Soedoet Pandang

Home » Politika » TENTANG MARHAENISME: PANDANGAN SEORANG SOSIALIS

TENTANG MARHAENISME: PANDANGAN SEORANG SOSIALIS

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

imam yudotomo

 

Oleh Imam Yudotomo

Direktur CSDS (Center for Social Democratic Studies); Pendiri RTI (Rukun Tani Indonesia)

 

Menyongsong hari kelahiran Bung Karno tanggal 1 Juni 2001, yang persis menjadi peringatan Satu Abad Bung Karno, banyak tulisan yang terbit mengenai dirinya. Tetapi, tampaknya belum ada yang tertarik untuk menulis tentang Marhaenisme, ideologi yang dianggap sebagai ciptaannya. Bahkan lebih dari itu, tampaknya ideologi Marhaenisme mulai dilupakan. Padahal, apa yang paling penting dari Bung Karno sebenarnya justru ideologinya itu! Apalagi dalam keadaan sekarang ini, dimana bangsa Indonesia sedang kebingungan untuk mengatasi krisis yang dihadapinya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai Marhaenisme secara autentik memang agak sulit. Karena gagasan-gagasan Bung Karno mengenai hal ini banyak terdapat dalam tulisan-tulisannya yang lama. Sedang gagasan yang terkandung dalam tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya yang baru dan mudah didapat, terutama yang dibuat pada tahun 1959-1965, disinyalir bukan gagasan murni Bung Karno, melainkan juga gagasan Nyoto. Karena banyak tulisan dan pidatonya yang dibuat di masa itu, sudah menjadi rahasia umum, dibuat bersama-sama Nyoto.

 

MARHAENISME AWAL

Nah, apa sebenarnya Marhaenisme itu? Rumusan Marhaenisme yang paling awal, semestinya adalah rumusan yang dipakai PNI pada saat didirikan di tahun 1927. Namun bahan tersebut sulit dan tidak bisa didapat. Tulisan yang paling awal mengenai Marhaenisme yang berhasil didapatkan adalah rumusan yang ditetapkan oleh Kongres Partindo di Yogyakarta pada tahun 1933. Seperti diketahui, PNI sendiri dibubarkan pada waktu Bung Karno ditangkap dan diadili. Waktu Bung Karno dipenjara, salah seorang pengikutnya, Mr. Sartono, mendirikan Partindo (Partai Indonesia) dan pada waktu dibebaskan Bung Karno memilih masuk Partindo dari pada masuk PNI Pendidikan yang dipimpin Hatta dan Sjahrir. Rumusan yang yang dihasilkan Kongres Partindo itu ditulis oleh Bung Karno dalam Fikiran Rakjat (1933) dan ikut dibukukan dalam kumpulan tulisannya, Di Bawah Bendera Revolusi. Isinya anta lain sebagai berikut:

  1. Marhaenisme yaitu sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi,
  2. Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain,
  3. Partindo memakai perkataan marhaen dan tidak proletar, oleh karena perkataan proletar itu bisa juga diartikan bahwa kaum tani dan lain-lain kaum yang melarat tidak termaktub di dalamnya,
  4. Karena Partindo berkeyakinan, bahwa perjuangan kaum melarat Indonesia yang lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemen maka partindo memakai perkataan marhaen itu,
  5. Di dalam perjuangan marhaen itu maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang besar sekali,
  6. Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negara yang di dalam segala halnya menyelamatkan marhaen,
  7. Marhaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susuanan masyarakat dan susunan negara yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner,
  8. Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme,
  9. Marhenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.

Rumusan mengenai Marhaenisme sebagai ditulis Bung Karno di atas, boleh dikatakan sebagai rumusan awal dari ideologi tersebut. Di sini tampak bahwa hal yang sangat menonjol pada waktu itu adalah kebutuhan untuk menerangkan istilah marhaen secara lebih jelas. Ada 4 poin dari 9 poin dalam rumusan itu, yaitu poin 2, 3, 4 dan 5 yang menjelaskan hal tersebut. Di sini tampak keunggulan Bung Karno dalam menganalisis realitas Indonesia dan kekritisannya terhadap Marxisme, sehingga rumusannya lebih sempurna daripada istilah proletar yang dibuat oleh Marx. Karena di sini, Bung Karno tidak membebek pada jargon proletar-nya Marx yang Eropasentris, melainkan melihat lebih jelas bahwa Indonesia yang menjadi korban kapitalisme itu bukan saja kaum proletar seperti di Eropa, melainkan juga kaum tani dan kaum-kaun lain yang ikut dimelaratkan oleh kapitalisme dan penjelmaannya, yaitu imperialisme dan kolonialisme.

 

soekarno_143

 

Hal penting lain dalam rumusan itu adalah penegasan bahwa Marhaenisme itu adalah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Sekalipun Bung Karno dalam tulisannya di Fikiran Rakjat itu tidak menjelaskan kedua hal tersebut, namun sudah jelas bahwa yang dimaksud Bung Karno dengan sosio-nasionalime pada hakikatnya adalah faham kebangsaan yang dilandasi oleh rasa kemanusiaan, persamaan nasib, hasrat untuk bekerja sama/gotong-royong guna mencapai hidup sama-bahagia dan bukan faham kebangsaan yang diperalat oleh kapitalisme dan imperialisme, yaitu faham kebangsaan yang dihinggapi sikap angkara murka dan untuk menghisap, menggencet dan menindas bangsa lain dan bahkan bangsa sendiri. Sedang sosio-demokrasi dimaksudkan bukan saja ditekankan pada aspek demokrasi politik, melainkan juga pada aspek ekonomi dan sosial.

 

PERKEMBANGAN MARHAENISME

Apa yang dihasilkan dalam kongres Partindo 1933 di atas, kemudian diperbaharui dalam kongres berikutnya. Namun sekali lagi, bahan-bahan tersebut sulit dan tidak bisa didapat. Rumusan tentang Marhaenisme yang bisa didapat kemudian adalah yang dirumuskan dalam kongres PNI di Surabaya pada tahun 1952. Dalam rumusan kongres tersebut tampak adanya perkembangan yang cukup menarik. Selain sistematikanya disempurnakan, tampak juga ada formulasi baru yang tampaknya perlu diketengahkan untuk mengantisipasi realitas yang akan muncul.

 

1. Analisa tentang keadaan masyarakat Indonesia

Hasil kongres tersebut merumuskan analisa keadaan masyarakat Indonesia sebagai warisan jaman penjajahan itu, sebagai masyarakat miskin yang bercorak feodal, meskipun di sana-sini sudah terdapat corak demokrasi karena pengaruh pergerakan dan anasir-anasir demokrasi lama. Di sana-sini individualisme juga sudah mulai muncul berkat hasil pendidikan Barat. Dan dalam masyarakat yang demikian itu, mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum tani kecil dan buruh yang miskin, ditambah dengan sedikit kaum buruh yang juga miskin dan hidup dari industri.

 

2. Rumusan tentang Marhaen dan Marhaenisme

Siapa yang disebut marhaen dalam rumusan kongres tersebut tampaknya tidak banyak berbeda, yaitu mereka yang dimelaratkan oleh kapitalisme dan imperialisme. Demikian juga, tampaknya tidak banyak perbedaan atau perubahan mengenai pengertian tentang sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Akan tetapi kalau dalam rumusan yang terdahulu Marhaenisme hanya disebutkan sebagai cita-cita dan cara perjuangan yang menghendaki hilangnya kapitalisme dan imperialisme, rumusan baru dari kongres tersebut merumuskan pentingnya organisasi massa yang berdisiplin kuat agar perjuangan itu bisa dilakukan dengan baik dan teratur, mampu menggerakan seluruh marhaen untuk mencapai tujuannya. Rumusan tentang organisasi menggambarkan tentang bagaimana sifat organisasi PNI (Partai Nasional Indonesia) dan bagaimana organisasi itu harus berfungsi. Di sini Bung Karno merumuskan arti partai-pelopor, yang disusun secara sederhana dengan ideologi yang meresap, berjiwa revolusioner dan berdisiplin baja, dimana setiap anggota memahami peran apa yang harus dikerjakannya dan juga kewajibannya. Organisasi ini harus mempunyai saluran kekuatan di setiap organisasi massa marhaen, yaitu terutama massa buruh, massa tani, massa pemuda dan massa perempuan. Dengan masuknya rumusan mengenai organisasi ini, maka ideolagi Marhaenisme menjadi lebih lengkap.

Selain soal organisasi, hal baru dan hal yang penting lain yang dirumuskan dalam kongres tersebut adalah penegasan bahwa masyarakat yang di cita-citakan adalah masyarakat sosialis, yaitu sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan gotong-royong Indonesia dan yang berdasarkan demokrasi, yang karenanya faham Marhaenisme menolak setiap bentuk diktaktor. Rumusan ini jelas merupakan rumusan yang sangat penting, karena dengan jelas membedakan dirinya dengan ideologi komunisme. Penegasan bahwa sosialisme yang dimaksudkan adalah sosialisme yang didasarkan pada demokrasi dan karenanya menolak setiap bentuk diktator menjelaskan bahwa sosialisme yang dimaksud Bung Karno itu adalah sama sekali bukan sosialisme yang dianut komunis yang terang-terangan mendasarkan diri pada diktator-proletariat.

 

3. Filsafat Perjuangan

Rumusan kongres PNI tahun 1952 menambah banyak hal. Di atas sudah dituliskan beberapa penambahan itu, antara lain dalam hal pentingnya organisasi, penegasan bahwa sosialisme yang disesuaikan dengan sifat gotong-royong Indonesia, didasarkan pada demokrasi dan karenanya anti pada setiap bentuk diktator. Penambahan lain yang sangat penting adalah mengenai filsafat perjuangan Marhaenisme. Dialektis materialisme dan historis materialisme digambarkan secara populer, gampang dan kritis. Kaum marhaen harus yakin bahwa tidak ada satupun yang tetap di dunia ini, semuanya harus berubah. Segala sesuatu yang kita hadapi selalu mewujudkan deretan perlawanan yang terus-menerus dengan tiada-hentinya, selalu bersifat tumbuh-mati-tumbuh. Segala sesuatu di dunia pasti mengandung bibit-bibit pertentangan dan perubahan, dan senantiasa berubah menurut hukumnya dengan tiada kecualinya. Orang miskin, kalau dia bekerja keras dan mengatur hidupnya dengan hemat, maka dia bisa menjadi kaya. Orang bodoh, asal dia mau belajar, maka dia bisa menjadi pintar. Orang yang sekarang berada di bawah, asal dia mau berjuang, maka menurut hukum kodrat itu pasti kemudian dia akan ada di atas. Kaum marhaenis bukan saja percaya bahwa sesuatu itu akan selalu berubah, melainkan juga adalah orang yang berjuang untuk perubahan itu dan selalu harus melengkapi diri dengan segala kebutuhan yang diperlukan dalam perubahan itu.

Tiap manusia bisa terlibat dalam sejarah, terkadang sebagai dalang dan terkadang sebagai wayang, menurut keadaannya. Sebagai dalang dia mempengaruhi orang, sedangkan sebagai wayang dia dipengaruhi orang. Dan pengaruh itu bisa datang dari berbagai sebab, karena simpati, karena kekuasaan, karena keuntungan, atau karena sebab lain. Akan tetapi jelas sekali bahwa pada umumnya pengaruh itu disebabkan karena adanya kepentingan. Hubungan kepentingan yang satu dengan yang lainnya itulah yang menimbulkan gerak dalam masyarakat. Dan kepentingan itu bisa berupa kepentingan rohani (cita-cita) dan bisa berupa kepentingan jasmani (hidup ekonomi), dimana keduanya sama-sama berpengaruh dalam gerak masyarakat.

Dengan keterangan tersebut, jelaslah bahwa sekalipun Bung Karno memakai logika dialektis dan historis materialisme, akan tetapi tidak sepenuhnya membebek pada logika materialisme tersebut. Di situ Bung Karno masih memberi tempat kepada kepentingan rohani dan cita-cita. Bahkan mengatakan ada masanya cita-cita lebih berpengaruh dan ada masanya soal-soal ekonomi yang lebih berpengaruh. Dengan kritis Bung Karno menyatakan bahwa kaum faham historis-materialisme memang banyak mengandung kebenaran, akan tetapi tidak sepenuhnya benar.

Rumusan Marhaenisme kongres Surabaya 1952 ini terus disempurnakan dalam kongres PNI berikutnya. Perubahan signifikan adalah perubahan yang dirumuskan dalam kongres di Purwokerto 1962 dan Kongres Bandung yang menghasilkan Deklarasi Marhaenis, dimana kekuatan yang lebih radikal-revolusioner di dalam PNI berusaha membersihkan anasir-anasir feodal marhaenis gadungan, baik secara ideologis maupun secara fisik dari kepemimpinan partai. Sekalipun pada hakikatnya tidak banyak perubahan yang substantif dalam rumusan mengenai ideologi marhaenis itu sendiri. Namun dalam kongres Purwokerto itu mulai diformulasikan dan dipopulerkan istilah bahwa Marhaenisme adalah “Marxisme yang diterapkan di Indonesia”. Namun sayang sekali, proses yang semestinya dianggap sebagai penemuan kembali dari prinsip dan cita-cita Marhaenisme yang sesungguhnya justru mendatangkan petaka. Mengapa? Karena bersamaan dengan itu situasi politik di Indonesia berubah secara drastis. Kekuatan militer, yang sebelumnya dimotori oleh Nasution dan kemudian diambil alih Soeharto, berhasil merebut kekuasaan dan menjadikan ideologi yang bersumber pada Marxisme sebagai lawan yang harus dihancurkan. Begitu dahsyatnya usaha penghancuran tersebut, maka PNI segera membuang jauh-jauh rumusan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang diterapkan di Indonesia, bahkan juga membuang bahwa Marhaenisme adalah sosialisme yang disesuaikan dengan sifat gotong-royong Indonesia. Lebih jauh lagi, bahkan Marhaenisme itu sendiri secara keseluruhan diusahakan untuk dihancurkan secara terencana dan sistematis.

 

RELEVANSI DENGAN KEADAAN SEKARANG

Proses de-politisasi yang dilakukan rejim Orde Baru (menghasilakan de-ideologisasi) dan propaganda gencar kaum kapitalis yang mengatakan bahwa ideologi sudah mati dan sudah tidak ada lagi, tampaknya memang sudah menjadi kecenderungan dalam masyarakat kita. Orang sudah mulai tidak percaya lagi bahwa ideologi bisa menjawab tantangan jaman dan persoalan masyarakat. Jangankan Marhaenisme yang masih digolongkan ideologi lokal, komunisme yang sudah jadi ideologi internasional dan sangat kuat—dengan KGB dan AK-47 –nya—saja bisa hancur berantakan. Akan tetapi di sisi lain, ideologi yang selama ini dikenal sebagai musuh kaum marhaen, yaitu kapitalisme dan imperialisme (dalam bentuk yang lain) masih tetap ada dan bahkan terus berkembang. Seperti yang bisa kita lihat sekarang ini, ideologi kapitalisme bisa melaju hampir tanpa ada hambatan. Lewat mekanisme pasar bebas dunia, atau globalisasi, yang sekarang dipropagandakan oleh kaum neo-liberal (yang hakikatnya dalah kaum neo-kapitalis), mereka mencoba manguasai dunia. Sama seperti ketika kapitalisme mengubah dirinya menjadi imperialisme dan kolonialisme dulu! Usaha ini didukung oleh perangkat-perangkat hukum dan organisasi internasional yang diciptakan untuk itu: intellectual property rights, ISO, IMF, World Bank, WTO, APEC dan sebagainya. Kalau dulu uang harus berproduksi sebelum menghasilkan keuntungan, sekarang ini kapitalisme mampu membuat uang menjadi alat spekulasi, sehingga tanpa berproduksi uang bisa menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Kaum kapitalis tidak perlu lagi mendirikan pabrik untuk mendapatkan keuntungan, melainkan cukup bermain di bursa dan pasar uang untuk menggandakan uangnya itu, seperti layaknya penjudi main di kasino (karena itu ada orang yang menyebut kapitalisme sekarang sebagai casino-capitalism).

Pada sisi yang lain tidak ada satu kekuatan politik di Indonesia di awal milenium ini yang menyadari akan bahaya besar yang mengancam kita semua. Hal ini tampak jelas dari sikap semua partai politik yang ada, termasuk PDIP, dalam upaya mengatasi krisis ekonomi yang kita hadapi sekarang. Meskipun mereka saling bertengkar, namun tidak ada satupun partai yang berbeda dalam menghadapi IMF. Semua setuju bahwa pemerintah harus mematuhi Letter of Intent yang sangat merugikan Indonesia. Juga, tidak ada satupun partai yang menolak investasi asing, bahkan semua mengundang dan mengelu-elukannya. Lebih dari itu, sebagaimana dikatakan di atas, ideologi yang dikenal sebagai lawan kapitalisme di Indonesia juga telah dimandulkan. Komunisme telah dihancurkan. Sosalisme diidentikkan dengan komunisme, sehingga karenanya ikut hancur. Dan tampaknya, Marhaenisme yang mendapat dukungan paling besar dalam masyarakat berkat kharisma Bung Karno sebagai penciptanya, sekarang mulai tidak dipahami, bahkan oleh para pengikutnya sendiri. Di sini sebenarnya letak ketragisan dari ideologi Marhaenisme. Di satu pihak, ada ideologi Marhaenisme yang pada hakikatnya adalah ideologi yang anti-kapitalisme. Di pihak lain, ada kapitalisme yang merajalela mengumbar watak asli keserakahannnya, tanpa batas dan seenak perutnya sendiri saja. Dan dalam menghadapi kenyataan itu, kaum marhaenis, pengikut ideologi Marhaenisme yang anti-kapitalis dan mengklaim dirinya didukung oleh mayoritas bangsa Indonesia ini, ternyata tidak bisa dan bahkan tidak berbuat apa-apa sama sekali! Tragis, sungguh tragis!

Inilah yang mungkin perlu menjadi bahan instrospeksi bagi siapa saja yang mengaku kaum marhaen. Sehingga ada baiknya kalau kita bertanya: mengapa hal itu bisa terjadi? Di sini dengan jelas kita melihat kehebatan Bung Karno, yang mampu merumuskan Marhaenisme sebagai cita-cita dan cara perjuangan yang tepat bagi bangsa Indonesia, menjadi sia-sia tidak ada artinya! Kehebatan yang dulu telah berperan besar ikut memerdekaan bangsa Indonesia itu, sekarang ternyata hanya menjadi sebatas cita-cita saja! Karena, sekarang cita-cita itu tidak nyambung dengan keinginan massa rakyat, karena ideologi itu tidak terintegrasikan dalam dinamik dan gerak aspirasi masyarakat. Tampaknya sekarang ini, pemahaman penganut Marhaenisme terhadap ideologi Marhaenisme-nya hanya sebatas demagoginya saja, pada puja-puji yang seremonial sifatnya. Sehingga mereka kurang memahami nagaimana bahaya kapitalisme yang sudah sedemikian mengerikannya. Hal ini sebenaranya justru sangat tidak disukai Bung Karno sendiri. Bung Karno selalu mengatakan dengan tegas perlunya kerja dan kerja yang nyata! Dan menurut Bung Karno, kerja yang nyata itu adalah machtsvorming, yang artinya menggalang seluruh kekuatan secara nyata untuk menentang kekuatan yang menyengsarakan rakyat. Menggalang kaum buruh untuk menuntut perbaikan nasibnya. Menggalang kaum tani agar peningkatan produksi yang dihasilkannya bisa mereka nikamati! Menggalang kaum nelayan yang harus bersaing dengan kapal penangkap ikan modern milik kaum kapital! Menggalang kekuatan perempuan yang selama ini selalu dilecehkan. Menggalang pemuda agar mereka hirau pada masa depannya! Dan machtsvorming itu juga harus digunakan untuk mengganyang konglomerat hitam dan pejabat korup yang telah menjarah bertriliun-triliun harta negara! Itulah yang dimaksud Bung Karno dengan macthsvorming, bukan sekedar machtsvorming untuk kampanye dan apel-apel yang seremonial sifatnya.

Itulah sebabnya hal yang disebutkan di atas bisa terjadi. Karena itu, kekaguman kita kepada Bung Karno sebagai penggagas Marhaenisme hendaknya tidak hanya dilakukan dengan puja-puji yang seremonial sifatnya itu, melainkan dengan cara memahami substansi pikiran-pikirannya dan sekaligus harus berbuat sesuatu yang nyata untuk merealisir cita-citanya itu. Karena dengan puja-puji yang seremonial itu kapitalisme tidak akan tergoyahkan sedikitpun. Akan tetapi, kalau kita bangkit membangun kesadaran di kalangan kaum marhaen (kaum buruh, kaum tani, kaum perempuan dan kaum pemuda) akan kenyataan yang mereka hadapi, membangun organisasi yang akan menghimpun semua kekuatan anti-kapitalisme untuk bersatu-padu melawan kapitalisme itu, maka sudah hampir pasti kapitalisme akan tidak bisa sembarangan dan seenak-perutnya sendiri mengumbar keserakahannya.

Dari apa yang dikemukakan di atas, sebenarnya pesan paling penting yang ingin disampaikan Bung Karno, terutama mereka yang mengaku kaum marhaenis, sebagaimana juga diinginkan oleh Bung Karno sendiri dalam berbagai kesempatan adalah: WARISI API AJARANKU, BUKAN ABUNYA!

 

Yogyakarta, 1 Juni 2001

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: