Soedoet Pandang

Home » Politika » EMPAT TANTANGAN BAGI GERAKAN SOSIALIS DI MASA DEPAN

EMPAT TANTANGAN BAGI GERAKAN SOSIALIS DI MASA DEPAN

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

 Image

 

Oleh Imam Yudotomo

Direktur CSDS (Center for Social Democratic Studies);

Pendiri RTI (Rukun Tani Indonesia)

 

 

TANTANGAN 1: IDEOLOGI SOSIALISME YANG JELAS

 

Gerakan sosialis telah berperan besar dalam proses membawa bangsa Indonesia merdeka. Secara ekstrem bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa mereka Indonesia tidak akan merdeka dalam bentuknya yang sekarang. Mungkin kemerdekaan tidak diproklamasikan, melainkan dihadiahkan oleh bala-tentara fasis Jepang. Kalau Syahrir-Amir Syarifudin yang dikenal sebagai tokoh anti fasis tidak muncul memimpin pemerintahan ( perdana menteri dan menteri pertahahan) mungkin negara dan pemerintahan Indonesia yang baru diproklamirkan akan dianggap sebagai negara dan pemerintahan boneka Jepang, bahkan besar kemungkinannya tokoh-tokoh yang dianggap berkolaborator dengan Jepang akan ditangkap dan diadili sebagai penjahat perang. Akan tetapi bersamaan dengan itu, harus juga dikatakan bahwa selama 32 tahun pemerintahan orde baru dikakukan kampanye yang sistematis untuk menjadikan sosialisme dan gerakan sosialis sebagai musuh bangsa ini. Pembubaran PKI dan larangan menyebar-luaskan ajarannya, komunisme/marxisme-leninisme, telah dimanipulasikan menjadi larangan menyebar-luasan ajaran komunisme, marxisme, leninisme, yang menjadikan semua ajaran yang bersumber pada marxisme disama-ratakan dan dihancurkan. Dan sekarang, di mata rakyat Indonesia, termasuk kaum intelektual para pengajar-dosen di banyak fakultas ilmu politik, sosialisme adalah komunisme ! Dan trauma peristiwa G30S/PKI, sosialisme dihindari dan dilupakan orang. Apa itu sosialisme, tidak banyak orang yang tahu. Jadi tantangan pertama bagi gerakan sosialis di Indonesia adalah bagaimana menjelaskan apa itu sosialisme kepada rakyat Indonesia.

 

Namun, untuk menjelaskan apa itu sosialisme juga bukan pekerjaan yang gampang. Masalahnya, apa yang bisa dijelaskan ? Sampai sekarang, gerakan sosialis sendiri belum bisa dan belum mampu merumuskan ideologi sosialisme-nya secara jelas, yaitu ideologi sosialisme yang pas dengan realitias sosial dan politik yang ada sekarang, baik secara nasional maupun secara internasional. Harus kita akui, kalau kita bicara tentang sosialisme dan tentang gerakan sosialis di Indonesia selama ini, maka referensi kita selalu mengacu ke belakang, ke masa lalu : sosialisme-nya PSI, sosialisme-nya PKI, sosialisme-nya Murba dan sosialisme-nya marhaenisme. Cilakanya, semua kekuatan itu sudah lenyap ditelan bumi ! Dan kalaupun ada yang ingin menyesuaikan ideologinya dengan realitas sekarang, maka sifatnya masih pada tahapan explorasi. PRD misalnya, mencoba menggotong apa yang disebutnya sebagai sosdemkra (sosialisme-demokrasi-kerakyatan) yang kurang jelas. Selain itu, FPPI mencoba memperkenalkan nademkra (nasionalisme-demokrasi-kerakyatan), yang sama tidak jelasnya. Sementara itu, Pergerakan Sosialis mempropagandakan ideologi berlandaskan marxis-kritis, yang sifatnya masih pada tahap tiada rotan akarpun berguna.

 

Yang dapat dicatat dari pengalaman dalam menyebar-luaskan ideologi sosialisme selama ini, ternyata pertanyaan pertama yang muncul dari masyarakat adalah pertanyaan apa bedanya sosialisme dengan komunisme ! Jadi, sekalipun sekarang ini kita belum bisa menjelaskan apa itu sosialisme secara keseluruhan, namun kita sudah harus bisa menjawab pertanyaan itu ! Secara singkat, pertanyaan itu kami jawab dengan analog sebagai berikut. Di kalangan orang sosialis India, pertanyaan apa itu sosialisme selalu dijawab dengan : socialism is communism with democracy ! Atau, socialism is marxism with democracy ! Sebaliknya, pertanyaan apa itu komunisme selalu dijawab dengan : communism is socialism without democracy. Atau, communism is marxism without democracy. Jawaban seperti ini bisa dimengerti, karena sekalipun sosialisme dan komunisme pada dasarnya bermuara di satu sumber, yaitu marxisme, tetapi keduanya mempunyai perbedaan. Perbedaan itu terletak pada cara mereka memperjuangkan cita-citanya. Kaum sosialis berjuang dengan jalan demokrasi (bahkan Karl Kautsky mengatakan bahwa sosialisme tanpa demokrasi adalah omong kosong !) dan menjadikan demokrasi sebagai bagian dari cita-citanya. Kaum sosialis selalu mempertimbangkan kehendak mayoritas rakyat. Sementara itu, kaum komunis memperjuangkannya dengan cara yang tidak demokratis (demokrasi sentralisme, diktator proletariat dan sistem ekonomi terpusat dan lain-lain). Bagi kaum komunis, komunisme adalah keharusan sejarah, sekalipun mungkin mayoritas rakyat menolaknya. Jadi perbedaan yang paling pokok antara  sosialisme dan komunisme adalah dalam masalah demokrasi.

 

 

TANTANGAN 2: ORGANISASI DAN BUDAYA BARU ORGANISASI

 

Untuk menjawab tantangan ini, mau tidak mau maka kita akan kembali menyalahkan kebijakan pemerintah rejim orde baru.  Kebijakan de-politisasi rakyat, pada tahap berikutnya diikuti dengan proses dis-organisasi  rakyat atau penghancuran organisasi-organisasi rakyat. Untuk memudahkan kontrol dan penguasaan, semua organisasi harus diamalgamasikan ke dalam satu organisasi : semua organisasi pemuda harus tergabung dalam KNPI, semua organisasi tani harus berada dalam naungan HKTI, semua organisasi buruh harus masuk ke dalam SPSI yang kemudian menjadi FSPSI, semua organisasi nelayan harus menjadi anggota HNSI dan seterusnya. Dengan demikian tidak ada satupun organisasi massa yang bebas dari kontrol pemerintah. Lebih jauh, ketidak-percayaan rakyat dan masyarakat pada umumnya akan pentingnya organisasi untuk memperjuangkan cita-citanya menjadi semakin besar, karena organisasi-organisasi yang ada itu memang tidak memperjuangkan kepentingan rakyat. Organisasi-organisasi itu dibangun justru untuk mengontrol rakyat. Akibatnya, ketika kita berusaha untuk membangun organisasi rakyat yang kita perlukan sebagai alat perjuangan yang serius, kesulitan yang sangat besar menghadang kita.

 

Yang lebih menyedihkan adalah bahwa ternyata kesulitan itu pertama-tama justru datang dari diri kita sendiri. Karena selama 32 tahun kita hidup dalam alam pragmatisme, maka pada umumnya, kita menjadi tidak percaya pada perjuangan jangka panjang. Karena itu, kita juga menjadi merasa tidak perlu  untuk mempunyai alat perjuangan, karena dalam kerangka pragmatisme yang dibutuhkan adalah kelincahan dan ketrampilan individu pada suatu saat. Dan kalaupun kemudian kita sadar akan perlunya organisasi sebagai alat perjuangan, namun perilaku kita tetap saja belum atau bahkan tidak organisatoris. Mengapa ? Karena kita memang tidak mempunyai pemahaman dan pengalaman organisasi sama sekali. Kecenderungan mereka yang dipilih menjadi pemimpin dalam suatu organisasi untuk mengatur organisasi seenaknya sendiri tampak sangat besar. Karena itu, perbedaan pendapat menjadi tidak bisa ditolerir, sehingga karenanya pula perpecahan di kalangan kita sendiri menjadi hal yang semakin umum terjadi. Perbedaan pendapat selalu diartikan oleh mereka yang memimpin organisasi sebagai keabsyahan untuk memecat seseorang dan sebaliknya bagi mereka yang berbeda pendapat dengan pimpinan dianggap sebagai hak untuk memisahkan diri. Pecat memecat dan perpecahan ternyata bukan monopoli organisasi yang dibangun rejim orde baru, tetapi masih menjadi kebiasaan kita juga. Karena itu, selain kita perlu organisasi untuk memperjuangkan cita-cita kita, namun bersamaan dengan itu budaya baru organisasi juga harus dibangun, sehingga kekuatan yang kita bangun di dalam organisasi itu menjadi semakin kuat dan bukan sebaliknya. Organisasi ini adalah organisasi yang bisa mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan (dari sosialis yang paling kiri sampai sosialis yang paling kanan), akan tetapi bersamaan dengan itu, mampu bergerak secara organis melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditentukan.

 

Pemahaman tentang penting organisasi juga akan berpengaruh dalam menyusunan kekuatan gerakan sosialis. Dalam hal membangun kekuatan dalam gerakan sosialis, prioritas harus diberikan pada usaha membangun organisasi sektoral, buruh, tani, nelayan, miskin kita, perempuan, pemuda dan mahasiswa. Karena, dengan membangun organisasi yang bersifat sektoral kita masih mempunyai kemungkinan yang besar untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat. Dengan adanya organisasi-organisasi sektoral tersebut, maka kita bisa menjamin bahwa partai yang didirikan nanti adalah benar-benar partai rakyat.

 

 

TANTANGAN 3: PROGRAM AKSI YANG APLIKATIF

 

Suatu gerakan harus mempunyai program aksi dan program aksi itu harus aplikatif, dalam arti masuk akal dan bisa dilaksanakan untuk jangka panjang ataupun jangka pendek. Dan program aksi ini haruslah merupakan refleksi dari sikap dan pendirian politik dari gerakan itu.  Dalam kontek sekarang, program aksi itu haruslah mempunyai kaitan dengan masalah-masalah:

 

  • Usaha untuk mengatasi krisis ekonomi yang masih terasakan sekarang ini, dengan mengetengahkan dimensi keadilan dalam penyelesaiannya,
  • Usaha untuk membangun kembali kehidupan perekonomian di masa depan, dengan menjadikan kontrol atas modal dan keadilan sosial sebagai dasar,
  • Usaha untuk menegakkan supremasi hukum, penertiban lembaga-lembaga peradilan dan melaksanakan perlindungan atas hak azasi manusia,
  • Usaha untuk mendemokratisasikan negara agar kontrol atas negara dan pemerintahan bisa dilakukan,
  • Usaha untuk menghentikan kerusakan lingkungan di berbagai bidang,
  • Usaha untuk menjaga keutuhan wilayah dengan cara yang demokratis, dengan memberikan otonomi daerah di tingkat propinsi seluas-luasnya,
  • Usaha untuk meningkatkan kesetaraan peran kaum perempuan atau yang sekarang lajim disebut kesetaraan jender,
  • Usaha untuk menghadapi dan melawan proses globalisasi dan pasar bebas dunia,
  • Usaha untuk menghadapi dan melawan terorisme yang melanda dunia.

 

Program aksi tersebut di atas harus dengan jelas mencerminkan atau merupakan refleksi dari ideologi sosialisme.

 

 

TANTANGAN 4: TAKTIK DAN STRATEGI

 

Untuk melaksanakan program tersebut di atas gerakan sosialis memerlukan kader-kader yang trampil dan mempunyai kreativitas untuk mencari jalan atau cara untuk bisa melaksanakan program tersebut atau menentukan taktik dan strategi perjuangan. Untuk itu, maka kader-kader gerakan sosialis harus juga mempunyai pengetahuan yang memadai. Dan lebih dari itu, diperlukan latihan yang intensif bagi kader-kader tersebut.

 

Syarat pertama, kader-kader gerakan sosialis harus berada dalam dinamik masyarakat. Mereka yang tertarik pada nasib kaum buruh, harus aktif dalam organisasi sektoral buruh dan ikut di dalam dinamiknya. Bahkan kalau perlu, mereka harus mendirikan organisasi tersebut. Mereka yang tertarik pada kehidupan kaum tani, harus aktif dalam organisasi sektoral petani dan ikut di dalam dinamiknya, dan seterusnya. Keberadaan mereka di dalam dinamik masyarakat akan melatih dan meningkatkan ketrampilan teknis perjuangan, seperti memimpin aksi, melakukan perundingan dan sebagainya. Di samping itu, keberadaan mereka di dalam dinamik masyarakat akan meningkatkan sensitivitas mereka terhadap masalah-masalah yang perlu ditangani. Kader-kader gerakan sosialis haruslah kader-kader massa, kader-kader pemimpin rakyat, bukan kader salon yang hanya pintar menganalisa persoalan masyarakat akan tetapi tidak berada di tengah masyarakat. Hal ini sangat penting karena partai yang hendak kita dirikan nanti adalah partai rakyat !

 

Yogyakarta, 25 Maret 2004

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: