Soedoet Pandang

Home » Politika » DAPATKAH BANGSA INDONESIA MEMPERTAHANKAN “HARGA-DIRINYA” DALAM ALAM INDONESIA MERDEKA?

DAPATKAH BANGSA INDONESIA MEMPERTAHANKAN “HARGA-DIRINYA” DALAM ALAM INDONESIA MERDEKA?

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

margono018

 

Oleh Margono Djojohadikusumo

Pendiri BNI ’46; Pendiri dan Ketua Bagian Keuangan Hatta Foundation

 

Bung Hatta pada tanggal 12  Agustus 1972 akan berusia  70 tahun. Sebagai tokoh nasional dan seorang pejuang kemerdekaan yang murni sudah cukup terkenal baik di luar maupun di dalam negeri sendiri.

Dalam buku peringatan ini bagi penulis tidak ada tempatnya untuk mengulangi atau mengenangkan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan perjuangan beliau di waktu yang lampau. Saya hanya ingin mengungkapkan beberapa peristiwa kecil yang menurut hemat saya merupakan pegangan pokok bagi kehidupan kita sebagai bangsa yang telah berhasil memulihkan kemerdekaan tanah air dan berhasrat tetap menikmati kemerdekaan ini.

“Pegangan pokok” yang saya maksudkan ini tidak lain sifat kepribadian seseorang dalam pergaulannya dengan bangsa lain, yaitu menjunjung tinggi harga diri atau dengan kata-kata asing “self-respect”.

Sifat demikian itu bukanlah berarti mengagungkan diri dan sombong atau takabur dan merasa gagah sendiri dalam tingkah lakunya. Manusia yang menjunjung tinggi self respect umumnya rendah hati dalam percakapan dan pergaulan hidup sesama.

Perkenalan saya pertama kali dengan Bung Hatta pada masa pendudukan Jepang dalam tahun 1942, kurang lebih satu bulan setelah Pemerintah Belanda menyerah.

 

Beberapa Peristiwa Kecil yang Mengesankan

Sebelum melanjutkan tulisan ini lebih dahulu saya minta maaf jika sifat daripada karangan ini tidak sesuai dengan mutu buku peringatan yang akan dipersembahkan pada Bung Hatta.

Akan tetapi apa yang saya uraikan di bawah ini berdasarkan penglihatan dan pengalaman waktu yang lampau, yang patut menjadi pelajaran bagi generasi kita sekarang dan generasi mendatang.

Peristiwa kecil yang mengesankan saya dalam hubungan saya dengan Bung Hatta adalah demikian:

Baru satu bulan tentara Jepang menduduki Jakarta, ke­pada Gun Seikanbu (pejabat tertinggi pemerintahan Jepang) akan disampaikan sebuah lukisan sebagai tanda terima kasih bangsa Indonesia. Oleh Bung Karno diminta pada Bung Hatta untuk bersama-sama “menghadap” pada Gun Seikanbu menyampaikan lukisan itu. Bung Hatta menolak dengan jawab­nya, “Tidak sepatutnya kita merendahkan diri sebagai pelayan terhadap tentara Jepang. Pemberian lukisan itu baiklah diberikan pada lain kesempatan dengan cara lain juga.”

Penolakan Bung Hatta bukan semata-mata untuk menentang kemauan Bung Karno, akan tetapi hanya menunjukkan harga-dirinya, atau self-respect-nya.

Pada waktu itu hubungan kedua pemimpin satu sama lainnya masih sangat erat dan tidak perlu disangsikan.

“Harga-diri” atau “self-recpect” yang selama penjajahan berabad-abad hampir lenyap dari tubuh bangsa Indonesia terbukti pada tanggapan negatif instansi Pemerintah yang ber­wenang dahulu mengenai persiapan pusat perbankan atau bank sentral. Indonesia Merdeka tanpa alat perbankan tak akan ada artinya. Alat perbankan untuk mengatur perekonomian nasional tidak kurang pentingnya daripada tentara guna pertahanan fisik.

Sebulan sesudahnya Proklamasi (September 1945) pada instansi tersebut saya ajukan gagasan menyiapkan sebuah bank sentral (yang sekarang disebut BNI ‘46). Penulis mendapat dampratan demikian: “Kita sedang sibuk menyiapkan peme­rintahan negara, jangan ribut-ribut memikirkan sesuatu bank sentral, nanti kita mengambil oper Javasche Bank yang sudah lengkap peralatannya dan orang-orang yang ahli sekaligus.”

Saya sangat mendongkol mendengar kata-kata itu, bukan oleh karena saya dipandang tidak ahli—memang hal itu benar, saya sekali-kali bukan ahli dalam soal itu—akan tetapi seolah-olah kita tidak punya kepercayaan lagi pada diri sendiri, sehingga hanya mengharapkan saja kembalinya De Javasche Bank.

Dalam perasaan demikian saya pergi ke Bung Hatta. Sjukurlah beliau mempunyai pandangan lain yang menguatkan pendirian saya dengan tanggapannya demikian, “Teruskanlah usaha saudara, saya akan membantu sedapat mungkin. Memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi kita harus mencoba dengan kekuatan sendiri dengan segala risikonya.”

 

margono

 

Sejenak Menengok ke Belakang

Proses melunturnya self-respect dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sebenarnya sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun.

Dalam pengalaman saya dari waktu yang lampau saya mengikuti pelongsoran pendirian demikian yang dimulai dari lapisan atas masyarakat kita yang saya maksudkan cara kita berhadapan dengan bangsa asing—dalam hal ini dahulu bangsa Belanda.

Tahun 1912, ketika itu saya berusia 18 tahun dan baru lulus dari Osvia Magelang dan bekerja sebagai juru tulis pada kantor Kepatihan di Banyumas, yaitu kantor seorang pejabat Pamong Praja tertinggi di bawah Bupati. Patihnya seorang pejabat kuno, tetapi berpendidikan Osvia juga dan menguasai bahasa Belanda. Pada suatu waktu saya mendengar percakapan telepon beliau dengan seorang kontrolir (pejabat Pamong Praja bangsa Belanda). Maksudnya beliau dipanggil oleh kontrolir itu. Lalu dijawab demikian, “Kalau Tuan membutuhkan pendapat saya, silahkan datang di kantor saya. Saya sudah ada di kantor mulai jam 7.” Dalam bahasa Belanda, “Als U mijn advies nodig heeft, komt U hier in mijn kantoor. Ik ben hier al vanaf 7 uur.”

Itu sifat seorang pejabat kuno yang secara halus memberi pelajaran pada kontrolir muda itu dan menunjukkan self-respect-nya. Nama patih itu adalah R. Gandasubrata yang kemudian lebih terkenal sebagai Pangeran Gandasubrata setelah menjabat bupati di Banyumas.

Dalam periode yang sama (1914) di Kutoarjo saya sudah bekerja pada lain jawatan, bukan pada Pamong Praja lagi. Kebetulan bersama-sama seorang kontrolir Belanda saya akan mengunjungi Pak Bupati setempat. Bupati ini seorang yang sudah lanjut usianya. Kontrolir tersebut tidak berani menginjak lantai pendopo sebelum Pak Bupati keluar dan mempersilahkan dia masuk ke pendopo. Demikian keadaan pada waktu itu.

Para Bupati kuno masih disegani oleh pajabat-pejabat Belanda atau bangsa asing umumnya, walaupun sikap demikian bersumber pada tradisi feodal. Juga pendirian Pak Gandasubrata boleh dikatakan sisa feodal, sedang Bung Hatta adalah seorang demokrat. Betapapun pejabat bangsa Belanda masih mempunyai keseganan (Jawa = éring) terhadap pejabat Indonesia.

 

Periode Sepuluh Tahun kemudian (1923/1924)

Kali ini kejadiannya di Jawa Timur. Ini percakapan seorang bupati dengan seorang pejabat Belanda (bukan dari Pamong Praja) yang datang dari Jakarta. Sikap bupati itu dalam percakapan dengan pejabat tersebut begitu menggelikan bagi yang mendengarnya. Tiap-tiap kalimat yang diucapkan oleh pejabat itu disambut dengan “hamba, hamba”. Mengapa tidak cukup dengan “ya” atau “saya tuan”? Seorang bupati bukan pesuruh atau pelayan. Jika kepala daerah bersikap demikian terhadap orang asing, apa lagi bawahannya.

Seorang wedana (kepala distrik) dalam kabupaten yang sama menunjukkan sikap serupa waktu berhadapan dengan seorang kontrolir Belanda. Wedana itu masih muda dan sebaya dengan saya. Oleh karena dia menguasai bahasa Belanda, percakapan dengan kontrolir berlangsung dalam bahasa itu. Akan tetapi kepada kepala-kepala desa yang berkumpul pada kesempatan itu dia selalu menjebutkan kontrolir itu dengan “Kanjeng Tuan”. Misalnya, “Kangjeng tuan kontrolir bilang begini, kangjeng tuan kontrolir bilang begitu” dan selanjutnya.

Waktu kontrolir itu sudah meninggalkan tempat, saya tanya pada Pak Wedana, “Mengapa saudara memberi gelar ‘kangjeng tuan’ begitu murah pada kontrolir itu?” Jawabnya, “Ya di daerah ini sudah lazim begitu. Habis saja toh juga harus turut kebiasaan.”

 

Sedikit Penjelasan

Perkataan “kangjeng” adalah singkatan dari kalimat ba­hasa Jawa, “Hingkang wonten hing ngajeng”, yang berarti “Yang ada di barisan muka”, jadi sebutan bagi seorang pemimpin.

Di zaman lampau juga banyak singkatan-singkatan yang pada waktu ini sukar ditransir kembali. Juga singkatan seperti “jagung” (jaksa agung), “mendagri “ (menteri dalam negeri), “Sulut”, “Jateng”, “Jatim” dan sebagainya mungkin lima puluh tahun kemudian tidak ada orang akan tahu asal mulanya.

Gelar “kangjeng” dahulu hanya dipergunakan untuk “Rijks-bestuurder” kerajaan Sala dan Yogya dengan sebutan “Kangjeng Raden Adipati”.

Kemudian para bupati yang diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda oleh masyarakat kita diberi sebutan juga “Kangjeng Bupati”; di daerah Parahiyangan disebut “Kanjeng Dalem” dan sebagainya. Bahkan para bupati di Jawa Tengah bagian Uta­ra yang disebut “pesisiran”, seperti Brebes, Pekalongan, Semarang, Kudus, Rembang dan seterusnya, di muka “kangjeng” ditambah “gusti”, sehingga menjadi “gusti-kangjeng” atau “super-kangjeng”.

Keadaan itu mungkin peninggalan dari zaman VOC. Bupati-bupati ini yang oleh Belanda (VOC) selalu dipergunakan sebagai alat menentang kerajaan Mataram, meskipun daerahnya resmi termasuk wilayah Mataram.

Baiklah itu semua adalah sejarah yang tidak dapat digang­gu-gugat lagi. Saya akan membatasi diri dan mengakhiri mengenangkan peristiwa-peristiwa yang untuk generasi sekarang hanya memuakkan saja.

Tulisan ini, yang disiapkan guna buku peringatan Bung Hatta, merupakan pula renungan kalbu seorang kakek yang selama seperempat abad merasa ada hubungan batin dengan beliau. Ada peribahasa Belanda yang berbunyi “In het verleden ligt het heden, in het heden wat worden zal.”

Terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia saya serah­kan pada para ahli bahasa. Bagi saya sendiri peribahasa itu hanya mengandung makna yang sangat sederhana, yaitu hendaklah perbuatan kita di hari ini jangan sampai disesalkan oleh generasi mendatang.

 

Kesimpulan

Renungan kalbu pada hakekatnya menganalisa diri pribadi, baik sebagai individu, maupun sebagai anggota masyarakat. Pada karangan ini saya beri judul, “Dapatkah Bangsa Indo­nesia Mempertahankan “Harga Dirinya” dalam Alam Indonesia Merdeka?”.

Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu. Perjalanan kita masih jauh dan lama. Kemerdekaan 25 tahun tidak dapat menghilangkan sekaligus ciri-ciri peninggalan penjajahan berabad-abad.

Hanya rasa terima kasih terhadap Tuhan yang Maha Esa meliputi diri saya, bahwa bangsa dan negara Indonesia telah menduduki kembali tempat yang terhormat di lingkungan ne­gara-negara yang merdeka dan berdaulat di dunia.

Belum lama berselang, pada 1962, saya ada di pengasingan di luar negeri, melihat beberapa pedagang nasional kita keliaran dengan paspor dinas dan surat resmi dari Gubernur Bank Sentral dahulu, mencarikan kredit, utangan dari luar negeri. Siapa yang tidak malu melihat keadaan demikian?! Belum ber­usia 20 tahun Republik Indonesia merdeka sudah begitu merosot self-respectnya, mengemis kanan-kiri dan menjadi tertawaan negara asing.

Tragedi nasional bulan September 1965, betapa beratpun penderitaan kita pada saat itu, adalah peringatan Tuhan pada bangsa kita, khususnya pada pemimpin-pemimpin kita, pada “kangjeng-kangjeng” kita (hingkang wonten hing ngajeng) untuk kembali pada jalan yang benar. Dapatkah kita mengambil pelajaran dari peringatan Tuhan itu?

Syukurlah berkat bangkitnya Angkatan 1966, generasi muda dengan jiwa yang murni dan suci, kehormatan bangsa dan negara Indonesia yang merdeka sedikit demi sedikit mulai pulih kembali. Kita mulai lega dapat bernapas lagi, berpikir dan bicara secara bebas, bergaul dengan leluasa dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Pendek kata merasa hidup merdeka lagi.

Akan tetapi justru dalam situasi demikian itu orang lalu menjadi alpa, lengah meninggalkan kewaspadaan. Dewasa ini sudah berduyun-duyun bangsa asing mengunjungi negara kita. Kita merasa bangga dan gembira.

Bangsa asing tetap bangsa asing. Apa itu Inggris, Jepang, Belanda, Amerika tidak ada bedanya. Mereka semua mencari rezeki di bumi Indonesia dengan jalan apapun. Empat ratus tahun yang lalu, Portugis, Inggris, Belanda juga sudah mulai datang di sini, sebagai tamu, pedagang. Kemudian oleh karena kelengahan, kealpaan dan perbuatan kita sendiri maka mereka dari tamu berubah menjadi majikan, dari majikan menjadi “Kangjeng Tuan”.

Kita senang jika ada bangsa asing mengatakan bahwa orang-orang Indonesia lemah-lembut, ramah dan sebagainya. Sudah sewajarnya kita menerima tamu dengan ramah-tamah, akan tetapi kita harus membatasi diri, jangan memberi pelayanan yang berlebih-lebihan, seperti di waktu yang lampau. Untuk pinjam istilah dunia film atau sandiwara, janganlah over acting. Inilah yang saya maksudkan dengan mempertahankan self-respect kita.

 

*) Dicuplik dari buku Bung Hatta: Mengabdi pada Tjita-tjita Perdjoangan Bangsa (Djakarta: Panitia Peringatan Ulang Tahun Bung Hatta ke-70, 1972)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: