Soedoet Pandang

TENTANG KAMI

Di era digital, kita diserbu informasi yang datang berjejal-jejal setiap waktu, sepanjang waktu. Tapi, sebagaimana yang dikhawatirkan Aldous Huxley dalam novelnya yang terkenal, "Brave New World", yang mestinya kita khawatirkan di masa kini bukanlah kemungkinan terkekangnya kebenaran, melainkan kemungkinan tidak adanya kebenaran pada seluruh informasi yang membanjir tadi.

Informasi yang datang bertubi-tubi juga tak selalu membuat kita bisa memahami keadaan dengan jernih. Kadang, informasi yang datang bertubi-tubi membuat kita kehilangan sudut pandang. Dan tanpa sudut pandang, informasi hanya akan menjadi teka-teki. Ia tak membawa pengertian, malah kebingungan.

Kami ingin menyumbangkan itu, memberi Anda sudut pandang atas berbagai informasi yang mengitari kita, dan atas berbagai peristiwa yang telah dan tengah berlangsung. Dengan sudut pandang, Anda jadi mempunyai banyak cara dalam mencerna sebuah informasi dan memahami sebuah peristiwa, baik yang aktual maupun historikal.

Selamat menikmati SOEDOET PANDANG.

PENGUNJUNG

  • 1,931,600 hits

Rubrik

Follow Soedoet Pandang on WordPress.com

KARIER SEORANG PRAJURIT

Letnan Jenderal Prabowo Subianto dilantik menjadi panglima Kostrad. Kariernya penuh dengan penugasan di lapangan.   Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang ditinggalkan Letnan Jenderal Prabowo Subianto, mulai Jum’at pekaln lalu, adalah pasukan solid dengan segudang prestasi. Betapa tidak? Adalah tiga anggota Kopassus yang menancapkan Merah Putih di atap dunia, Mount Everest, 26 April tahun lalu. Artinya, … Continue reading

Rate this:

KESAKSIAN FARID TENTANG PRABOWO PADA 1998

  Saya kenal Prabowo sejak kecil. Bapaknya sama bapak saya dekat walau beda ideologi. Satu PSI satu Masyumi. Hubungan dengan umat Islam itu sejak 1989. Dia mulai dengan Hartono Marjono dan Khalil Badawi. Pada 1991, saya yang mempertemukan dia dengan Pak Natsir. Waktu itu ketika belum tahu mau kemana arahnya. Pak Natsir waktu itu menasihati … Continue reading

Rate this:

PENGARUH SISTEM DEMOKRASI TERHADAP KEDUDUKAN NEGARA

sjahrir2

Oleh Sutan Sjahrir

Ketua Umum Partai Sosialis Indonesia

 

Di atas telah dikemukakan beberapa hal serta kenyataan dalam jaman kapitalis dewasa ini, yang bertentangan dengan apa yang ada dalam bayangan fikiran kaum Marxis-ortodoks. Ada kaum Marxis yang mengaku bahwa masyarakat kapitalis ternyata tidak berkembang seperti yang disangka oleh kaum Marxis sebelumnya, akan tetapi kata mereka hal ini disebabkan oleh karena sistem politik demokrasi menyebabkan bahwa perkembangan kapitalisme seperti yang diramalkan dalam penyelidikan Marx itu berbelok ke jurusan yang berlainan.

Oleh karena sistem demokrasi dengan pemilihan umumnya serta pemerintahan yang didasarkan atas kehendak rakyat yang memilih itu, maka mungkin bagi kaum buruh untuk menggunakan kekuasaan yang diperoleh bersama serikat-serikat sekerja untuk mencegah perkembangan seperti yang diramalkan oleh Marx. Kumpulan-kumpulan sekerja kaum buruh serta partai politiknya merupakan, di dalam susunan demokrasi, pemusatan-pemusatan kekuatan dalam masyarakat dan negara, sehingga negara lambat laun dapat dipergunakan oleh kaum buruh untuk membela kepentingan serta kedudukan mereka, meskipun masyarakatnya itu masih masyarakat kapitalis.

Dengan bertambah besarnya pengaruh kaum buruh atas negara, bertambah pulalah percampuran negara (campur-tangan negara—Ed.) dalam kehidupan ekonomi serta kehidupan dalam masyarakat umumnya. Lahirlah lambat laun berbagai undang-undang yang sekedar menjamin kehidupan serta keselamatan kaum buruh, tetapi tidak merubah susunan masyarakat. Bukan saja jam kerja ditentukan dengan batas maksimum (delapan jam), akan tetapi di berbagai negeri yang belum sosialis serta di mana masih berjalan sistem perusahaan milik orang-seorang, lahirlah perundang-undangan untuk kaum buruh, yaitu perundang-undangan sosial untuk menjamin kehidupan dan keselamatan mereka. Umpamanya, ditentukan upah minimum yang didasarkan atas harga barang-barang keperluan yang utama, yang pula didasarkan antara harga barang keperluan yang utama itu pada satu waktu (indeks), sehingga upah minimum adalah dimaksudkan sebagai upah yang riil. Malah ada negara yang menetapkan dalam undang-undang bahwa kalau harga indeks barang menunjukkan kenaikan, maka upah kaum buruh mesti dinaikkan oleh semua kaum majikan, sesuai dengan kenaikan harga barang-barang itu (Norwegia). Selain daripada itu ada keharusan perjanjian perburuhan secara kolektif antara kaum majikan dan kaum buruh, yang mesti pula dituruti dan dianggap berlaku pula terhadap kaum buruh yang tidak masuk menjadi anggota suatu serikat kerja yang menjadi salah satu fihak dalam perjanjian bekerja kolektif tersebut. Selain daripada itu negara turut pula serta dalam berbagai jaminan kehidupan lainnya, seperti jaminan hari tua untuk tiap orang (ouderdomspensioen), jaminan kehidupan untuk keluarga jika kepala keluarga mendapat kecelakaan (ongevallen-versekering), dan ada pula aturan tentang jaminan waktu sakit, jaminan perlop dengan bayaran gaji penuh. Semuanya itu diselenggarakan tiap kali bersama-sama dengan serikat-serikat sekerja kaum buruh. Di samping itu, negara sendiri menjamin pula adanya persekolahan untuk semua anak-anak kaum buruh dengan mengadakan kewajiban belajar, ia menyelenggarakan pula penjagaan kesehatan, sehingga kadang-kadang penjagaan kesehatan itu dapat diperoleh dengan cuma-cuma bagi orang-orang yang tidak mampu, dan selain itu ada pula penyelenggaraan perumahan untuk kaum buruh, sehingga tempat kediamannya menjadi lebih bersih dan sehat serta tiada lagi merupakan kandang babi yang kotor yang menjadi sarang kuman-kuman penyakit.

 

soekarno hatta sjahrir

 

Dengan perkataan lain, sebagian besar daripada pengeluaran uang negara digunakan untuk menjamin kehidupan kaum buruh. Segala ini, jika ditilik dari kedudukan upah, merupakan upah tambahan yang diterima oleh kaum buruh itu dalam mata uang. Malah di beberapa negeri yang masih dapat disebut negeri yang bekerja dengan sistem produksi kapitalis, upah minimum seorang pekerja itu ditetapkan pada tingkatan yang mesti dapat menjamin kehidupan minimum keluarganya, sehingga tingginya upah itu memang dimaksudkan tidak saja sebagai pembayaran tenaga yang diberikan oleh si buruh, akan tetapi sebagai penjamin keperluan hidup minimum keluarganya. Upahnya itu bukan lagi atas dasar keperluan orang-seorang, melainkan atas dasar keperluan satu keluarga. Seorang buruh yang demikian mendapat tambahan persentase untuk tiap anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, seperti biasanya kita lihat pada pegawai-pegawai negeri.

 

Segala percampuran negara dengan kehidupan dalam masyarakat dan dalam kehidupan ekonomi, kata sebagian kaum Marxis tadi, yang menyebabkan bahwa tiada terjadi verelendung di negeri-negeri kapitalis industrial di barat, seperti yang diramalkan oleh Marx dalam tulisan-tulisannya. Jikalau percampuran negara itu tidak ada atau dilenyapkan kembali, kata mereka, maka pasti akan berlaku segala-gala yang dikatakan Marx itu dengan sejelas-jelasnya. Ataupun jika percampuran negara dalam hal-hal ini dikurangi, maka akan pula terjadi kemunduran kehidupan kaum buruh dalam arti verelendung itu.

Percampuran negara yang menguntungkan bagi kaum buruh itu dapat dilenyapkan, jika golongan-golongan lain melenyapkan demokrasi yang didasarkan pemilihan umum dan yang diwujudkan dengan parlemen yang berdaulat, dan kalau didirikan suatu pemerintahan yang semata-mata berdasar atas kekuasaan dan kekerasan suatu golongan minoritas seperti di negeri-negeri fasis. Dalam keadaan yang begitu kaum buruh tidak dapat lagi menggunakan negara untuk membela kepentingannya, oleh karena kekuasaan negara telah dimonopoli sama sekali oleh golongan-golongan yang lain itu.

Keterangan seperti yang diberikan di atas ini sebenarnya tidak memuaskan. Keadaan seperti yang dikemukakan sebagai syarat untuk berlakunya hukum verelendung, serta untuk terjadinya polarisasi antara dua golongan saja di dalam masyarakat kapitalis, sebenarnya tidak berdasarkan pengalaman, dan sekarang sebenarnya tidak dapat dibayangkan berlakunya di negeri-negeri barat, di mana demokrasi parlementer telah menimbulkan pengaruh daripada kaum buruh atas fungsi negara, sehingga sudah dapat memperbaiki nasibnya dan menyebarkan kemajuan di antara kaum buruh itu umumnya. Tingkat pengetahuan serta pengertian mereka pun bertambah maju, begitu pula tingkat kehidupan umumnya. Di situ tidak dapat lagi dibayangkan bahwa akan mungkin timbul suatu kekuasaan yang dapat memaksa mereka kembali pada tingkatan kebodohan dan kemiskinan, sehingga menjadi sungguh melarat serta terlantar dan hanya lagi menunggu nasibnya mati kelaparan. Hal itu sedikitnya tidak lagi dapat dianggap mungkin untuk negeri-negeri Eropa Barat, terutama untuk negeri-negeri Skandinavia, Belanda, Swiss, Inggris. Di semua negeri itu sekarang orang telah menganggap sebagai suatu hal yang pantas serta semestinya bahwa negara telah mengusahakan supaya penduduknya terjamin hidupnya, malah bahwa tiada pengangguran dalam masyarakat. Sedangkan orang-orang yang terpaksa menganggur itu sedikitnya harus mendapat jaminan kehidupan dari masyarakat ataupun langsung dari negara. Negara-negara inilah yang dikatakan menjurus pada keadaan welfare states, yang dikatakan bertugas untuk menyelenggarakan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat ataupun rakyat umumnya. Negara yang demikian ini dianggap pula telah bertugas supaya hasil yang diperoleh masyarakat dapat adil merata, sehingga tiada terlalu besar perbedaan kehidupan antara yang kaya dengan yang miskin, antara kaum pemilik dan hartawan dengan kaum buruh dan kaum yang tidak berpunya. Negara mengadakan berbagai macam pajak terhadap kaum hartawan serta kaum yang berpendapatan besar, dan hasil yang diperoleh dari pajak itu digunakan untuk menjamin rakyat banyak, antara mana kaum buruh, dengan diadakannya berbagai jaminan yang disebut di atas tadi. Di dalam negeri-negeri itu kaum buruh dengan partai politiknya merupakan suatu kekuatan yang turut menentukan fungsi serta perkembangan negara. Di mana mereka memimpin pemerintahan, di situ diadakan tindakan-tindakan untuk mempercepat kenaikan tingkat kehidupan dan kemajuan kaum buruh itu. Negara yang demikian ini tidaklah lagi dapat dikatakan sebagai alat untuk menindas buruh seperti yang dikatakan Lenin, akan tetapi sebaliknya negara itu digunakan untuk kepentingan kaum buruh, padahal masyarakatnya belum lagi dapat dikatakan sebagai masyarakat yang bukan kapitalis, dan sebaliknya pula ia tidak dikemudikan dengan cara diktator proletariat. Malah ia didasarkan atas kerakyatan yang seluas-luasnya, yakni kerakyatan yang diluaskan sebanyak mungkin ke lapangan ekonomi dan sosial. Di dalam perusahaan, diikhtiarkan adanya kerakyatan dengan bedrijf-demokatie (demokrasi di perusahaan—Ed.), di lapangan sosial dicegah segala macam diskriminasi yang didasarkan atas perbedaan harta atau keturunan.

 

Sjahrir edit

 

Pendek kata, negara dan masyarakat itu memperoleh sifat-sifat serta bentuk yang sebenarnya berlainan sama sekali daripada masyarakat yang dapat dibayangkan, jika rakyat yang terbanyak adalah miskin, terlantar dan lapar, tidak berhak serta tidak berkekuatan, sedangkan kaum pemilik alat-alat penghasilan atau hartawan merupakan satu golongan yang kecil, yang dapat hidup serta berlaku menurut kesenangannya dengan menggunakan negara sebagai alat untuk mempertahankan kedudukannya, menindas rakyat banyak yang sengsara dan lapar itu. Masyarakat kapitalis yang seperti itu hanyalah dapat dibayangkan pada permulaannya. Meskipun di satu negeri yang fasis, sebenarnya keadaan kaum buruh di jaman modern yang menggunakan tenaga listrik serta tenaga mesin lebih baik daripada di waktu permulaan kapitalisme, yaitu di waktu Marx dan Engels mengadakan pengupasannya terhadap kapitalisme.

Oleh karena itu tiadalah banyak faedahnya untuk mengatakan bahwa segala teori Marx tentang perkembangan masyarakat kapitalis itu, dan terutama teori verelendungnya, tentu akan berlaku dengan tegas. Kalau kaum buruh tidak dapat memperoleh kedudukan dalam negara dan masyarakat seperti yang diperolehnya sekarang di berbagai negeri kapitalis, sehingga dengan demikian kaum buruh dapat memperoleh segala kesempatan yang diberikan oleh sistem pemerintahan demokrasi-parlementer dengan pemilihan umumnya, serta dapat merobah kedudukan negara terhadap dirinya dan dengan demikian dapat memajukannya sebagai golongan serta membantu kemajuannya terhadap kedewasaan atau emansipasi itu, maka mungkin benarlah bahwa verelendung itu akan bisa terjadi, dalam arti rakyat akan bertambah melarat, bertambah lapar, sengsara dan terlantar.

Sebenarnya memang tiada mungkin bagi Marx ataupun Engels untuk melihat seabad ke muka. Mereka pun sebenarnya tak pernah bermaksud menjadi ahli nujum, melainkan ingin memberikan dasar-dasar ilmu pengetahuan bagi orang-orang untuk memandang perkembangan masyarakat. Dasar pandangan ilmu itu tidaklah lain daripada pengalaman dan kenyataan. Mereka mencoba untuk memperoleh gambaran atas masyarakat yang mereka hadapi pada waktu mereka hidup. Hasilnya adalah Das Kapital, serta berbagai karangan hasil penyelidikan yang lain, yang mengikhtiarkan gambaran dan pandangan yang tersusun, yaitu yang sejelas mungkin menunjukkan hubungan-hubungan kehidupan dalam masyarakat mereka.

Historis materialisme adalah suatu cara yang digunakan mereka untuk dan ikhtiar itu. Dengan cara demikian mereka mengemukakan sistem berfikir sebagai kunci pengertian untuk menghadapi kehidupan di dalam masyarakat serta persoalannya, supaya orang dapat menambah pengertian dan kesadaran tentang kehidupan itu. Marxisme memang menambah pengertian manusia terhadap kehidupannya di dalam masyarakat. Ia adalah suatu kemajuan di dalam riwayat kesadaran kemanusiaan tentang diri dan kehidupannya. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran mutlak, yang mesti dapat menerangkan segala pertanyaan tentang kehidupan manusia. Ia sekali-kali tidak dapat dan tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran dan ajaran agama. Malah sebaliknya daripada itu. Contoh yang diberikan oleh Marxisme adalah bahwa tiap waktu manusia itu harus sanggup bersikap kritis terhadap segala anggapan-anggapan kebenarannya, dan menguji keyakinan-keyakinannya pada kenyataan yang dihadapi serta dialaminya. Untuk itu memang perlu kesanggupan untuk melepaskan dirinya dari anggapan-anggapan umum dan anggapan-anggapannya yang lama. Ia harus sanggup berpikir secara ilmu pengetahuan atau secara obyektif, dan pasti tidak dapat dan tidak boleh lebih dahulu menyangkal kemungkinan obyektiviteit itu, seperti yang kerap dilakukan oleh kaum Marxis-ortodoks. Mereka ini mengatakan bahwa yang mungkin hanyalah obyektiviteit kelas atau golongan, dengan lain perkataan, hal itu sebenarnya adalah subyektiviteit kelas atau golongan. Pada umumnya memang pula benar bahwa obyektivitiet yang dimaksudkan di sini lebih mudah diperoleh dalam lapangan ilmu alam atau dalam segala ilmu pengetahuan yang tidak langsung bersangkutan dengan kehidupan orang dalam masyarakat atau dengan kewajibannya. Memang pula benar bahwa dalam lapangan lain lajim terdapat prasangka yang dapat diterangkan dengan kedudukan orang dalam masyarakat, yaitu prasangka yang diperoleh dari berbagai pendapat, pandangan-pandangan dan nilai-nilai yang lazim di antara golongannya sendiri.

Meskipun begitu, tidaklah benar bahwa Marxisme tidak mengikhtiarkan sebanyak mungkin obyektiviteit itu di lapangan kehidupan manusia dalam masyarakat atau dalam soal-soal kewajibannya sama sekali. Pelajaran yang dapat diperoleh dari segala kegiatan Marx itu adalah, juga, bahwa ia tidak menguasai dunia yang nyata, lepas dari anggapan-anggapan orang pada berbagai saat. Namun sedikitnya, ia yakin pada kemungkinan untuk sedikit mendekatinya, dengan pengertian bahwa pendapat dan pengertian tentang kelemahan itu memperoleh harga dan guna untuk kemajuan pengertian serta kesadaran manusia pada umumnya dan bukan untuk satu golongan saja. Pendek kata ia percaya pada kemungkinan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan umumnya dan bukan hanya untuk satu golongan saja, juga sebelumnya tercapai dunia yang tidak berkelas atau dunia sosialis.

 

*) Dicuplik dari buku Sjahrir, Sosialisme dan Marxisme: Suatu Kritik terhadap Marxisme (Djakarta: Djambatan, 1967)

 

PEMBEBASAN SANDERA MAPENDUMA 1996

GATRA 1996 02 28

Kisah pembebasan sandera di Mapenduma pada 1996 oleh Kopassus telah membuat pasukan elite TNI Angkatan Darat ini disebut-sebut sebagai pasukan elite nomor tiga di dunia, setelah SAS (Inggris) dan Satuan Antiteror Israel. Keberhasilan operasi pembebasan sandera itu tak lepas dari tangan dingin Brigjen TNI Prabowo Subianto, Komandan Jenderal Kopassus waktu itu.

Majalah GATRA No. 28/II, 25 Mei 1996, mengangkat laporan utama seputar operasi pembebasan sandera tersebut, lengkap dengan wawancara khusus dengan Brigjen TNI Prabowo Subianto, Danjen Kopassus.

Untuk memudahkan membaca kembali arsip laporan utama GATRA itu, pembaca bisa menyimak tautan-tautan berikut:

 

1. Mukadimah: Sandera

2. Ketika Palang Merah Pulang Kecewa

3. Setelah Kata-kata Tidak Berdaya

4. Kesaksian Seorang Sandera

5. Kami Ditipu Kelly Kwalik

6. Ini Semua Kehendak Tuhan

7. Prabowo: Menyelesaikan Kartu Politik Gangster

8. Suara “Anak” Jakarta

 

Prabowo 16

Rekaman video dokumenter operasi pembebasan itu bisa disimak di tautan http://www.youtube.com/watch?v=y2B2QCAUD3k atau tautan http://www.youtube.com/watch?v=npJhqPACUuY.

 

1. MUKADIMAH: SANDERA

Pedalaman Irian Jaya kembali merebut perhatian dunia. Di sela-sela kesu-nyian hutan belantara, tiba-tiba terlihat pasukan Baret Merah meluncur ke bumi lewat tali yang menjulur dari pintu sejumlah heli-kopter. Kemudian letusan bedil, kalang-kabut, dan kematian. Setelah itu terdengar ingar-bi-ngar kegembiraan menyambut kebebasan sem-bilan sandera yang dibekap oleh gerombolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) selama empat bulan. Di … Continue reading

Rate this:

2. KETIKA PALANG MERAH PULANG KECEWA

Sembilan sandera gerombolan Kelly Kwalik berhasil dibebaskan. Dua sandera lainnya tewas. Kelly dan Daniel Kogoya lolos. Peti jenazah Navy W. Pa-nekenan, 29 tahun, sudah diangkat ke atas lubang pemakaman ketika kekasih-nya, Adinda Arimbi Saraswati, datang dengan kursi roda. Kesedihan tergurat dalam di wajah Adinda. Air matanya tidak putus mengalir mengiringi isaknya yang tertahan. Peti jenazah … Continue reading

Rate this:

3. SETELAH KATA-KATA TIDAK BERDAYA

Tindakan militer ditempuh karena pendekatan persuasif gagal membebaskan sandera. Bedil akhirnya harus me-nyalak setelah kata-kata tidak mampu mendesak Kel-ly Kwalik membebaskan 11 sandera yang ditahannya. Lewat Operasi Cenderawa-sih, 15 Mei lalu, satuan ABRI menusuk persembunyian gerakan pengacau keamanan (GPK) yang dipimpin Kelly. Sembilan san-dera berhasil diselamatkan, dan dua orang lainnya tewas dibacok penyandera mereka. Kisah … Continue reading

Rate this:

POPULER

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 597 other followers