Soedoet Pandang

Home » Tokoh » SOEBADIO SASTROSATOMO: SJAHRIR TAK BISA MENGGANTIKAN SOEKARNO

SOEBADIO SASTROSATOMO: SJAHRIR TAK BISA MENGGANTIKAN SOEKARNO

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

soebadio001

 

Menyebut nama Soebadio Sastrosatomo, tentunya orang langsung teringat pada Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia. Sebagian besar pemikiran politik dan sepak terjang Soebadio tak lepas dari pengaruh Sjahrir dan PSI. “Saya anak didik Sjahrir dan Hatta,” kata salah satu pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini.

Sosok Soebadio sesungguh­nya tak bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa ini. Pada zaman penjajah­an Jepang, pria kelahiran Pangkalanbrandan, Sumatra Utara, 1919 itu termasuk kelompok garis keras yang menentang kolonialis. Sementara itu, pada masa pendudukan Belanda, Soebadio sudah terlibat dalam gerakan kemerdekaan sejak di bangku sekolah menengah. Karena itu, dinding penjara telah menjadi pengalaman biasa bagi Soebadio. Berbagai kejadi­an penting pernah dialaminya sepanjang perjalanan sejarah republik ini.

 

Nama Soebadio Sastrosatomo kembali melejit setelah diperik­sa Kejaksaan Agung. Bukunya yang berjudul Era Baru Pemimpin Baru: Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru, dianggap bisa menimbulkan keresahan. Soalnya, dalam buku tipis yang hanya terdiri dari 25 halaman itu—termasuk pengantar—Soebadio mengkritik pemerintah Orde Baru. Tak pelak lagi, karena buku yang berisi pidato-pidatonya itu, pria yang sering dipanggil Om Kiyuk, atau Pak Kiyuk ini, dianggap melakukan tindakan subversif.

“Itu tak benar, kalau niat saya subversif, mengapa di buku itu saya cantumkan alamat jelas?” kata aktivis gaek yang masih bersuara lan­tang itu.

Selain itu, ia juga harus berurusan dengan pihak kejaksaan, ketika Ketua Umum PUDI, Sri Bintang Pamungkas, ditangkap. Soalnya, Soebadio juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pusat PUDI.

Toh, berbagai pemeriksaan dirinya tak membuat langkah Soebadio surut. “Silakan ditahan, saya tidak takut,” ujar pendiri dan anggota Politbiro Partai Sosialis tahun 1945 itu. Tapi, ternyata, setelah Soebadio dilepaskan dari pemeriksaan jaksa, belakangan sekretaris pribadinya, Buyung Rakhmat Buchori Nasution, yang harus berhadapan dengan pihak berwajib. Ia menjadi tersangka, telah mencetak buku yang menghebohkan itu.

Perjuangannya merebut kemerdekaan serta konsistensinya memperjuangkan kebebasan berpolitik dan demokrasi jugalah yang membuat Soebadio seakan tak pernah lelah berpolitik. Selain itu, pengaruh petuah Jawa dan legenda pewayangan, yang seakan melekat erat dalam diri penganut kejawen itu, agaknya ikut mempengaruhi setiap tindakannya. Apalagi, baginya, Pancasila itu berasal dari budaya Jawa—kejawen. “Budaya Jawa waktu itu berarti Hindu dan Budha, namun Budaya Jawa sekarang berarti Islam,” tuturnya menjelaskan.

Di kediamannya di Jalan Guntur 49, Jakarta, kakak kandung peng­usaha nasional Soedarpo itu menerima wartawan FORUM Lukas Luwarso dan Wahid Rahmanto untuk sebuah wawancara.

 

Buku yang Anda tulis itu tampaknya berhasil mencuatkan na­ma Anda kembali dalam jagat politik kita.

Saya menulis buku itu karena mendapat dawuh dari Gusti Allah, tapi dawuh itu konkretnya melalui Sabdo Palon. Sabdo Palon adalah penasihat Raja Brawijaya Pamungkas yang berhadapan dengan Raden Patah, dengan penasihat Sunan Kalijaga.

Sabdo Palon itu tidak puas karena Raden Patah mengkudeta Brawijaya Pamungkas, sehingga budaya Jawa yang terpengaruh Hindu-Budha berubah menjadi Islam. Namun, Sabdo Palon meramalkan bahwa 500 tahun sesudah Raden Fatah dan Sunan Kalijaga pergi ke Majapahit—budaya Jawa itu akan kembali. Yah…, pada era Soekarno dan Soeharto sekarang ini.

 

Apa kaitannya dengan buku yang Anda tulis, mengapa baru sekarang tergugah menulis?

Sebabnya, keadaan sekarang ini tak ada pemimpin. Yang ada hanya kekuasaan. Maka, saya baru menulis (buku) sekarang. Sebab, anak muda sekarang membutuhkan pemiinpin. Haus akan pernimpin.

Saya tidak ikhlas anak-anak muda dipimpin orang luar negeri, seper­ti yang terjadi pada waktu perang dingin. Yang antikomunis dipimpin CIA, yang antikapitalis dipimpin KGB. Seharusnya, bangsa kita ini yang mengarahkan orang asing.

 

Bagaimana pemeriksaan yang Anda hadapi?

Sewaktu saya diperiksa, petugasnya malah terkagum-kagum melihat curriculum vitae saya. Dia bilang, saya ini dulu orang penting. Sebab, yang membuat kabinet presidensiil menjadi Parlementer itu usaha saya. Dan yang menjadikan Sjahrir sebagai perdana menteri juga usaha saya. Waktu itu saya juga diejek oleh si Jaksa Agung. Dia katakan, “Kakek-kakek itu kok bisa menimbulkan kegegeran.” Mungkin itu memang bisa disebut mengejek. Tapi, yang terang, si kakek semangatnya masih lebih hebat.

 

Keterlibatan Soebadio menjadi pernimpin organisasi Dewan Kedaulatan Rakyat Indonesia (DKRI) memang atas per­mintaan pemuda-pemuda tersebut. Hatinya tergugah melihat anak-anak muda itu seakan kehilangan pegangan.

Rasa itu pun timbul waktu ia diundang ke sebuah seminar di Kaliurang, Yogyakarta, lima tahun lalu (1992—Red). Pembicaraan mengenai soal macetnya fungsi parpol—kemudian fungsi itu akhirnya digantikan LSM—terus mengusik hatinya. “Saya tak bisa menolak keinginan mereka, karena saat ini rakyat haus pemimpin,” katanya, sepertiyang ditulis FORUM No. 25, 24 Maret 1997.

Sebagai orang yang “taat” pada konsep jawa, Soebadio teringat apa yang disebut handayaningrat. Angon rakyat, bukan nindes rakyat. Kenyataan itu sangat dirasakannya sekarang. Setiap kali berhadapan dengan kekuasaan, pemilik kuasa itu tak pernah memimpin. Bahkan, kalau ada yang berbeda, dikatakan subversi. “Sebagai narasumber atau juru dakwah, saya tak ingin ada pemalsuan di Indonesia,” katanya. Soebadio juga menolak kalau ada anggapan yang mengatakan ia berambisi menggantikan Presiden Soeharto. “Saya tak punya pikiran seperti itu. Saya juga tak mau jadi presiden,” ujarnya. Apalagi, menurut dia, yang diminta DKRI adalah seorang pemimpin, bukan presi­den. Ia yakin, menurut paham kejawennya, semua orang yang kuasa di Jawa ini adalah keturunan Braja Pamungkas.

Demi memperjuangkan kemerdekaan dalam arti kebebasan itu, Soebadio tak takut dengan risiko apapun, termasuk ditangkap. Apalagi, sebagai pejuang dan dalam karir politiknya, Soebadio memang akrab dengan sel. Bahkan, pernikahannya dengan Maria Ulfah—menteri wanita pertama zaman Orde Lama—pun ketika ia mendekam di penjara Madiun (1962-1965).

Bisa jadi, semangat yang dimiliki lelaki yang lahir pada 26 Mei 1919 itu disebabkan getirnya kehidupan pada zaman kolonial—Belanda dan Jepang. Bukan itu saja, sejak kecil ia pun ditempa “pahit”-nya kehidupan pribadi. Ketika baru berusia 10 tahun, Soebadio ditinggal ayahnya—seorang pegawai Jawatan Garam dan Candu Negara di Sumatra Timur. Bersama ibunya, Soebadio, yang bersaudara dela­pan orang, kemudian hijrah ke Jawa. Mereka menetap di Desa Ngupit, dekat Klaten, Jawa Tengah.

Karena kedua kakak laki-lakinya tidak hidup bersama mereka, otomatis Soebadiolah yang laki-laki tertua di keluarga itu. Maka, dialah yang menggantikan peran ayahnya, mengurus kepentingan keluarga, termasuk mencari tambahan penghasilan dengan membuka warung kecil-kecilan. Tugas Soebadio membeli barang dagangan ke kota. Selain itu, perekonomian keluarga ini juga disokong kedua kakaknya dan uang pensiun.

Kendati kehidupan mereka tak berlebihan, toh sang ibu berkeingin­an melihat putra-putrinya menjadi “orang”. Maka, ia mendorong mere­ka melanjutkan pendidikan. Kalau mungkin, tak perlu terlibat dalam organisasi politik rnahasiswa, yang kala itu tengah marak.

Soebadio sendiri, setelah menyelesaikan AMS, tahun 1939 hijrah dari Yogyakarta ke Batavia untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hogeschool). Sesuai dengan pesan ibunya yang melarang Soebadio ikut berorganisasi politik, ia bergabung hanya dengan perkumpulan pemuda yang bernama USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), organisasi kebangsaan yang sama sekali tak melibatkan politik. Tapi, bakat Soebadio, yang sejak kecil senang berorganisasi, membuat pesan itu hanya bertahan selama dua tahun.

Selanjutnya, Soebadio menjadi mahasiswa Recht Hogeschool, Sekolah Tinggi Hukum. Selain itu, ia juga masuk Perkumpulan Indonesia Muda, yang lebih bisa meningkatkan kesadaran berbangsa. Kemudian, ia juga ikut menjadi pengurus Jong Islamieten Bond.

Mungkin, sudah suratan takdir kalau kemudian Soebadio tak bisa melanjutkan pendidikannya, kendati belajar ilmu hukum itu murni pilihannya sendiri. Penyebabnya, kehadiran Jepang di Tanah Air tahun 1942, yang mengakibatkan semua bentuk sekolahan ditutup. Setahun kemudian, Soebadio bekerja sebagai penerjemah dan anggota staf Komisi Bahasa Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta. Sedangkan yang menjalankan, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Sarmidi Mangunsarkoro, dan Mr. Suwandi. Soebadio menjadi asisten STA.

Dari situ, Soebadio banyak menggali pengetahuannya tentang keadaan dan kondisi masyarakat. Sebab, mereka sering berbincang­bincang soal itu. “Dalam suasana demikian, saya pertama kali mendengar nama Sjahrir,” katanya. Kedekatan Soebadio dengan Sutan Sjahrir kemudi­an tak lain karena mereka memiliki pandangan yang sama. Yaitu, tak mau orang asing, Jepang atau fasisme yang lain, ikut campur tangan di Republik ini.

Di tengah tekanan pemerintah Jepang itulah, Soebadio semakin banyak mengenal pemimpin organisasi yang mengadakan kontak dengan penguasa Jepang. Bahkan, tokoh-tokoh itu bisa rnendirikan pusat latihan pemuda. Ia sangat menyayangkan kondisi tersebut. Maka, Soebadio tak pernah bersedia diajak bergabung dengan mere­ka. Bahkan, justru melakukan manifesto demokrasi. Akibatnya, bersama dengan STA, dia ditahan. Itu pun tak membuatnya jera. “Dari semula saya tak tertarik fasisme dan militerisme,” ujarnya.

Masa-masa itu juga, Soebadio menjadi anggota Badan Permufakatan Perhimpunan Pelajar. Seperti Sjahrir, ia ikut aktif menjadi anggota ge­rakan bawah tanah melawan fasis Jepang. Karena kegiatannya itu, lagi­lagi ia masuk bui. Begitu juga STA, Dr. Soetomo, dan lainnya. Mereka baru bisa menghirup udara segar waktu Jepang mengizinkan bangsa Indonesia membuat persiapan kemerdekaan.

 

 sjahrir2

 

Tampaknya, Anda selalu kritis terhadap kekuasaan?

Saya orang yang selalu anti-fasis. Perjuangan yang saya lakukan untuk kemerdekaan berarti melawan fasisme. Setelah fasisme Jepang kalah, ada kekosongan kekuasaan. Namun, atas perintah Sekutu, Jepang diminta menegakkan law and order. Sjahrir, Hatta, Soekarno tahu akan ada Perang Pasifik dan dilanjutkan adanya kekosongan kekuasaan. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan itu, kemerdekaan itu diproklamasikan.

 

Tapi, Anda tidak hadir pada saat proklamasi kemerdekaan?

Memang, Yapeta (Yayasan Pembela Tanah Air) bilang, Badio tidak hadir waktu Proklamasi di Pegangsaan. Sementara itu, saya berprin­sip, kemerdekaan kita adalah persoalan bangsa Indonesia, jangan dicampuri oleh Jepang—si Laksamana Maeda. Penyusunan teks Proklamasi itu dilakukan di rumah Maeda. Soalnya, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tidak bisa rapat, lalu Maeda menye­diakan rumahnya. Jadi, saya yakin betul, yang merumuskan Prokla­masi itu tidak hanya Soekarno-Hatta, terutama justru Maeda. Supaya jangan muncul kesan bahwa Jepang yang kasih kemerdekaan. Tapi, juga sebaliknya, Proklamasi tetap dengan Jepang.

Buktinya, dalam teks proklamasi dikatakan, “Pemindahan kekuasaan yang diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-­singkatnya.” Itu artinya peralihan kekuasaan bukan terjadi karena aksi pemuda. Padahal yang sebenamya kemerdekaan itu direbut. Maka, saya katakan bahwa saya tidak mau hadir, karena Jepang mencampuri, khususnya Maeda.

 

Mengapa Anda menduga sejauh itu?

Dari dulu yang saya persoalkan adalah kemerdekaan, bukan kedudukan, bukan kekuasaan. Karena, bagi saya, kemerdekaan adalah jembatan emas untuk suatu masyarakat yang bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan dan kebodohan, bebas dari kehi­naan. Sedangkan di situ sudah ada Jepang.

 

Memang, bukan hanya Soebadio yang tak hadir saat itu. Sjahrir, Soekarni, dan Chaerul Saleh pun tidak datang pada hari yang berse­jarah tersebut. Padahal, seharusnya mereka datang karena aktif be­kerja untuk terciptanya Proklamasi.

Apalagi, Sjahrirlah orang pertama yang mengetahui bahwa Jepang dibom atom Sekutu, 10 Agustus 1945. Selanjutnya, tanggal 15 Agustus 1945, Soebadio mengunjungi Sjahrir, memberi tahu kabar penyerahan Jepang kepada Sekutu. Mereka pun sepakat, sudah selayaknya Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya.

 

Soekarno Soedoet 26

 

Tapi, meyakinkan Soekarno tak semudah yang diperkirakan. Soekarno tak percaya. Sedangkan Hatta merasa terikat dengan prose­dur PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sebagai orang yang dekat dengan Hata, Soebadio dan Soebianto membujuk Hatta. “Kami katakan ke Hatta, yang kami butuhkan adalah Soekarno-Hatta sebagai pemimpin, cerita Soebadio. Mengenal ketidakhadiran keempat tokoh itu, baik Soebadio, Chaerul Saleh, maupun Soekarni, tak lain disebabkan mereka menen­tang keras bunyi teks tersebut. Soalnya, kata-kata yang tertuang di situ terlalu lunak.

 

Apakah kemerdekaan yang Anda dambakan itu sekarang sudah terwujud?

Seperti saya bilang dalam buku saya. Katanya, kita sudah merdeka, nyatanya orang pada takut. Mahasiswa takut di-DO, dosen dan pegawai takut nggak naik pangkat. Merdeka apa itu? Kok, serba pada takut? Sedangkan cita-cita kemerdekaan adalah bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan dan kebodohan. Lah, sekarang ini orang pada bodoh atau dibodohkan.

 

Apakah pada zaman Soekarno tidak ada orang takut?

Zaman Soekarno kita masih dijajah. Tapi, setelah merdeka, tidak ada orang yang takut lagi. Lihat saja, orang bikin partai saja bisa. Kalau orang-orang sempat jengkel dengan Soekarno, itu biasa. Waktu sama Jepang, dia bilang “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Setelah kita memproklamasikan kemerdekaan, anak-anak muda yang bertempur di Semarang dan di Surabaya dia setop.

Saat ada rapat akbar di Ikada, orang-orangnya disuruh pulang. Jadi, anak-anak muda seperti Soekarni kesal. “Bung Karno itu maunya gimana sih?” Tapi, nyatanya, kalau Soekarno bilang setop, semua berhenti juga. Ini yang membuat Inggris kaget. Maka, kemudian Inggris setiap kali minta tolong sama Soekarno.

 

Kalau zaman sekarang kecenderungannya bagaimana?

Neokolonialis. Kapitalis kita tendang, tetapi mereka mengundang­nya lagi. Sebab, mereka mementingkan economic growth, bukan devel­opment. Peningkatan ekonomi memang tujuh persen per tahun, tetapi juga angka penganggurannya naik.

 

Dalam dirinya ada satu kekuatan yang tak dapat menolak integritas dan kejujuran Hatta. Begitu juga, karisma dalam diri Soekarno. Atas kesadaran itu, ia bertekad membangun negara dengan kekuatan dari bawah.

Bersama Sjahrir, ia ikut mendirikan Politbiro Partai Sosialis tahun 1945. Dan menjadi tokoh penting PSI untuk selanjutnya, sampai partai itu dibubarkan tahun 1963. Pengetahuannya yang mendalam tentang Marxisme dan Leninisme menjadikan Soebadio menjadi tempat bertanya bagi kawan-kawan. Di samping itu, sebagai pemimpin teras partai, sampai 1960, berba­gai jabatan pun sempat disandangnya. Antara lain sebagai Ketua Fraksi Partai Sosialis Indonesia, anggota Parlemen Republik Indo­nesia Serikat, dan Ketua Fraksi PSI dalam parlemen. Keterlibatannya yang intens tersebut telah membawa Soebadio berkesempatan berke­nalan dengan tokoh-tokoh sosialis Eropa.

 

soebadio

 

PSI dulu menyebut diri sebagai partai kader, apa yang membedakan dengan partai lainnya?

Itu sama saja dengan mempertanyakan apa bedanya Sjahrir-Hatta dengan Soekarno. Sjahrir-Hatta itu mengutamakan kerakyatan, kebangsaan. Soekarno mengutamakan teori, dalam bahasa Belandanya, Machtvorming, rnenyusun kekuatan untuk dipakai.

Soekarno itu inginnya one party system: PNI. Tapi, begitu Sjahrir berkuasa, segera diumumkan rakyat boleh mendirikan partai. Sampai Sjahrir menjadi perdana menteri itu yang banyak mempersiapkan saya. Tapi, Sjahrir nggak mau menggantikan Soekarno, tidak bisa. Sebab, siapa yang kenal Sjahrir? Semua orang kenal Soekarno-Hatta, sebab Soekarno mengunakan masa kependukan Jepang untuk memperkenalkan diri pada rakyat. Sedangkan Sjahrir hanya menulis Perjoangan Kita.

Nah, dulu, sewaktu PNI dibubarkan, Sjahrir mendirikan PNI Baru, Pendidikan Nasional Indonesia. Maksudnya, orang itu jangan hanya kena agitasi. Sebab, kalau dengan agitasi, saat Bung Karno wafat, tak ada kader yang meneruskannya. Lha, kalau Sjahrir atau Hatta wafat, masih ada Soebadio, yang mempelajari. Jadi, yang penting adalah mendidik orang, bukan menghasut orang. Itulah sebabnya ketika anak-anak muda menginginkan saya memimpin, keinginan saya adalah mendidik mereka. Saya ini didikan Sjahrir-Hatta, yang lebih mementingkan pendidikan daripada menghasut.

Karena dididik, zonder duit, zonder apa pun, meskipun partai dibubarkan, saya tidak berhenti berjuang. Zaman kolonial, sebelum ada partai, saya juga berjuang. Jadi, pendidikan itu penting dalam arti untuk mendewasakan rakyat.

 

Siapa yang lebih Anda idolakan, Soekarno, Hatta, atau Sjahrir?

Ketiga-tiganya. Soekarno mementingkan kekuasaan, tapi ia seorang agitator yang hebat. Sedangkan Hatta-Sjahrir mengutamakan value system, nilai-nilai.

 

soekarno hatta sjahrir

 

Sayangnya, hubungan “mesra” dengan Soekarno tak berjalan mulus. Tahun 1960, PSI dibubarkan. Partai Komunis mulai menebarkan pengaruhnya. Seiring dengan memanasnya situasi politik, fitnah dan intrik politik merajalela. Soebadio tak luput dari sasaran fitnah. Tahun 1962, bersama dengan tokoh politik lainnya yang kritis terhadap pemerintahan Soekarno dan anti-PKI, Soebadio dijebloskan ke panjara. Selama lima tahun meng­huni penjara Madiun, toh tak pernah terlintas dalam benak Soebadio untuk membenci Soekarno.

Zaman berganti. Mun­culnya Orde Baru mem­bawa angin segar dalam kancah politik nasional. Soebadio kembali menik­mati angin kebebasan. Pada masa ini bisa dibilang periode tenang dan kehi­dupan Soebadio. Pada ma­sa ini pula ia sempat me­nunaikan ibadah haji ber­sama istrinya, Maria Ulfah atau Itje, yang juga bekas menteri sosial pada zaman Orde Lama.

Namun, pembawaannya sebagai orang politik me­nyebabkan Soebadio tak bisa tidak melibatkan diri dalam proses politik, yang dirasakannya bertentangan dengan prinsipnya. Kali ini, kembali ia menerima akibatnya. Peristiwa MaIari, 1974, kembali menyeret Soebadio ke pintu penjara. Soebadio dituduh mendalangi demonstransidemonstrasi mahasiswa. Hanya karena kegiatannya aktif berceramah di depan aktivis mahasiswa di Universitas Padjadjaran, IKIP, dan ITB.

Masih dalam tema demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan, saat itu Soebadio banyak melemparkan kritik tajam terhadap pelaksanaan Pembangunan, yang menimbulkan jurang ketidakadilan, serta proses politik yang kurang demokratis. Buah pikiran Soebadio itulah yang dijadikan alasan untuk menyeretnya ke tahanan militer. Selama 808 hari dalam tahanan, kakak kandung pengusaha Soedarpo ini akhirnya dibebaskan.

Saat pemeriksaan itu, ia juga diminta bertanggung jawab mengenai program nasional PSI. “Saya katakan, saya tak bisa bertanggung jawab terhadap mayat. PSI sudah mati,” katanya.

PSI memang sudah mati, tapi Soebadio menganggap pemikirannya tetap jalan. Dan tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk membangkitkan partai tersebut. Di kediamannya, Jalan Guntur, tokoh tua ini masih menjadi tempat bertanya anak-anak muda. (Irawati)

 

*)  Dicuplik dari Majalah FORUM No. 26/V, 7 April 1997, dengan judul asli “Saya Tidak Berambisi Menggantikan Soeharto”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: