalangan ini dan mengguncangkan keseimbangan dengan mendatangkan modal?

 

*) Dicuplik dari buku J.H. Boeke, Prakapitalisme di Asia (Jakarta: Sinar Harapan, 1983)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: