Soedoet Pandang

Home » 2013 » November

Monthly Archives: November 2013

Arsip Rubrik Lainnya

POPULER

MASYARAKAT DESA PRAKAPITALIS

Boeke

 

Oleh J.H. Boeke

 

Ketika penulis Belanda Augusta De Wit mengakhiri pelayarannya mengelilingi kepulauan Hindia, ia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan, yaitu bahwa ia telah menemukan berbagai jenis alat-alat yang dikenal oleh bangsa Eropa waktu masih kanak-kanak. Sering di dalam perjalanan ia merasa tidak melintasi ruang tapi waktu, seakan mil adalah abad dan seolah perbedaan antara kulit putih dan kulit berwarna dapat dijelaskan dengan perbedaan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat oriental dalam banyak wajah mewakili tahapan prakapitalistis pembangunan sosial pada abad kedua pertengahan Barat. Namun perbedaan yang hakiki adalah bahwa di negara-negara oriental tersebut sistem sosial prakapitalis bentrok dengan kapitalis Barat secara nyata.

 

Karena pekerjaan ekonomi pada dirinya dianggap rendah—sebagai kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, untuk menjaga kekuatan tubuh—maka orang pun harus menghormati orang-orang yang tidak mau bekerja: pengemis, fakir, orang suci…

 

Oleh karena itu, apabila kita mencoba melihat masyarakat desa oriental sebagai suatu lingkungan di mana kehidupan bagian penduduk terbesar bermula dan berakhir, dan memahami masyakakat ini dalam hubungannya dengan lingkungan mereka; pertama-tama mungkin harus dibantu dengan mendapatkan pemahaman tentang ciri-ciri masyarakat prakapitalis. Sebagai rujukan dapat dipakai apa yang dikemukakan oleh seorang ekonom dan sosiolog Werner Sombart dalam bukunya, Modern Capitalism. Buku tersebut menggambarkan kondisi masyarakat Barat zaman pertengahan sebagai berikut:

 

Para bangsawan memimpin kehidupan feodal tanpa melakukan pekerjaan ekonomis apapun, mereka adalah pemimpin perang dan pemburu. Orang-orang awam berproduksi. Orang-orang awam adalah rakyat dengan sedikit perbedaan kedudukan sosial maupun memiliki semangat kelompok yang kuat. Mereka emosional, dengan kemampuan intelektual yang kurang berkembang, tidak disiplin dan kurang memiliki rasa ketepatan. Mereka cenderung beranggapan bahwa kerja adalah kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, sedapat mungkin dijauhi dan dibatasi. Kerja mereka tidak teratur dan umumnya lambat. Cara-cara kerja mereka tradisional. Walaupun bukan tujuan tetapi nyatanya adatlah yang menentukan corak produksi. Segala yang mereka kerjakan, baik hasil individu maupun masyarakat, dikuasai oleh tradisi. Individu mula-mula merasa dirinya sebagai anggota kelompok dan dengan demikian berusaha mengetengahkan dirinya sebagai berharga, dan berupaya semaksimal mungkin untuk dikagumi oleh para anggota masyarakat. Hidup diatur secara organis, tunduk serta menyesuaikan diri dengan penguasa alam yang maha kuasa. Landasan eksistensi prakapitalis adalah hemat, ingat, dan istirahat.

 

Sketsa ini memiliki kemiripan dengan desa oriental, misalnya tentang keterbatasan cakupan kebutuhan individu yang karena penyerapan individu oleh masyarakat, mengakibatkan penundukan kegiatan ekonomi di bawah kegiatan sosial: candi lebih penting daripada rumah; prestige lebih diperhitungkan daripada kekayaan; kekuasaan lebih penting daripada keuntungan. Semua kegiatan ekonomis dapat ditelaah menurut ukuran-ukuran etis atau keagamaan. Karena pekerjaan ekonomi pada dirinya dianggap rendah—sebagai kejahatan yang terpaksa harus dilakukan, untuk menjaga kekuatan tubuh—maka orang pun harus menghormati orang-orang yang tidak mau bekerja: pengemis, fakir, orang suci; setiap orang harus membantu untuk memungkinkan mereka hidup. Di sebuah desa di India yang berpenduduk kurang dari 1.800 orang, terdapat 244 orang (lebih dari 13%) yang hidup dari belas kasihan orang lain. Di Punjab pada tahun 1930 jumlah pengemis sekitar 600 ribu orang—2,5% jumlah penduduk. Kelas sosial ini 4 kali jumlah seluruh pegawai negeri di propinsi itu; dan barangkali orang-orang lebih banyak mengeluarkan uang untuk memelihara gelandangan daripada untuk administrasi pedesaan.

 

Indie

Kehidupan orang desa menatap ke belakang bukan ke depan. Sebuah desa di Bali dapat kembali ke tanah yang telah ditinggalnya selama 200 tahun, karena keluarga-keluarga yang berasal dari situ masih dapat dikenal.

 

Sementara itu kerja harus menyesuaikan diri dengan keluarga serta susunan keluarga, bukan sebaliknya. Orang yang pekerjaannya bertani atau beternak dapat hidup mandiri karena dengan jalan ini orang dapat memperoleh makanan. Setiap keluarga tani merupakan unit swasembada: produksi untuk pertukaran jarang, dan tidak wajar. Seseorang yang tidak cukup memiliki tanah atau ternak untuk memenuhi kebutuhannya serta keluarganya harus mengabdi pada suatu keluarga tani sehingga dengan demikian dapat memperoleh hak untuk bagian penghasilan tahunannya.

Karena terbatasnya luas tanah yang tersedia dan pertumbuhan penduduk maka desa menghadapi masalah keseimbangan produksi dengan konsumsi. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan membentuk anak desa yang masih mengikuti tradisi induk.

Desa merupakan masyarakat alami dan bukan buatan, tidak dibutuhkan batasan yang jelas untuk konstitusi serta kewenangan badan pemerintahannya. Hanya para pemilik tanah yang dianggap anggota masyarakat pedesaan. Dalam musyawarah bukan pendapat perorangan tetapi tradisi yang memutuskan, kesepakatan condong pada orang yang paling mengetahui tentang tradisi ini. Kehidupan orang desa menatap ke belakang bukan ke depan. Sebuah desa di Bali dapat kembali ke tanah yang telah ditinggalnya selama 200 tahun, karena keluarga-keluarga yang berasal dari situ masih dapat dikenal. Seorang petani Punjab mampu mengurutkan 22 orang nenek moyang yang menghubungkannya dengan pendiri desa. Petani Cina dan Jepang hampir setiap hari berkomunikasi dengan nenek moyangnya.

 

Produksi untuk pasar di luar tidak pada tempatnya karena mengganggu imbangan antara produksi dengan konsumsi dan mengancam swasembada. Di sisi lain seandainya memiliki kekuatan untuk itu, masyarakat desa akan menghindarinya dengan cara tidak mengizinkan pedagang untuk menetap atau setidak-tidaknya mengucilkan mereka.

 

Karena pertanian swasembada dilakukan secara umum maka dalam urusan-urusan ekonomi, masyarakat prakapitalistis jauh kurang terpadu dibandingkan dengan masyarakat kapitalistis. Pembagian kerja masyarakat, produksi untuk pertukaran, saling ketergantungan ekonomi—semua ciri masyarakat modern hampir tidak ada dalam masyarakat desa. Namun kurangnya perpaduan ekonomi ini diimbangi oleh perpaduan sosial yang erat.

Bila dalam masyarakat kapitalistis setiap individu menjaga kebebasan spiritualnya sendiri, dalam masyarakat prakapitalistis setiap orang merasa menjadi bagian dari keseluruhan, menerima tradisi dan moral kelompok. Mereka hidup dengan aktifitas komunal yang penuh dengan kerjasama dan tolong-menolong. Dilihat sepintas hal ini memberikan kesan adanya semangat sosial, uluran tangan, kepatuhan, dan bahkan kebesaran jiwa: tampak bahwa setiap orang siap menyumbang untuk tugas bersama. Tapi di balik itu dalam kenyataannya tidaklah ramah, melihat fakta, dan melakukan perhitungan dengan “njlimet“. Bila dalam jangka panjang seseorang tidak menerima imbalan yang sebanding dengan pertolongan atau sumbangan “cuma-cuma” yang diberikannya, apabila orang lain kurang memenuhi kewajiban-kewajibannya maka hal ini dianggap tercela dan masyarakat desa pun menganggap hal ini tidak pada tempatnya.

Mereka yang tidak memenuhi tugas-tugas sosialnya, menempatkan dirinya sendiri di luar masyarakat maka menanggung resiko tidak mendapat pertolongan sekalipun mereka membutuhkannya.

Ada landasan komunal yang memegang para anggota desa dan mengikat mereka ke tanah. Yang pertama memiliki watak keagamaan: terdapat sebuah keramat desa; harus dibuat kurban desa, harus dilangsungkan upacara-upacara desa, sesaji desa yang diselenggarakan pada setiap tahap penggarapan tanah dan musim panen. Kedua, pembudidayaan tanaman tertentu hanya melayani produsen serta keluarganya. Produksi untuk pasar di luar tidak pada tempatnya karena mengganggu imbangan antara produksi dengan konsumsi dan mengancam swasembada. Di sisi lain seandainya memiliki kekuatan untuk itu, masyarakat desa akan menghindarinya dengan cara tidak mengizinkan pedagang untuk menetap atau setidak-tidaknya mengucilkan mereka. Ketiga, unsur psikologis-spiritual berupa ikatan kolektif masyarakat desa dengan masa lampau yang suci.

 

indie 02

Menyamakan kemakmuran dengan kekayaan adalah sikap Barat, tidak dianut oleh mereka yang patuh pada prinsip-prinsip hidup Timur. Penanaman modal dihindarkan oleh kolektif maupun individu.

 

Dalam masyarakat seperti ini peran wanita sangat penting. Lalu lintas yang ada di desa hampir semuanya di tangan wanita. Laki-laki sangat kurang tahu tentang urusan-urusan uang dan mudah dibujuk. Tetapi seandainya beras simpanan mulai menipis, suami yang ditanya akan makan dari mana, akan menjawab: “terserah istri saya”. Sebab suami petani hampir tiap hari membajak dan mencangkul, mengawasi pengairan sawahnya serta memikul beban. Sedangkan istrinya menuai, menjaga ternak, menyiapkan makan, mengurus pakaian serta membawa hasil kebun—buah-buahan dan sayur—ke pasar desa. Wanitalah yang menenun, memintal, membakar tembikar, mengumpulkan hasil hutan serta mengemudikan perekonomian rumah tangga. Tanpa bantuan wanita tak seorangpun di desa dapat hidup mandiri. Istri dan tanah merupakan hal yang hakiki.

Keempat, orientasi nonekonomis. Pamrihnya, kesediaan untuk berkorban, tanggapan serta pertimbangan nilai, tidak diilhami oleh maksud-maksud ekonomi, tetapi oleh maksud-maksud sosial dan keagamaan. Lebih senang melakukan pembuatan dan perawatan candi, pondok, alat-alat musik, dan sebagainya, daripada jalan-jalan raya dan jembatan. Menyamakan kemakmuran dengan kekayaan adalah sikap Barat, tidak dianut oleh mereka yang patuh pada prinsip-prinsip hidup Timur. Penanaman modal dihindarkan oleh kolektif maupun individu. Setiap tahun rakyat akan bekerja membuat jembatan darurat melintasi sungai yang selalu akan tersapu banjir pada musim hujan; jalan-jalan pun tidak terawat.

Terdapat perbedaan sikap yang mencolok terhadap barang milik yang bersifat produktif dengan yang bersifat konsumtif, Kecerdikan, ketekunan, ketrampilan, dan kesabaran dicurahkan untuk membuat hiasan-hiasan, senjata, pakaian untuk upacara-upacara, rumah, dsb. Betapa telaten memelihara sapi karapan, kuda, ayam aduan, dan perkutut. Tetapi terhadap modal sebagai faktor produksi dan pengganti tenaga kerja sikap orang desa tidak bersahabat. Rumah tangga desa sering mengalami kelebihan tenaga kerja; tenaga kerja dinilai rendah di desa; lantas mengapa harus memperburuk kemalangan ini dan mengguncangkan keseimbangan dengan mendatangkan modal?

 

*) Dicuplik dari buku J.H. Boeke, Prakapitalisme di Asia (Jakarta: Sinar Harapan, 1983)

PRABOWO: SAYA MENJUNJUNG TINGGI KONSTITUSI

 

Prabowo 00

 

Demi Allah, saya tidak pernah mengucapkan Presiden apa Anda? Anda naif. Juga saya tidak mengucapkan, Atas nama ayah saya Prof. Sumitro…’ Apa hubungan ayah saya dengan semua itu? kata Prabowo Subianto (55), mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan. Darat, di ruang kerjanya di kompleks Bidakara, Rabu (27/9/2006).

 

Berbicara teratur dan tenang, Letjen (Purn.) Prabowo Subianto yang kini menjadi pengusaha dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia itu menjawab perta­nyaan Kompas seputar buku mantan Presiden B.J. Habibie, Detik-detik yang Menentukan, yang diluncurkan Sabtu (16/9/2006).

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah dialog B.J. Habibie, yang menjadi presiden menggantikan Soeharto yang mundur pada 21 Mei 1998, dengan Prabowo.

Disebutkan, alasan Habibie mengganti Prabowo karena mendapat laporan dari Pangab Jenderal Wiranto ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan (tempat tinggal Habibie dan keluarga), dan Istana Merdeka. Bagian dialog di atas, menurut Prabowo, tidak sesuai dengan apa yang dia alami.

“Tulisan yang saya baca di Kompas (20/9/2006), lalu saya baca bukunya, itu menurut versi Pak Habibie. Setiap orang memiliki hak menyampaikan versinya. Tetapi, karena menyangkut pihak lain, tentunya saya boleh menyampaikan versi saya,” kata Prabowo.

 

Prabowo Habibie 02

 

“Dia orang yang saya hormati, kagumi, yang saya anggap bapak saya.”

 

“Apa yang saya lihat tidak sesuai dengan yang beliau uraikan. Mungkin karena beliau sudah sepuh dan (kejadian) sudah berlangsung lama. Beliau sampaikan dalam kalimat langsung. Ini merugikan, karena saya tidak mengucapkan itu,” ujarnya.

Prabowo menyebutkan, sampai saat ini dia tidak mengerti tujuan penulisan itu. “Dia orang yang saya hormati, kagumi, yang saya anggap bapak saya. Tetapi, ada insinuasi seolah-olah saya kurang ajar,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, dia sudah meminta waktu bertemu Habibie untuk menanyakan hal ini, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban.

 

Intuisi: Lalu, apa yang terjadi?

Prabowo menuturkan, Jumat 22 Mei 1998, dia mendapat laporan dari stafnya, Pataka Kostrad yang merupakan lambang kepemimpinan komando kesatuan akan diambil. Itu berarti komandan akan diganti. “Kok, tidak ada pemberitahuan kepada saya?” kata Prabowo.

Prabowo menggambarkan, hubungannya cukup dekat dengan Habibie ketika itu. Dia mengagumi Habibie saat menjadi Menteri Negara Ristek karena dia anggap Habibie dapat membawa Indonesia menjadi negara industri maju. “Beliau sering mengatakan kepada saya, bila saya mengalami tanda tanya, silakan datang kepada beliau. Itulah reaksi saya ketika datang ke Istana,” tutur Prabowo.

Seusai shalat Jumat, sekitar pukul 14.00 WIB tanggal 22 Mei 1998, dia datang dengan dua kendaraan ke Wisma Negara. Satu dinaiki Prabowo, dan satu kendaraan pengawal. Dia menemui ajudan Presiden untuk minta bertemu Presiden.

 

Prabowo Habibie

 

dia mengatakan yang meminta saya mundur adalah negara superpower

 

“Saya orangnya naif dan polos-polos saja. Kalau saya lihat sekarang, mungkin mereka tegang lihat saya datang dan saat itu banyak pengawal di sana.”

“Saya datang dengan pakaian loreng, pakai kopel, dan bawa senjata. Saya melepas kopel dan senjata saya karena itu etika dalam militer,” papar Prabowo.

Begitu bertemu, menurut Prabowo, Habibie mengatakan penggantian itu keputusannya. “Anehnya, beliau mengatakan penggantian itu atas permintaan Pak Harto,” kata Prabowo.

Jawaban Habibie berubah lagi ketika Prabowo menemui Habibie di rumahnya di Jerman tahun 2004 sebelum Konvensi Golkar untuk membuat klarifikasi atas pernyataan Habibie—antara lain di depan para editor media Jerman di Asia—seolah-olah Prabowo akan melakukan kudeta.

“Saya bertemu Habibie di rumahnya. Siangnya kami makan di rumah makan China, lalu dia mengajak ke rumahnya. Kami bertemu dari pukul 13.00 sampai 23.00. Saya jelaskan semua dan dia mengatakan yang meminta saya mundur adalah negara superpower,” paparnya.

Prabowo mengakui, dia memang sempat merasa karena kedekatannya, Habibie akan memakai dia. “Saya ingin melihat transisi yang smooth, smooth landing untuk Pak Harto karena beliau juga orang yang dibesarkan Pak Harto, dan demi bangsa kita. Jangan lupa, ketika itu ekonomi kita hancur, nilai rupiah hancur, terjadi capital flight,” tuturnya menjelaskan.

Prabowo mengatakan sudah menyadari dari sejarah, jika seorang pemimpin turun, semua yang dekat dengan pemimpin itu juga akan turun. “Saya punya intuisi saya akan diganti, tetapi itu biasa saja,” kata Prabowo. “Saya menjunjung tinggi konstitusi dan saya tidak mengeluh atas keputusan presiden (untuk mundur malam itu juga dari jabatan Panglima Kostrad).”

 

Benar saya kecewa dan menyesalkan, tetapi mari melihat ke depan. Banyak pekerjaan harus dilakukan daripada pemimpinnya saling mencela dan meminta pujian.

 

 

Tentang Kudeta

Juga insinuasi di dalam buku seolah-olah dia akan kudeta, dia pernah menulis suratkepada Habibie menjelaskan soal ini dan Habibie tidak pernah membantah penjelasannya.

Permintaan Prabowo agar penggantiannya ditunda tiga bulan lagi adalah untuk memperlihatkan pergantian pemimpin itu biasa dan dapat berjalan mulus. Ketika Habibie memutuskan dia harus diganti malam itu juga, dia menerima tanpa mengeluh.

“Bandingkan dengan kejadian di Thailand. Thaksin memberhentikan panglima angkatan darat, bukannya dilaksanakan, malah dikudeta,” ujar Prabowo. “Kalau betul tuduhan niat saya tidak baik, saya saat itu memimpin 34 batalyon. Saya bisa lakukan dan kenapa saya harus datang sendirian kepada beliau.”

 

Habibie - Buku Detik2

 

Yang tidak disebutkan dalam buku, Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB Prabowo bertemu Habibie. Mereka berpelukan dan Prabowo menyerahkan pernyataan dukungan 44 ormas Islam kepada Habibie. Namun, situasi berubah cepat keesokan paginya.

Di luar itu, semua asisten Prabowo di Kostrad berada di bawah komando Panglima Komando Daerah Militer Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.

 

Tidak ingin Dendam

Ditanya apakah akan menuntut secara hukum, Prabowo mengatakan akan berbicara dengan tim hukumnya. Dia mempertimbangkan menulis buku.

“Saya melihat dari sisi positif. Pergantian itu karena pertimbangan politik, saya dianggap dekat dengan keluarga Soeharto. Itu hak beliau sebagai Presiden,” katanya menam­bahkan.

Dia mengatakan tidak ingin mendendam atau sakit hati. “Benar saya kecewa dan menyesalkan, tetapi mari melihat ke depan. Banyak pekerjaan harus dilakukan daripada pemimpinnya saling mencela dan meminta pujian. Masalah kita sangat besar, flu burung, pengangguran, kemiskinan, sumber daya alam dikuasai asing. Jadi, setelah 61 tahun merdeka, kita tetap miskin.”

 

*) Dimuat Harian Kompas, 28 September 2006 dengan judul asli “Prabowo: Saya Merasa Dirugikan…”

PIALA DUNIA ‘82 DAN LANDREFORM

gusdur muda

Oleh Abdurrahman Wahid


baik perebutan Piala Dunia 1982, maupun perebutan tanah lahan pertanian sepanjang masa, selalu dimenangkan oleh ‘tim negatif’.

 

Sungguh mati, kawan satu ini membuat bingung orang. Ia mengajukan teka-teki aneh: apakah persamaan antara perebutan Piala Dunia sepakbola untuk tahun 1982 ini dan landreform?

Siapa tidak garuk-garuk kepala mencari hubungan antara dua hal yang begitu berbeda itu.

Menurut jenius kampungan ini (dan semua jenius memang kampungan), ada satu watak pertandingan-pertandingan ‘Mundial 1982’ di Spanyol sekarang. Yakni menangnya pola ‘bermain bola negatif’.

 

World Cup 1982 Logo

 

Contohnya: Bagaimana mungkin kesebelasan Jerman Barat, yang harus main sabun untuk bisa lolos ke putaran kedua, setelah kalah dari kesebelasan tingkat sedang Aljazair, dan hanya mampu mencapai semifinal karena perbedaan selisih gol, kenapa kesebelasan macam itu bisa memiliki peluang sangat besar untuk jadi juara?

Italia juga bermain negatif, dan itu dilakukannya dengan Cattenaccio. Ia cenderung mencari kelemahan lawan, lantas mempertaruhkan serangan balik sebagai kelebihan.

Demikianlah, siapa pun yang jadi juara ‘Mundial 1982’ tidak akan mampu mengangkat keharuman sepakbola sebagai seni. Piala Dunia menurun kualitasnya, menjadi industri pertukangan. Yang berlaku adalah sikap negatif: menahan gedoran lawan sambil mengintai kelemahan lawan.

 

Piala Dunia 1982

 

Nah, siapa bilang itu tidak sama dengan keadaan landreforrn? Pihak tuan-tanah yang memiliki lahan pertanian luas (apakah itu perorangan, ‘keluarga besar’ maupun perusahaan raksasa multi-nasional), tidak pernah ‘menyerang’ dengan sikap positif, mengajukan gagasan-gagasan berharga untuk menjamin keadilan penguasaan tanah sebagai unit produksi. Yang diambil adalah sikap negatif: tunggu saja gedoran kekuatan politik yang menghendaki penataan kembali pola pemilikan dan penguasaan tanah. Nanti toh akan ada kelemahannya.

Kalau landreform dilakukan secara sentralistis, banyak ‘kemenangan’ dicapai tuan-tanah melalui lubang-lubang peraturan dan cara kerja yang dianut birokrasi pemerintahan yang melaksanakan landreform itu sendiri. Kalau didesentralisasikan, dengan jalan diserahkan kepada lembaga tingkat desa seperti LMD, ‘wakil-wakil rakyat’ di tingkat desa itu akan dibeli dan diteror.

Bukankah lalu mudah sekali dikandaskan cita-cita mulia membagi kembali tanah pertanian, dan dicapai kemenangan di pihak tuan-tanah? Begitulah yang dikatakan kawan sang jenius kampungan: baik perebutan Piala Dunia 1982, maupun perebutan tanah lahan pertanian sepanjang masa, selalu dimenangkan oleh ‘tim negatif’.

Lalu, apa gunanya dibuka kotakpos baru ‘khusus untuk urusan agraria’? Entahlah, yang jelas tidak banyak yang dapat diperbuat para pejabat di bidang agraria, kalaupun masih ingin berbuat sesuatu bagi kepentingan masyarakat. Perangkat peraturan tentang tanah belum memungkinkan, karena UU Pokok Agraria dan UU Pokok Bagi Hasil belum ‘diberi gigi’ institusional dan hukum.

 

*) Dimuat di Majalah TEMPO, No. 20/XII, 17 Juli 1982

PRABOWO: TAK ADA PRAJURIT YANG MAU MATI KARENA UANG

 bowo

Namanya berkibar tak hanya di kalangan prajurit baret merah. Rakyat Timor Timur pun sangat kagum pada komandan yang selalu memperhatikan kesejahteraan anak buahnya itu. Tapi ia menolak kalau dianggap sering royal demi loyalitas anggota pasukannya. Soalnya, di mata Brigjen TNI Prabowo Subianto, tak seorang pun tentara yang mau mati demi uang.

Atau dengan kata lain, nyawa tentara hanya layak ditu­kar dengan kesetiaan kepada negara. Banyak ragam pendapat memang, tentang pangkat dan jabatannya yang cepat meroket. Pandangan yang positif menyebutkan, Komandan Kopassus yang baru diangkat menggantikan Brigjen TNI Subagio itu memang sangat layak menjadi jenderal karena kemampuannya. Tapi, ada juga suara minor yang menghu­bungkan karier Prabowo karena ia menantu Presiden.

Tahun demi tahun terus berlalu. Bersama itu pula, satu demi satu lahir jenderal baru. Seperti yang terjadi pada 1 Desember 1995, lahir seorang jenderal yang selama ini menjadi perbincangan banyak kalangan. Dialah Brigjen Prabowo Subianto, lulusan Akabri tahun 1974 yang dipromosikan menjadi Komandan Pasukan Khusus ke-15, menggantikan pendahulunya, Brigjen TNI Subagio Hadisiswoyo.

Menjadi Komandan Kopassus, yang rata-rata berlangsung satu sampai lima tahun, memang bukan hal luar biasa. Tapi, ketika Prabowo hadir di puncak pimpinan Pasukan Baret Merah, terasa ada nuansa “lain”. Itu bukan hanya karena lelaki kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951, itu meru­pakan salah satu putra “Begawan Ekonomi” Profesor Sumitro Djojohadikusumo. Juga bukan lantaran ia menikahi Siti Hediyati Heriyadi Soeharto, salah seorang putri Presiden Soeharto.

Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Lebih dari itu, karena Prabowo memang memiliki “nilai lebih” dibandingkan dengan para perwira seangkatannya. Perkara kelebihannya itu bukan hanya diungkapkan oleh para prajurit yang menjadi anak buahnya, tapi juga oleh banyak perwira tinggi yang pernah menjadi komandannya. Bahkan, pujian sebagai prajurit yang berani dan cerdas pun banyak mengalir dari kalangan sipil. “Prabowo itu prajurit yang meyakinkan,” ujar Komandan Kodiklat AD, Mayjen Hendro Priyono. Alasannya, pada diri Prabowo terintegritas unsur intelektual, ketangkasan, dan mental yang kualitasnya tinggi. Dedikasinya 100. “Sudah deh, untuk saat ini tak ada yang lebih pantas selain dia,” kata Hendro, yang mengaku kenal Prabowo sejak taruna.

“Puja-puji” semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru. Hal itu sudah berlangsung ketika ayah satu putra ini menyandang pangkat letnan dua dan bertugas dalam aksi penumpasan Fretilin di Timor Timur. Pernah ia dinyatakan hilang selama beberapa hari, hingga akhirnya ditemukan dalam keadaan pingsan dan tubuhnya sudah dikerubuti ulat.

Begitupun ketika baru menikah empat bulan, saat pasukannya dikepung Fretilin. Prabowo sempat menghilang selama 14 jam. Selidik punya selidik, ternyata ia bersembunyi di sebuah lubang, karena ilalang tempatnya bersembunyi dikepung musuh dan dibakar. “Dari segi intelektual dan keprajuritan, dia memang bagus. Syukurlah kalau dia yang jadi komandan,” komentar Letjen (Pur.) Dading Kabualdi, salah seorang bekas komandan Prabowo. Sayang, ia tak mengenal Prabowo lebih dekat karena jauhnya perbedaan pangkat di antara mereka berdua. Yang diingat Dading, ia beberapa kali memberikan perintah langsung kepada perwira muda Prabowo melalui radio.

Tak bisa disangkal lagi, memang di Timtim lah mula-mula Prabowo mendapat nama besar. Seperti yang pernah dituturkan salah seorang anak buahnya pada tahun 1976. Kendati baru berpangkat letnan dua, ia sudah memiliki pengaruh kuat di kalangan pasukan yang dipimpinnya. “Pak Prabowo itu beda dengan komandan lainnya. Dia bukan hanya sangat dekat dengan prajurit seperti kami, tapi juga mampu menenteramkan hati para anak buahnya,” kata seorang anggota Kopassus berpangkat prajurit dua.

Salah satu contohnya, ketika itu banyak prajurit yang frustrasi karena terlalu lama di Tim-tim, atau kesal lantaran pasukan yang akan menggantikannya terlambat datang. Saking kesalnya, tak jarang mereka menembakkan senjatanya ke berbagai arah sebagai pelampiasan. Nah, menurut sang prajurit tadi, Prabowo bisa dengan mudah menenangkan prajurit yang frustrasi. Ditambah lagi, “Bapak juga selalu memperhatikan kesejahteraan kami,” katanya.

prabowo 03

Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.

Nah, perkara perhatian ekstranya terhadap kese­jahteraan anak buah itu ternyata tak hanya dirasakan para prajurit, tapi juga terlihat jelas oleh para komandannya pada masa lalu. “Prabowo memang orang yang tepat dan pantas menduduki jabatan itu,” komentar Mayjen Adang Ruhiatna, Asisten Teritorial Kasad. Ia menganggap begitu, bukan hanya karena Prabowo merupakan perwira tangguh dan berwawasan luas, tapi juga gila kerja. “Hidup orang itu, dari hari ke hari, dari jam ke jam, hanya untuk prajurit,”’ katanya.

Hanya untuk prajurit? Betul. Buktinya, kendati masih pengantin baru, ia tak menolak untuk kembali bertugas di Timtim. Bahkan, kata Adangl, bukan hanya sebagian besar waktu dan perhatiannya ditumpahkan untuk pasukan, tapi materi yang dimilikinya pun acap dialirkan buat anak buahnya. “Kalau punya uang lebih, semuanya dia gunakan untuk kesejahteraan dan fasilitas anak buahnya,” katanya.

Keistimewaan lain yang dilihat Adang pada Prabowo adalah kemampuannya membangkitkan motivasi anak buah. Misalnya, ketika Prabowo menjadi anak buahnya, dan diberi tugas memimpin Batalyon 328, kemudian menjadi Kepala Staf Brigade (Kasbrig). Sebelum ditangani Prabowo, batalyon itu dalam kondisi kacau. Moral para prajuritnya sedang jatuh. Tapi, setelah dipimpin Prabowo, “Semua prajurit seakan bangkit kembali. Sampai-sampai tak ada orang yang tak kagum pada batalyon itu. Dan sampai kini, semua orang di batalyon itu bangga menjadi anggota 328,” kata Adang mengenang.

Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang, kata Adang lagi.

Hanya, seperti digunjingkan banyak kalangan selama ini, kendati berprestasi, Prabowo termasuk prajurit yang dianggap terlalu cepat naik pangkat. Untuk mencapai pangkat brigadir jenderal (dari letnan dua), ia hanya membutuhkan waktu 11 tahun. Maka, dari lulusan Akabri 1974, ia menjadi salah satu perwira yang paling awal mendapat bintang.

Tapi, lain orang lain pula penglihatannya. Pandangan Adang Ruhiatna justru sebaliknya. “Cepat apa? Menurut saya, dia itu justru terlalu lama di lapangan. Jadi komandan batalyon saja empat tahun. Bayangkan,” katanya. Jadi, Adang melihat, kenaikan pangkat Prabowo terlalu lambat. Padahal, sudah lama ia memiliki berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi Komandan Kopassus. “Kalau dia bukan anak bekas menteri atau menantu Presiden, mungkin naiknya akan lebih cepat dari sekarang,” kata Adang lagi.

Memang, sebagai bekas komandannya, Adang juga tahu masih banyak teman seangkatan Prabowo yang “ketinggalan kereta”. Bahkan tak sedikit dari seniornya yang masih berpangkat letnan kolonel. “Tapi itu biasa. Dari semua angkatan, yang benar-benar dianggap ‘bintang’ bisa dihitung dengan jari,” katanya. Di angkatan 1973 (setahun di atas Prabowo), misalnya, hanya ada Bambang Yudhoyono, yang bulan lalu dinaikkan pangkatnya menjadi brigjen.

Tapi, ya itu tadi. Tak semua orang, memang, bisa mero­ket seperti Prabowo dan Bambang. Dan itu wajar. Apalagi Prabowo memiliki banyak nilai plus, misalnya kemam­puannya menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda, serta pengetahuannya yang luas. ABRI di era globalisasi memang dibutuhkan orang seperti dia. Jadi, “Kalau promosi kenaikan pangkat harus urut kacang (maksudnya berdasarkan angkatan), kapan kita bisa maju?” tanya Adang.

Kalau diteliti secara seksama, sebenarnya karier Prabowo tak semulus yang dilihat orang. Ketika menjadi taruna Akabri, misalnya, ia kerap mendapat hukuman karena sering tidak memahami perintah komandan. Itu acapkali terjadi terutama ketika ia masih duduk di tingkat satu. Maklum, sebelumnya, pemuda Prabowo hidup di luar negeri, sehingga bukan hanya gaya kebarat-baratannya yang masih tampak waktu itu, kemampuan berbahasa Indonesianya pun masih “belepotan”.

Hal itu, misalnya, pernah dituturkan Mayor Poltak Manurung, salah seorang dosen Akabri, kepada majalah Tempo 12 tahun lalu. Ketika baru masuk, katanya, Prabowo sangat sulit memahami bahasa Indonesia. Apalagi kalau yang memerintah atau mengajaknya berbicara menggunakan istilah daerah. Maka, “Buat dia, sampai perlu diadakan les bahasa Indonesia,” tutur Manurung.

Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.

Namun, kesulitan komunikasi bukanlah satu-satunya hambatan yang dihadapi Prabowo di Akabri. Untuk mena­namkan disiplin pun, pemuda itu harus berjuang keras. Soalnya, ia pernah harus membayar mahal untuk sebuah pelanggaran. Tepatnya, ketika di Akabri, pangkatnya pernah diturunkan setingkat gara-gara ia keluar dari garnisun.

Ceritanya, pada suatu ketika, para taruna memperoleh cuti ke Yogya, tapi Prabowo malah menggunakan kesempatan itu untuk nyelonong ke Jakarta. Itulah sebabnya, ketika lulus, ia kalah cepat setahun dibanding Bambang Yudhoyono.

Penunjukan Anda sebagai Komandan Kopassus memperoleh perhatian besar dari berbagai kalangan.

Ya, benar. Saya juga melihatnya begitu. Tapi, kita tak boleh bilang itu karena saya Prabowo. Banyak yang lebih hebat dari saya. Saya sendiri hanyalah bagian kecil dari totalitas ABRI. Sangat  kecil. Siapa pun, para komandan, pimpinan, bahkan Panglima ABRI sekalipun, itu hanya merupakan bagian kecil dari ABRI. Itu yang besar. Sehingga, ada pergantian komandan saja menimbulkan perhatian ekstra dari masyarakat.

Jadi …?

Saya ini tak perlu ditonjol-tonjolkan. Semua orang sudah tahu Prabowo. Yang perlu ditampilkan itu yang kecil-kecil. Itu tidak ada orang yang mau tahu. Padahal, mereka itulah yang bekerja mati-matian. Kalau tak ada mereka, saya bukan apa-apa.

Maksudnya?

Banyak teman saya yang mati terbunuh di Timtim. Bahkan ada teman saya yang mati sebelum sempat menjadi letnan. Saya sendiri sangat bersyukur karena sampai sekarang masih diberi hidup.

Pengangkatan Anda itu juga menuntut tanggung jawab yang besar. Dan merupakan beban

Sekali lagi saya minta, tolonglah jangan dibesar­-besarkan. Saya belum berbuat apa-apa. Saya mau bekerja dulu. Bukannya saya sok, ya. Saya berterima kasih atas perhatian pers. Saya hanya mohon diberi kesempatan untuk berkonsentrasi.

Pengangkatan itu merupakan tantangan berat?

Ya. Saya ditantang untuk kerja berat. Tapi saya tidak takut. Bagi saya, posisi baru itu merupakan kesempatan untuk mengabdi. Pokoknya, apa saja yang saya kerjakan tidak untuk yang lain kecuali demi Merah-Putih, itu saja.

Selama ini, banyak gunjingan orang tentang Anda…

Biarlah orang menilai macam-macam. Yang penting saya harus bisa menunjukkan hasil kerja. Banyak memang yang mengait-ngaitkan karier saya dengan posisi saya sebagai menantu Presiden. Tapi, mau apa lagi? Saya memang menantu Presiden. Itu kenyataan.

prabowo004

Soal mulusnya kenaikan pangkat Prabowo, yang banyak dikaitkan orang dengan keberadaannya sebagai orang yang dekat dengan puncak kekuasaan, dikomentari pula oleh Mayjen Hendro Priyono, bekas Pangdam Jaya itu. Prabowo itu menantu Presiden sekaligus putra bekas menteri. Tapi dia tetap tentara tulen dengan segala kelebihannya, kata Hendro.

Ada yang bilang, Anda sering memberi uang ke anak buah, sehingga mereka menjadi sangat loyal kepada Anda.

Ya, memang banyak yang menuduh saya begitu. Menurut saya, itu tuduhan orang gila.

Kenapa?

You pernah perang tidak? Tidak mungkin ada orang yang mau mati hanya untuk uang. Tidak ada prajurit yang mau mati seperti itu. Tentara itu baru mau mati kalau demi kesetiaannya kepada negara.

Lantas, apa rencana Anda di Kopassus?

Nantilah, kalian akan saya undang kalau Kopassus bikin kegiatan atau punya konsep baru. Bagi saya, pers merupakan mitra dialog. Tapi bukan hanya dengan Anda, dengan siapa pun saya siap berdialog, asal demi kemajuan. Saya terbuka.

Wajar, memang, jika Prabowo terlihat sebagai tentara yang menganut prinsip demokrasi. Soalnya, jauh sebelum memasuki dunia ABRI, ia hidup di lingkungan masya­rakat yang selalu bersikap blak-blakan. Sejak masa kanak­-kanak, ia menghabiskan waktunya di luar Indonesia, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, lalu Hongkong, Swiss, kemudian Inggris. Maklum, waktu itu, ayahnya dituduh bersekongkol dengan PRRI/Permesta dan berselisih paham dengan Bung Karno, sehingga Sumitro memutuskan untuk meninggalkan tanah air.

Di tempat-tempat yang menjadi “pertapaan” ayahandanya itulah, Prabowo kecil menempa dirinya menjadi seorang pemuda demokrat. Ia, misalnya, kuat berlama-lama menyimak perdebatan yang berlangsung di parlemen Inggris. Kegemaran lain putra ketiga dari empat bersaudara itu adalah membaca buku.

Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.

Selain itu, ia juga cukup dikenal sebagai pelari dan perenang yang andal. Belakangan, hobinya bertambah dengan terjun payung dan panjat tebing. Yang menarik dari Prabowo, ia tak segan-segan belajar, bahkan dari orang yang usianya lebih muda. Dalam latihan panjat tebing, contohnya, Prabowo dan anak buahnya di Kopassus tidak “malu” belajar dari kelompok Skygers, sebuah perkumpulan panjat tebing yang dipimpin anak-anak muda dari Bandung.

Sekembalinya ke tanah air, bersama keluarga, 1967, sebentar ia sempat aktif dalam kegiatan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Dasar anak cerdas, setelah mengikuti penyesuaian SMA selama setahun, Prabowo langsung tes di Akabri (1970) dan langsung diterima. Tapi bukan hanya di sana ia bisa lolos. Pada saat yang sama, ia juga diterima di Universitas Colorado dan Berkeley, Amerika Serikat.

Tapi, tak seperti ayahnya, Prabowo tak hendak menjadi ekonom. Ia tetap teguh pada cita-citanya sejak kecil, yakni mengikuti jejak Letnan Sujono dan Sersan Subianto, yang gugur bersama Daan Mogot saat revolusi fisik di Tangerang. Di Akabri, kendati sempat turun pangkat, ia dikenal sebagai taruna yang tak mau menelan mentah-mentah setiap materi pelajaran yang diberikan para gurunya.

Dalam perkuliahan, Prabowo hampir selalu mendebat setiap materi yang dianggapnya tidak pas. Lebih dari itu, ia juga dikenal sebagai mahasiswa yang tekun mendengar tapi jarang mencatat. “Tapi, pas ujian, hasilnya baik,” kata Mayor Poltak Manurung. Kelebihan lainnya sebagai taruna adalah, karena ia fasih berbahasa asing, Prabowo sering bertindak sebagai pemandu setiap ada tamu dari luar negeri.

Lulus dari Akabri, Letda Prabowo langsung terjun ke Timtim dengan bendera RPKAD (nama Kopassus saat itu). Baru setelah menjadi Wakil Komandan Detasemen 81, sebuah unit antiteroris di Kopassus, dengan pangkat mayor, ia dialih-tugaskan ke korps baret hijau, Kostrad. Di situlah ia menjadi anak buah Adang Ruhiatna, hingga menduduki jabatan Kepala Staf Brigade Lintas Udara 17.

Pada 1993, ia pulang kandang ke Kopassus untuk menjadi Komandan Grup 3, yang menangani Pusat Pendidikan Pasukan Khusus. Selanjutnya, November 1994, ia naik menjadi Wakil Komandan Kopassus, hingga bulan November.

Tentang kepulangannya ke korps baret merah, ada ceritanya tersendiri. Sutiyoso, yang ketika itu menjabat Wakil Komandan Kopassus, membutuhkan waktu lama untuk menarik Prabowo kembali. Soalnya, konon, Prabowo itu telah “diperebutkan” banyak panglima. “Saya tahu persis, siapa Prabowo dan bagaimana kemampuannya,” kata Brigjen Sutiyoso, yang kini menjabat Kasdam Jaya.

Seperti halnya Adang Ruhiatna, Sutiyoso pun menganggap Prabowo sebagai sosok tentara profesional yang sarat referensi. Perhitungan itu terbukti ketika ia diserahi tugas memimpin Grup 3. Ketika itu, Prabowo berhasil menyusun kurikulum pendidikan yang diselenggarakan di Batujajar, Bandung, sedemikian rupa, sehingga menarik minat tentara asing untuk ikut berlatih di situ.

bowo 2

Tentu, sebuah ajang pendidikan tak akan menarik jika tak memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Sedangkan pemerintah, cerita Sutiyoso, tak memiliki dana yang cukup. Nah, “Untuk mengurus perkara dana yang kurang itu pun, Prabowo sanggup melakukannya,” kata Sutiyoso kepada Wahyu Muryadi dari FORUM.

Sudah bisa dipastikan, kemampuan Prabowo menyusun kurikulum pendidikan Kopassus itu tidak hanya diperolehnya dari buku-buku berbahasa asing yang dibacanya. Juga bukan hanya karena ia pernah mengikuti pendidikan militer di luar negeri. (Ia adalah lulusan terbaik dari US Army Special Force, US Army Infantry School, dan pendidikan antiteroris di Jerman Barat). Lebih dari itu, kurikulum tersebut disusun berdasarkan pengalaman langsungnya di medan tempur.

Memang, bukan hanya di Timtim Prabowo memperoleh pengalaman berperang. Ia juga terlibat dalam operasi di Irian Jaya (penumpasan Organisasi Papua Merdeka, OPM) dan di Kalimantan (PGRS/Paraku). Tapi, bintang terangnya tetap ada di Timtim.

Persis pada malam tahun baru 31 Desember 1978, misalnya, Tim Nanggala 18 yang dipimpinnya berhasil menembak mati Presiden Fretilin Nicolao Labato, dan seorang panglimanya, Guido Soares.

Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.

Kedua tokoh Fretilin itu, menurut Lopes Da Cruz, salah seorang pemimpin fraksi prointegrasi di Timtim saat itu, memang sangat dicari ABRI. Dalam perburuan, kata Lopez, ABRI melancarkan “Operasi Betis” yang melibatkan puluhan batalyon. Ternyata, Prabowolah yang berhasil menembus markas Fretilin. “Saya tidak tahu, siapa yang menembak Labato. Tapi, sejak itu, nama Prabowo menjadi sangat terkenal di Timtim,” katanya.

Atas prestasi itulah, Prabowo dan seluruh pasukannya mendapat kenaikan pangkat luarbiasa, yang langsung disematkan oleh Pangab Jenderal M. Yusuf. “Kau harus menjadi orang besar seperti ayahmu,” pesan Pangab ketika itu.

Tak lama kemudian, setelah berhasil menumpas sisa­-sisa Fretilin, Prabowo kembali memperoleh kenaikan pangkat luar biasa, dari mayor ke letnan kolonel. Bahkan, Yon 328 yang dipimpinnya dinobatkan menjadi batalyon terbaik. Nah, dengan dua kali kenaikan pangkat istimewa plus pengabdiannya yang habis-habisan, “Coba, siapa lagi yang pantas menjadi Komandan Kopassus kalau bukan dia,” kata Kasad Jenderal Hartono, yang mewakili Pangab dalam peryematan bintang pertama bagi Prabowo.

Cuma, bukan hanya di hati anak buah dan komandannya pamor Prabowo berbunga. Ia juga sukses dalam merebut hati masyarakat Timtim. “Dia itu punya perhatian yang luar biasa terhadap rakyat Timtim,” kata Lopez, yang mengenal Prabowo pada 1975, ketika kelompok prointegrasi bertemu dengan ABRI.

Salah satu kepedulian Prabowo pada masyarakat Timtim, misalnya, terlihat ketika ia mengambil puluhan putra daerah itu untuk dijadikan anak angkat. Menurut Abilio Jose Soares, Gubernur Timor Timur, ada belasan anak Timtim yang berhasil masuk Akabri, yang beberapa di antaranya disekolahkan Prabowo sejak SD.

Tapi, kepeduliannya itu tidak hanya terbatas pada anak-anak angkat semata. Ketika PON IX berlangsung di Jakarta, misalnya, Prabowo dengan senang hati membawa semua atlet Timtim berjalan-jalan dan berkunjung ke rumahnya. Kebetulan, ayahnya juga merestui langkah anak ketiganya itu. Bahkan mendukung. Karena, Prof. Sumitro pun menyediakan rumahnya untuk menampung anak-anak Timtim untuk disekolahkan sekaligus dicarikan pekerjaan.

Tak bisa disangkal lagi, bukan hanya Sumitro yang bangga terhadap putranya. Presiden Soeharto pun tampaknya terkesan pada menantunya itu. Ketika mempersiapkan pernikahan Prabowo dengan Siti Hediyati Heriyadi, misalnya, Pak Harto turun tangan langsung mengatur pelaksanaan pesta, dan turut memasang tarub di depan rumahnya di Jalan Cendana. Kenapa? Itu mungkin karena, “Bapak kan tentara. Tapi anak-anaknya tak ada yang jadi tentara. Ya, jadinya senang juga,” komentar Ny. Prabowo kepada Tempo, saat pernikahannya berlangsung.

Kini, setelah menjadi Komandan Kopassus, akankah perhatian Prabowo pada rakyat Timtim berubah? Mudah-mudahan tidak. Itulah harapan Lopes Da Cruz. Soalnya, menurut Lopes, perwira tinggi itu sudah kadung lekat di hati masyarakat Timtim. Dan Lopes pun berdoa, “Mudah-mudahan, dengan menjadi Komandan Kopassus, dia bisa melakukan pendekatan pada masyarakat dengan lebih intensif,” kata bekas Presiden UDT yang prointegrasi itu.

Lagi, sebuah tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipikirkan oleh sang brigadir jenderal. (Budi Kusumah, Karni Ilyas,Tony Hasyim dan Hanibal W.Y.W.)

*) Dimuat dalam Majalah FORUM No. 18/Th. IV, 18 Desember 1995, dengan judul asli “Banyak yang Lebih Hebat dari Saya”

MAS BOWO DI GANG MADRASAH

prabowo 03

Mas Bowo melontarkan sebuah gagasan besar: bagaimana Indonesia menjadi bangsa besar yang sejajar dengan Amerika Serikat, sejajar dengan super power-super power lainnya.

 

Gang Madrasah sempit, tidak memungkinkan dua mobil jalan berpapasan, terjepit di kawasan mahal, Kemang, Jakarta Selatan. Di Gang Madrasah itulah, di rumah konglomerat muda pemilik imperium bisnis Ika Muda Group, Soetrisno Bachir, saya, juga Zaim Uchrowi (Direktur Utama PT Adil) bertemu Mas Bowo.

Tanggal tepatnya saya lupa. Yang pasti bulannya Februari, tahunnya 1991. Mas Bowo, begitu kami memanggil Prabowo Subianto. Waktu itu ia baru menyandang pangkat Letnan Kolonel. Siang itu ia tampil kelewat sederhana. Mengenakan blue jeans dan polo shirts bercorak garis-garis warna biru muda. Mas Bowo datang lebih cepat 5 menit dari waktu perjanjian pukul 13.00.

Sebagai menantu presiden, sebagai prajurit pasukan elite yang berjuluk Kopassus, Mas Bowo membuat saya begitu kagum pada detik pertama, saat mengulurkan tangannya, menyalami saya. Kalem, sederhana, ganteng, dan sorot matanya menyiratkan kecerdasan. Tak terbersit sama sekali Mas Bowo seorang tentara.

Peretemuan siang itu, hanyalah pertemuan biasa. Adalah Soetrisno Bachir, yang punya janji sekaligus tuan rumah, dan mengajak saya dan Zaim bertemu Mas Bowo. Kami hanya sekedar bertukar pikiran. Tepatnya, kami menghibur diri sendiri, lantaran baru saja kena mushibah. SIUPP Harian Berita Buana yang kami kelola diminta kembali oleh yang punya.

Tema obrolan pun ngalor-ngidul. Yang sampai kini saya masih heran, Mas Bowo begitu fasih membedah Pancasila, P-4, bahkan ajaran-ajaran Islam. Sampailah kemudian Mas Bowo melontarkan sebuah gagasan besar: bagaimana Indonesia menjadi bangsa besar yang sejajar dengan Amerika Serikat, sejajar dengan super power-super power lainnya.

Bagaimana agar Indonesia tidak menjadi negara kelas embek yang jatahnya hanya untuk didikte-­dikte, disuruh manut-manut saja, atau ditekan-tekan. “Presidennya kelak harus Habibie. Habibie sosok yang paling tepat menggantikan Pak Harto,” begitu kata Mas Bowo dengan penuh keyakinan. Habibie identik dengan teknologi tinggi, dan itulah syarat yang menyempurnakan sosok pemimpin masa depan.

Dengan penguasaan teknologi tinggi, Mas Bowo yakin, Habibie akan bisa mewujudkan kekuatan militer mutakhir: senjata nuklir. Senjata nuklir menjadi kata kunci untuk memenangi persaingan global. Dengan senjata nuklir, Mas Bowo yakin, Indonesia tidak lagi dilihat dengan sebelah mata.

Nilai tawar pun kian tinggi. Dengan nuklir pula Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani. Bangsa yang tidak sekedar jadi mangsa negara-negara Barat. Mas Bowo yakin seyakin-yakinya. Dahsyat!

 

rahman

Tidak berlebihan jika kemudian Rahman Toleng menjuluki Prabowo sebagai pelopor gerakan LSM di Indonesia.

 

Imam Yudotomo, Ketua Gerakan Mahasiswa Sosialis (GEMSOS), punya pengalaman lain yang diungkap dalam Adil No. 13, Tahun ke-67, Desember 1998, dalam laporan berjudul, “Si Pelopor Gerakan LSM”.

Sekretariat KAMI (Kesaktuan Aksi Mahasiswa Indonesia) cabang Yogyakarta, pada akhir 1960-an silam, kedatangan seorang pemuda dari Jakarta. Pemuda yang mengaku baru lulus SLTA itu menawarkan ide tentang perlunya membuat sebuah lembaga yang bergerak di bidang sosial, tapi memiliki dampak politik yang besar.

Ide tersebut ditanggapi dengan dingin oleh para aktivis mahasiswa yang masih getol berdemonstrasi. Namun begitu, mereka sempat mempertemukan si pemuda yang belum dikenal itu dengan Imam Yudotomo. Lagi-lagi remaja berwajah bersih itu mengutarakan maksud kedatangannya. “Tampaknya dia diilhami oleh gerakan Martin Luther King,” cerita Imam Yudotomo.

Tak lama kemudian, pemuda itu membentuk sebuah wadah dengan nama Lembaga Pembangunan. Lembaga ini berpusat di Jakarta, memiliki cabang di Yogyakarta dan Bandung. Beberapa tokoh Mahasiswa Jakarta, seperti Sjahrir, Rahman Toleng dan Suripto, turut membidani pendiriannya. Di Yogyakarta, lembaga ini dipimpin oleh Isti Sumardi. Sedangkan Imam Yudotomo, entah dengan alasan apa tidak dilibatkan.

 

imam yudotomo 2

“Tampaknya dia diilhami oleh gerakan Martin Luther King,” cerita Imam Yudotomo.

 

Lembaga tersebut sedikit banyak dapat berjalan seperti yang diharapkan. Sejumlah aktivitas berhasil mereka lakukan. Misalnya, cabang Yogyakarta berhasil menyelenggarakan kegiatan pengobatan massal dan pembagian obat di daerah Wonosari, Gunung Kidul. Kegiatan yang sasarannya meningkatkan kualitas hidup kaum miskin itu dapat berjalan atas bantuan pemerintah Australia.

Siapa pemuda yang memelopori lembaga itu? Dialah Prabowo Subianto. Apa yang dulu dia lakukan adalah sesuatu yang kini dikerjakan oleh para aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Tidak berlebihan jika kemudian Rahman Toleng menjuluki Prabowo sebagai pelopor gerakan LSM di Indonesia. Karena sejak awal tahun 1980-an itulah, gerakan LSM tumbuh menjamur bagaikan cendawan di musim hujan.

 

prabowo-subianto-01

Kalau ingin mengadakan perubahan di Indonesia harus melalui militer, katanya pada beberapa kesempatan.

 

Prabowo, putra Sumitro Djojohadikusumo,begawan ekonomi, yang lahir di Jakarta 7 Oktober 1951 ini, memang berbakat menjadi seorang pemimpin. Selepas SMA, dia diterima di tiga universitas terkenal sekaligus, George Washington University, Colorado University, dan sebuah universitas di Rhode Island.

Namun, Prabowo yang pernah lama melanglang buana bersama ayahnya di luar negeri, memilih kembali ke Tanah Air, lalu membentuk Lembaga Pembangunan. Sayang, belum setahun, pendiriannya berubah. Dia tinggalkan begitu saja lembaga yang sudah berjalan itu. Dan, secara mengejutkan, Prabowo mendaftar ke Akademi Militer Magelang. “Kalau ingin mengadakan perubahan di Indonesia harus melalui militer,” katanya pada beberapa kesempatan.

Prabowo akhirnya diterima menjadi taruna Akabri tahun 1970. Kendati sempat tinggal kelas, dia berhasil lulus pada tahun 1974. Sejak itulah oleh para pengamat militer dia dijuluki sebagai The Golden Boy, dan karena karier militernya mero­ket meninggalkan kawan-kawannya seangkatan di Akmil, ia mendapat tambahan predikat sebagai The Rising Star.

Prestasi Prabowo memang rnembanggakan. Keberhasilan Tim Kopassus mencapai puncak Everest di pegunungan Himalaya, 26 April 1997, adalah salah satunya. Saat itulah untuk pertama kalinya, takbir Allahu Akbar dikumandangkan di puncak gunung tertinggi di muka bumi ini.

Di bawah kepemimpinannya, Kopassus bukan saja menjadi pasukan elite yang amat solid. Tapi sekaligus bertabur prestasi. Bahkap sebuah koran asing, The Times, menyejajarkan Kopassus dengan pasukan elite terkemuka di dunia, SAS Inggris, dan Special Force Israel. Ini menyusul keberhasilan korps baret merah tersebut membebaskan Tim Ekspedisi Lorentz (yang bekerja untuk World Wildlife Fund) yang disandera gerombolan OPM (Organisasi Papua Merdeka) pimpinan Kelly Kwalik di Mapenduma, Irian Jaya, Mei 1996.

Bukan rahasia lagi kalau selama ini Prabowo dikenal dekat dengan kalangan Islam. Sejumlah tokoh dan organisasi Islam garis keras, mulai KISDI, ICMI, DDII, didekati. Julukan ABRI hijau akhirnya tak terelakkan. Lebih-lebih Prabowo kabarnya pernah mengklaim sebagai tentara Islam. Bukan itu saja. Prabowo juga diisukan anti-Cina. Bahkan, ketika kerusuhan anti-Cina, 13-15 Mei 1998 meletus, Prabowo dituding sebagai dalangnya. (Budiono Darsono)

 

*) Dimuat dalam Tabloid Adil, No. 45/Th. 66, Agustus 1998

SOEBADIO SASTROSATOMO: SJAHRIR TAK BISA MENGGANTIKAN SOEKARNO

soebadio001

 

Menyebut nama Soebadio Sastrosatomo, tentunya orang langsung teringat pada Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis Indonesia. Sebagian besar pemikiran politik dan sepak terjang Soebadio tak lepas dari pengaruh Sjahrir dan PSI. “Saya anak didik Sjahrir dan Hatta,” kata salah satu pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini.

Sosok Soebadio sesungguh­nya tak bisa dilepaskan dari perjalanan bangsa ini. Pada zaman penjajah­an Jepang, pria kelahiran Pangkalanbrandan, Sumatra Utara, 1919 itu termasuk kelompok garis keras yang menentang kolonialis. Sementara itu, pada masa pendudukan Belanda, Soebadio sudah terlibat dalam gerakan kemerdekaan sejak di bangku sekolah menengah. Karena itu, dinding penjara telah menjadi pengalaman biasa bagi Soebadio. Berbagai kejadi­an penting pernah dialaminya sepanjang perjalanan sejarah republik ini.

 

Nama Soebadio Sastrosatomo kembali melejit setelah diperik­sa Kejaksaan Agung. Bukunya yang berjudul Era Baru Pemimpin Baru: Badio Menolak Rekayasa Rezim Orde Baru, dianggap bisa menimbulkan keresahan. Soalnya, dalam buku tipis yang hanya terdiri dari 25 halaman itu—termasuk pengantar—Soebadio mengkritik pemerintah Orde Baru. Tak pelak lagi, karena buku yang berisi pidato-pidatonya itu, pria yang sering dipanggil Om Kiyuk, atau Pak Kiyuk ini, dianggap melakukan tindakan subversif.

“Itu tak benar, kalau niat saya subversif, mengapa di buku itu saya cantumkan alamat jelas?” kata aktivis gaek yang masih bersuara lan­tang itu.

Selain itu, ia juga harus berurusan dengan pihak kejaksaan, ketika Ketua Umum PUDI, Sri Bintang Pamungkas, ditangkap. Soalnya, Soebadio juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Pusat PUDI.

Toh, berbagai pemeriksaan dirinya tak membuat langkah Soebadio surut. “Silakan ditahan, saya tidak takut,” ujar pendiri dan anggota Politbiro Partai Sosialis tahun 1945 itu. Tapi, ternyata, setelah Soebadio dilepaskan dari pemeriksaan jaksa, belakangan sekretaris pribadinya, Buyung Rakhmat Buchori Nasution, yang harus berhadapan dengan pihak berwajib. Ia menjadi tersangka, telah mencetak buku yang menghebohkan itu.

Perjuangannya merebut kemerdekaan serta konsistensinya memperjuangkan kebebasan berpolitik dan demokrasi jugalah yang membuat Soebadio seakan tak pernah lelah berpolitik. Selain itu, pengaruh petuah Jawa dan legenda pewayangan, yang seakan melekat erat dalam diri penganut kejawen itu, agaknya ikut mempengaruhi setiap tindakannya. Apalagi, baginya, Pancasila itu berasal dari budaya Jawa—kejawen. “Budaya Jawa waktu itu berarti Hindu dan Budha, namun Budaya Jawa sekarang berarti Islam,” tuturnya menjelaskan.

Di kediamannya di Jalan Guntur 49, Jakarta, kakak kandung peng­usaha nasional Soedarpo itu menerima wartawan FORUM Lukas Luwarso dan Wahid Rahmanto untuk sebuah wawancara.

 

Buku yang Anda tulis itu tampaknya berhasil mencuatkan na­ma Anda kembali dalam jagat politik kita.

Saya menulis buku itu karena mendapat dawuh dari Gusti Allah, tapi dawuh itu konkretnya melalui Sabdo Palon. Sabdo Palon adalah penasihat Raja Brawijaya Pamungkas yang berhadapan dengan Raden Patah, dengan penasihat Sunan Kalijaga.

Sabdo Palon itu tidak puas karena Raden Patah mengkudeta Brawijaya Pamungkas, sehingga budaya Jawa yang terpengaruh Hindu-Budha berubah menjadi Islam. Namun, Sabdo Palon meramalkan bahwa 500 tahun sesudah Raden Fatah dan Sunan Kalijaga pergi ke Majapahit—budaya Jawa itu akan kembali. Yah…, pada era Soekarno dan Soeharto sekarang ini.

 

Apa kaitannya dengan buku yang Anda tulis, mengapa baru sekarang tergugah menulis?

Sebabnya, keadaan sekarang ini tak ada pemimpin. Yang ada hanya kekuasaan. Maka, saya baru menulis (buku) sekarang. Sebab, anak muda sekarang membutuhkan pemiinpin. Haus akan pernimpin.

Saya tidak ikhlas anak-anak muda dipimpin orang luar negeri, seper­ti yang terjadi pada waktu perang dingin. Yang antikomunis dipimpin CIA, yang antikapitalis dipimpin KGB. Seharusnya, bangsa kita ini yang mengarahkan orang asing.

 

Bagaimana pemeriksaan yang Anda hadapi?

Sewaktu saya diperiksa, petugasnya malah terkagum-kagum melihat curriculum vitae saya. Dia bilang, saya ini dulu orang penting. Sebab, yang membuat kabinet presidensiil menjadi Parlementer itu usaha saya. Dan yang menjadikan Sjahrir sebagai perdana menteri juga usaha saya. Waktu itu saya juga diejek oleh si Jaksa Agung. Dia katakan, “Kakek-kakek itu kok bisa menimbulkan kegegeran.” Mungkin itu memang bisa disebut mengejek. Tapi, yang terang, si kakek semangatnya masih lebih hebat.

 

Keterlibatan Soebadio menjadi pernimpin organisasi Dewan Kedaulatan Rakyat Indonesia (DKRI) memang atas per­mintaan pemuda-pemuda tersebut. Hatinya tergugah melihat anak-anak muda itu seakan kehilangan pegangan.

Rasa itu pun timbul waktu ia diundang ke sebuah seminar di Kaliurang, Yogyakarta, lima tahun lalu (1992—Red). Pembicaraan mengenai soal macetnya fungsi parpol—kemudian fungsi itu akhirnya digantikan LSM—terus mengusik hatinya. “Saya tak bisa menolak keinginan mereka, karena saat ini rakyat haus pemimpin,” katanya, sepertiyang ditulis FORUM No. 25, 24 Maret 1997.

Sebagai orang yang “taat” pada konsep jawa, Soebadio teringat apa yang disebut handayaningrat. Angon rakyat, bukan nindes rakyat. Kenyataan itu sangat dirasakannya sekarang. Setiap kali berhadapan dengan kekuasaan, pemilik kuasa itu tak pernah memimpin. Bahkan, kalau ada yang berbeda, dikatakan subversi. “Sebagai narasumber atau juru dakwah, saya tak ingin ada pemalsuan di Indonesia,” katanya. Soebadio juga menolak kalau ada anggapan yang mengatakan ia berambisi menggantikan Presiden Soeharto. “Saya tak punya pikiran seperti itu. Saya juga tak mau jadi presiden,” ujarnya. Apalagi, menurut dia, yang diminta DKRI adalah seorang pemimpin, bukan presi­den. Ia yakin, menurut paham kejawennya, semua orang yang kuasa di Jawa ini adalah keturunan Braja Pamungkas.

Demi memperjuangkan kemerdekaan dalam arti kebebasan itu, Soebadio tak takut dengan risiko apapun, termasuk ditangkap. Apalagi, sebagai pejuang dan dalam karir politiknya, Soebadio memang akrab dengan sel. Bahkan, pernikahannya dengan Maria Ulfah—menteri wanita pertama zaman Orde Lama—pun ketika ia mendekam di penjara Madiun (1962-1965).

Bisa jadi, semangat yang dimiliki lelaki yang lahir pada 26 Mei 1919 itu disebabkan getirnya kehidupan pada zaman kolonial—Belanda dan Jepang. Bukan itu saja, sejak kecil ia pun ditempa “pahit”-nya kehidupan pribadi. Ketika baru berusia 10 tahun, Soebadio ditinggal ayahnya—seorang pegawai Jawatan Garam dan Candu Negara di Sumatra Timur. Bersama ibunya, Soebadio, yang bersaudara dela­pan orang, kemudian hijrah ke Jawa. Mereka menetap di Desa Ngupit, dekat Klaten, Jawa Tengah.

Karena kedua kakak laki-lakinya tidak hidup bersama mereka, otomatis Soebadiolah yang laki-laki tertua di keluarga itu. Maka, dialah yang menggantikan peran ayahnya, mengurus kepentingan keluarga, termasuk mencari tambahan penghasilan dengan membuka warung kecil-kecilan. Tugas Soebadio membeli barang dagangan ke kota. Selain itu, perekonomian keluarga ini juga disokong kedua kakaknya dan uang pensiun.

Kendati kehidupan mereka tak berlebihan, toh sang ibu berkeingin­an melihat putra-putrinya menjadi “orang”. Maka, ia mendorong mere­ka melanjutkan pendidikan. Kalau mungkin, tak perlu terlibat dalam organisasi politik rnahasiswa, yang kala itu tengah marak.

Soebadio sendiri, setelah menyelesaikan AMS, tahun 1939 hijrah dari Yogyakarta ke Batavia untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hogeschool). Sesuai dengan pesan ibunya yang melarang Soebadio ikut berorganisasi politik, ia bergabung hanya dengan perkumpulan pemuda yang bernama USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), organisasi kebangsaan yang sama sekali tak melibatkan politik. Tapi, bakat Soebadio, yang sejak kecil senang berorganisasi, membuat pesan itu hanya bertahan selama dua tahun.

Selanjutnya, Soebadio menjadi mahasiswa Recht Hogeschool, Sekolah Tinggi Hukum. Selain itu, ia juga masuk Perkumpulan Indonesia Muda, yang lebih bisa meningkatkan kesadaran berbangsa. Kemudian, ia juga ikut menjadi pengurus Jong Islamieten Bond.

Mungkin, sudah suratan takdir kalau kemudian Soebadio tak bisa melanjutkan pendidikannya, kendati belajar ilmu hukum itu murni pilihannya sendiri. Penyebabnya, kehadiran Jepang di Tanah Air tahun 1942, yang mengakibatkan semua bentuk sekolahan ditutup. Setahun kemudian, Soebadio bekerja sebagai penerjemah dan anggota staf Komisi Bahasa Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta. Sedangkan yang menjalankan, Sutan Takdir Alisjahbana (STA), Sarmidi Mangunsarkoro, dan Mr. Suwandi. Soebadio menjadi asisten STA.

Dari situ, Soebadio banyak menggali pengetahuannya tentang keadaan dan kondisi masyarakat. Sebab, mereka sering berbincang­bincang soal itu. “Dalam suasana demikian, saya pertama kali mendengar nama Sjahrir,” katanya. Kedekatan Soebadio dengan Sutan Sjahrir kemudi­an tak lain karena mereka memiliki pandangan yang sama. Yaitu, tak mau orang asing, Jepang atau fasisme yang lain, ikut campur tangan di Republik ini.

Di tengah tekanan pemerintah Jepang itulah, Soebadio semakin banyak mengenal pemimpin organisasi yang mengadakan kontak dengan penguasa Jepang. Bahkan, tokoh-tokoh itu bisa rnendirikan pusat latihan pemuda. Ia sangat menyayangkan kondisi tersebut. Maka, Soebadio tak pernah bersedia diajak bergabung dengan mere­ka. Bahkan, justru melakukan manifesto demokrasi. Akibatnya, bersama dengan STA, dia ditahan. Itu pun tak membuatnya jera. “Dari semula saya tak tertarik fasisme dan militerisme,” ujarnya.

Masa-masa itu juga, Soebadio menjadi anggota Badan Permufakatan Perhimpunan Pelajar. Seperti Sjahrir, ia ikut aktif menjadi anggota ge­rakan bawah tanah melawan fasis Jepang. Karena kegiatannya itu, lagi­lagi ia masuk bui. Begitu juga STA, Dr. Soetomo, dan lainnya. Mereka baru bisa menghirup udara segar waktu Jepang mengizinkan bangsa Indonesia membuat persiapan kemerdekaan.

 

 sjahrir2

 

Tampaknya, Anda selalu kritis terhadap kekuasaan?

Saya orang yang selalu anti-fasis. Perjuangan yang saya lakukan untuk kemerdekaan berarti melawan fasisme. Setelah fasisme Jepang kalah, ada kekosongan kekuasaan. Namun, atas perintah Sekutu, Jepang diminta menegakkan law and order. Sjahrir, Hatta, Soekarno tahu akan ada Perang Pasifik dan dilanjutkan adanya kekosongan kekuasaan. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan itu, kemerdekaan itu diproklamasikan.

 

Tapi, Anda tidak hadir pada saat proklamasi kemerdekaan?

Memang, Yapeta (Yayasan Pembela Tanah Air) bilang, Badio tidak hadir waktu Proklamasi di Pegangsaan. Sementara itu, saya berprin­sip, kemerdekaan kita adalah persoalan bangsa Indonesia, jangan dicampuri oleh Jepang—si Laksamana Maeda. Penyusunan teks Proklamasi itu dilakukan di rumah Maeda. Soalnya, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tidak bisa rapat, lalu Maeda menye­diakan rumahnya. Jadi, saya yakin betul, yang merumuskan Prokla­masi itu tidak hanya Soekarno-Hatta, terutama justru Maeda. Supaya jangan muncul kesan bahwa Jepang yang kasih kemerdekaan. Tapi, juga sebaliknya, Proklamasi tetap dengan Jepang.

Buktinya, dalam teks proklamasi dikatakan, “Pemindahan kekuasaan yang diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-­singkatnya.” Itu artinya peralihan kekuasaan bukan terjadi karena aksi pemuda. Padahal yang sebenamya kemerdekaan itu direbut. Maka, saya katakan bahwa saya tidak mau hadir, karena Jepang mencampuri, khususnya Maeda.

 

Mengapa Anda menduga sejauh itu?

Dari dulu yang saya persoalkan adalah kemerdekaan, bukan kedudukan, bukan kekuasaan. Karena, bagi saya, kemerdekaan adalah jembatan emas untuk suatu masyarakat yang bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan dan kebodohan, bebas dari kehi­naan. Sedangkan di situ sudah ada Jepang.

 

Memang, bukan hanya Soebadio yang tak hadir saat itu. Sjahrir, Soekarni, dan Chaerul Saleh pun tidak datang pada hari yang berse­jarah tersebut. Padahal, seharusnya mereka datang karena aktif be­kerja untuk terciptanya Proklamasi.

Apalagi, Sjahrirlah orang pertama yang mengetahui bahwa Jepang dibom atom Sekutu, 10 Agustus 1945. Selanjutnya, tanggal 15 Agustus 1945, Soebadio mengunjungi Sjahrir, memberi tahu kabar penyerahan Jepang kepada Sekutu. Mereka pun sepakat, sudah selayaknya Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya.

 

Soekarno Soedoet 26

 

Tapi, meyakinkan Soekarno tak semudah yang diperkirakan. Soekarno tak percaya. Sedangkan Hatta merasa terikat dengan prose­dur PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Sebagai orang yang dekat dengan Hata, Soebadio dan Soebianto membujuk Hatta. “Kami katakan ke Hatta, yang kami butuhkan adalah Soekarno-Hatta sebagai pemimpin, cerita Soebadio. Mengenal ketidakhadiran keempat tokoh itu, baik Soebadio, Chaerul Saleh, maupun Soekarni, tak lain disebabkan mereka menen­tang keras bunyi teks tersebut. Soalnya, kata-kata yang tertuang di situ terlalu lunak.

 

Apakah kemerdekaan yang Anda dambakan itu sekarang sudah terwujud?

Seperti saya bilang dalam buku saya. Katanya, kita sudah merdeka, nyatanya orang pada takut. Mahasiswa takut di-DO, dosen dan pegawai takut nggak naik pangkat. Merdeka apa itu? Kok, serba pada takut? Sedangkan cita-cita kemerdekaan adalah bebas dari ketakutan, bebas dari kemiskinan dan kebodohan. Lah, sekarang ini orang pada bodoh atau dibodohkan.

 

Apakah pada zaman Soekarno tidak ada orang takut?

Zaman Soekarno kita masih dijajah. Tapi, setelah merdeka, tidak ada orang yang takut lagi. Lihat saja, orang bikin partai saja bisa. Kalau orang-orang sempat jengkel dengan Soekarno, itu biasa. Waktu sama Jepang, dia bilang “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Setelah kita memproklamasikan kemerdekaan, anak-anak muda yang bertempur di Semarang dan di Surabaya dia setop.

Saat ada rapat akbar di Ikada, orang-orangnya disuruh pulang. Jadi, anak-anak muda seperti Soekarni kesal. “Bung Karno itu maunya gimana sih?” Tapi, nyatanya, kalau Soekarno bilang setop, semua berhenti juga. Ini yang membuat Inggris kaget. Maka, kemudian Inggris setiap kali minta tolong sama Soekarno.

 

Kalau zaman sekarang kecenderungannya bagaimana?

Neokolonialis. Kapitalis kita tendang, tetapi mereka mengundang­nya lagi. Sebab, mereka mementingkan economic growth, bukan devel­opment. Peningkatan ekonomi memang tujuh persen per tahun, tetapi juga angka penganggurannya naik.

 

Dalam dirinya ada satu kekuatan yang tak dapat menolak integritas dan kejujuran Hatta. Begitu juga, karisma dalam diri Soekarno. Atas kesadaran itu, ia bertekad membangun negara dengan kekuatan dari bawah.

Bersama Sjahrir, ia ikut mendirikan Politbiro Partai Sosialis tahun 1945. Dan menjadi tokoh penting PSI untuk selanjutnya, sampai partai itu dibubarkan tahun 1963. Pengetahuannya yang mendalam tentang Marxisme dan Leninisme menjadikan Soebadio menjadi tempat bertanya bagi kawan-kawan. Di samping itu, sebagai pemimpin teras partai, sampai 1960, berba­gai jabatan pun sempat disandangnya. Antara lain sebagai Ketua Fraksi Partai Sosialis Indonesia, anggota Parlemen Republik Indo­nesia Serikat, dan Ketua Fraksi PSI dalam parlemen. Keterlibatannya yang intens tersebut telah membawa Soebadio berkesempatan berke­nalan dengan tokoh-tokoh sosialis Eropa.

 

soebadio

 

PSI dulu menyebut diri sebagai partai kader, apa yang membedakan dengan partai lainnya?

Itu sama saja dengan mempertanyakan apa bedanya Sjahrir-Hatta dengan Soekarno. Sjahrir-Hatta itu mengutamakan kerakyatan, kebangsaan. Soekarno mengutamakan teori, dalam bahasa Belandanya, Machtvorming, rnenyusun kekuatan untuk dipakai.

Soekarno itu inginnya one party system: PNI. Tapi, begitu Sjahrir berkuasa, segera diumumkan rakyat boleh mendirikan partai. Sampai Sjahrir menjadi perdana menteri itu yang banyak mempersiapkan saya. Tapi, Sjahrir nggak mau menggantikan Soekarno, tidak bisa. Sebab, siapa yang kenal Sjahrir? Semua orang kenal Soekarno-Hatta, sebab Soekarno mengunakan masa kependukan Jepang untuk memperkenalkan diri pada rakyat. Sedangkan Sjahrir hanya menulis Perjoangan Kita.

Nah, dulu, sewaktu PNI dibubarkan, Sjahrir mendirikan PNI Baru, Pendidikan Nasional Indonesia. Maksudnya, orang itu jangan hanya kena agitasi. Sebab, kalau dengan agitasi, saat Bung Karno wafat, tak ada kader yang meneruskannya. Lha, kalau Sjahrir atau Hatta wafat, masih ada Soebadio, yang mempelajari. Jadi, yang penting adalah mendidik orang, bukan menghasut orang. Itulah sebabnya ketika anak-anak muda menginginkan saya memimpin, keinginan saya adalah mendidik mereka. Saya ini didikan Sjahrir-Hatta, yang lebih mementingkan pendidikan daripada menghasut.

Karena dididik, zonder duit, zonder apa pun, meskipun partai dibubarkan, saya tidak berhenti berjuang. Zaman kolonial, sebelum ada partai, saya juga berjuang. Jadi, pendidikan itu penting dalam arti untuk mendewasakan rakyat.

 

Siapa yang lebih Anda idolakan, Soekarno, Hatta, atau Sjahrir?

Ketiga-tiganya. Soekarno mementingkan kekuasaan, tapi ia seorang agitator yang hebat. Sedangkan Hatta-Sjahrir mengutamakan value system, nilai-nilai.

 

soekarno hatta sjahrir

 

Sayangnya, hubungan “mesra” dengan Soekarno tak berjalan mulus. Tahun 1960, PSI dibubarkan. Partai Komunis mulai menebarkan pengaruhnya. Seiring dengan memanasnya situasi politik, fitnah dan intrik politik merajalela. Soebadio tak luput dari sasaran fitnah. Tahun 1962, bersama dengan tokoh politik lainnya yang kritis terhadap pemerintahan Soekarno dan anti-PKI, Soebadio dijebloskan ke panjara. Selama lima tahun meng­huni penjara Madiun, toh tak pernah terlintas dalam benak Soebadio untuk membenci Soekarno.

Zaman berganti. Mun­culnya Orde Baru mem­bawa angin segar dalam kancah politik nasional. Soebadio kembali menik­mati angin kebebasan. Pada masa ini bisa dibilang periode tenang dan kehi­dupan Soebadio. Pada ma­sa ini pula ia sempat me­nunaikan ibadah haji ber­sama istrinya, Maria Ulfah atau Itje, yang juga bekas menteri sosial pada zaman Orde Lama.

Namun, pembawaannya sebagai orang politik me­nyebabkan Soebadio tak bisa tidak melibatkan diri dalam proses politik, yang dirasakannya bertentangan dengan prinsipnya. Kali ini, kembali ia menerima akibatnya. Peristiwa MaIari, 1974, kembali menyeret Soebadio ke pintu penjara. Soebadio dituduh mendalangi demonstransidemonstrasi mahasiswa. Hanya karena kegiatannya aktif berceramah di depan aktivis mahasiswa di Universitas Padjadjaran, IKIP, dan ITB.

Masih dalam tema demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan, saat itu Soebadio banyak melemparkan kritik tajam terhadap pelaksanaan Pembangunan, yang menimbulkan jurang ketidakadilan, serta proses politik yang kurang demokratis. Buah pikiran Soebadio itulah yang dijadikan alasan untuk menyeretnya ke tahanan militer. Selama 808 hari dalam tahanan, kakak kandung pengusaha Soedarpo ini akhirnya dibebaskan.

Saat pemeriksaan itu, ia juga diminta bertanggung jawab mengenai program nasional PSI. “Saya katakan, saya tak bisa bertanggung jawab terhadap mayat. PSI sudah mati,” katanya.

PSI memang sudah mati, tapi Soebadio menganggap pemikirannya tetap jalan. Dan tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk membangkitkan partai tersebut. Di kediamannya, Jalan Guntur, tokoh tua ini masih menjadi tempat bertanya anak-anak muda. (Irawati)

 

*)  Dicuplik dari Majalah FORUM No. 26/V, 7 April 1997, dengan judul asli “Saya Tidak Berambisi Menggantikan Soeharto”

TEORI KRISIS EKONOMI MARX

sjahrir2

 

Oleh Sjahrir

Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

 

Setelah dikemukakan hal-hal yang merupakan soal-soal aktuil dalam alam pikiran Marxistis dewasa ini, perlu lagi sekarang melengkapinya dengan persoalan tentang ajaran krisis ekonomi Marx.

Menurut ajaran krisis ekonomi Marx, maka dalam dunia kapitalis selamanya akan terjadi bahwa apa yang dibuat dan dijual di pasar oleh kaum pengusaha kapitalis akan tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat, dalam arti orang banyak. Si pengusaha yang kapitalis selalu hanya akan memilih untuk membuat barang-barang yang dikiranya akan memberikan untung yang sebesar-besarnya bagi dirinya. Umpamanya, barang-barang yang akan memberikan untung 50%, akan lebih dulu diusahakan daripada barang-barang yang hanya menjanjikan untung 25%. Hitungan dan perkiraan itu didasarkan atas harga barang-barang di pasar pada saat ia hendak memilih apa yang akan dibuatnya itu. Kalau umpamanya di waktu itu tampaknya membuat minyak wangi lebih menjanjikan untung daripada membuat spiritus biasa, maka akan dipilihnya untuk membuat minyak wangi itu. Spiritus perlu bagi campuran obat-obatan dan untuk berbagai hal yang bersangkutan dengan keperluan umum, sedangkan minyak wangi adalah suatu barang yang hanya diperlukan oleh sebahagian kecil rakyat yang mampu membeli barang lux. Pilihan sikap tadi menambah pembuatan barang lux, akan tetapi sebenarnya tidak menambah pembuatan barang yang diperlukan oleh orang banyak. Pedoman untung bagi kapitalis inilah yang merupakan penjelasan tentang kepastian adanya krisis dalam sistem ekonomi yang berjiwa pencari untung bagi orang-seorang itu. Di mana kapitalisme selalu akan menyebabkan tidak adanya keseimbangan antara barang yang ditawarkan dengan daya beli.

Kalau si kapitalis pembuat barang pada suatu ketika sudah terlalu banyak membuat satu macam barang, yang pada ketika mereka memilih barang apa yang hendak dibuatnya itu menjanjikan untung yang terbesar, sehingga tawaran akan barang itu pada suatu ketika  akan melebihi keperluan golongan yang semula bersedia membayar harga yang tinggi untuk barang itu, maka harga barang itu kemudian terpaksa diturunkan supaya golongan-golongan yang kurang mampu pun dapat membeli barang yang berlebihan itu. Kerap kali terjadi bahwa barang itu sudah dibuat begitu banyaknya sehingga tiada lagi orang yang mau membelinya, sekalipun harganya sudah diturunkan di bawah ongkos pembuatannya. Barang itu tidak tidak dapat lagi dijual. Hal ini disebut over-produksi. Over-produksi dalam satu cabang penghasilan kerap kali mempengaruhi perkembangan dalam cabang-cabang lain daripada lapangan penghasilan, terutama yang bersangkutan dengan pembuatan barang-barang yang ternyata telah dibuat terlalu banyak. Maka jika over-produksi dalam satu cabang itu menyebabkan kerugian bagi pengusaha  hingga mereka terpaksa memberhentikan usahanya atau menjadi bangkrut, maka di lain-lain cabang produksi yang biasanya menjual barangnya kepada perusahaan yang mula-mula menderita kesulitan itu. Selanjutnya akan terasa pula kemunduran, yaitu timbul over-produksi yang disebabkan oleh karena mundurnya permintaan, atau penjualan, maka merekapun akan mengalami resesi dan akhirnya krisis.

 

karl-marx

 

Kalau hal-hal seperti ini berlaku di cabang-cabang besar dan penting dalam alam produksi, maka akan timbullah kemunduran umum dalam kehidupan ekonomi. Harga-harga barang umumnya akan turun dan bangkrutnya perusahaan menjadi suatu hal yang lumrah. Berpuluh-puluh ribu atau bahkan berjuta-juta kaum buruh menjadi penganggur.  Karena pendapatan orang pada umumnya berkurang, maka daya beli masyarakatpun sangatlah merosot. Hal mana akan lebih lagi memperdalam krisis atau kemerosotan alam produksi umumnya itu. Proletarisasi berlaku dengan lebih cepat dan kemelaratan umum meluas serta mendalam. Pada suatu ketika, meskipun masyarakat sudah bertambah miskin lagi oleh karena krisis itu, akan terasa pula kembali kekurangan pada barang. Maka yang masih mampu, yaitu yang kuat modalnya dan tidak hancur atau tumbang oleh karena krisis, akan mulai dapat bekerja kembali dengan mendapat untung. Ia akan memerlukan kaum buruh lebih banyak pula, dan dengan begitu bermula kembali proses naik dari dasar krisis, atau disebut juga konjunktur rendah. Dalam pada itu, tentu saja daya  beli tidak akan dapat mencapai tingkatan sebelum krisis, oleh karena kemiskinan telah lebih meluas oleh krisis itu. Berdasar pada kenyataan itu, dikatakan bahwa puncak-puncak konjunktur tinggi, yaitu di antara krisis-krisis yang berlaku, akan merupakan kemunduran, sehingga pada suatu ketika antara dasar krisis dan konjunktur tinggi sesudahnya seolah-olah tiada lagi tampak perbedaan, yaitu akan terdapatlah depresi atau krisis yang terus menerus dengan tiada lagi kemungkinan konjunktur tinggi. Saat itu dinamakan saat krisis umum kapitalisme. Krisis itu mendahului keruntuhan sistem kapitalisme, dan menyatakan untuk seluruh dunia dan kemanusiaan keharusan untuk penggantiannya dengan sistem kolektif atau kerjasama umum dalam penghasilan. Yaitu bergantinya penghasilan berdasar milik orang-seorang dengan penghasilan yang berdasar pada milik kolektif, yaitu sosialisme.

Cara memandang seperti ini masih banyak terdapat terutama di negeri-negeri kominform dan juga di luarnya di antara kaum marxist-ortodox. Dalam karangan Stalin yang terakhir sebelum ia meninggal, masih dapat dikenali dasar-dasar ajaran teori Marx-Engels yang disebutkan di atas. Di dalamnya terdapat pokok-pokok pikiran tentang krisis umum kapitalisme ini, yang dianggapnya akan berlaku dalam bentuk persaingan yang lebih sengit dan hebat dalam keadaan resesi dan krisis ekonomi di antara golongan-golongan kapitalis itu sendiri, sehingga hal itu akan dapat menimbulkan peperangan imperialisme baru di kalangan mereka.

Perlu agaknya dikemukakan di sini, bahwa dalam teori Stalin tentang perkembangan di dunia di waktu yang terakhir ini, tidak saja berkembangnya kecondongan dunia kapitalis untuk bersama-sama memerangi dan menghancurkan dunia Soviet, akan tetapi ia juga menekankan pula pada kemungkinan pencideraan dan pertentangan di antara kaum kapitalis itu sendiri, hingga akan dapat merupakan peperangan imperialis di antara negara-negara imperialis dan kapitalis itu. Pada dasar pandangan ini memanglah tampak kepercayaan tentang akan datangnya atau telah bermulanya krisis umum kapitalisme seperti yang diramalkan Marx. Hal ini menunjukkan bahwa pada banyak kaum Marxis ataupun bagi banyak pengikut perjuangan sosialis dan komunis, mungkin juga tidak mengetahui benar tentang ajaran-ajaran Marx-Engels. Pandangan tentang krisis umum kapitalisme ini menjadi sebahagian daripada iman mereka sosialisme atau komunisme. Artinya, ajaran krisis itu bagi mereka seolah-olah sama dengan kepercayaan akan hari kiamat dunia dan wederopstanding (menurut orang Nasrani). Ia sungguh terletak pada lapangan kepercayaan semata-mata. Ia sebenarnya dirasakan sebagai hari pembalasan dan pertanggung-jawaban yang terakhir, serta pula dirasakan sebagai hari kemenangan dan hari yang dijanjikan dan hari permulaan sorga di dunia.

 

*) Dicuplik dari buku Sjahrir, Sosialisme dan Marxisme: Suatu Kritik terhadap Marxisme (Djakarta: Djambatan, 1967)