Soedoet Pandang

Home » Politika » SOSIALISME KERAKYATAN

SOSIALISME KERAKYATAN

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

Sjahrir edit

 

Oleh Sjahrir

Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

 

Sosialisme adalah suatu cita-cita, suatu ajaran dan suatu pandangan hidup. Akan tetapi Sosialisme adalah pula suatu gerakan untuk mengubah masyarakat hidup bersama, serta kehidupan kita umumnya. Malahan Sosialisme sekarang pun merupakan kekuasaan, kekuasaan di berbagai negeri dan bangsa dimana kaum yang mengaku dirinya sosialis telah berhasil untuk memegang tampuk pemerintahan.

Sosialisme adalah untuk sebahagian suatu tujuan dan satu ajaran, satu teori, akan tetapi kita baru akan lengkap mengerti apa yang harus kita pahamkan dengan Sosialisme itu jika kita tambahkan pada pengetahuan teori kita tentang berbagai ajaran Sosialisme, pengetahuan tentang gerakan gerakan Sosialis, tentang praktek dalam perjuangan untuk mencapai Sosialisme.

 

Tujuannya

Tujuan Sosialisme umumnya diketahui orang terpelajar, yaitu mencapai suatu masyarakat pada mana rezeki adil dan rata terbagi, suatu masyarakat yang tidak mengenal penghisapan dan penindasan, artinya suatu masyarakat pada mana tiada terdapat orang yang sengsara dan mati kelaparan sedangkan ada pula orang yang lain yang hidup dalam kemewahan dan kekayaan yang berlebihan, suatu masyarakat pada mana tidak terdapat bahwa segolongan kecil orang menguasai kehidupan orang banyak yang lain secara ekonomis ataupun politis. Apalagi suatu masyarakat pada mana segolongan kecil manusia dapat memperkaya diri mereka atas dasar kemiskinan dan kebodohan golongan manusia yang terbesar.

 

Oleh karena itu maka dasar dan jiwa Sosialisme, inti Sosialisme, adalah rasa kemanusiaan, adalah rasa setia kawan kemanusiaan.

 

Dasar tuntutan Sosialisme sebenarnya adalah moril. Sosialisme memihak pada orang banyak yang miskin serta sengsara serta terbelakang dalam segala segi kehidupan. Sosialisme menentang penindasan, penghisapan serta kesewenangan dari satu golongan kecil yang berkuasa terhadap golongan yang terbesar. Ia berbuat begitu oleh karena Sosialisme berpegang pada keyakinan bahwa pada yang miskin, sengsara dan lemah selalu akan terdapat lebih banyak kebenaran dan kebaikan daripada yang berkuasa dan kaya serta merajalela. Sosialisme berpihak pada yang banyak, yang lemah dan miskin oleh karena kemanusiaan terdiri dari yang banyak itu. Oleh karena itu maka dasar dan jiwa Sosialisme, inti Sosialisme, adalah rasa kemanusiaan, adalah rasa setia kawan kemanusiaan. Hal ini juga benar untuk apa yang kerap menamakan dirinya Sosialisme yang berdasar pada ilmu pengetahuan ataupun Sosialisme Marx Engels.

Atas dasar setiakawan kemanusiaan itu Sosialisme menghen­daki supaya tidak saja rezeki yang diperoleh di antara kemanusiaan itu adil terbagi secara merata, akan tetapi juga bahwa rezeki untuk kemanusiaan itu diusahakan dengan cara setiakawan kemanusiaan, yaitu dengan usaha bersama, atau dengan kata asing dengan cara kollektief.


Sejarah Cita-cita Sosialisme

Teranglah bahwa cita-cita Sosialisme berdasarkan pada rasa adil dan tidak adil, pada rasa buruk dan baik, pada rasa kema­nusiaan dan rasa setiakawan kemanusiaan. Sejak kemanusiaan sadar akan sifat-sifat kemanusiaannya, jadi sejak nilai-nilai buruk dan baik, serta nilai-nilai adil dan tidak adil dijadikan pedoman di dalam kehidupan kemanusiaan, cita-cita yang menjadi jiwa, inti dan tujuan Sosialisme itu sebenarnya sudah ada, akan tetapi gerakan yang memihak pada kaum yang miskin dan tertindas di antara kemanusiaan itu baru menamakan dirinya Sosialis di abad­-abad yang paling terakhir ini. Ketika itu sudah timbul pengertian tentang sifat-sifat hidup bersama, dan timbul pengertian tentang apa yang disebut masyarakat. Ketika itu rasa keadilan di antara kemanusiaan telah diperkaya pula dengan rasa bahwa tiap manusia itu adalah sama derajatnya dengan manusia yang lain, kaya ataupun miskin. Timbul pula pengertian bahwa masyarakat hidup bersama itu adalah berbentuk serta bentuknya dapat pula dimengerti serta dapat dipengaruhi dengan sadar perwujudannya. Sosialisme di waktu itu menamakan tujuannya Sosialis, dengan arti bahasa: memperhatikan, hendak mengubah masyarakat-hidup-bersama, sehingga tiada lagi terdapat di dalamnya ketidakadilan dan kesewenangan, tidak terdapat lagi di dalamnya penindasan dan peng­hisapan oleh yang kuasa dan kaya terhadap yang miskin, lemah dan bodoh. Sosialisme mendapat arti: gerakan hendak mengubah masyarakat, ataupun gerakan untuk mendirikan masyarakat baru yang adil, di dalam mana kehidupan tiap anggota masyarakat serta hak-hak kemanusiaannya, derajat kemanusiaannya, terjamin oleh masyarakat itu sendiri. Sosialisme dan gerakan Sosialis di zaman ini, yaitu di abad kedelapan belas dan permulaan abad kesembilan belas, kemudian disebut oleh kaum Sosialis yang menyebut diri kaum Sosialis yang berpedoman pada ilmu pengetahuan, ataupun juga disebut kaum Marxis, Sosialisme Utopia. Maksudnya adalah bahwa kaum Sosialis yang hendak mendirikan masyarakat baru dengan dasar-dasar hidup-bersama yang baru dan adil itu, adalah kaum Sosialis yang tidak memperhatikan dan mengenal kenyataan di dalam mana mereka hidup sehingga mereka tiada mempunyai pengertian tentang yang dikehendakinya itu dalam sangkutan serta kemungkinan yang menjadi kenyataan di dalam masyarakat-hidup-bersama.

 

Marxisme

Marx dan Engels adalah pujangga-pujangga Sosialis yang terutama mengupas dan mengkritik usaha-usaha dan gerakan- gerakan kaum Sosialis yang mereka namakan kaum Sosialis Utopia, yang selalu gagal dalam usaha mereka mendirikan masyarakat baru dan adil itu. Marx dan Engels yang terutama mencoba memperkuat cita-cita serta gerakan Sosialis itu, dengan mengemukakan suatu dasar baru untuknya yaitu bahwa Sosialisme itu bukan saja suatu impian dan cita-cita kemanusiaan melainkan adalah suatu keharusan yang akan dilalui di dalam sejarah kemanusiaan. Mereka ini mengikhtiarkan menerangkan bahwa masyarakat hidup-bersama kemanusiaan dalam mana kita hidup itu, yang dinamakannya masyarakat kapitalis, tidak saja perlu diubah, akan tetapi menurut takdir dan hukum hidupnya sendiri mesti berubah menjadi masyarakat sosialis, pada mana tidak ada lagi kaum kaya serta kuasa dapat mempergunakan kemanusiaan yang miskin dan tiada berpunya sebagai alat untuk mempertahankan serta menambah kekayaannya.

 

Pendapat Marx, yang dibentangkannya di berbagai buah pikirannya antara mana di dalam Manifesto Komunis dan Das Kapital, adalah bahwa golongan yang akan memikul masyarakat baru itu ialah kaum buruh yang dipekerjakan di pabrik-pabrik, di dalam industri. Mereka yang akan memelopori perubahan masyarakat kapi­talis itu menjadi masyarakat sosialis.

 

Untuk itu mereka menerjemahkan sejarah kemanusiaan, seperti yang dapat diketahui berdasar tulisan-tulisan serta pengetahuan kita yang lain, tentang asal-usul serta sejarah kemanusiaan, sebagai sejarah masyarakat-hidup-bersama kemanusiaan. Masyarakat hidup-bersama itu dipandang mereka sebagai sesuatu yang mempunyai hukum hidupnya sendiri, yaitu sebagai bentuk-bentuk kehidupan-bersama yang selalu berubah dan berganti menurut keperluan untuk melanjutkan kehidupan kemanusiaan.

Bentuk-bentuk itu pada suatu ketika lahir, sesudah itu berkembang dan kemudian gugur dan runtuh serta lenyap untuk tumbuh kembali sebagai bentuk baru yang bibitnya sudah terkandung di dalam bentuk yang lama. Berpikir dan membentangkan cara begini dinamakan mereka berpikir dan memahamkan cara dialektis.

Bahwa pada itu segi jasmani kelanjutan kehidupan kemanusiaanlah, atau dengan lain perkataan kehidupan fisik kemanusiaanlah, yang menjadi tujuan segala kehidupan dengan berbagai bentuknya, dipandang oleh mereka sebagai hal yang pokok, seperti sebagai kunci pengertian kehidupan dalam masyarakat.

Oleh karena itu mereka memusatkan perhatian mereka pada segi kehidupan kemanusiaan dalam mengusahakan kelanjutan kehidupannya secara fisik, kepada usaha mencari rezeki kemanusiaan dan pada segi kegiatan ekonomi yang dapat dilihat dan dipelajari di dalam masyarakat-hidup-bersamanya. Untuk keperluan itu mereka membagi sejarah di dalam beberapa zaman dan tingkatan, dan ditunjukkan beberapa bentuk hidup bersama dalam mencari rezeki untuk melanjutkan kehidupan jasmani kemanusiaan itu. Dipertunjukkannya bagaimana berbagai bentuk itu tumbuh, berkembang dan lenyap oleh karena mula-mula diperlukan untuk mem­perbaiki syarat-syarat untuk melanjutkan kehidupan secara fisik itu, yaitu menambah rezeki, menambah apa yang menjadi keperluan hidup untuk seluruh kemanusiaan dan kemudian ternyata masih kurang dibanding dengan perkembangan dan kemajuan kemanusiaan dari segi jumlahnya dan sebagainya, hingga tiada pula lagi mencukupi serta timbul kembali keharusan memperoleh bentuk dan cara baru untuk melanjutkan pula kehidupan itu.

Zaman-zaman dan tingkatan-tingkatan itu dinamakan mereka bentuk dan tingkatan kolektivisme purbakala, pada mana kehidupan mencari nafkah dan rezeki masih berbentuk sangat sederhana, dan begitu pula masyarakat-hidup-bersama. Pada waktu itu semua hal yang diperlukan manusia dikumpulkan dari alam secara bersama-sama dan digunakan pula secara bersama-sama. Sesudah itu datang zaman feodal, pada mana keperluan hidup terutama dihasilkan dengan jalan pertanian yang menetap. Untuk itu dipergunakan perbudakan oleh kaum raja dan ningrat untuk kelanjutan dan kehidupan kemanusiaan itu. Dan kemudian datanglah zaman atau tingkatan kapitalisme pada mana lebih terkemuka di dalam masyarakat-hidup-bersama itu pabrik, mesin serta perdagangan dengan perburuhannya dan kaum majikannya sebagai sumber terutama daripada rezeki dan nafkah kemanusiaan.

Masyarakat pada tingkat yang terakhir inilah yang kemudian menjadi perhatian pokok Marx-Engels. Mereka berkeyakinan bahwa jika diperoleh pengertian yang cukup luas dan benar atas masyarakat kapitalis itu akan terang pula kelak bila dan bagaimana akan lenyapnya masyarakat yang berbentuk kapitalis itu dan kekuatan-kekuatan mana yang harus dianggap sebagai pemikul-pemikul bentuk baru kehidupan kemanusiaan kelak. Kekuatan-kekuatan itu dianggap sebagai bibit yang telah terdapat di dalam masyarakat kapitalis itu sendiri untuk bertumbuh menjadi bentuk masyarakat baru.

Pendapat Marx, yang dibentangkannya di berbagai buah pikirannya antara mana di dalam Manifesto Komunis dan Das Kapital, adalah bahwa golongan yang akan memikul masyarakat baru itu ialah kaum buruh yang dipekerjakan di pabrik-pabrik, di dalam industri. Mereka yang akan memelopori perubahan masyarakat kapi­talis itu menjadi masyarakat sosialis. Bagaimana pentingnya kaum buruh itu di dalam masyarakat kapitalis juga sudah dijelaskannya dengan mengemukakan teori arbeidswaarde-nya, dan keharusan berlalu dan runtuhnya sistem kapitalis itu digambarkannya dengan tidak dapat dihindarkannya krisis-krisis ekonomi di dalam masyarakat kapitalis, yang selalu menambah pengangguran serta ketegangan-ketegangan di dalam masyarakat, sehingga akhirnya menimbulkan kemelaratan dan kesengsaraan yang kian hebatnya (ditambah lagi dengan kegoncangan-kegoncangan di dalam masyarakat dan kehidupan) sehingga dapat mengancam kehidupan kemanusiaan dengan kehancuran. Pada waktu itu terjadilah krisis kapitalisme yang akan menghasilkan kemenangan kaum buruh dan proletar.

Mereka ini akan menyelamatkan kehidupan kemanusiaan dengan memulai kehidupan ekonomi dan masyarakat dalam bentuk yang baru, yaitu dengan bentuk masyarakat sosialis, pada mana milik perseorangan atas alat-alat penghasilan diganti dengan milik bersama (kolektif) atasnya, atau dengan melenyapkan paham milik atas alat-alat penghasilan itu sama sekali.

 

Oleh kaum Bolshevik di Rusia, ajaran Marx-Engels diangkat menjadi semacam agama yang dianggap mengandung segala kebenaran yang terakhir di dunia. Ia dijadikan agama yang menolak segala agama yang lain.

 

Dengan tujuannya bahwa masyarakat kapitalis mesti melahirkan masyarakat Sosialis, bahwa krisis dan pengangguran akan berganti menjadi jaminan kerja dan jaminan kehidupan buat tiap orang, sebenarnya ajaran Marx-Engels menjadi pendorong dan penarik yang terkuat atas kaum buruh untuk menganut gerakan Sosialis. Ajaran Marx-Engels menjadi alat yang paling tajam dan efektif untuk membangunkan keinginan dan kesadaran kaum buruh untuk memperjuangkan nasib mereka di dalam masyarakat.

Ajaran dan anjuran yang terdapat di dalam teori Marx-Engels itu tentang perjuangan kelas yang berkembang menjadi kebencian dan peperangan kelas, mempercepat lagi kegiatan kaum buruh itu dan tiadalah dapat disangkal bahwa kemajuan gerakan buruh serta gerakan Sosialis sangat maju dan meluas dengan pertolongan ajaran-ajaran Marx-Engels tentang kapitalisme dan pertentangan kelas. Marxisme di tempo yang lalu menjadi ajaran dan kepercayaan pemimpin buruh dalam gerakan sekerja dan dalam gerakan Sosialis. Ia menjadi pembantu yang paling penting dalam perjuangan kaum bolshevik di Rusia sehingga dapat menghasilkan kemenangannya.

Oleh karena itu tiadalah mengherankan bahwa kepercayaan terhadap ajaran Marx-Engels itu akhirnya berkembang menjadi pemujaan serta dianggap mutlak kebenarannya seperti ajaran agama-agama, dan dilepaskanlah ia dari kritik terus menerus, diberikan pula padanya kedudukan yang lain daripada kebenaran penetapan ilmu pengetahuan yang biasa, yang selalu dianggap sementara dan selalu pula harus disesuaikan dengan kenyataan- kenyataan yang baru diketahui dan diperoleh. Oleh kaum Bolshevik di Rusia, ajaran Marx-Engels diangkat menjadi semacam agama yang dianggap mengandung segala kebenaran yang terakhir di dunia. Ia dijadikan agama yang menolak segala agama yang lain.

Oleh karena itu ajaran Marx-Engels itupun menjadi beku, atau ia hanya lagi dihargakan sebagai suatu peralatan politik dalam perjuangan kaum buruh. Senjata yang digunakan menurut keperluan.

 

Sosialisme Modern

Perkembangan sejarah kemanusiaan sesudah Marx dan Engels mengemukakan ajaran-ajaran mereka itu tidaklah sesuai seluruhnya dengan kiraan Marx-Engels. Sedikitnya sama sekali tidak sesuai dengan kesan yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran mereka itu pada kebanyakan pemimpin kaum buruh dan kaum cerdik pandai yang menganut paham sosialisme. Krisis-krisis ekonomi benar berulang, akan tetapi ternyata tidak seperti yang dikesankan dalam gambaran teori krisis Marx-Engels. Kesengsaraan dan kemelaratan, malahanpun pengangguran, tidak bertambah seperti yang disangka orang. Sebaliknya dengan sangat nyata kemajuan dalam kedudukan jasmani dan kecerdasan kaum buruh justru di negeri-negeri yang paling maju industrinya, dapat dilihat. Oleh karena itu janji keruntuhan kapitalisme melewati jalan yang digambarkan oleh Marx-Engels itu lambat laun tidak lagi dapat meyakinkan. Maka datanglah ajaran Lenin-Stalin yang menekankan keperluan persediaan dan kecakapan menjalankan pemberontakan. Ajaran itu mengatakan bahwa sebenarnya dunia telah berada dalam zaman peralihan kapitalisme menjadi sosialisme, dan berhasil atau tidaknya perubahan itu hanya tergantung pada kecakapan dan kesediaan kaum Sosialis untuk merebut kekuasaan dari tangan kaum kapitalis atau borjuis. Oleh karena itu maka menambah kesediaan dan kecakapan melakukan pemberontakan itulah yang harus diutamakan di antara kaum buruh, kaum pelopor dan pemimpinnya, yaitu kaum komunis Lenin dan Stalin.

 

Yang menjadi pegangan pokok mereka hanyalah solidaritas kelas, malah pada akhirnya yang menguasai segala pikiran dan tindakannya hanyalah disiplin partai komunis dan kepentingan partai komunis. Maka lenyaplah apa yang sebenarnya inti dan jiwa segala sosialisme dari jiwa Stalinisme dan Leninisme ini.

 

Kaum komunis Stalin dan Lenin dengan demikian mengemukakan sebagai hal yang terpenting bagi orang yang menamakan dirinya kaum Marxis, ialah mengatur peperangan kelas seperti peperangan biasa dengan ajaran perangnya, yaitu strategi dan taktik perjuangan dan peperangan kelas. Manifesto Komunis dijadikannya landasan ajaran perang kelas itu dan diaturnya pula komando-komando untuk balatentara dan barisan buruh dan proletar. Kesatuan komando diperoleh dengan mengajarkan bahwa hanya Partai Komunis atau bolshevik saja yang berhak memimpin peperangan kelas kaum buruh itu, yang tidak hendak dan sanggup tunduk kepada komando kaum bolshevik atau komunis itu harus dianggap musuh dan lawan kaum proletar, musuh kelas yang juga bisa berada sebagai musuh di dalam selimut di kalangan kaum buruh sendiri. Komando peperangan kelas itu disusun sebagai komando tentara, dengan disiplin baja dan dengan indoktrinasi yang dapat menimbulkan kepatuhan yang fanatik terhadap kaumnya dan perjuangannya. Mereka harus dapat berlaku sebagai dan berkepercayaan bahwa segala kebenaran ada pada mereka dan mereka pula yang telah ditakdirkan oleh sejarah untuk menyelamatkan kaum­nya, yaitu kaum proletar. Sikap jiwa yang demikian telah berhasil menimbulkan di antara mereka ini yang menganggap dirinya sosialis yang paling benar, kebencian yang kian besarnya terhadap sekalian yang tidak dapat atau sanggup mengikuti mereka, sehingga bahagian kemanusiaan yang bukan komunis seperti mereka, apalagi mereka yang menentang ajaran serta gerakannya, dipandangnya sebagai bahagian kemanusiaan yang harus dihancurkannya dengan segala akal dan jalan. Terhadap mereka yang dianggapnya lawan itu tidaklah berlaku rasa kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan.

Yang menjadi pegangan pokok mereka hanyalah solidaritas kelas, malah pada akhirnya yang menguasai segala pikiran dan tindakannya hanyalah disiplin partai komunis dan kepentingan partai komunis. Maka lenyaplah apa yang sebenarnya inti dan jiwa segala sosialisme dari jiwa Stalinisme dan Leninisme ini. Dan berlaku di antara mereka nilai-nilai peperangan pada mana tiada salahnya untuk membunuh sesama manusia jika ia berada dipihak lawan, dan menjadi pujian jika dapat menipu dan memperdaya musuh yang mesti dibunuh dan dihancurkan itu. Tiadalah berlaku di antara mereka kesusilaan kemanusiaan, melainkan sikap jiwa perang semata-mata, pada mana kaum komunis itu merasa diri berperang kelas dengan bahagian kemanusiaan yang tidak hendak tunduk pada pimpinan komando komunisnya itu. Sikap kaum Stalinis dan Leninis yang kianlah yang selama berpuluh tahun lebih hari lebih jelas diperlihatkan dan sikap itu pulalah yang membuatnya terkenal sebagai tiada berperasaan sesama kemanusiaan dan tiada berperasaan kasihan. Hal ini mempengaruhi perkembangan dan kedudukan Sosialisme di dunia selanjutnya.

Sebahagian kaum Sosialis menolak bahwa apa yang dikemukakan oleh kaum komunis itu adalah Sosialisme yang dimaksudkan oleh Marx-Engels. Mereka menolak segala hubungan dan sangkut-paut antara kekejaman dan ketiadaan kemanusiaan kaum komunis Leninis-Stalinis dengan cita-cita dan perjuangan sosialis Marx dan Engels. Mereka menunjukkan bahwa sosialisme berdasar ilmu-pengetahuan yang dikemukakan oleh Marx-Engels itu hanyalah suatu alat untuk mewujudkan Sosialisme yang harus dipandang sebagai bentuk yang sempurna daripada setia-kawan kemanusiaan. Bukanlah bahwa dengan menganut sosialisme Marx-Engels tiada lagi berlaku nilai-nilai kemanusiaan umumnya untuk kaum sosialis, sehingga kaum sosialis tidak bersikap sebagai sesama manusia terhadap siapa yang dipandang musuh atau lawan kelas. Apalagi kegilaan Komunis Lenin dan Stalin itu menganggap dan mengemukakan diri seakan-akan mereka itu mewakilkan kaum proletar dengan secara ekslusif sehingga semua yang dianggapnya dan dipandangnya sebagai lawannya haruslah pula dipandang dan dianggap musuh kelas, yang dapat diperlakukan sebagai binatang buas, yaitu ditipu, dibunuh, dan dimusnahkan secara lahir dan batin.

 

Oleh karena itu mereka menghormati MarxEngels sebagai penganjur dan pahlawan perjuangan buruh dan sosialis, akan tetapi sekali-kali mereka tidak memandang pikiran-pikiran Marx-Engels itu sebagai mengandung kebenaran mutlak, apalagi sebagai kata-kata nabi, atau seperti ajaran yang harus diperlakukan sebagai suatu agama yang modern yang menggantikan agama-agama yang lebih dahulu dan lebih tua.

 

Mereka yang menentang ajaran bolshevisme ini sekarang sebaliknya menekankan bahwa Sosialisme tiadalah lain daripada cita-cita kemanusiaan yang lebih sempurna dan tinggi. Oleh karenanya sosialisme sungguh-sungguh dan bukan untuk akal-akal perjuangan dan peperangan kelas saja, berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan umumnya pada moral dan setiakawan kemanusiaan sebagai lebih tinggi daripada moral dan setiakawan segolongan atau kelas. Mereka mengakui kebenaran kritik Marx bahwa penipuan moralitas yang digunakan oleh banyak kaum yang berkuasa sebagai moralitas dan etik yang digunakan untuk membela kedudukan yang berkuasa. Akan tetapi tidaklah itu berarti bahwa tiada sama sekali tempat untuk moralitas dan etik kemanusiaan yang bukan moralitas dan etik kelas dan perjuangan kelas.

Dan tidaklah dapat teori bangunan atas dan bangunan dasar Marx (bovenbouw dan onderbouw) diterjemahkan kian rupanya sehingga kaum yang menganggap dirinya Marxis tidak usah bersikap sesama manusia terhadap orang yang dianggapnya lawan kelasnya.

 

Bagi kita solidaritas kelas tetap kita pandang duduknya di bawah solidaritas kemanusiaan, dan begitu pula segala perjuangan yang dinamakan perjuangan kelas itu hanya kita anggap benar jika sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan umumnya.

 

Mereka inipun tidak menganggap bahwa kemungkinan terwujudnya Sosialisme di antara kemanusiaan tergantung pada benar atau tidaknya seluruh teori dan tujuan Marx-Engels. Oleh karena itu mereka menghormati Marx-Engels sebagai penganjur dan pahlawan perjuangan buruh dan sosialis, akan tetapi sekali-kali mereka tidak memandang pikiran-pikiran Marx-Engels itu sebagai mengandung kebenaran mutlak, apalagi sebagai kata-kata nabi, atau seperti ajaran yang harus diperlakukan sebagai suatu agama yang modern yang menggantikan agama-agama yang lebih dahulu dan lebih tua. Kaum sosialis yang berpegang pada etik dan setia kawan kemanusiaan ini, yang memperjuangkan sosialisme secara kemanusiaan, yang tidak fanatik membabi-buta berpegang pada keramatnya ajaran Marx-Engels seperti diterjemahkan oleh Lenin dan Stalin ini, oleh karena itu lebih luas dan lega jiwa dan pandangannya. Segala perjuangan dilakukan oleh mereka di dalam batas-batas nilai kemanusiaan. Jika adakalanya bahwa tidak dapat dihindarkan perjuangan tajam dan fisik, seperti jika terpaksa mengadakan perberontakan terhadap tin­dasan dan kesewenangan yang mengancam kehancuran, tiadalah mungkin bahwa mereka dapat memuja kekerasan dan tindasan dan pengekangan kehidupan sebagai suatu sistem seperti dilakukan oleh kaum komunis (bolshevik) di semua negara dimana mereka berkuasa. Di negeri-negeri dimana kaum komunis (bolshevik) itu berkuasa atas nama perjuangan kelas, atas nama pemerintahan diktatur proletar, diadakan pengekangan, tindasan dan penghisapan secara teratur dan totaliter atas seluruh rakyat. Untuk orang Sosialis yang benar-benar hendak menganut jiwa dan semangat Marx-Engels haruslah tiap kekerasan terhadap sesama manusia itu dirasakan sebagai suatu penyelewengan dan kesalahan yang bukan saja harus selekas mungkin ditinggalkan, akan tetapi selalu dihindarkan dan sebaliknya di dalam segala kehidupannya selalu harus terutama yang ke muka sifat kemanusiaannya terhadap sesama manusia meskipun dia sebenarnya dianggap lawan atau musuh kelas.

 

Sosialisme Kerakyatan

Sosialisme Kerakyatan di Indonesia adalah termasuk golongan Sosialisme modern ini. Kerakyatan seperti yang dikemukakan oleh Sosialisme Kerakyatan di Indonesia ini memanglah bertentangan dengan ajaran bahwa Sosialisme yang berniat menjadi wali atas kemanusiaan seperti yang diperlihatkan oleh kaum Stalinis dan Leninis di muka bumi sekarang ini. Sosialisme Kerakyatan menjunjung tinggi jiwa kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan, meskipun pada itu ada juga dikemukakan perjuangan kelas pada kaum buruh, jika ternyata bahwa sifat-sifat kelas itu sangat nyata dan diperlukan menunjukkan pada kaum buruh untuk mempercepat timbul dan majunya kesadarannya akan kedudukan ekonomisnya dan dapat pula membantunya memperkuat dan menyusun diri serta perjuangan kehidupannya. Bagi kita solidaritas kelas tetap kita pandang duduknya di bawah solidaritas kemanusiaan, dan begitu pula segala perjuangan yang dinamakan perjuangan kelas itu hanya kita anggap benar jika sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas kemanusiaan umumnya.

 

*) Dicuplik dari buku Bunga Rampai Sosialisme Kerakjatan (Djakarta: DPP Gemsos, 1957)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: