Soedoet Pandang

Home » Politika » SEPOTONG MIMPI ANAK PELARIAN

SEPOTONG MIMPI ANAK PELARIAN

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi. Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan. Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal. Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

Arsip yang Lalu

prabowo 03

DI bawah pohon besar, dua bocah itu berhadapan dengan tangan terbungkus sarung tinju. Yang satu 13 tahun, tinggi ramping menjulang. Bocah di depannya 11 tahun, tegap atletis dengan mata setajam elang.

”Saya menantang dia untuk bertinju tiga ronde,” tutur Eko Muhatma Kartodirdjo, bocah yang lebih tua. Yang dihadapinya adalah Prabowo Subianto, anak ketiga Sumitro, kini purnawirawan jenderal bintang tiga dan calon wakil presiden koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya. Perlombaan itu terjadi di halaman rumah keluarga Sumitro Djojohadikusumo di kawasan Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1962.

Eko putra Mayor Penerbang Petit Muharto Kartodirdjo, salah satu pilot pertama TNI Angkatan Udara, yang pada 1957 memilih bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta). Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, adalah salah satu pentolan pemberontak untuk urusan logistik dan keuangan.

Sejak perang melawan Jakarta meletus, keluarga semua pemimpin pemberontak terserak di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia. Di tengah ketakpastian nasib ayah mereka yang bergerilya di hutan-hutan Sulawesi dan Sumatera, Eko dan Prabowo bertanding tinju.

Buk, buk…, dua pukulan beruntun Eko masuk ke dagu Prabowo. Yang dipukul hanya menyeringai. Prabowo, yang saat itu belum menamatkan sekolah dasar, cepat balik menyerang dan memasukkan satu dua pukulan ke wajah Eko. ”Saya mengernyit, sakit sekali,” kata Eko mengenang.

Dalam tiga ronde, Eko kalah. Sampai puluhan tahun kemudian, pertandingan itu terekam jelas di benaknya. Bayangan Prabowo, bocah 11 tahun yang liat berkelahi dengan wajah kukuh enggan mengalah, tak mudah dia lupakan. ”You are a good fighter,” kata Eko memuji lawannya.

l l l
DES Alwi, diplomat senior Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, berperan besar membantu keluarga Sumitro Djojohadikusumo ketika harus lari ke luar negeri, pada akhir 1950-an. ”Saya bertemu Ibu Dora Sigar dan anak-anaknya di Palembang,” katanya awal Juni lalu. Dora Sigar adalah istri Sumitro. Pada Mei 1957, Sumitro duluan menghilang di pedalaman Sumatera, mempersiapkan deklarasi PRRI/Permesta.

Des segera membantu keluarga Sumitro menyeberang ke Singapura. Selain karena sama-sama aktivis Partai Sosialis Indonesia, dia senasib karena juga dicari-cari aparat keamanan.

Ada sekitar 10 keluarga pemberontak PRRI/Permesta yang berlindung di Singapura. Di antaranya keluarga Tan Goan Po alias Paul Mawira, ekonom karib Sumitro, yang juga orang PSI. Pada awal 1950-an, Tan dan Sumitro bersama-sama membangun Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Di Singapura, mereka tinggal berdekatan di kawasan Bukit Timah. Keluarga Kartodirdjo di Margoliouth Road, sedangkan keluarga Djojohadikusumo di Dalkeith Road.

Kun Mawira, putra Tan Goan Po, dan Prabowo sering bermain bersama. ”Kami masih 6-7 tahun waktu itu, tidak tahu bagaimana kesusahan orang tua lari dari kejaran pemerintah,” tutur Kun, kini komisaris di Panin Sekuritas. Mereka hanya tahu agar tidak bergaul rapat dengan putra-putri diplomat di Kedutaan Besar Indonesia. ”Kami kan anak-anak pemberontak.”

Kun ingat betul bagaimana Prabowo sering memimpin gerombolan bocah pelarian ini. ”Dia sering punya ide duluan dan tegas menyampaikan apa yang dia mau,” katanya. Eko punya kenangan serupa, ”Anaknya keras dan tidak mau mengalah,” katanya. Meski lebih tua dua tahun, dia sering tak kuasa menentang keinginan Prabowo.

Setelah dua tahun, pada 1959, keluarga-keluarga ini berpencar lagi. Keluarga Kartodirdjo mengungsi ke Penang, Malaysia. Adapun keluarga Mawira, Alwi, dan Djojohadikusumo pindah ke Hong Kong. Di sana mereka bergabung dengan keluarga Kolonel Jacob Frederick Warouw, atase militer Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, Cina. Jacob, yang lebih akrab disapa Joop Warouw, juga Wakil Perdana Menteri PRRI/Permesta.

”Sejak pertama bertemu, saya perhatikan anak itu,” kata Ronny Warouw, putra sulung Joop Warouw. Usia yang terpaut jauh membuat Ronny kerap berperan sebagai abang pelindung. ”Dia cerdas dan selalu ingin tahu,” katanya.

Sebagai anak serdadu, Ronny punya seperangkat mainan militer lengkap. Misalnya tank, panser, truk, pesawat, dan kapal selam. Juga ada aneka pistol dan senjata mainan. Prabowo betah bermain dengan semua tiruan alat militer itu. Ketika setahun kemudian keluarga Djojohadikusumo pindah ke Kuala Lumpur, Ronny menghibahkan semua mainan itu pada Prabowo.

Di Hong Kong, keluarga pemberontak ini tinggal di kawasan Hong Kong Side, di flat-flat kecil dekat Macdonald Road. Satu flat terdiri dari 3-5 kamar, tergantung besar-kecilnya keluarga yang tinggal. Flat keluarga Djojohadikusumo berkamar tiga. ”Untuk orang tua, untuk anak perempuan dan laki-laki,” kata Pinky Warouw, putri keluarga Warouw yang seusia dengan Prabowo.

Pinky, Prabowo, dan Kun sering bermain bersama sepulang sekolah. Kebetulan, di belakang flat mereka ketika itu, ada kawasan perbukitan yang masih berhutan lebat. ”Kami suka hiking ke sana, bikin kemah, dan meluncur turun lewat sungai dari atas bukit,” tutur Kun.

Pinky ingat bagaimana mereka bertiga doyan betul bermain koboi dan Indian. Prabowo selalu memilih menjadi koboi, ”Karena dia suka bermain pistol mainan,” katanya. Prabowo juga sangat serius jika bermain menjadi tentara. Dia mengoreksi cara berbaris kawan-kawannya, memperbaiki posisi mereka saat memegang senjata, dan selalu memberikan contoh di depan. ”Dia sangat tertarik pada dunia militer,” kata Pinky.

Di sekolah, Prabowo pendiam dan tidak jail. Suatu ketika, Prabowo dan Pinky bermain bersama Pasti, anjing boxer milik Pinky. ”Kami memberinya pisang,” kata Pinky. Tak disangka, Prabowo terpeleset menimpa pisang Pinky hingga penyet. ”Spontan, saya tonjok mukanya. Eh, dia nangis,” kata Pinky geli. ”Dia rupanya dididik untuk tidak memukul perempuan.”

Sifat Prabowo juga kerap kurang sabar dan temperamental. ”Tapi, kalau marah, cepat hilang lagi,” kata Ronny Warouw. Kesaksian serupa muncul dari Des Alwi. ”Prabowo cenderung ingin lekas, agak tergesa-gesa,” katanya.

l l l
PRABOWO lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Meski Sumitro muslim, ibu Prabowo memilih tetap beragama Kristen ketika mereka menikah empat tahun sebelumnya. Dalam bukunya Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, Sumitro mengakui peran besar istrinya dalam membesarkan putra-putri mereka. ”Saya jarang di rumah. Dalam hal memberikan pendidikan formal kepada anak-anak, istri sayalah yang banyak berperan,” katanya.

Sebagai perempuan yang dididik di dalam keluarga berpendidikan Belanda, Dora Sigar menerapkan disiplin ketat kepada putra-putrinya. Di meja makan, misalnya, semua tata krama dan etiket Belanda berlaku. ”Tangan tidak boleh ke sana-kemari, serbet harus dilipat di pangkuan,” kata Pinky Warouw.

Disiplin dan sikap keras Prabowo diturunkan dari ibu, gaya berpikirnya yang kritis dan bebas muncul dari ayah. Dalam bukunya, Sumitro mengaku menerapkan dua prinsip dalam mendidik anak. Pertama, kalau anak meminta waktu, orang tua harus meluangkan. Kedua, jangan sekali-kali meremehkan anak. Sumitro berusaha konsisten dengan prinsip itu.

Sepuluh tahun menjadi eksil di luar negeri, Sumitro tak bisa berperan sebagaimana kepala keluarga normal lain. Dia bertanggung jawab mencari dana untuk menjamin kelanjutan perjuangan PRRI/Permesta dan mengongkosi keluarga para pemberontak di pengasingan.

Dia harus sering meninggalkan keluarga berbulan-bulan, tanpa memberitahukan ke mana tujuannya. Selain menjalin hubungan dengan jaringan intelijen di Amerika Serikat, Eropa, Taiwan, dan negara Asia Tenggara, Sumitro membuka bisnis konsultan: Economic Consultants for Southeast Asia and The Far East. Semuanya untuk menjamin asap dapur keluarganya dan pendukung pemberontak lain.

Dari penuturan kawan-kawan dekat Prabowo, tampak bahwa putra ketiga Sumitro ini anak kesayangan ibunya. ”Bu Dora selalu bicara tentang Prabowo,” kata Des. Pinky dan Ronny Warouw punya cerita ibunda Prabowo tak mempersoalkan anaknya yang setiap bulan minta kiriman celana dalam saat mulai masuk Akademi Militer. ”Setelah kami periksa, ternyata Prabowo tak pernah mencuci pakaian dalamnya,” kata Ronny terbahak. Setiap habis mandi, Prabowo membuang pakaian dalam bekasnya.

Pada 1960, keluarga Djojohadikusumo pindah ke Malaysia. Sumitro membuka pabrik perakitan alat elektronik merek Premiere dari Prancis. Di Kuala Lumpur, Prabowo, yang menginjak usia 9 tahun, lolos ujian masuk Victoria Institution, sekolah bergengsi di sana. ”Prestasinya bagus di sekolah,” kata Des Alwi. Dua tahun di Malaysia, keluarga Djojohadikusumo hijrah lagi. Kali ini tujuannya ke Eropa.

l l l
Lulus sekolah menengah atas, American School in London, pada 1967, Prabowo Subianto menggebu-gebu ingin memperbaiki negerinya. Pulang ke Tanah Air, Sumitro meminta putranya berkeliling Jawa, untuk mengenal lebih dekat negeri yang ditinggalkannya satu dekade.

Prabowo tancap gas. Remaja 16 tahun itu aktif membangun jaringan dengan aktivis dan membentuk Korps Lembaga Pembangunan, meniru Korps Perdamaian, Peace Corps, kumpulan relawan sosial asal Amerika Serikat yang digagas Senator John F. Kennedy pada 1961.

Prabowo mengumpulkan rekannya, putra-putri para eksil Partai Sosialis Indonesia yang tumbuh bersamanya di luar negeri, untuk berdiskusi dengan para ekonom dan turun ke desa-desa. Emil Salim, yang ketika itu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pernah mereka datangi malam-malam. ”Kami berdiskusi berjam-jam di rumah Pak Emil,” kata Ronny. Hidupnya sebagai aktivis berhenti ketika dia memutuskan masuk Akademi Militer Nasional di Magelang, Jawa Tengah, pada 1970. (Sumber Majalah TEMPO No. 19/XXXVIII, 29 Juni 2009)

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: