Soedoet Pandang

Home » Tokoh » ALI SADIKIN: SAYA GUBERNUR PALING KEREN

ALI SADIKIN: SAYA GUBERNUR PALING KEREN

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

ali sadikin  027 

 

Pengantar Redaksi “Soedoet Pandang”

Kali ini kami ingin mengangkat kembali wawancara yang dimuat Majalah MATRA dengan Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang legendaris. Banyak orang kini mengenal Ali Sadikin hanya sebatas nama saja, tapi tidak mengetahui kiprah dan pemikirannya. Arsip wawancara ini kami pilih untuk diangkat kembali karena bisa menceritakan sosok dan pemikiran Bang Ali secara cukup komprehensif namun ringkas.

Membaca kiprah, pemikiran, keteguhan dan terobosan-terobosan yang pernah dibuat lelaki kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini, pasti menerbitkan decak. Sejumlah gubernur penggantinya pernah disebut sebagai “penerus Ali Sadikin”, yang menandai bagaimana dikenangkannya periode kepemimpinan si kepala suku kelompok Petisi 50 ini. Namun, roda waktu membuktikan bahwa cap itu kebanyakan hanya isapan jempol belaka. Sementara ini, hanya ada satu Ali Sadikin. Legendanya belum tergantikan. Dan legenda itu tak akan bisa digantikan, apalagi oleh sekadar “realitas kosmetik” dari para pemimpin yang dilambungkan dan dibesarkan oleh media.

Masakan lezat tidak pernah kelebihan bumbu. Dan jejak Ali Sadikin adalah contoh masakan yang tak kelebihan bumbu itu. Selamat menikmati sajian arsip pilihan kami. (Soedoet Pandang)

 

Pertemuan dengan Ali Sadikin pertama kali terjadi pada acara pemakaman kakak iparnya Ny. Djoewariah Sadikin binti Atma­dinata. Mengenakan batik lengan panjang berwarna kebiruan dan peci hitam, wajah bekas gubernur DKI yang terkenal keras ini terlihat lelah kurang tidur. Sejak dirawat di rumah sakit, Bang Ali—begitu panggilan akrab Ali Sadikin—selalu menemani almarhumah yang sedang koma.

“Apa benar kalian mau mewawancarai saya?” tanya Ali Sadikin tegas. Suaranya tetap keras, ekspresi wajahnya tampak dingin. Setelah sekian lama “marah-marah” kepada MA­TRA, dia pun luluh. “Nanti akan saya kabari lewat telepon,” ujarnya, sewaktu naik ke Honda Accord Executive B-37-NA warna metalik. Dua hari kemudian, menjelang pukul tujuh malam, telepon di kantor kami berdering. Di ujung sana terdengar suara Bang Ali. Dengan tegas dan singkat dia menanyakan ruang lingkup wawancara. Suaranya terdengar lantang. “Baiklah, Jumat jam semobilan pagi saya tunggu di rumah,” ujarnya.

Rumah di Jalan Borobudur 2, Menteng, yang luas itu terasa begitu sunyi. Setelah melapor kepada penjaga di mulut gerbang halaman, kami dipersilakan masuk. Di dalam, ruang tamu tampak tertata rapi. Padahal, semalam ruangan ini menjadi tempat berlangsungnya acara syukuran buat H.R. Dharsono. Setelah menunggu beberapa menit, Ali Sadikin muncul. Dia mengenakan baju batik hijau pupus bermotif kembang cokelat, celana warna gelap, dan bersandal abu-abu. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Purnawirawan Letnan Jenderal Marinir itu tampak segar.

Selama hampir empat jam Bang Ali berbincang-bincang dengan Andy F. Noya, Usamah Hisyam, Muchlis Dj. Tolomundu, dan fotografer MATRA, Desmaizal Zainal. Dalam gaya bicara yang kadang meledak-ledak, Ali Sadikin bertutur tentang wanita ideal, keterbukaan, dan “Suksesi” Teater Koma. Inilah petikannya.

 

Bagaimana kesehatan Anda akhir-akhir ini?

Baik.

 

Anda tidak merokok?

Tidak. Sejak kecil saya tidak merokok. Ayah saya juga tidak merokok.

 

Dalam usia 64 tahun bagaimana Anda menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh?

Dengan lari dan angkat beban.
Masih aktif fitnes di Mandarin?

Masih. Seminggu empat kali. Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

 

Berapa berat beban yang Anda angkat?

Dengan tinggi 177 sentimeter, berat 80 kilogram, dan usia 64 tahun, seharusnya saya cukup mengangkat 60 kilogram. Tapi saya rata-rata mengangkat beban 70 kilogram.

 

Anda main golf?

Saya merasa golf tidak produktif. Itu bukan olah raga buat saya. Lebih tepat untuk ngobrolin bisnis, atau rendezvous. Saya aerobic paling sedikit 1 jam  sehari. Dulu, di sekitar rumah. Lari, angkat beban, biar otot bagus. Sekarang di treadmill satu jam sehari. Dulu hampir tiap hari, tapi dokter bilang, karena umur sudah tua, jangan terlalu sering.

 

Bagaimana Anda tampil di depan umum setelah tidak menjadi pejabat?

Plong. Nikmat. Di mana-mana saya pergi, selalu saja orang masih menyambut dengan baik. Di Mandarin, sopir-sopir saja masih suka lari-lari, mau jadi penunjuk parkir kalau mobil saya datang. Biarpun saya tak lagi pakai safari, tenteng tas sendiri, tak pakai ajudan. Tapi orang masih hormat. Prajurit di jalan-jalan masih kenal saya. Mereka kasih hormat dengan sikap sempurna. Parkir di mana-mana tak sulit kalau orang-orang tahu itu mobil saya. Lama-lama rasanya itu nikmat juga dari Allah. Itulah kebahagian terbesar dalam hidup saya. Orang masih mau melihat saya, walaupun saya bukan lagi pejabat.

 

Menurut Anda kenapa itu bisa terjadi?

Saya yakin karena waktu saya menjabat—memegang amanat rakyat—saya tidak macam-macam. Pernah dengar anak saya jadi konglomerat? Kan tidak. Apa ada kakak atau adik saya jadi pengusaha besar karena fasilitas dari saya, kan tidak. Padahal, saya menteri, gubernur. Kesempatan banyak. Gubernur DKI lagi. Tapi buat apa begitu? Kalau saya begitu kan sekarang saya sudah dicampakkan masyarakat. Karena saya tak begitu,hidup saya ringan, enteng. Bebas. Saya punya kemampuan untuk mengatakan yang putih ya putih, yang hitam ya hitam.

 

ali sadikin 02

 

Dua hari kemudian, Rabu, ketika kami bertemu lagi untuk pemotretan di fitness center Mandarin, Ali Sadikin tampak sedang asyik berlari di ban berjalan. Baju kaus dan celana putihnya mulai basah oleh keringat. “Bang Ali nggak mau diprogram. Dia bikin program sendiri. Soalnya dia memang sudah bisa,” ujar seorang instruktur wanita di situ. Tak aneh memang. Sebab sejak fitness center itu dibuka 12 tahun lalu, Ali Sadikin sudah tercatat sebagai member di situ.

 

Anda punya saham di Mandarin ya?

Saham? (Ali Sadikin mendelikkan matanya yang bersorot tajam itu. Dahinya berkerut, mulutnya menganga). Saya nggak punya saham. Yang punya saham itu Pembangunan Jaya. Bukan pribadi saya.

 

Kalau di Pembangunan Jaya Anda punya saham?

Tidak. Yang punya saham di situ Pak Marno, gubernur sebelum saya. Dia sebagai pendiri. Pemilik perusahaan itu 60 persen Pemda DKI, 40 persen pribadi-­pribadi. Pak Hasyim Ning, almarhum Dassaad, Massie kakak-adik, Ciputra, direksi-direksinya dan koperasi karyawannya. Semuanya ada 14 orang. Saya dengar belakangan ini komposisi saham itu berbalik, 60 persen pribadi dan 40 persen DKI.

 

Kalau tak salah, tanah tempat Hotel Mandarin itu dulu jalur hijau ya?

Memang betul, sebagian. Tapi, tempat itu menjadi ajang bermain bola anak-anak kampung di sekitar situ. Kalau hujan, kotornya bukan main. Mengganggu ling­kungan, mengganggu pemandangan. Orang Kedubes Jerman juga sering protes, karena tembok mereka menjadi kotor. Jadi, saya izinkan dibangun hotel di sana.

 

Waktu syukuran bebasnya Pak Ton, ada catering mewah dari Hilton. Apa itu sumbangan?

Kalau hanya dua juta, saya masih bisa.

 

Penghasilan Anda sekarang, kalau boleh tahu, dari mana?

Dari rumah yang disewakan.

 

Bagaimana saya bisa usaha, bank nggak ada yang mau berurusan dengan saya?! Anak saya juga pernah mengalaminya. Dia mau usaha kecil-kecilan, minta kredit pada sebuah bank swasta. Begitu tahu itu anak saya, permohonannya ditolak.

 

Untuk hidup sehari-hari, membiayai anak-anak dan istri, apa cukup?

Nah, di sini peran istri saya (mendiang Bu Nani—Red). Dia itu anak tuan tanah di Bandung. Sebelum landreform, mereka punya tanah ratusan hektar. Itu modalnya. Karena itu istri saya tak silau harta. Sudah bosan dia. Sudah kenyang. Sebelum orang punya mobil banyak, dia sudah punya. Berlian? Ibunya pedagang berlian. Istri saya yang membangun rumah, lalu disewakan. Itulah sumber kami.

 

Kalau uang pensiun Anda sebulan?

Semuanya delapan ratus ribu rupiah.

 

Lebih besar dari Pak Dharsono dong!

Iya dong. Saya kan pensiunan menteri, gubernur, letnan jenderal. Ditotal, dapat 800 ribu. Pak Ton sial, cuma dapat dari pensiun letjennya. Kan kekaryaannya sebagai dubes nggak dapat pensiun. Sial dia, ha… ha…

 

Pensiun itu diambil di mana?

Di kantor pos.

 

Anda sendiri yang mengambilnya?

Bukan. Sekretaris saya.

 

Jadi, tambahan hanya dari sewa rumah-rumah itu?

Ya.

 

Apa ada usaha lain, bisnis begitu?

Bagaimana saya bisa usaha, bank nggak ada yang mau berurusan dengan saya?! Anak saya juga pernah mengalaminya. Dia mau usaha kecil-kecilan, minta kredit pada sebuah bank swasta. Begitu tahu itu anak saya, permohonannya ditolak.

 

Lainnya?

Banyak, tapi saya ambil hikmahnya.

 

Bisa kasih contoh?

Larangan ke luar negeri. Sekarang, ke luar negeri kan semakin mahal. Kalau istri ngajak honeymoon ke luar negeri, saya punya alasan. Jadi bisa menghemat toh? Istri nggak bisa bilang saya pelit, ha… ha…

 

Ketika kami datang kebetulan ada tukang pos yang mengantarkan setumpuk surat yang ditujukan kepada Ali Sadikin. “Setiap hari ada saja surat yang datang. Biasanya lebih banyak dari ini,” ujar Imam Maliki, 27 tahun, sopir pribadi Ali Sadikin, yang kebetulan berada di pos penjagaan.

 

Berapa banyak  surat yang Anda terima setiap hari?

Paling, sehari, belasan surat. Dulu lebih banyak. Sekarang sedikit.

 

Dari siapa saja?

Nggak tentu. Paling banyak dari orang yang meminta bantuan atau saran. Malah, kadang masalahnya nggak ada hubungannya dengan saya. Misalnya, baru-baru ini saya mendapat surat dari seorang anggota Yayasan Keluarga Adil Makmur (YKAM—Red).

 

Bang Ali masuk ke ruang dalam dan keluar dengan membawa sebuah surat. Surat itu lalu diberikannya kepada MATRA. Surat yang diketik itu antara lain berbunyi “… Dengan anggapan bahwa Bapak seorang tokoh ma­syarakat yang berpengaruh dan memikir­kan rakyat kecil, saya mohon dapat kiranya Bapak menerima permasalahan di bawah ini…” Isinya, pengirim surat tersebut berharap agar dia dan ribuan bekas anggota YKAM lainnya, dapat menerima kembali uang yang sudah mereka setorkan, yang dimanipulasikan oleh Yusuf Handy Ongkowijoyo, ketua yayasan itu. Tahun lalu pengirim surat itu beserta kawan-kawannya berusaha ke DPR, namun belum berhasil. Dia lalu mengatakan niatnya untuk datang dan meminta saran Ali Sadikin.

 

Kalau mereka kemari, Anda terima?

Ya. Tapi saya mau minta dulu keterangan hukumnya dari LBH untuk kasus ini. Nah baru saya coba berikan petunjuk, nasihat kepada mereka. Atau, misalnya, saya anjurkan mereka ke LBH. Kebetulan sampai sekarang saya dewan penyantun di LBH.

 

Bagaimana rasanya menerima surat semacam itu dalam posisi sekarang, bukan lagi sebagai gubernur?

Harus saya terima. Itu kewajiban. Apakah nanti saya mampu membantu atau tidak, itu lain masalah. Sampai sekarang juga masih banyak yang datang ke sini minta bantuan. Padahal, dulu sebagai gubernur saya membantu masyarakat memakai dana Pemda. Setelah pensiun begini, dananya tidak ada lagi. Jadi, kalau saya bisa bantu, saya bantu, kalau tidak ya saya bilang tidak bisa.

 

Bantuan macam apa saja yang biasanya mereka minta?

Uang untuk menyekolahkan anaknya.

 

Kalau surat-surat, semua Anda balas sendiri?

Untuk masalah pribadi, sekretaris saya yang membalas. Kalau menyangkut Petisi 50, saya serahkan ke sekretariat Kelompok Kerja.

 

Dengar-dengar, DPR berniat mengundang Kelompok Petisi 50 untuk dengar pendapat. Bagaimana tanggapan Anda?    

Ya kami tunggu saja undangan mereka. Kalau benar ada, kami akan datang.

 

Menurut Anda, apakah undangan ini berkaitan dengan isu keterbukaan, yang dilemparkan pemerintah?           

Rupanya begitu. Tapi barangkali mereka (DPR—Red) masih ragu-ragu.       

 

Kalau bertemu dengan anggota DPR, masalah apa yang pertama kali hendak Anda sampaikan atau bicarakan?

Hal-hal yang selama ini sebenarnya sudah kami sampaikan secara tertulis kepada DPR, sampai kepada yang terbaru, Petisi 58.

 

Konon Bang Ali yang mengkoordinir kegiatan kelompok Petisi 50?

Itu tidak betul. Dalam Petisi 50 tidak ada pemimpin. Kami semua sama. Dan segala sesuatunya diputuskan bersama.

 

Tapi dalam kelompok itu Anda dianggap menonjol?

Kebetulan saja. Mungkin karena sering rapat di rumah saya.

 

Mengapa selalu di rumah Anda?

Tempat dan fasilitas terbaik ada pada saya. Di sini ada ruang yang cukup luas. Lagi pula, mudah dicapai. Ini tak ada kaitannya dengan soal sekuriti. Pertemuan kami legal. Ini kan studi klub. Kan ada ribuan studi klub di Indonesia, ha… ha…

 

Apa tujuannya?

Ya untuk memonitor pelaksanaan kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

 

Yang dibicarakan apa saja sih?

Ya macam-macam. Memang titik ber­atnya masalah demokrasi. Misalnya, lembaga Pemilu yang masih di bawah Menteri Dalam Negeri. Sebaiknya lembaga sepenting itu berdiri otonom… Juga, kalau ada masalah yang mencolok.  soal-soal ekonomi, misalnya.

 

Bagaimana Anda melihat keterbukaan yang dicanangkan pemerintah?

Saya menyambut baik. Cuma itu memang masih harus dibuktikan. Contoh yang terbaik dari niat pemerintah ini bisa dilihat dari perbedaan pendapat yang terjadi antara Menpen Harmoko dan Menko Sudomo soal Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Juga suara-suara kaum intelektual  mengenai suksesi, seperti yang muncul dari Kampus UGM Yogyakarta baru-baru ini.

 

Kalau tidak salah, Anda salah satu pendiri LBH. Dulu, sebagai gubernur, Anda pernah dituntut ke pengadilan oleh warga?

Kurang lebih tiga ratus kali saya dituntut ke pengadilan.

 

Dalam kasus apa saja?

Macam-macam. Kebanyakan karena soal penggusuran. Ada masyarakat yang menuntut saya. Mereka menuntut melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Padahal saya salah seorang pendiri LBH. Saya juga memberikan subsidi kepada LBH.

 

Bagaimana ceritanya?

Waktu itu saya mera­sa perlunya kontrol. Saya mendirikan LBH karena apa? Supaya saya dikontrol. Masyarakat yang saya gusur kan umumnya buta hukum.

 

Anda ikut mendirikan LBH. Kemudian LBH pula yang menuntut Anda. Tidak jengkel?

Anda tentu tahu siapa Buyung Nasution. Saya memang sering jengkel juga sama dia. Tapi itu kewajiban dia. Dan saya memerlukan alat pengontrol. Saya tidak punya niat jelek pada warga masyarakat waktu itu, tapi toh saya harus dikontrol. Waktu itu memang ada lemba­ga yang menginginkan LBH dibubarkan. Tapi saya bilang jangan. Sebagai guber­nur saya memerlukan lembaga pengontrol.

 

Anda pernah kalah dalam berperkara dengan LBH?

Ada yang kalah, ada juga yang menang.

 

Pertemuan berikutnya, juga di Jalan Borobudur. Ketika kami tiba, Bang Ali sedang menerima Anton E. Lucas, Indonesianis asal Australia yang menulis buku Peristiwa Tiga Daerah Revolusi Dalam Revolusi. Sambil menanti, kami bincang-bincang dengan Imam Maliki, yang sudah lima tahun menjadi sopir pribadi Ali Sadikin. “Saya kerja dengan Bapak karena cocok,” ujarnya. “Orangnya sportif. Kalau dia salah, tidak malu minta maaf sama kita,” lelaki bertubuh kekar itu menambahkan. Apa bukan karena gaji tinggi? “Kalau mau cari duit, di sini bukan tempatnya,” kata Maliki.

Pemuda asal Surabaya ini mengaku senang menjadi sopir Ali Sadikin. “Orangnya disiplin. Dia marah kalau saya main salip atau melanggar rambu lalu lintas.” Pada saat-saat tertentu, katanya, Ali sadikin menyetir sendiri mobil Honda Accord-nya. “Bapak SIM-nya B1,” tuturnya. Ketika tamu asing itu pulang, giliran kami yang diterima Bang Ali. Siang itu dia mengenakan baju putih lengan pendek bergaris abu-abu,  serta celana abu-abu dipadu ikat pinggang merek Dunhill warna hitam. Sebuah jam Rolex melingkar di tangan kirinya. Sedangkan di jari kirinya melingkar dua cincin kawin.

Dalam percakapan selama tiga setengah jam lebih, Ali Sadikin tampak menguasai betul masalah-masalah aktual yang berkembang di masyarakat. Mulai dari tulisan tokoh-tokoh terkenal di berbagai surat­ kabar dan majalah, sampai hilangnya semen di pasaran.

 

Bahkan saya dituduh gubernur judi, gubernur maksiat. Memang judi itu tak baik. Haram. Jadi, kritik mereka untuk mengingatkan saya. Juga soal night club, steambath. Tapi saya bilang, sebagai warga kota industri, orang kan ada capeknya. Biarkan mereka menghibur diri. Nggak apa-apa. Kan tidak mungkin lima juta penduduk Jakarta jadi malaikat semua.

 

Anda tampaknya banyak membaca. Langganan koran apa saja sih?

Banyak. Ada dua belas surat kabar, delapan majalah dalam negeri, dan enam majalah luar negeri

 

Anda bayar atau diberi gratis?

Ya bayar dong!

 

Sempat membaca semua isinya?

Tentunya yang penting-penting  saya dulukan. Yang lain belakangan. Sebagai pensiunan seperti sekarang ini kan enak, banyak waktu untuk diri sendiri, banyak waktu untuk membaca.

 

Berita apa yang dibaca lebih dulu?

Tentu  soal-soal yang aktual di masyarakat. Soal yang dihadapai masyarakat.

 

Baru-baru ini Anda nonton pementasan Teater Koma di TIM. Kalau Anda nonton pementasan teater, itu karena topiknya, grupnya, atau ka­rena sutradaranya?

Sutradaranya. Kalau sutradaranya baik, otomatis topik yang dipilih juga yang baik.

 

Kalau “Suksesi” yang dipentaskan Teater Koma, Anda nonton karena temanya ya?

Nggak. Bukan karena temanya. Kebe­tulan anak saya ngajak. Karena itu, saya bisa memberikan penilaian atas penyetopan “Suksesi”.

 

Anda lebih suka pada topik kritik sosial?

Ah, nggak pasti.

 

Sebagai  gubernur,  dulu Anda sering dikritik lewat teater?

Pasti dong! Bukan cuma teater. Surat kabar dan juga para ulama. Tapi itu kan konsekuensinya dong. Saya selalu yakin  kritik itu maksudnya baik. Bahkan saya dituduh gubernur judi, gubernur maksiat. Memang judi itu tak baik. Haram. Jadi, kritik mereka untuk mengingatkan saya. Juga soal night club, steambath. Tapi saya bilang, sebagai warga kota industri, orang kan ada capeknya. Biarkan mereka menghibur diri. Nggak apa-apa. Kan tidak mungkin lima juta penduduk Jakarta jadi malaikat semua.

 

Dulu, waktu Anda gubernur, apakah ada pementasan teater yang dilarang?

Zaman saya, tidak ada pementasan sandiwara disetop di TIM. Saya yang bertanggung jawab. Dulu semuanya harus lewat  gubernur. Tidak boleh main setop begitu saja.

 

rendra

Alangkah memalukannya sebuah Ibu kota tanpa kegiatan seni. Cuma, jangan terlalu dicampuri. Seniman itu kan selalu menganggap mereka yang paling pandai. Orang lain bodoh. Nah, daripada saya ngurus begitu, lebih baik mereka mengurus diri sendiri. Caranya apa? Bangun tempat  untuk mereka, Taman Ismail Marzuki. Tiap tahun saya kasih anggaran belanja. Manajernya mereka pilih sendiri. Saya tinggal mengukuhkan. Eh, saya pergi, berubah. Yang jadi manajer, pegawai DKI. Jadinya kayak kantor saja kan. Jadinya sulit.  Seniman mana bisa diatur.

 

Karena Anda yang mendirikan TIM?

Tidak. Sebagai gubernur saya merasa ikut menentukan. Wewenang saya kan sebagai  administrator pemerintahan, administrator pembangunan, administrator kemasyarakatan. Dengan kata pendek, penguasa tunggal.

 

Apa hal ini diatur dalam undang-undang?

Ada. Dalam Undang Undang No. 5 tahun 1974. Bahwa kepala daerah itu—bupati, walikota, gubernur—adalah administrator pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Jadi, semuanya harus membantu saya. Sebab, secara politis, saya waktu itu yang bertanggung jawab terhadap situasi di DKI Jakarta.

 

Jadi polisi tidak bisa menyetop  pementasan di TIM?

Paling tidak, saya selaku gubernur diberitahu. Ini kan wilayah saya.

 

Kalau ternyata Anda mengatakan tidak boleh, apa kemudian penyetopan itu tidak dilakukan?

Buktinya, waktu pementasan Rendra mau ditutup, saya bilang tidak boleh. Biar Rendra jalan terus.

 

Waktu itu mengapa Anda melindungi seniman?

Saya membutuhkan mereka. Alangkah memalukannya sebuah Ibu kota tanpa kegiatan seni. Cuma, jangan terlalu dicampuri. Seniman itu kan selalu menganggap mereka yang paling pandai. Orang lain bodoh. Nah, daripada saya ngurus begitu, lebih baik mereka mengurus diri sendiri. Caranya apa? Bangun tempat  untuk mereka, Taman Ismail Marzuki. Tiap tahun saya kasih anggaran belanja. Manajernya mereka pilih sendiri. Saya tinggal mengukuhkan. Eh, saya pergi, berubah. Yang jadi manajer, pegawai DKI. Jadinya kayak kantor saja kan. Jadinya sulit.  Seniman mana bisa diatur.

 

Bang Ali ini seniman juga nampaknya?

Saya cuma mencoba menghayati. Mencoba mengerti mereka. Apa sih yang mereka inginkan, saya selami. Mereka ingin adanya fasilitas, tak ada uang, oke saya beri. Mereka ingin bebas, oke, bentuk Dewan Kesenian Jakarta, bentuk Institut Kesenian Jakarta. Saya tidak ikut campur tangan. Siapa yang akan jadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, sepenuhnya keputusan mereka. Karena segalanya dapat dari saya, kalau ada apa-apa saya kemplang mereka. Di situ seninya to. Kalau ada anak yang tak baik, saya panggil, saya marahin. Kita debat. Misalnya dengan almarhum Wahyu Sihombing, wah itu teman diskusi, teman marah-marahan. Dan saya senang kalau ada orang berani berbeda pendapat dengan saya. Tak perlu lantas kita memusuhi dia, menganggap dia lawan. Saya bisa belajar banyak dari orang-orang macam itu. Ide-idenya banyak keluar. Begitu juga dengan olah raga. Saya kasih dana dan fasilitas yang mereka butuhkan. Kalau tidak jadi juara umum saya panggil. Saya minta pertanggungjawaban mereka. Kan begitu toh. Jadi bisa menimbulkan rasa tanggung jawab dari para atlit. Nggak heran kalau dulu di Balaikota penuh piala.

 

Dana untuk fasilitas itu dari judi ya?

Ya, antara lain dari judi.

 

Walau mereka ternyata suka mengkritik Anda sebagai gubernur?

Kalau tidak mau dikritik jangan jadi gubernur, jangan jadi walikota. Mereka itu kan  tokoh masyarakat. Kalau pejabat negara tidak mau dikritik, jangan jadi. Jadi saja rakyat bia­sa. Sebab, itulah konsekuensinya kalau orang menjadi tokoh. Dia harus mau dan siap dikritik. Jangan mau enaknya saja dong! Mereka toh bukan malaikat yang tidak membuat kesalahan.

 

Anda pernah merasa tersinggung oleh kritik yang dilontarkan?

Buat apa tersinggung? Kalau nggak mau dikritik, jangan jadi pejabat dong. Kan maksudnya baik itu. Jangan sampai Jakarta dijadikan kota maksiat.  Cuma, selanjutnya, bagaimana saya bisa mengontrol kegiatan itu.

 

Ali dan Soekarno

… waktu tanah untuk kuburan kurang dan biaya penguburan menjadi begitu mahal. Dengan santai saya bilang bakar saja itu mayat-mayat. Padahal, saya tahu, dalam agama Islam tidak boleh. Kontan masyarakat ribut. Saya diam saja, menunggu reaksi. Tak lama kemudian Buya Hamka datang. Dia bilang jangan dibakar, karena dilarang agama. Karena ini negeri tropis, kata Buya, dalam waktu enam bulan mayat akan hancur. Jadi, tumpang tindih saja. Saya setuju. Lalu saya umumkan mayat itu ditumpang saja. Bukan enam bulan, tapi setelah tiga tahun. Nah, saya kan dianggap gubernur yang baik. Soalnya Buya Hamka bilang enam bulan, saya tambah  menjadi tiga tahun, ha… ha… ha.

 

Bagaimana cara Anda mengontrolnya?

Kan ada dinas ketertiban dan keamanan. Daripada pelacur bergentayangan di mana-mana. Dulu, tahun 1965-an, cari pelacur di Jakarta kan gampang. Mereka seliweran di jalan-jalan dengan becak. Orang menyebutnya “becak komplit”, ha… ha… ha. Si abang becak dan pelacurnya jadi satu tim. Mereka keliling Jakarta. Jadi kan kotor kota ini. Malu saya. Saya lalu ke Singapura, Manila, Bangkok, kota-kota “industri seks”. Tapi di sana saya tidak melihat pelacur-pelacur di jalan. Ternyata, mereka ditampung di lokalisasi.

 

Jadi, Kramat Tunggak itu peninggalan Anda juga?

Iya, Kramat Tunggak saya punya tuh, ha… ha. Kalau sekarang mereka diusir, sebenarnya bukan salah penghuni Kramat Tunggak. Itu karena penduduk lain yang mulai berdatangan dan tinggal di sekitar situ. Dulu di situ khusus lokalisasi, jauh dari warga masyarakat, jadi bisa dikontrol. Kriminalitas juga tidak menyebar ke mana-mana, cuma di situ saja, jadi mudah diatasi. Itu gagasan dari Bangkok.

 

Anda tampaknya bangga sekali sebagai Gubernur DKI?

Ya, dong! Dulu dalam pidato-pidato, saya suka bilang: di Jakarta ini banyak jenderal, tapi yang jadi gubernur cuma satu. Ada banyak menteri, tapi gubernurnya cuma satu. Siapa? Ali Sadikin! Saya kan wakil pusat yang sekaligus juga mewakili rakyat. Saya kan gubernur kepala daerah yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat. Tapi, saya juga dipilih oleh rakyat. Jadi, ada saatnya saya marah-marah kepada rakyat, ada sekali-sekali saya marah juga kepada pemerin­tah pusat. Jadi ada dua fungsi.

 

Sebagai gubernur, dulu, apakah Anda selalu minta pengarahan kepada atasan sebelum mengambil satu ke­bijaksanaan?

Tidak pernah. Bahkan waktu saya memutuskan untuk mengizinkan judi di Jakarta, saya putuskan sendiri. Saya tinggal datang untuk melaporkan bahwa saya butuh duit. Pemerintah pusat tidak punya duit. Pemda juga tidak punya duit. Sementara di luaran, di masyarakat, banyak uang yang bisa diperoleh melalui judi. Saya juga tidak minta izin DPRD. Sebab, saya berkeyakinan, kalau waktu itu saya meminta izin, dan izin saya peroleh, lembaga itu akan dicaci  maki masyarakat.

 

Jadi, biar yang kena caci maki Bang Ali sendiri?

Benar. Saya ingin agar kalau disalahkan, sayalah yang bertanggung jawab. Ali Sadikin yang salah. Di sini prinsip leadership. Jadi, hanya ada satu orang yang harus dipersalahkan. Tapi, seiring dengan itu, dia juga harus satu-satunya orang yang mempunyai kekuasaan.

 

Ketika baru diangkat sebagai gubernur, dua hari saya keliling Jakarta naik bis kota. Hujan-hujan saya ikut berdesak-desakkan dengan penumpang bis. Di situ baru saya tahu betapa runyamnya masalah transportasi ini. Dulu kan tidak ada sistem.

 

Soal keputusan Anda mengizinkan judi kan banyak ditentang?

Oo, ya. Saya mengakui bahwa judi itu  haram. Agama apa pun mengatakan begitu. Tapi judi ini kan saya atur hanya untuk kalangan tertentu. Orang-orang yang dalam way of life mereka tak bisa hidup tanpa judi. Dan untuk itu mereka pergi ke Macao. Nah, saya pikir, untuk apa mereka menghambur-hamburkan uang di Macao. Lebih baik untuk pembangunan Jakarta saja. Dan, waktu itu saya jelaskan bahwa DKI memerlukan dana untuk membangun jalan, sekolah, puskesmas, pasar dan lain-lain. Tapi, yang tidak setuju toh tetap ada. Kepada mereka, saya bilang: “Bapak-bapak, kalau masih mau tinggal di Jakarta, sebaiknya beli helikopter. Karena jalan-jalan di DKI dibangun dengan pajak judi.” Nah, cara semacam itu, yang membuat orang kemudian  tertawa, yang biasa saya pakai.

 

Jadi tidak selamanya harus keras?

Tidak. Misalnya, waktu tanah untuk kuburan kurang dan biaya penguburan menjadi begitu mahal. Dengan santai saya bilang bakar saja itu mayat-mayat. Padahal, saya tahu, dalam agama Islam tidak boleh. Kontan masyarakat ribut. Saya diam saja, menunggu reaksi. Tak lama kemudian Buya Hamka datang. Dia bilang jangan dibakar, karena dilarang agama. Karena ini negeri tropis, kata Buya, dalam waktu enam bulan mayat akan hancur. Jadi, tumpang tindih saja. Saya setuju. Lalu saya umumkan mayat itu ditumpang saja. Bukan enam bulan, tapi setelah tiga tahun. Nah, saya kan dianggap gubernur yang baik. Soalnya Buya Hamka bilang enam bulan, saya tambah  menjadi tiga tahun, ha… ha… ha.

Saya sering melemparkan isu-isu dengan harapan masyarakat ikut memikirkan. Begitu ada jalan keluar yang  baik, saya ambil. Biasanya selalu diiringi caci maki. Tapi tidak apa. Toh, ini juga dalam rangka agar masyarakat juga merasa ikut memiliki Jakarta. Karena, 70 persen penduduk Jakarta ini pendatang.

 

Anda juga sering “turun” ke masyarakat?

Sudah tentu. Ketika baru diangkat sebagai gubernur, dua hari saya keliling Jakarta naik bis kota. Hujan-hujan saya ikut berdesak-desakkan dengan penumpang bis. Di situ baru saya tahu betapa runyamnya masalah transportasi ini. Dulu kan tidak ada sistem. Dari melihat inilah kemudian lahir shelter-shelter, terminal bus. Soalnya dulu kalau antre nunggu bis, masyarakat kepanasan dan kehujanan.

 

Anda yang menciptakan sistem terminal?

 Ya, dong. Itu terminal di Lapangan Banteng, Blok M, Cililitan, Pulogadung, Grogol, itu kan zaman saya. Jembatan penyeberangan juga. Waktu ikut berdesak-desakkan saya juga merasakan tidak enaknya. Bau! Saya lalu ke Bappenas. Saya bilang, saya perlu bis. Akhirnya, saya mendapat bantuan dari Amerika.

 

Ali Sadikin

Kalau sebagai menteri, misalnya, rencana yang kita canangkan tidak bisa langsung diwujudkan karena dananya dari pusat, yang belum tentu ada. Kalau gubernur kan tidak. Saya punya rencana, saya cari sendiri dananya, langsung saya wujudkan.

 

Dalam menjalankan tugas sebagai gubernur, dulu Anda suka bersikap keras. Misalnya, memaki dengan  kata-kata “Goblok, Tolol…” Bahkan dengan menempeleng. Apa begitu seharusnya memimpin Jakarta?

Ah, itu gaya saya saja. Kalau saya marah lalu saya bilang, “Goblok! Sontoloyo!” kan orang-orang yang mendengarnya jadi senang. Dulu kalau melihat ada polisi yang tidak benar, atau sopir yang ugal-ugalan, saya turun dari mobil lalu tangan ini langsung melayang. Juga kalau ada copet. Atau calo yang kepergok saya. Tapi sampai di rumah sebenarnya saya merasa kasihan juga. Besoknya calo itu saya panggil. Saya tanya, pekerjaan kamu apa. Dia bilang tidak ada. Nah, sana kamu saya jadikan tukang parkir.

 

Jabatan gubernur merupakan puncak karir Anda ya?

Lebih tepat kalau dibilang itu pekerjaan yang paling saya syukuri. Karena di situ rencana dan cita-cita saya bisa diwujudkan langsung. Kalau sebagai menteri, misalnya, rencana yang kita canangkan tidak bisa langsung diwujudkan karena dananya dari pusat, yang belum tentu ada. Kalau gubernur kan tidak. Saya punya rencana, saya cari sendiri dananya, langsung saya wujudkan.

 

Selain terminal, shelter, real etate, karang taruna, Osis, apa lagi karya besar yang Anda wariskan pada warga Jakarta?

Taman Ismail Marzuki. Gelanggang Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Jakarta Fair, pokoknya banyak. Makanya kalau ada dipatenkan, paten Ali Sadikin banyak sekali. Bisa kaya saya, ha… ha… ha… Tapi, yang paling saya anggap besar adalah perbaikan kampung. Proyek yang disebut MHT (Mohammad Husni Thamrin—Red).

 

Bagaimana gagasan MHT itu lahir?

Dulu, ketika masih menjadi siswa Sekolah Pelayaran Tinggi, pada saat liburan Sabtu-Minggu, saya ke paman saya yang tinggal di Bukit Duri. Saya lihat kampung di situ bersih, jalannya bagus dan teratur. Nah, ketika rnenjadi gubernur, sewaktu hendak mengatasi daerah-daerah kumuh, saya teringat Kampung Bukit Duri. Untungnya, waktu itu saya punya seorang Sekretaris Daerah, Pak Djoemadjidin, lulusan Mosvia— sekolah pamong praja di Magelang. Dari dia saya tahu bahwa Belanda sengaja menjadikan Bukit Duri sebagai koridor untuk daerah Menteng, yang menjadi daerah hunian orang-orang Belanda, untuk mencegah masuknya penyakit ke Menteng.

Saya pikir gagasan seperti itu bagus juga. Tapi, ketika datang ke Bappenas, ditolak karena perbaikan kampung bukan prioritas. Waktu itu prioritasnya adalah menekan tingkat inflasi, mengobati keadaan ekonomi kita yang sakit. Akhirnya, lima tahun pertama saya biayai sendiri. Dananya dari APBD. Kemudian Bank Dania membantu lima puluh persen.

Sekarang proyek ini sudah diterapkan di 200 kota. Beberapa waktu lalu orang sibuk menyambut Aga Khan. Asal tahu, masjid yang mendapat penghargaan Aga Khan, di Tanah Abang, kan dibangun di zaman saya.

 

Pembicaraan terputus. Bang Ali mengatakan dia telah menyiapkan foto untuk MATRA. Lantas, dia masuk ke ruang dalam. Tak lama ke­mudian muncul kembali sambil membawa beberapa foto koleksinya. Di antara­nya foto saat Bung Karno menyematkan bintang di pundaknya, ketika dia dilantik menjadi Gubernur DKI Jaya, 1966. Juga ketika bertemu Presiden Marcos, 1970. Bang Ali lantas menunjukkan fotonya dengan kaca mata hitam, ketika tahun-tahun pertama menjabat guber­nur DKI Jaya. “Di sini saya keren kan?”  ujarnya berkelakar. “Nggak ada gubernur di Indonesia yang keren, selain saga, ha… ha…” Kemudian dia menunjukkan sebuah foto ketika menggendong putra kelimanya, Yaser Sadikin, hasil benih perkawinannya dengan Linda—putri almarhum Syamsuddin Mangan—tahun 1988.

 

Setelah lama tidak menimang bayi, sekarang pu­nya anak lagi,  bagaimana perasaan Anda?

Ini anugerah Allah. Karena dulu, saya tak punya waktu untuk keempat anak saya dari Ibu Nani, karena kesibukan bekerja. Saya betul-betul tidak ada  waktu untuk menikmatinya, sehingga saya menyesal. Sekarang, saya punya banyak waktu. Setiap hari saya bisa mengikuti perkembangannya. Jadi, ini merupakan anugerah yang sangat besar dari Allah. Dan karena bayi ini pula, saya merasa jiwa saya masih muda. Dalam usia 63 tahun, punya anak lagi, kan luar biasa. Sekarang saya tinggal menunggu Sudomo. Dengar-dengar  dia juga ingin punya anak lagi, ha… ha… ha… Rumah  dia kan di depan situ (Ali Sadikin lalu menunjuk rumah Menko Polkam Sudomo di seberang rumahnya).

 

Apa komentar Anda tentang istri yang sekarang?

Dia bisa mengerti kedudukan saya. Dia ikhlas. Dia bisa menyesuaikan diri dengan posisi saya sekarang. Juga dengan teman-teman saya yang bahkan sudah 70-an usianya. Padahal, dia jauh lebih muda.

 

Perbedaan usia Anda?

Hampir  dua puluh lima tahun.

 

Bagaimana mengatasi perbedaan umur yang jauh ini?

Kami saling menyesuaikan diri. Dalam pergaulan, dia lebih banyak harus mengerti saya. Syukurnya, dia penuh pengertian.

 

Suka-duka punya istri jauh lebih muda?

Wah, sukanya jelas dong, ha… ha… ha… Dukanya nggak ada. Dia banyak atensinya pada saya. Pakaian disiapkan, dibelikan, walau masih banyak. Makanan diperhatikan. Pusing sedikit, dipijit, wah! Dia kan anaknya Syamsuddin Mangan, bekas Ketua Kadin. Nah, ini juga ada untungnya, nggak rewel nuntut kekayaan. Dan lucunya, oleh istri teman-teman saya yang lebih tua, dia bisa diterima. Dia bisa membawa diri. Dia tak begitu suka bergaul dengan teman-teman seusianya. Mungkin suka jetset-jetsetan,  yang nggak ada faedah itu.

 

Boleh tahu pengalaman tempur Anda?

Menumpas DI di Jawa Barat. Lalu tahun 1958 kami melakukan pendaratan di Padang, Pekanbaru, untuk menumpas PRRI. Kemudian 1959 menggempur Permesta, untuk merebut Manado.  Saya wakil komandan. Operasi yang kedua, saya komandannya. Waktu itu kami diberi waktu 2 minggu untuk merebut Amurang dan sekitarnya. Sebelumnya, pasukan tentara sudah dua bulan sulit bergerak. Tugas itu ternyata kami selesaikan hanya dalam tempo satu setangah hari.

 

Konon, waktu itu Anda menembaki musuh sambil berlari maju. Gaya yang kemudian oleh teman-teman Anda disebut gaya Hollywood. Cara bertempur semacam itu ada dalam taktik perang?

Persisnya memang tidak ada. Tapi, di situ diajarkan, untuk menghadapi orang-orang tertentu kita memang harus memakai shock teraphy. Orang Manado kan terkenal bombastis. Nah, untuk meng­atasinya saya harus memperlihatkan gaya yang tak kalah hebat. Biar nyali mereka jadi ciut, ha… ha… Padahal senjata mereka lebih hebat, sudah punya kanon 35 mm. Waktu itu musuh saya Kawilarang, Samuel Warrow, ha… ha…

 

Umur Anda waktu itu?

Sekitar 30-an.

 

Setelah pertempuran itu bagaimana?

Di AL ada reorganisasi, tepatnya tahun 1959. Para perwira di AL meminta agar saya diangkat menjadi Deputi Administrasi, yang mengurusi soal administrasi dan logistik. Ini bukan cara yang normal.

 

Apa saja tugas Anda waktu itu?

Waktu perebutan Irian Barat, saya harus menyiapkan kapal manusia untuk kemudian menyerahkannya kepada Yos Sudarso (Deputi Operasi—Red). Sebab, untuk merebut Irian Barat, hanyabisa dilakukan dengan pendaratan. Karena dropping di hutan yang begitu luas resikonya tinggi. Nah, untuk itu dibutuhkan 3.000-an pasukan. Bayangkan, berapa banyak kapal yang dibutuhkan untuk mengangkut dan melindunginya. Dalam dua tahun, saya berhasil menyiapkan semuanya.

 

Caranya?

Bulan Mei, 1960, Pak Martadinata (Kepala  Staf Angkatan Laut—Red) dan saya pergi ke Amerika Serikat. Waktu itu Presidennya Eisenhower, yang dianggap reaksioner. Kepada kepala staf Angkatan Laut-nya kami bilang perlu bantuan kapal dan senjata untuk merebut Irian. Mereka bilang tidak bisa. Kalau begitu, kata kami, jangan marah kalau kami minta bantuan orang lain. Kami lalu lapor ke Presiden. Waktu itu sudah Trikora. Kami lalu diperintahkan ke Rusia, didampingi Adam Malik, dubes kita di sana. Kami bertemu Kruschev. Dia bilang perlu senjata berapa banyak. Dalam waktu singkat kami sudah mendapat persenjataan modern. Dua belas submarine,  cruiser, destroyer, dan kapal roket. Jadi, waktu itu armada kita yang terkuat di Asia, setelah RRC. Saya juga menyiapkan logistiknya. Juga pelabuhan-pelabuhannya. Seperti di Makassar, Ambon, Bitung, dan lain-lain. Setelah selesai saya serahkan kepada Sudomo (Panglima AL Mandala—Red).

 

Ada lagi?

Waktu itu saya juga memperjuangkan pembangunan Lapangan Udara Juanda.

 

Mengapa dulu Bung Karno memilih Anda sebagai Menteri Perhubungan Laut?

Nggak tahu.

 

Apa kebijaksanaan penting yang Anda terapkan ketika menjadi Menteri Perhubungan Laut?

Waktu saya diangkat, ada 200 lebih perusahaan pelayaran. Tapi kapalnya cuma beberapa biji. Jadi, banyak perusahaan pelayaran yang tak punya kapal. Namanya saja perusahaan pelayaran. Sebagian juga cuma menyewa. Saya ambil keputusan, setiap perusahaan pelayaran harus punya kapal, biar cuma satu. Saya juga suruh mereka merger. Waktu saya meninggalkan jabatan itu, perusahaan pelayaran nusantara hanya ada 29. Sedangkan Samudra dari 90 tinggal empat. Semua masih ada sampai sekarang.

 

Perjalanan hidup Anda cukup panjang dan “berwarna”. Tidak berniat menuangkannya dalam otobiografi?

Sekarang sedang digarap. Tapi mungkin terbatas pada pengalaman sebagai gubernur. Ramadhan K.H. yang menuliskannya. Dari dulu dia sudah menyatakan keinginannya menulis tentang saya. Begitu juga P.K. Ojong dari Kompas, sebelum meninggal juga mengejar-ngejar untuk menulis buku biografi saya. Tapi, waktu itu saya menolak.

 

Sekarang kok mau?

Karena saya merasa buku-buku Ramadhan enak dibaca. Buku tentang lbu Inggit, istri Bung Karno, misalnya, bagus sekali. Lagi pula, saya kenal baik Pak Ramadhan.

 

Siapa yang akan menerbitkannya?

Saya tidak tahu. Itu terserah Pak Ramadhan.

 

Bang Ali  mengajak MATRA ke ruang tengah untuk melihat koleksi album fotonya. Di ruangan yang cukup luas itu ada sofa hijau muda. Tepat di tengahnya terdapat seperangkat alat fitnes merk Kettler. “Dulu saya, sekarang anak saya yang pakai,” ujar Bang Ali. Dari ruangan itu, di balik pintu kaca, tampak sebuah kolam renang dengan airnya yang biru segar. Di bagian lain, di depan mini bar, terdapat meja makan panjang dengan 12 kursi rotan warna coklat. “Perabotan di ruangan ini belum pernah diganti sejak tahun 1969. Tata letaknya juga belum pernah diubah. Masih peninggalan Bu Nani,” tutur Bang Ali. Di atas pintu menuju ruang kerja Bang Ali, tergantung tiga kaligrafi bertuliskan Allah.

Sedangkan di dinding marmer hitam, tepatnya di sebelah kiri meja makan, terdapat lukisan foto Bang Ali bersama almarhumah Nani Sadikin. Lukisan ukuran 15 meter x 2 meter itu hasil goresan Basuki Abdullah, tahun 1975. Di dinding yang lain, melekat lukisan Hendra  Gunawan ukuran 3 x 4 meter. Lukisan yang dibuat tahun 1978 itu menggambarkan keterlibatan Bang Ali dalam Clash 1, ketika Belanda akan menyerbu Tegal.

Lukisan itu, menurut cerita Bang Ali, dibuat oleh Hendra ketika pelukis itu dipenjara. Waktu itu Mashudi (bekas Gubernur DKI Jaya—Red) datang kepada saya. Dia bilang Pak Hendra butuh uang untuk keluarganya. Itu sebabnya, Hendra akan membuat lukisan buat saya. Dan saya beli tiga lukisan seharga empat juta rupiah,ujar Bang Ali, yang mengaku lebih suka lukisan realis ini. Setelah itu obrlan dilanjutkan sambil menyantap lotek di meja berkursi dua belas tadi.

 

Sejak kapan Anda tinggal di Jalan Borobudur ini?

Sejak peristiwa “Ganyang Inggris” (1964—Red). Sebelumnya saya tinggal di rumah yang sekarang ditempati Sudomo di depan itu. Waktu itu saya Deputi Administrasi Angkatan Laut. Itu rumah dinas. Jadi, waktu masa jabatan habis, saya bingung, mau pindah ke mana. Eh, tahu-tahu timbul konfrontasi dengan Malaysia, ribut-ribut dengan Inggris. Orang-orang Inggris diusir. Saya lihat direktur perkebunan besar di Subang, orang Inggris, yang menempati rumah ini juga pergi. Saya bilang sama Bung Karno, boleh nggak saya masuk. Dia bilang, kamu masuk saja. Saya lalu masuk. Saya beli waktu itu murah sekali, cuma 3,7 juta rupiah. Padahal luasnya 4000 meter persegi. Di kawasan ini nomor dua terluas setelah rumah Dubes AS di Suropati.

 

Tapi belakangan Anda lebih sering tinggal di rumah Pejaten ya?

Saya kan kawin lagi. Saya harus memperhitungkan perasaan anak-anak. Ini kan mereka anggap rumah ibunya. Mereka tentu kurang rela kalau saya membawa istri saya yang sekarang tinggal di sini.

 

Orang sekeras Anda masih mempertimbangkan perasaan anak-anak?

Siapa pun akan begitu. Lagi pula ibu tiri biasanya sulit diterima. Bapak boleh kawin lagi, tapi jangan tinggal di sini. Mungkin begitu.

 

Apa masih ada perasaan semacam itu?

Oh, pasti ada. Tentu mereka nggak mau ibu tiri yang “memimpin” di rumah ibu mereka. Itu yang harus kita jaga, harus kita hormati. Ya, saya mengalah.

 

Kok istilah ibu tiri masih dipakai?

Nyatanya memang begitu kan. Dalam perkembangannya baru kita harapkan anak-anak tidak melihat dia sebagai ibu tiri, dan begitu sebaliknya. Lebur. Karena kalau memang dia lihat ayahnya tak bisa hidup sendiri, dan mereka melihat ibu baru mereka merawat ayahnya dengan baik, dengan sendirinya perasaan bahwa itu ibu tiri pasti hilang. Itu kan tergantung bagaimana sikap kami saja. Tadinya kan mereka berontak. Semua orang dalam posisi seperti itu, akan berontak karena cinta mereka pada ibunya. Seolah-olah kedudukan ibunya direbut oleh wanita lain. Itu harus kita perhitungkan.

 

Waktu Anda akan menikah lagi, anak-anak diajak berkonsultasi?

Iya dong. Mulanya mereka sulit menerima. Tapi saya bilang, saya kan sekarang sendirian. Jadi duda itu nggak enak. Di kamar sendirian. Bagaimana kalau serangan jantung? Umur kan sudah 60-an. Kalau janda kan lain, bisa  ditemani pembantu atau keponakan. Kalau saya, masak pembantu disuruh satu kamar sama saya. Belum yang mengurus ini dan itu, dipijit segala macam. Susah. Karena itu saya bisa mengerti lelaki yang ditinggal istri bisa cepat mencari penggantinya.

 

Wanita ideal buat Anda?

Punya kepribadian, rupanya lumayan molek, dan bisa dipegang, ha… ha… ha…

 

Anda suka hidup dikelilingi wanita ya?

Sebaliknya. Dulu, ratu-ratu kecantikan itu, kalau belum dapat sun dari saya,
katanya belum lengkap, ha… ha… Saya senang sih senang. Tapi itu salah satu kewajiban saya sebagai gubernur lho. Pemilihan miss-missan di zaman saya diributkan tidak berkepribadian Indonesia. Lalu apa bedanya dengan ratu-ratuan sekarang? Kita dulu bangga, gadis-gadis kita jadi ratu Asia. Malaysia, negara yang agamanya kuat, mengirimkan wakilnya sampai sekarang.

 

Anda senang wanita cantik ya? 

Semua lelaki pasti senang wanita cantik. Omong kosong kalau ada yang bilang nggak. Wanita pun menginginkan punya anak cantik. Tapi tidak lantas berarti semua wanita cantik, baik. Belum tentu semua yang cantik sempurna. Kita belum tahu apa isi kepalanya, isi hatinya. Tapi, begitu melihat wanita cantik secara fisik, pasti segera tertarik.

 

Anda setuju emansipasi?

Setuju dong. Itu memang pantas. Menurut agama Islam, tak ada perbedaan antara wanita dan pria. Cuma masing masing harus tahu akan kodratnya. Ya laki-laki itu kepala keluarga, wanita itu istri dan ibu anak-anak.

 

Kalau emansipasi seperti diperjuangkan Womens Lib di Barat?

Wah, nggak benar tuh. Itu menghilangkan kodrat wanita dari Allah. Kita punya tanggung jawab meneruskan keturunan kita. Jadi, dari segi ini, posisi wanita penting sekali. Ikut menentu­kan. Bahwa wanita ingin punya profesi, ingin punya prestasi, oke. Istri saya dulu kan dokter gigi. Dulu ada perjanjian, dia mau kawin dengan saya asal boleh terus bekerja. Saya pikir, kebetulan. Gaji kapten marinir waktu itu berapa sih, ha… ha… ha… Nah, kalau dia dapat gaji juga kan saya untung. Dalam hati saya malah bersyukur.

 

Pertama kali ketemu Bu Nani di mana?

Kami bertemu pertama kali di Surabaya. Waktu itu dia kuliah di FKG  Unair. Saya Komandan Kesatrian Wonokitri, Pusat Pendidikan Pasukan KKO, merangkap instruktur di AAL, AMN Laut sekarang.

 

Dari ruang tengah kami kembali ke ruang tamu. Di dinding ruangan tersebut, persis di atas kursi tamu, tergantung foto Bung Karno dan Bung Hatta.

 

soekarno-2 

Orang yang sebelumnya benci, begitu bertemu dan bergaul dengan Bung Karno, pasti berbalik mengaguminya. Soalnya kita dianggap sebagai manusia yang sama derajatnya. Kita tidak kikuk berhadapan dengan dia. Tidak ada rasa takut. Pokoknya bisa bebas. Caranya juga enak  gitu. Tidak harus resmi-resmian. Kalau kita ketemu di resepsi, dan dia merasa sudah lama nggak bertemu, dia datang menghampiri dan kasih tangan. “Apa kabar kamu?”

 

Anda hanya menggantung foto Bung Karno dan Bung Hatta.

Ya. Mereka Proklamator. Bapak Bangsa.

 

Yang Anda kagumi dari Bung Karno?

Dia berhasil menyatukan bangsa. Saya kagum, tapi saya tidak menutup mata, telinga dan perasaan. Dia juga punya kesalahan. Tapi, kalau dihitung-hitung lebih banyak jasanya ketimbang kesalahannya.

 

Semasa menjadi menteri atau gubernur, Anda pernah membantah Bung Karno?

Oh, pernah. Waktu saya menjadi menteri. Mertuanya punya keperluan dan saya disuruh membantunya. Setelah saya periksa, semua ketentuan  yang berkaitan dengan permohonan itu, saya bilang sama Bung Karno, menurut ketentuan, ternya­ta tidak boleh tuh? Bung Karno menjawab, ya sudahlah, kalau ketentuannya tidak membolehkan.

 

Bung Karno tidak marah?

Nggak tuh. Dia malah bilang, “Baik Ali. Baik.”

 

Bagaimana ceritanya sampai Anda dipilih Bung Karno sebagai gubernur DKI?

Menurut Pak Leimena (salah seorang Wakil Perdana Menteri di zaman Bung Karno—Red), yang waktu itu ikut dalam proses pembicaraan soal gubernur, ada empat nama yang diajukan. Semua nama ditolak oleh orang tua ini (tangannya menujuk ke foto Bung Karno di dinding). Kata Bung Karno, Jakarta membutuhkan seorang yang keras kepala, orang yang berani. Kemudian Pak Leimena nyeletuk, Oh, kalau begitu Bung membutuhkan orang seperti Ali Sadikin.” Bung Karno kontan setuju. “Panggil dia besok,” ujar Bung Karno. Prosesnya begitu saja.

 

Secara pribadi Anda akrab dengan Bung Karno?

Tidak begitu akrab. Kalau perlu saja baru saya bertemu Bung Karno. Saya tidak pernah jadi murid Bung Karno. Karena waktu revolusi saya ada di sekitar Pekalongan. Setelah pengakuan kedaulatan, saya di Surabaya. Kalau ada orang tanya apakah saya murid Bung Karno?  Tidak. Cuma, saya mengerti saja. Tahu jalan pikiran Bung Karno.

 

Apa kehebatan Bung Karno yang Anda rasakan?

Kemanusiaannya. Orang yang sebelumnya benci, begitu bertemu dan bergaul dengan Bung Karno, pasti berbalik mengaguminya. Soalnya kita dianggap sebagai manusia yang sama derajatnya. Kita tidak kikuk berhadapan dengan dia. Tidak ada rasa takut. Pokoknya bisa bebas. Caranya juga enak  gitu. Tidak harus resmi-resmian. Kalau kita ketemu di resepsi, dan dia merasa sudah lama nggak bertemu, dia datang menghampiri dan kasih tangan. “Apa kabar kamu?”

 

Bung Karno sendiri bilang Anda orang keras. Benarkah?

Nggak tahu.  Apa kelihatannya begitu? Kalau ngomong memang keras.  Tapi itu memang sifat saya. Orang mengira saya pemarah. Keras itu memang sifat saya. Lha, mau apa lagi, masak mau pura-pura?!

 

Apa pendapat Anda terhadap gagasan Emil Salim bahwa gubernur mestinya punya level yang sama dengan menteri?

Saya setuju. Dan itu memang sesuai dengan aturan. Perpanjangan tangan presiden di luar negeri adalah dubes, di daerah ya gubernur. Tanggung jawab gubernur itu kan langsung ke presiden. Bukan pada Mendagri. Saya setuju dengan Emil Salim. Memang gubernur bukan anggota kabi­net. Tapi dia harus selevel menteri. Dulu, waktu menjadi gubernur, kalau ada Kakanwil yang macam-macam, tidak mau nurut sama aturan gubernur, saya langsung telepon ke men­teri. Saya minta Kakanwil itu dipindahkan dari wilayah saya.

 

Kabarnya Anda dulu memang suka main telepon menteri. Konon Anda yang pertama kali berani menelpon Sultan Hamengkubuwono IX, Wakil Presiden RI waktu itu?

Oh, ya. Waktu itu hanya Presiden yang belum saya coba telepon untuk urusan urusan dinas, ha… ha…

 

Ali Sadikin melirik jam di pergelangan tangannya. Di luar, sinar matahari sore yang lembut menembus dari celah-celah pohon rindang di halaman depan. Kami pun pamit, setelah berjanji akan bertemu lagi untuk pemotretan Sabtu mendatang.

 

*) Wawancara ini dimuat di Majalah MATRA No. 53, Desember 1990

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: